Beginilah situasinya. Seorang pria ditembak dari lantai dua yang terkunci. Pelaku meninggalkan senjata yang digunakan untuk membunuh korban, sebuah revolver, di lantai dua di bawah jendela tempat dia menembak korban. Pelaku tidak diketahui keberadaannya. Tidak jelas cara dia masuk ke lantai dua dan jika dia sudah keluar, tidak jelas caranya. Satu-satunya jalan naik ke lantai dua adalah lewat tangga yang terkunci. Lantai dua sudah diperiksa dan tidak mungkin pelaku bersembunyi di sana.
Read more (2551 words)
Saya tidak sadar ketika saya memikirkan semua fakta-fakta kejadian ini, Arsya memperhatikan saya sambil tersenyum. Setelah beberapa saat, saya baru sadar lalu dia bertanya, “dapat ide untuk novel baru?” Saya tidak menjawab.
“Arsya, aku boleh melihat-lihat lantai dua?” tanya saya kepada Arsya. Dia tersenyum.
“Ayo, aku temani,” kata Arsya kepada saya. “Pak Fredy, ayo kita ke lantai dua,” kata Arysa kepada manajer restoran itu.
James, yang dari tadi diam saja di samping saya dan mendengarkan semuanya, bertanya kepada Arysa, “saya boleh ikut?” Arsya melihat saya dengan tatapan bertanya. “Saya bisa bantu Pak Musa,” kata James lagi. Saya mengangguk ke arah Arsya.
“Oke, ayo kita ke lantai dua,” kata Arsya.
Lantai dua restoran itu penuh dengan polisi. Tempat pistol ditemukan ditandai dengan garis putih. Saya melihat ke luar jendela yang terbuka ke lantai satu di bawah. Dari jendela terlihat meja tempat korban tersungkur. Mayat korban sudah dibawa untuk diotopsi.
“James, can you shoot?” tanya saya kepada James.
“Little-little sih, I can,” jawab James sambil bercanda, “kenapa?” James balik bertanya.
“Kira-kira berapa derajat ke bawah dari atas sini sampai ke kursi korban?” tanya saya lagi. James memperhatikan kursi korban sebentar.
“Sekitar 35 sampai 45 derajat ke bawah. Kenapa?”
“Kalau kita menembak kepala korban dari atas ini, kira-kira bagian mana yang kena tembak?”
“Hmm…kira-kira kena dahi bagian atas atau kena atas kepala.”
“James, tahu tidak, peluru menembus kepala korban di antara alis, agak ke atas,” kata saya. James terdiam sebentar.
“Well…mungkin korban sadar ada orang di lantai dua lalu dia melihat ke atas lalu pelaku menembak dia?” tanya James. Pendapatnya cukup masuk akal.
“Mungkin saja,” kata saya dengan tidak yakin.
“…Pak Fredy, benar-benar tidak ada jalan lain ke lantai dua?” tanya Arsya. Dari tadi Arsya dan Fredy berbicara berdua selagi saya ngobrol dengan James.
“Yaah…ada sih... tapi selalu terkunci...” jawab Fredy dengan tidak yakin.
“Di mana?” tanya Arsya.
“Di dalam rest room. Di belakang rest room lantai satu ada ruangan untuk cleaning service yang membersihkan rest room. Isinya alat pembersih, bahan pembersih dan persediaan pengharum ruangan. Di sana ada tangga ke rest room lantai dua supaya petugas cleaning service mudah ke lantai dua tanpa melewati ruang makan. Tapi selalu terkunci dan hanya saya dan petugas cleaning service yang punya kuncinya,” jawab Fredy.
“Hari ini sudah diperiksa lagi?” tanya saya. Manajer itu terdiam.
“Belum,” jawabnya. Kami semua ke rest room di lantai dua dan mencoba membuka pintu tangga bertuliskan “Staff Only” ke ruangan cleaning service di belakang rest room lantai satu. Pintu itu terkunci.
“Benar, kan?” Kata Pak Fredy. “Pintu ini selalu dikunci. Hanya petugas cleaning service yang punya kuncinya.”
“Pak Fredy juga punya kuncinya, kan?” tanya saya kepada manajer itu.
“Emm…iya?” jawab dia dengan gugup.
“Sekarang dibawa?” tanya saya. Dia mengangguk dengan gugup. “Tolong dibuka,” kata saya.
Manajer itu mengeluarkan sebuah gantungan kunci yang dibebani banyak sekali kunci lalu dia membuka pintu itu. Ada sebuah tangga di balik pintu itu yang langsung menuju ke sebuah ruangan di bawah. Ruangan itu cukup terang walau dengan lampu remang-remang. Deretan alat pembersih memenuhi ruangan itu. Saya membungkuk untuk melihat lubang kunci pintu yang sebelah dalam. Terlihat jelas goretan-goretan di lobang kunci itu. “Ada yang mencongkel kunci ini,” kata saya.
“Apa!” kata Fredy dengan kaget. Arsya ikut melihat.
“Benar,” kata Arsya, “ada yang mencongkel kunci pintu ini dari dalam.”
Saya turun dari tangga untuk melihat pintu di lantai satu.
“Pintu itu juga terkunci,” kata Fredy tapi saya tidak memperdulikan dia. Saya memutar gagang pintu itu. Pintu itu terbuka dengan mudah. Dari balik pintu itu, saya melihat rest room lantai satu. Saya melihat ke Fredy. Mukanya pucat dan mulutnya menganga.
“Jam berapa terjadi penembakan?” tanya Arsya kepada seorang anak buahnya.
“Kira-kira…”kata polisi itu sambil berpikir.
“Jam setengah delapan,” kata saya memotong ucapannya.
“Darimana kamu tahu?” tanya Arsya kepada saya.
“Sesaat setelah aku melihat jam tangan, terdengar bunyi tembakan.”
“Berarti,” kata Arsya, ”pelaku masuk ke rest room lantai satu jam setengah delapan kurang, mencongkel kunci pintu ruangan cleaning service di lantai satu, naik tangga di ruangan cleaning service ke lantai dua, mencongkel kunci pintu tangga di atas, keluar ke lantai dua lewat rest room lantai dua, mendekat ke jendela, menembak korban, meninggalkan pistolnya di bawah jendela, masuk lagi ke rest room lantai dua, mengunci pintu tangga bagian atas, turun lewat tangga ke ruangan cleaning service, kembali ke rest room lantai satu, keluar ke ruang makan dengan wajah tidak berdosa. Begitu, kan?” tanya Arsya kepada saya.
“Mungkin,” jawab saya.
“Oke,” kata Arsya kepada anak buahnya, “periksa siapa saja yang masuk ke rest room sekitar…jam tujuh malam lewat lima belas menit dan jam delapan kurang lima belas menit.” Anak buahnya itu mengangguk lalu pergi. “Akhirnya,” kata Asrya kepada saya dengan tersenyum, “kita dapat petunjuk.” Lalu dia menjadi sangat serius. Senyumnya menghilang. “Pelakunya ada di antara tamu restoran ini.”
* * *
Setelah memeriksa semua tamu, polisi mendapat delapan orang yang berada di rest room lantai satu antara jam 19.15 dan 19.45. Kedelapan orang itu ada tiga wanita dan lima pria. Dari ketiga wanita itu, salah satunya adalah Friska Anggraini. Arsya sendiri memeriksa mereka semua sekaligus di sebuah ruangan di samping pantry. Saksi pertama yang diperiksa adalah Friska Anggraini.
“Ibu Friska,” tanya Arsya, “Ibu masuk ke rest room antara jam 19.15 dan 19.45. Benar, kan?”
“Betul,” jawab dia. Dia betul-betul tenang sekarang. Tangannya yang tidak lagi gemetar tetap memegang cangkir teh yang sekarang menjadi dingin.
“Tepatnya jam 19.20,” bisik saya ke telinga Arsya.
“Kamu yakin?” bisik Arsya kepada saya. Saya mengangguk.
“Dan keluar jam 19.30, betul?” tanya Arsya lagi kepada wanita itu.
“Betul,” jawab Friska.
“Apa Ibu melihat ada yang masuk ke pintu belakang rest room, yang ada tulisan Staff Only?”
“Tidak.”
“Ibu Friska, saya mendengar Ibu adalah pelanggan restoran ini. Katanya anda sering makan di sini. Anda melihat orang yang bertingkah-laku mencurigakan?” tanya Arsya.
“Maaf, saya tidak tahu.”
“Kasihan dia,” bisik James ke telinga saya.
“Siapa?” tanya saya kepada James dengan berbisik.
“Mrs. Anggraini. Suaminya juga mati ditembak. Sekarang temannya juga mati ditembak,” jawab James.
“Kapan?” tanya saya lagi.
“Sekitar lima belas tahun lalu.”
“How do you know that?” tanya saya. James mengangkat bahunya.
“Saya baca itu di internet. Ada internet site yang memuat kasus-kasus kriminal misterius dari seluruh dunia. Salah satunya adalah terbunuhnya suami Ibu Friska,” jawab James.
“Tanggal berapa hal itu terjadi?”
“Hmm…saya kurang ingat. Sebentar…kalau tidak salah tujuh april…tanggal tujuh april. Saya lupa tahunnya,” jawab James.
Saksi kedua yang diperiksa adalah seorang warga negara asing. Namanya adalah Janet Whisker.
“Mrs. Whisker…” kata Arsya tapi kalimatnya langsung dipotong.
“Ms. Whisker,’ kata Janet Whisker mengoreksi Arsya, “I’m not married yet”.
“Sorry, Ms. whisker. Do you speak Indonesian?” tanya Arsya.
“Ya.”
“Good. Anda masuk ke rest room sekitar jam tujuh lewat lima belas menit, benar?”
“Ya. Bersama Ibu Anggraini. Saya ada di belakangnya.”
“Apa anda melihat ada orang masuk ke pintu bertuliskan Staff Only? Di belakang rest room?”
“Setahu saya tidak ada.”
Arsya memeriksa dia selama beberapa saat lalu pindah ke saksi berikutnya. Saksi yang ketiga adalah orang Indonesia. Namanya adalah Anne Hutomo.
“Ibu Anne,” tanya Arsya, “apakah Ibu masuk sebelum atau sesudah Ibu Friska dan Ms. Whisker?”
“Sepertinya sesudah Ms. Whisker. Waktu saya masuk, ada satu bilik dari empat bilik toilet yang terisi. Waktu saya masuk, saya tidak tahu siapa di dalamnya. Tapi setelah itu saya melihat Ms. Whisker keluar.”
“Apakah Ibu melihat mereka berdua ada di sana?” tanya Arsya lagi.
“Maaf. Saya hanya melihat Ms. Whisker.”
“Apakah Ibu melihat ada yang masuk ke pintu yang ada tulisan “Staff Only”?” tanya Arsya. Ibu Anne menggeleng. Waktu itu merasa ada yang aneh. Keterangan mereka bertiga ada yang tidak cocok. Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya kepada Ms. Whisker.
“Ms. Whisker?” kata saya menyapa dia.
“Yes, dear?”
“Saya Ahmad Musa.”
“Ooh, novelis itu. Wah! Saya sudah baca novel anda. It was marvellous! Saya…”
“Maaf, Ms. Whisker,” saya memotong ucapannya, “can I ask you some questions? I’m trying to help the police.”
“Ooh. Detective, yes? Saya jadi ingat tokoh utama novel anda itu. Oke, mau tanya apa?” tanya dia.
“Waktu masuk ke rest room, apakah ada sesuatu yang terjadi? Apa yang terlihat? Sekecil apapun tolong diingat,” kata saya.
“Well,” dia berpikir sebentar, “saya masuk di belakang Ibu Anggraini. Di depan pintu toilet wanita dia ingin mengambil sesuatu dari tasnya tapi entah kenapa tasnya jatuh dan isinya berceceran. Saya mau bantu dia tapi dia menolak saya. Lalu saya masuk ke ladies’ toilet.
“Apa Ibu Friska masuk ke toilet sesudah itu?”
“Entahlah. Saya waktu itu ada di bilik. Tetapi saya mendengar ada yang masuk ke toilet. Mungkin itu dia.”
“Waktu anda keluar, apakah anda melihat Ibu Friska atau Ibu Anne?” tanya saya lagi.
“Hmm, tidak.. Ketika saya keluar, saya hanya melihat Ibu Anne. Ooh!” kata Ms. Whisker dengan kesal, “bagaimana manajemen restoran ini? Sudah tidak ada petugas di toilet, tiga dari empat tempat sabun cair di wastafel kosong! Seharusnya ada petugas yang selalu ada di sana.” Dia mengedipkan sebelah matanya kepada saya. “Sudah mendapat petunjuk, tuan detektif?” tanya dia. Saya tersenyum.
“Terima kasih Ms. Whisker.”
“You’re welcome!”
Saya ingin melihat lantai dua restoran itu sekali lagi dan juga toilet wanita. Saya sudah dapat beberapa petunjuk dan membuat beberapa dugaan. Sekarang saya tinggal mencari potongan-potongan bukti lain maka lengkaplah sudah. Saya minta izin kepada Arsya namun karena dia sedang memeriksa saksi lain, dia menyuruh seorang polisi untuk menemani saya.
Di toilet wanita saya melihat seorang petugas cleaning service sedang mengisi sabun cair pada tiga wastafel. Di sana tidak ada petunjuk yang saya temukan. Saya lalu memeriksa lubang kunci pintu yang bertuliskan “Staff Only” itu. Ada beberapa bekas goretan. Saya memperhatikan lobang kunci itu dengan lebih seksama lagi. Ada sepotong kawat menyembul sedikit dari lobang kunci itu. Saya bertanya kepada petugas cleaning service tadi. Dia berkata bahwa ada sesuatu mengganjal lobang kunci sehingga dia tidak bisa mengkunci pintu itu. Pantas saja pintu itu tidak dikunci lagi oleh pelaku.
Saya lalu memeriksa lantai dua. Saya ingat ada tiga bunyi tembakan beruntun, hampir bersamaan, tapi hanya ada satu lobang peluru di tubuh korban. Saya membuat beberapa dugaan lalu mencari mulai mencari bukti. Setelah beberapa saat, saya menemukan hal aneh di bawah salah satu meja di lantai dua. Di sana, di lantai di bawah meja itu, ada banyak serpihan kecil kertas. Di kaki meja, saya melihat beberapa bekas terbakar dan beberapa bekas selotip. Setelah menemukan bukti baru itu, saya kembali ke lantai satu. Saya sudah tahu trik pelaku. Saya sudah mencurigai seseorang. Sekarang tinggal mencari membuktikan bahwa dia adalah pelakunya dan mencari senjata yang dia pakai.
Arsya belum selesai memeriksa saksi yang pria ketika saya turun kembali ke lantai satu. Saya meminta dia untuk menggeledah isi kantong dan dompet delapan saksi itu. Awalnya dia keberatan tapi kemudian setuju setelah saya menjelaskan bahwa ada kemungkinan pelakunya ada di antara delapan saksi itu dan pelakunya masih membawa barang bukti. Seluruh saksi mengosongkan isi kantong dan dompetnya ke atas sebuah meja
Saya ikut memperhatikan barang-barang saksi. Seluruh isi kantong semua saksi yang pria tidak ada yang aneh. Kebanyakan isinya adalah uang receh, rokok dan geretan. Kebanyakan isi tas saksi yang wanita adalah make-up, dompet dan ponsel. Isi tas Ms. Whisker tidak jauh berbeda. Isi tas Ibu Friska ada tambahan gunting kecil, sebuah pulpen plastik murah, sebuah pulpen besar dan kelihatan mahal dari besi, selotip, geretan gas, secarik kertas bertuliskan sederetan angka, sebuah kunci kecil dengan sebuah sederetan angka tertempel padanya dan sebuah amplop.
Saya mengambil pulpen besi milik Ibu Friska itu dengan sapu tangan. Saya tidak ingin sidik jari saya menempel di pulpen itu. Saya menekan tombol di pulpen itu untuk mengeluarkan mata pulpennya tapi tidak keluar-keluar setelah saya mencobanya beberapa kali. Mungkin isinya tidak ada?
Saya lalu mengambil amplop milik Ibu Friska tadi. Isi amplop itu adalah foto seorang pria sedang berdiri di sebuah ruangan. Saya memperhatikan detail foto itu dengan seksama terutama wajah pria di foto itu. Di bawah foto itu tertulis “07-04-97”. Saat itu saya merasa puas. Walaupun saya tidak menemukan kawat yang dipakai untuk mencongkel kunci itu, saya sudah tahu pelakunya, trik yang digunakan, senjata pembunuh dan mungkin juga motifnya.
“Hei, kamu!” Ibu Friska membentak saya lalu dia merampas foto itu dari tangan saya dengan marah. Saya perhatikan cangkir teh itu terus dibawa-bawa. “Apa-apaan kamu! Kenapa pegang-pegang barang saya? Kamu bukan polisi!” katanya dengan marah. Saya tersenyum saja.
“Maaf, bu,” kata saya minta maaf, “Ibu suka merokok, ya?”
“Iya,” jawab dia dengan dagu terangkat.
“Rokok apa?” tanya saya dengan sopan.
“Mentol. Ada masalah?”
“Ah, enggak. Maaf, bu,” jawab saya. Saya lalu mendekati Arsya yang sedang memeriksa saksi terakhir.
“Pak Bambang,” tanya Arsya, “Bapak melihat seseorang masuk ke pintu itu?”
Pak Bambang diam sejenak. “Dia,” kata Pak Bambang sambil menunjuk ke seorang saksi pria, “dia keluar dari pintu itu sesaat sesudah bunyi tembakan terdengar.” Suasana ruangan itu jadi riuh. Orang yang ditunjuk jadi gelagapan. Arsya menenangkan suasana.
“Pak Anri, Bapak benar masuk ke pintu itu?” tanya Arsya.
“Betul...” jawab dia dengan gugup.
“Kenapa tidak bilang dari tadi?”tanya Arsya. Dia terlihat sedikit kesal.
“Eeem...” Pak Anri tampak sangat gugup. Dia melihat ke sekelilingnya sambil menggigit bibir. “Anda tidak tanya...” kata dia lagi. Suasana jadi tambah riuh.
“Untuk apa Bapak masuk ke sana?” tanya Arsya.
“Eeem...saya mencari tisu toilet. Ada empat bilik di sana dan yang kosong hanyalah yang tisunya habis. Saya tidak sabar menunggu tiga orang yang ada di bilik-bilik itu untuk keluar sehingga saya cari sendiri. Saya tidak mungkin mencarinya di toilet wanita. Saya melihat pintu itu sedikit terbuka. Setelah saya mengintip ke balik pintu itu, saya melihat ada banyak tisu toilet di sana. Saya ambil saja satu.”
“Pak,” kata seorang polisi yang baru masuk ke ruangan itu, “tamu lain sudah resah. Bagaimana kalau kita teruskan di kantor?”
Arsya mengangguk. “Oke. Bawa dia,” kata Arsya sambil menunjuk kepada Pak Anri.
“Arsya, jangan,” kata saya kepada Arsya.
“Kenapa?” tanya Arsya. Saya tidak langsung menjawab pertanyaannya. Saya malah bertanya kepada Pak Bambang.
“Pak Bambang. Waktu bunyi tembakan terdengar, Bapak persisnya berada di bagian mana dari toilet itu?”
“Di pintu keluar ke ruang makan. Saya baru saja akan menutup pintu lalu terdengar bunyi tembakan. Saya terdiam sejenak sambil pintu itu terus saya pegang ketika dia keluar dari pintu belakang rest room yang bertuliskan Staff Only itu”
“Berapa lama jarak waktu antara terdengar bunyi tembakan dan keluarnya Pak Anri dari pintu itu?”
“Emm...” Pak Bambang berpikir sebentar.
“Satu menit? Dua menit?”
“Tidak selama itu... sekitar lima atau sepuluh detik.”
“Pelaku menembak korban lalu turun lagi dan mengunci pintu dengan kawat. Hal itu tidak cukup dilakukan dalam waktu sepuluh detik. Pelakunya bukan Pak Anri,” kata saya kepada Arsya. Pak Anri langsung terlihat lega sekali.
“Jadi siapa?” tanya Arsya.
“Bunyi tembakan di atas itu cuma tipuan. Tujuannya adalah untuk mengalihkan perhatian. Korban tidak ditembak dari lantai dua. Korban ditembak dari lantai satu, dari ruang makan,” kata saya. Suasana jadi riuh kembali.
“Mus, apa-apaan ini?” tanya Arsya dengan tajam.
“Arsya, ada yang aku mau tunjukin. Ayo kita ke lantai dua. Ajak semua saksi. Aku jelasin semua di atas,” kata saya. Arsya diam sebentar lalu tersenyum penuh arti. “Semua tamu boleh pulang,” kata saya lagi.
“Saya boleh ikut ke lantai dua?” tanya James kepada Arsya. Arsya membolehkan dia.
bersambung...
polisi mustinya tidak memberikan fakta sedikitpun pada saksi, spt fakta waktu saksi menuju wc.
'Sekarang tinggal mencari membuktikan bahwa dia adalah pelakunya dan mencari senjata yang dia pakai.' senjatanya yah pembaca otomatis berpikir revolver, mungkin lbh cocok disebut senjata lain.
Semakin penasaran nih. Tapi ane kayaknya udah bisa mengira-ngira "sang pembunuh". Ane coba buktikan deh.
Lanjut...
Terus Melangkah...
komen apa ya? semuanya kayaknya udah ada di komen semua... hihi..
ceritanya maknyuss
semakin penasarannnnn
tapi kayaknya aku bisa sedikit nebak cara pembunuhan dan pelakunya.
nggak tahu deh.... mungkin lebih baik aku baca lanjutannya.
ugh, susah juga ternyata...
lanjut.
untuk aya, VQ, brown & luki:
makasih udah mau baca & kasih komentar ^^
untuk maximillian:
Hmm... bener ga yah tebakannnya ;P he he he, baca aja bagian terakhirnya yah. Tapi sori kalo agak lama, minggu ini saya belum sempet posting.
untuk hikikomori-vq:
Mohon bantuannya juga
untuk dina lang:
Kayak judul film ya? Film apa ya? Pasti film hollywood ya? Sori, saya enggak suka film hollywood jadi enggak tau deh ;P Kenapa judulnya seperti itu? He he he, baca bagian terakhir ya ^_^
The Three Fowers, Among the Clouds... Guys, please read my stories & poems at K.com ^_^
sebagai sesama penulis misteri, mohon bantuannya
Kayaknya Miss Friska, buat semacam petasan dipasang di lantai dua, gak tau persisnya gimana.
Pas perhatian orang tertuju ke lantai dua, dia tembak korban dari lantai satu.
Motif? Gak tau. Bisa jadi ini adalah pembunuhannya yang kedua. Uang? Maybe
kok aku seperti pernah mendengar judul ini yah? film lama gitu