Sebuah cerita di bangsal Interna..
Dengan penuh percaya diri,aku melangkahkan kakiku di bangsal interna (bagian penyakit dalam). Dalam balutan jas lab bewarna putih,dan stetoskop melingkar di leher,aku merasa semua orang melihatku dengan pandangan kagum. Perasaanku melambung tinggi. Bangga sekali rasanya. Padahal, pada saat ini aku hanyalah seorang mahasiswa kedokteran yang sedang melakukan kepaniteraan muda di rumah sakit. Kepaniteraan muda merupakan sebuah jenjang pendidikan yang harus ditempuh sebelum menjadi Ko-Ass, dalam kepaniteraan muda ini,mahasiswa juga sudah harus berinteraksi langsung dengan pasien walaupun belum punya hak mandiri. Sebagian besar kegiatan kami adalah bed teaching dan studi kasus.
Dalam mengerjakan tugas studi kasus, aku bersama kedua temanku harus melakukan anamnesa atau istilah awamnya wawancara untuk menggali riwayat penyakit dari pasien. Kebetulan pada saat kami bertugas itu adalah tanggal merah,sehingga tidak terlalu banyak orang di rumah sakit.
Setelah meminta izin pada dokter jaga dan perawat di bangsal,kami pun bergegas untuk mendatangi salah seorang pasien yang terletak di ujung koridor. Ketika kami mau menghampiri pasien tersebut, tidak jauh dari kami, terdengar suara gaduh. Langkah kami pun tertahan dan kami pun mengalihkan perhatian kepada sumber suara tersebut.
Ada beberapa orang,yang sepertinya merupakan keluarga pasien, mengerubungi salah satu tempat tidur pasien. Sepertinya pasien tersebut sedang mengalami masa-masa kritis. Salah seorang dari mereka segera memanggil dokter jaga.
Dokter jaga tersebut segera menghampiri pasien dengan santai dan melakukan pemeriksaan. Dokter tersebut lalu melakukan resusitasi jantung dan menyuruh salah seorang Ko-Ass mengambil lampu senter. Ko-Ass yang disuruh tersebut dengan ogah-ogahan mengambil lampu senter dan memberikan kepada dokter jaga.
Aku terpaku,resusitasi yang dilakukan dokter tersebut berbeda dengan yang ada di teori yang sudah diajarkan kepada kami.Apalagi beliau melakukannya dengan santai,seakan tidak mengetahui bahwa kondisi pasien sangat kritis. Belum lagi aku sangat gemas dengan tingkah Ko-Ass tersebut.Sangat sangat sangat lambat. Akhirnya,pasien tersebut tidak tertolong.Wajarlah, pikirku..
Aku dan kedua temanku mengomentari mengenai pertolongan pertama yang dilakukan oleh dokter jaga dan Ko-Ass itu.sangat menyedihkan dan mengecewakan.
Tetapi dalam hati aku bertanya..siapakah yang lebih mengecewakan dan menyedihkan..dokter jaga dan Ko-Ass yang terlalu santai dalam melakukan pertolongan pertama pasien itu atau kami bertiga yang hanya terpaku menonton...
Rating
Comments: 4
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
hampir sama seperti yang lain you need to lighten up.....the feelings
kamu menceritakan pengalaman pribadi yah?
saya merasa ini sebuah essai bukan cerita... mungkin perlu hidupkan lagi kalimat2nya, atau kalo perlu tambahin dialog.
sama kayak X_Zombie, pilihan katanya terlalu datar, malah terkesan kaku.
Deskripsinya lumayan, cuma mungkin lebih ngalir aja kali yaa, jadi bacanya ga bosan.
OK, keep on writing yaa
Thanks jg udah comment tulisanku.
sebuah realita (pengalaman nyata) ni..
terlalu datar pilihan katanya, coz tak ada dialog yg bikin hidup enaknya di pilih kata-kata yang menohok...
kayak suasana RS yang serem gitu deh..
hehehe... gw dapet kosa kata baru dunia kedokteran. thanks