kawan-kawan... asli.. aku kesulitan mengangkat kisah nyata lalu melihat dari hati seorang perempuan , untuk dituangkan kedalam tulisan..
tapi terima kasih atas masukannya
bung acom, entah kenapa aku kesulitan untuk menikmati ceritamu yang ini. aku kog ngerasa emosi si pengarang terlibat terlalu jauh dalam cerita ini, jadinya...entahlah, really hard to say. moga2 aku bisa nikmati sambungannya, sama seperti cerita anda yang lain
13 September 2004
Hari pernikahanku, Pesta yang sederhana dan dikunjungi oleh orang-orang yang teramat sederhana, hanya sanak saudara dan hand ... lanjut baca
Keramaian senja, Tanah basah sehabis Hujan siang tadi, pantai Kampung Melayu Besar masih ramai di sibukkan oleh pasangan muda yang sedang memadu kasih ... lanjut baca
Hari ini ada yang lain, Cakrawala memancarkan warna kelabu, tanda Hujan kan kembali mengguyur kota ini, Hujan yang telah lama kunanti, kini hadir bers ... lanjut baca
Senja hari. Mendung. Aku mengempaskan tubuh di kursi pojok kantin. Meletakkan ransel hitamku dan merapatkan retsluiting jaket. Menghalau udara basah y ... lanjut baca
Danau ini masih seperti 2 tahun yang lalu, mengingatkan aku pada kenangan bersamamu. 2 tahun lalu kita disini, menghabiskan sejuknya hari dengan menyu ... lanjut baca
Awal Febuari, 3 Dini Hari
Masih terngiang segala kenangan akan dirimu
Mata Masih menganga sulit untuk ku kejap
Desiran bayangmu malam ini menitikan ... lanjut baca
Menunggumu disini... Menanti hari
Waktu bergulir terasa lemah
Tapi bayangmu belum juga hadir
Sampai kapan jiwa kan terus meratap
Ada bayangmu d ... lanjut baca
“ Ini adalah perjalanan terakhirku”,itu katanya sewaktu dia mencium keningku saat pamit untuk pergi naik gunung lagi.
”Ada bule yang pengen lia ... lanjut baca
Malam bening Tuaikan satu harapan
Dalam cahaya bola matamu kutemukan sinar keinginan
Dingin memeluk hasrat coba kibaskan dalam benak
Engkau terseny ... lanjut baca
Ada Desahmu menyiratkan satu Keinginan
Dalam bayang-bayang sepi dibalik Rembulan
Di ruang Ini Bisu Menyelimut Hangat
Seolah Rintik Hujan menamba ... lanjut baca
Jika jejakku hanya menyisakan rentetan luka di hati kalian
dan berjuta ucapan yang terlantun mungkin bernilai dusta
terkadang pula sesering menyembu ... lanjut baca
Untuk Eneng tercinta
Assalamualakum,
18 Desember 2007
Neng, gimana kabarnya di desa? Semoga kamu baik-baik saja. Ini aku sudah ada di kota bareng ... lanjut baca
Aku tersenyum sendiri saat memperhatikan ruang kelas yang lama tak kukunjungi. Tempat yang menjadi saksi atas kehidupanku di sini. Tempat yang penuh d ... lanjut baca
Sebuah pagi di Muara..
Ketika matahari masih malu-malu di ujung horizon
Jalanan masih lengang nir suara
Kehidupan ibukota belumlah hiruk pikuk sepe ... lanjut baca
“Ris, lo bisa bantuin gue nggak?” Tanya Dino, sang ketua OSIS, saat Risti sedang membaca mading sekolah. Di madding isinya seputar hari Ibu, dari ... lanjut baca
Hari ini ada yang lain, Cakrawala memancarkan warna kelabu, tanda Hujan kan kembali mengguyur kota ini, Hujan yang telah lama kunanti, kini hadir bers ... lanjut baca
13 September 2004
Hari pernikahanku, Pesta yang sederhana dan dikunjungi oleh orang-orang yang teramat sederhana, hanya sanak saudara dan hand ... lanjut baca
sudah dini hari, tapi belum mau juga ia kuantar pulang
"pengen kemana lagi?"
"pasupati..."
berdua, di jalan layang dua kilometer, pukul dua pagi
d ... lanjut baca
17 Agustus 2008
Hari ini adalah hari istimewa bagi Vella, karena hari ini ia berulang tahun. Dan semakin istimewa saja dengan bertumpuknya kado dan ... lanjut baca
“Minum dulu, Julian, baru kerja lagi.”
Secangkir kopi diletakkan di samping keyboard, beralaskan coaster warna perak yang dibeli Na di pasar m ... lanjut baca
hmmm
pintar kau bung..baca tulisan ini seakan2 perempuan loh yg nulis..
tapi kau asli laki2 kan??hehe
kawan-kawan... asli.. aku kesulitan mengangkat kisah nyata lalu melihat dari hati seorang perempuan , untuk dituangkan kedalam tulisan..
tapi terima kasih atas masukannya
bung acom, entah kenapa aku kesulitan untuk menikmati ceritamu yang ini. aku kog ngerasa emosi si pengarang terlibat terlalu jauh dalam cerita ini, jadinya...entahlah, really hard to say. moga2 aku bisa nikmati sambungannya, sama seperti cerita anda yang lain
tapi aku sadar, aku hanyalah noda kotor yang melumuri bajumu, aku hanyalah sebongkah pasir yang tak mengenal arti kesucian.
mengiris hati, menyayat jiwa...
huhuhuhuhu... sedih banget sih.
pinter banget bikinnya.
salut... salut...
buat aku terasa berat, banyak ungkapan dan kiasan. mungkin aku harus baca lagi dengan tenang dan menghayati secara dalam.
kalimatnya bagus...
konotasinya membumbung