Aku pengennya sama kamu. Aku sudah terlalu banyak melewatkan waktu tanpa kamu. Semuanya terasa terbuang sia-sia. Aku merasa nggak berarti. Hidupku serasa balon udara yang menunggu jatuh karena kehabisan helium.
Read more (1925 words)
“Kayla sayang, sarapan!”
Kalimat yang juga sama dengan hari-hari sebelumnya. Seakan bunda nggak punya kosa kata lain yang bisa digunakan untuk menyapaku. Aku tahu, sebenarnya bunda hanya ingin menyenangkanku, agar aku berpikir ia masih selalu ada untukku. Semuanya hanya basa basi yang sudah terlalu basi untuk kedengarkan.
Seperti biasa juga sarapanku selalu di antar ke kamar. Selalu oleh mbok Nah, nggak pernah oleh bunda. Dulu aku pernah bertanya tentang hal ini, kata Mbok Nah bunda lagi siap-siap buat ke kantor, jadi nggak sempat mengantarkan sarapanku. Aku sendiri nggak pernah punya kesempatan sarapan bersama bunda di bawah, karena sarapan yang datang ke kamarku selalu bersamaan dengan selesainya panggilan bunda. Dan itu artinya, ia memang tak pernah mengharapkanku ada di dekatnya.
Aku sudah lelah menunggumu. Kakiku mulai kesemutan, kulitku mulai keriput, lututku pun terasa bergetar, rambutku rontok sehelai demi sehelai. Tapi, kau pasti tahu. Aku tak akan pernah menyerah. Karena aku sudah terlanjur memulainya, dan tak semudah itu untuk mengakhirinya.
Kusulam helai demi helai waktu yang tercecer
Kubiarkan peluh jadi pengobat kesendirian
Hingga akhirnya lukapun sembuh tanpa pengobatan
Aku menagis untuk hatiku
Tapi aku tak ingin tampak lemah untuk kehidupanku
“Mbak Kayla mandi ya, hari ini kan ada jadwal terapi.” Mbok Nah mengingatkanku saat setengah jam kemudian mengambil nampan sarapanku yang telah kosong. Aku mengangguk. Apalagi yang bisa kulakukan. Aku menurut karena aku tak mampu lagi membantah. Walau terapi itu tak pernah berbekas dalam ingatanku. Karena sesungguhnya, saat terapi pikiranku selalu mengembara. Terbang mencari sesuatu yang hilang. Sesuatu yang membuat segalanya berubah.
Aku tiba sepuluh menit sebelum waktu yang disepakati. Selalu seperti itu. Pak Mamat, supirku, membawaku masuk keruangan yang sudah kuhapal. Sudah hampir enam bulan aku bolak-balik ke tempat ini. Tempat membosankan ini.
“Kayla kamu harus berusaha, semua proses terapi tidak akan berhasil kalau kamu nggak punya niat untuk sembuh. Kamu harus punya semangat. Dokter yakin kamu masih bisa disembuhkan, jadi saya mohon kerjasama dari kamu.” Ucap Dokter Ervan saat terapiku sudah selesai.
“Aku berusaha dokter,” tandasku tajam.
Dokter Ervan tersenyum bijak. Dokter berumur limapuluh tahunan itu seakan tahu apa yang ada dalam pikiranku saat ini.
“Okey, kita anggap sejauh ini kamu sudah berusaha, tapi saya mohon, kamu tambah usaha kamu sedikit lagi ya, ini demi kebaikan kamu juga.”
Aku menatap Dokter Ervan dengan dingin. Lalu meminta Pak Mamat membawaku pergi. Aku benci terapi. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, karena aku tak punya kemampuan.
Cintaku mulai menguning. Kurasa sebentar lagi ia akan gugur dari dahannya. Kucoba menyiramnya dengan air mata, kupupuk ia dengan kerinduan, dan kusiangi dengan kesetiaan. Aku tak yakin, apa ini akan berhasil, atau malah menambah buruk keadaan...
Aku telah membawa pikiranku kemana-mana
Kubiarkan dia mengelana bersama angin
Terbakar bersama mentari
Dan menggigil dalam buaian hujan
Aku memandangi langit dari jendela kamar. Langit begitu indah, biru dan saaaangat bersih. Awan-awan seakan membentuk seulas senyum untukku. Aku membalasnya. Beberapa burung bergantian menari-nari sambil menyiulkan kicauannya yang berirama riang. Burung-burung itu terbang dari satu dahan ke dahan lainnya di pohon pinus yang tumbuh di halaman rumah. Indah banget, seandainya aku bisa memilih, aku ingin detik ini nggak berakhir, nggak berubah. Aku ingin, langit selamanya biru bukan hitam. Aku ingin awan selalu tersenyum, bukan menggelayutkan mendung, aku juga sangaaat ingin burung-burung itu tetap berkicau, bukannya diam sambil mengatupkan mata.
“Mbak... guru privatnya sudah datang, mari saya antar ke bawah!” teguran Mbok Nah membuyarkan lamunanku. Selalu begitu, setiap kali terapiku selesai, aku akan berdiri disini, di dekat jendela kamar. Lalu aku akan mulai memandangi langit beberapa menit sebelum aku diingatkan untuk turun, dan mulai belajar.
“Kayla, kamu tahu nggak. Kamu itu pintar. IQ kamu 180. Tidak banyak orang yang beruntung seperti dirimu. Kamu punya orang tua yang sangat memperdulikan kamu, selalu memenuhi kebutuhan kamu. Kamu hanya perlu sedikit saja berusaha,” ucap Bu Davina setengah putus asa. Dia baru saja memintaku mengerjakan beberapa soal yang sudah pernah ia jelaskan sebelumnya. Tapi dengan santainya aku bilang kalau aku tidak mengerti, mungkin tepatnya tidak mau mencoba untuk mengerti. Tapi kayaknya Bu Davina tahu aku berbohong. Karena secara teori dengan kemampuan otakku yang di atas rata-rata, soal-soal seperti itu harusnya nggak masalah besar. Tapi aku lagi-lagi bungkam dan hanya mengedikkan bahu.
Aku benci saat semua orang yang merasa lebih tua dariku, selalu merasa berhak menghakimiku. Nggak Bunda, nggak Dokter Ervan, nggak juga Bu Davina. Semuanya sama saja. Sama-sama sok tahu untuk hal yang sesungguhnya tak mereka pahami.
Seandainya aku bisa memperjualbelikan waktu, maka akan kuberikan penawaran tertinggi untuk mengembalikanmu. Aku ingiiiin sekali kau disini, kamu dengar kan? Kembalilah... aku mohon! Sebelum mentari itu benar-benar tenggelam tertelan senja...
Jika indah itu bisa kuraih dan sedih itu bisa kuhilangkan
Aku ingin sekali berada di antara arak-arakan awan
Menari dan bernyanyi bersama para burung
Membuang segala penat yang telah sekian lama terpancang di bahuku
Menjadi bebas...
“Bunda mana Mbok?” tanyaku saat Mbok Nah mengantarkan makan malamku. Seperti biasa, aku makan malam dalam kesendirianku di kamar. Hal yang sudah sangat biasa, bahkan kata bosan pun sudah tak bisa menggambarkan perasaanku saat ini.
“Nyonya lagi keluar kota Mbak,” jawabnya pendek
“Kok Bunda nggak bilang aku?” tanyaku lagi. Aku tahu ini pertanyaan yang sangat sia-sia. Ini sudah bukan hal yang patut dipertanyakan lagi. Malah harusnya aku heran, kalau tiba-tiba bunda merendahkan dirinya menemuiku, sekedar untuk pamit. Mataku mulai berkaca-kaca, selalu seperti ini. Aku selalu merasa nggak berharga buat bunda. Ah, aku benci keadaan ini.
“Eh itu, eh anu mbak, mungkin tadi rencananya mendadak, jadi nggak sempat bilang sama mbak.”
“Berapa lama?”
“Seminggu mbak.”
Malam ini, dengan jujur kuakui, aku merasakan kehangatan yang tak biasa di hatiku. Aku bahagia. Entah untuk apa, untuk kepergian bunda mungkin. Baru saja terbesit setitik harapan kecil tentang sebuah perubahan dari kemonotonan yang kaku dalam kelelahanku menunggu keajaiban. Yah, kuharap dengan tidak adanya bunda di sini, aku bisa merasakan hal yang berbeda dalam setiap detikan waktu yang kutapaki. Walau hanya seminggu...
Aku membuka jendela. Untuk pertama kalinya, aku melihat langit malam dengan senyuman. Padahal selama ini aku benci melihat langitku yang biru tertelan senja dan berubah menjadi gelap. Ternyata suasana hati benar-benar bisa merubah pandangan seseorang tentang sesuatu.
Hmm... malam ini aku pun tidur dengan tersenyum.
Seandainya aku bisa mendekapmu dalam mimpi, memelukmu dalam khayalan, dan membuatmu utuh dalam pikiran, seandainya bisa merangkai keindahan, mengenyahkan rasa pedih, dan menikmati sisa hidup bersamamu, seandainya langit senantiasa bersahabat, dan tak pernah kelabu pertanda duka, ah, terlalu banyak kata seandainya yang tak kuyakini bisa terwujud...
Pagi ini aku bangun dengan secercah harapan. Pasti ada yang berubah, tak monoton lagi seperti kemarin-kemarin. Setidaknya tak ada sapaan terkonsep bunda untuk mengajakku sarapan.
“Mbak, ada telepon dari Nyonya,” kata Mbok Nah seraya menyodorkan gagang telepon padaku.
“Pagi Bunda.”
“Pagi sayang, kamu sudah sarapan? Ah, bunda menyesal tak bisa mengajakmu sarapan seperti biasanya, padahal belum sekalipun kamu memenuhi ajakan bunda.”
“Aku akan sarapan, nggak usah khawatir.”
“Yah, kurasa kamu sudah tahu apa yang semestinya kamu lakukan, sampai nanti sayang.”
Oh God!
Apakah semuanya memang sudah tak bisa berubah, bahkan sedikit saja. Aku sudah muak dengan keadaan ini. Arrrgh...
Mereka semua berteriak, mereka semua menangis, mereka semua ketakutan. Aku bisa melihatnya dari mata-mata mereka. Mereka... mereka marah padaku.
Bunda menatapku tajam, dan tanpa bicara sepatah kata pun, ia meninggalkanku. Aku berusaha menahannya, aku berteriak dengan sekuat tenagaku yang tersisa, tapi ia tak mengacuhkanku, ia terus saja melangkah. Meninggalkanku dalam ketakutanku sendirian.
Aku melihatnya terbakar, semua orang menyingkir, semua orang ngeri, tapi tak ada yang peduli pada kengerianku. Tak ada yang berusaha menjauhkanku dari sini, semuanya hanya peduli pada diri mereka sendiri. Mereka kemudian meninggalkanku.
Aku menagis untuk hatiku... tapi aku tak akan menyerah untuk kehidupanku...
Aku berusaha merangkak, menjauh dari bayang-bayang yang menghantuiku, hingga hari ini. Aku bertahan dengan segala ketakutanku, berusaha terus hidup dengan harapan yang tak pernah kuyakini akan terwujud.
“Ayah anterin Kayla ke Bandung dong!”
“Ngapain?”
‘Ngasi kejutan buat Keino, besokkan dia ulang tahun.”
“Emang Keinomu lagi ngapain di Bandung? Kenapa nggak nyuruh dia yang ke sini aja.”
“Nggak bisa Ayah, Keinoku itu lagi syuting sampai minggu depan, jadi nggak bisa kemana-mana, mau ya Ayah, pliiis!”
Bayangan itu datang lagi, dia mulai merayap di kulitku, mulai menusuk pori-poriku, aaah... sekarang ia mengalir dalam pembuluh darahu, menggerogoti otot-ototku, sakit...
Seandainya aku tak pernah meminta ayah menemaniku ke bandung, seandainya saat itu keino nggak lagi syuting di bandung, seandainya saat itu juga bukan ulang tahun keino, seandainya keino nggak pernah jadi bagian indah dalam hidupku, seandainya aku nggak pernah kenal dia...
Sudah enam bulan berlalu sejak kecelakaan yang merenggut nyawa ayah dan membuatku kedua kakiku lumpuh, tapi sampai saat ini bunda belum sepenuhnya memaafkanku. Walau sikapnya sudah melunak tapi matanya masih sama. Mungkin karena itu dia tak pernah mau menemuiku.
“Kayla kamu perginya naik bis aja ya, Ayah kan lagi nggak enak badan, kamu dengar kan dokter kemarin minta Ayah istirahat total.”
“Yah Bunda, kok naik bis sih, Kayla kan mau bawa kue tart, bunga, sama hadiah buat Keino, kalau naik bis kan jadi repot, lagian Ayah juga udah setuju kok.”
“Itu karena kamu merengek terus. Kamu nggak kasihan sama Ayah, nanti kalau sakit Ayah tambah parah gimana?”
“Bunda, Ayah nggak bakalan sakit kok, Ayah kan Superman.”
Wajar kalau bunda benci sama aku. Walau di bayar dengan Setrilyun kata maaf sambil berlutut berhari-hari pun kesalahanku tak bisa tertebus. Aku membuat orang yang paling disayangi oleh bunda pergi untuk selamanya. Aku.. aku yang menyebabkan ayah meninggal. Aku...
Wajar kalau bunda tidak mau melihatku. Aku terlalu berdosa padanya. Bahkan maaf-maaf itu tak mampu membersihkannya.
Dan akhirnya bunda menyiksaku dengan menjadikanku boneka yang selalu di aturnya sesuka hatinya. Membuatku melakukan semua rutinitas monoton yang sudah diaturnya. Membuatku tak punya makna, kehidupan, bahkan sedikit kemampuan untuk mengecap rasa yang berbeda. Bunda membuat semuanya tampak sama dan kaku. Membuatku tak berdaya.
Infotainment pagi, sebulan setelah kecelakaan...
‘Artis muda Keino Vivaldi yang baru sebulan menyatakan telah putus dengan Kayla Aristya, puteri dari General Manager sebuah ph terkemuka di Indonesia kini telah kembali menggandeng seorang gadis baru. Identitas gadis ini belum di ketahui secara pasti, tapi menurut kabar yang dapat kami himpun hingga saat ini, dia adalah puteri dari seorang sutradara papan atas Indonesia...”
Dia pergi, bahkan tanpa pamit, tanpa menolehkan sedikitpun kepalanya padaku. Dia meninggalkanku sedetik setelah berita kecelakaan yang kualami bersama ayah meyeruak ke media massa.
Awalnya kukira ia hanya perlu waktu untuk sendiri. Aku tahu, kenyataan bahwa kekasihnya lumpuh memang bukan hal yang mudah untuk diterima. Sejak saat itu aku yakin, suatu hari ia pasti kembali. Tapi aku telah menunggu terlalu lama, sementara ia bukannya mendekat, malah tampak semakin jauh.
Jika tangis adalah balasan untuk kesalahan
Maka biarka air mata ini menggenang di pangkuanmu
Agar kau tahu
Aku ingin menebus semuanya
Jika tawa adalah topeng perih untuk hempasan rasa kehilangan
Maka biarkan aku mencincang-cincang kenangan dengan belatiku sendiri
Agar kau dapat melihat
Aku ingin menyembuhkan lukamu
Dan jika karena aku
Kau telah mengubah kebahagianmu
Maka biarkanlah aku menghunus pedang untuk kematianku
Sehingga dapat kupersembahkan untuk mengobati lukamu
Semuanya meninggalkanku. Semuanya menganggap aku nggak berharga. Semuanya membenciku...
Semuanya ingin aku nggak ada
Jadi kuputuskan untuk pergi
Infotainment pagi enam bulan setelah kecelakaan...
‘Kayla Aristya, mantan kekasih Artis muda Keino Vivaldi pagi tadi sekitar pukul 05.17 WIB ditemukan tewas bunuh diri dalam kamar mandi kamarnya. Menurut pembantu yang bekerja di rumah tersebut, sebelumnya tidak ada tanda-tanda aneh dari puteri majikannya ini. Selain pembantu dan supir pribadi kayla, tidak ada lagi yang bisa dimintai keterangan, karena hingga saat ini ibu dari kayla masih berada di luar kota dan belum di ketahui kapan akan tiba di ajakarta.”
sedih bgt kalau ada orang mati ketika dia menganggap hidupnya menderita..
duh, ceritanya sedih ya.
mungkin ada beberapa singkatan yang harus di perjelas ya, seperti "ph"
tapi bagus kok ceritanya.
keep writing ya.
bagu,bagu,bagus...
two thumbs up for this story..
hehehe..
cerita yang menyedihkan.. tapi tanda baca dan penggunaan huruf besar perlu dirapikan nih! hihi^^
keep writing!
huks ^_~
tragis amat sih
menghanyutkan