Betina kecilku berlari di dalam taman yang lara
ia tak mengerti dunia langkahnya
ia hanya tahu luasnya samudra tanpa mengerti seberapa jauh cahaya menembus dasarnya
ayunkan tangan seakan tanpa keranjang batu digenggamnya
dan aku berkelahi dengan pelukan api dunia
Betina kecilku bernyanyi di atas awan yang pekat
ia tak mendengar dawai biola perak mengiringi
ia tak bergeming saat petir membelah langit siang
menari bagai dinamika angin kelu kutub utara
dan aku bergumul dengan gletser tanpa helai benang
Betina kecilku,
sesungguhnya peluh ini bukan mutiara putih laut Atlantik
yang terbentuk dari pasir-pasir samudra bawah dengan balutan liur-liur kerang
ini hanya sebentuk genggaman dari jiwa yang sederhana
Betina kecilku,
tak selamanya tangan ini mampu mengepal dan bertarung tanpa kawan
dan belulang buku-buku jariku terkulai tanpa rasa
Sadarilah aku telah mati hari ini saat kau menguntai sutera dengan namaku terukir
Maafkan aku tak pernah mampu berdiri denganmu..
*Ruang Mata Jingga
October, 31th 2008
Rating
Comments: 8
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
Terkagum-kagum...
Betul-betul mantap.
Sadarilah aku telah mati hari ini saat kau menguntai sutera dengan namaku terukir
Maafkan aku tak pernah mampu berdiri denganmu
hehehehe,untung cobaan hidup g gak seberat lo ya ^_^
mampir yaaa
http://www.kemudian.com/users/aria
duhhh, bagus bangetttt
salam kenal yah ...
hum.. what a poem
keren euy
salam
saLut,Liat puisiku juga yaw?

jangan Lupa komentarnya...
hehehehe
indah....
yew
menyentuh dengan rimanya yang beruntuuuuuuun
sip o....
siiiip bangeeet
kunjungi karya2 saya juga, ya
salam kenal