"Bu, kapan dagingnya matang?"
Anak kecil kurus itu terduduk lemas bersandar kaki ranjang reyot milik ibunya. Lapar, sangat lapar. Itulah yang dirasakannya. Hari mulai siang, tetapi belum ada sesuap nasi pun yang masuk ke perutnya.
"Jika tahu seperti ini, lebih baik seperti biasanya saja. Seandainya Ibu mau tahu, aku bahkan tidak keberatan makan sehari sekali seperti biasanya. Kemarin itu, aku tidak sepenuhnya menginginkan dimasakkan daging. Aku hanya bertanya selezat apa rasa daging itu. Aku pernah mendengar dari anak lain bahwa masakan daging ibunya sangat lezat."
Tidak ada tanggapan dari ibunya. Sang anak terus memperhatikan nyala tungku. Nyala api harus dijaga, jangan sampai kayunya habis. Tutup panci juga jangan dibuka, kecuali ibu sendiri nanti yang membukanya setelah matang. Begitulah pesan ibunya tadi pagi.
Kayu perapian sudah hampir habis. Ibunya belum juga membuka tutup panci itu. Sang anak bangkit, menggapai tepian ranjang dan memandang wajah ibunya. Mata ibunya tertutup rapat.
"Jika Ibu tertidur, biarlah aku saja yang memastikan matang belumnya daging itu."
Ibunya tidak bergeming. Sang anak kemudian merangkak, lalu berjalan tertatih menuju tungku. Ketika tangannya membuka tutup panci dan melihat apa yang ada di dalamnya, anak itu kaget bukan kepalang.
"Ibu, sekarang ini sudah berbeda! Jika zaman dulu ada pemimpin mengirimkan gandum dengan pundaknya sendiri karena menyaksikan ada rakyatnya yang memasak batu, tetapi sekarang...."
Anak itu kembali berjalan gontai, mendekati ibunya yang berbaring sejak tadi. Ketika berada di dekatnya, barulah dia sadar bahwa ibunya sudah tidak bernafas.
Rating
Comments: 7
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
bagus banget!!!!!
aku jadi kangen ma ibuQ........
bener-bener kena ke lubuk hati yang paling dalam... percaya ga percaya sekarang juga kejadian kaya gitu masih ada... n tugas kita buat "memangku gandum", ---- kita yang terjebak euforia dunia yang sudah tua....-----
wah, menceritakan ulang kisah yg bnr2 terjadi.
Ceritamu bagus ya! Aku jadi sedih ketika membacanya.
uakh....
so sad,,,,,
ia, kalo nggak salah Umar, ya?
pas malam2 beliau jalan2
menemukan ada ibu yang memasak batu untuk mengecoh anak-anaknya
wuaaaah, kereeeen...
Ho'o...
Dia adalah si sahabat Umar bin Khottob
Hooo...
Ibunya mati saking kelaparannya kah?