Hampir tak pernah para pengendara mobil menghentikan tangannya yang terus-terusan menekan klakson mobil mereka masing-masing, namun ratusan orang mabuk dan bebal itu tetap saja asyik menari-nari di tengah jalan kota, pengendara lainnya pun begitu, sama-sama kesal seperti sang komandan.
Read more (2372 words)
Hampir limabelas menit ia dan pengendara lainnya terjebat kemacetan di pinggir kota karena lautan manusia yang sedang merayakan hari bersejarah Republik Rune-Midgard, polisi lalu-lintas yang dikerahkan untuk mengatur gegap gempita acara pun tak berkutik ketika berhadapan dengan “amuk” massa.
Arlojinya menunjukkan pukul 22. 15—ia sudah terlambat lima menit! Wajah semakin kusut, sekusut selembar kertas yang digulung-gulung dan diremas-remas. Emosinya pun beranjak naik seiring waktu yang terus berputar, tapi ia berusaha untuk menenangkan dirinya dengan memperhatikan para polisi yang kerepotan menyingkirkan lautan manusia yang bergerombol layaknya binatang ternak.
Di tengah kekacauan itu, pikirannya menerawang tigapuluh tahun yang lalu, ia melakukan hal yang sama dengan kawan-kawannya—mabuk dan membuat para pengendara kesal, persis seperti apa yang ia alami sekarang—dan salahsatunya adalah orang yang akan ia temui sekarang.
Saluran lalu-lintas yang macet itu akhirnya berangsur lancar lagi, para pengendara yang ingin menikmati hari libur mereka di luar kota, langsung tancap gas ketika melihat jalanan sudah berhasil disterilkan oleh polisi.
“Akhirnya.” Hembus Komandan Piccard lega, tanpa banyak pikir, ia langsung menginjak gasnya dalam-dalam.
Mobil Ford Ranger hijau dengan tulisan ANGKATAN DARAT di bodi sampingnya berdecit, lalu melesat kencang meninggalkan asap dan bau karet terbakar, sang polisi hanya bisa memandangi mobil tentara itu sembari menggelengkan kepalanya—dasar tentara!
Ia pun semakin kencang memacu mesin mobil SUV-nya, karena ia sudah terlambat sepuluh menit untuk menghadiri sebuah acara besar di kawasan elit di pinggiran kota Junon yang jaraknya limapuluh kilometer dari ibukota.
Dengan piawai ia membawa mobil besarnya itu mengikuti jalanan yang penuh lika-liku dan naik-turun tajam itu, rasa khawatir tidak bisa hadir di acara ternyata lebih kuat ketimbang rasa khawatir mobil bongsor milik kantor bisa terguling masuk ke jurang karena terlalu limbung.
Selera yang cukup aneh bagi orang-orang mapan untuk mencari tempat tinggal yang aman dan damai dengan cara membangun kediaman-kediaman mewah mereka di kawasan pegunungan sekitar Junon yang terkenal terjal dan berbahaya itu, namun begitulah orang kaya, demi menjaga ekslusifitas, kepuasan batin dan kenyamanan hidup mereka, mereka rela bayar besar—dan mau tinggal dimana saja.
Setelah masuk dan menyusuri jalan komplek memperhatikan rumah-rumah para penghuninya yang berhektar-hektar itu, akhirnya ia sampai di sebuah gerbang tinggi besar yang juga dijaga oleh empat orang polisi militer dengan dua anjing penjaga berwajah seram—majikan dengan anjingnya sama-sama menakutkan.
Seorang PM mendekatinya dan mengetuk kaca jendelanya sebagai tanda minta dipersilahkan untuk diperiksa, ia terlihat berani memasang wajah seram kepada Komandan Piccard, mungkin karena yang ia hadapi adalah sebuah mobil dinas “kelas bawah” yang berani-beraninya datang ke kediaman si punya gerbang setinggi lima meter dan dibentengi beton setinggi empat meter itu.
Ketika si empunya mobil membuka jendela, sang PM terkejut seperti nyawanya langsung dicabut dengan kasarnya, keringat dingin dan rasa malu yang amat sangat pun menyeruak seketika.
Ia langsung bersikap sempurna dan memberikan hormat, “Malam,Pak!!” sapa sang PM.
“Malam.” Balas Komandan Piccard.
Mata sang PM yang penuh rasa curiga dan ingin tahu yang besar seketika terhenti pada satu tujuan di kerah seragam pakaian dinas harian Komandan Piccard, mata tajam elang platinum yang tersemat di kedua bahu dan kerah sang pria pirang klimis itu membuatnya kapok, sang PM langsung menyilakan Komandan Piccard.
Komandan Piccard langsung tancap gas untuk masuk ke dalam pekarangan si punya rumah ketika gerbang istana pribadinya dibuka, sebenarnya ia ingin menyemburnya dengan umpatan kepada PM itu karena lancangnya menyoroti wajahnya dengan lampu senter, tapi disemprot oleh yang punya rumah yang tersembunyi di balik benteng itu lebih gawat urusannya.
Ternyata ia tak langsung sampai di halaman depan si punya rumah itu, tetapi harus melintasi taman pribadi seluas lima hektar terlebih dahulu. Jalan menuju rumah itu benar-benar menuntun para tamu melintasi taman rumah—atau istana?—untuk mengikuti tur pariwisata bunga-bungaan dari seluruh penjuru dunia lengkap dengan patung-patung dan air mancur-air mancur, Komandan Piccard seperti harus transit ke surga dulu sebelum sampai di kediaman yang punya rumah.
Heran, darimana dia punya uang sebanyak itu?—tanya Komandan Piccard dalam hati.
Akhirnya setelah tersesat di taman bunga, ia pun sampai di rumah rekan kerjanya itu, sebuah rumah mewah bergaya campuran jaman kolonial dan pertengahan, lengkap dengan sepuluh pancuran air pribadi bersama ornamen-ornamen patung pualam sebesar raksasa.
Komandan Piccard berdecak kagum kepada mobil-mobil tamu yang terparkir tak jauh dari pintu masuk kediaman yang dipayungi oleh tumbuhan menjalar yang begitu hijau segar terawat dan berlantaikan keramik kualitas wahid itu, beberapa satuan keamanan juga terlihat mondar-mandir mengamankannya.
Jaguar, Bentley, Aston Martin, Rolls-Royce, tak ada satu pun merk “rendahan” yang ada di tempat parkir dengan jasa valet itu, kecuali mobil Ford Ranger pick-up dengan warna hijau zaitun yang seperti mengatakan—hey, aku adalah mobil dinas Angkatan Darat yang paling payah dari kalian!
“Selamat datang, Pak!” sambut seorang petugas valet dengan senyuman yang kurang ramah.
Komandan Piccard tahu betul arti dari wajah sang petugas valet itu, sepertinya ia baru pertama kali harus memarkirkan mobil dinas butut di tengah-tengah barisan kendaraan para taipan.
Namun ia tak terlalu memikirnya, Komandan Piccard hanya tersenyum tipis dan memberikan kunci mobil kepada sang petugas, dengan sigap sang petugas dengan pakaian tuxedo bewarna merah itu langsung memarkirkan mobil besarnya itu.
Kusangka hanya aku saja yang terlambat di acara ini—syukurnya dalam hati ketika melihat beberapa undangan datang dengan langkah terburu-buru, sepertinya mereka takut kepalanya akan dipenggal oleh yang punya rumah apabila tidak hadir tepat waktu—Setidaknya ia tidak malu sendiri.
Komandan Piccard mencoba merapikan kembali pakaiannya itu dengan bermodalkan lantai marmer halaman rumah si empunya rumah, entah darimana ia beli—dan berapa harga yang harus ia rogoh di kantong celananya—untuk marmer sebening cermin itu. Setelah merasa rapi dan percaya dirinya kembali, dengan mantap ia masuk ke dalam rumah sang teman yang sudah seperti istana raja itu.
Seorang petugas—kali ini dengan tuxedo hitam-hitam dan berdandanan klimis—menyambut sang kolonel.
“Selamat malam, Pak. Maaf, boleh saya lihat undangannya?” pinta si penjaga pintu masuk pria tinggi besar bertampang seram itu tanpa banyak basa-basi.
Komandan Piccard menghela napasnya sejenak, dasar bagian keamanan—kutuknya dalam hati sembari menyelipkan tangan kanannya ke jas hijau zaitunnya, dua detik sibuk mengaduk-aduk isi jasnya ia pun menyerahkan amplop undangan yang diikat dengan tali emas tipis.
“Saya sedang ditunggu oleh Jendral.” Ujar Komandan Piccard sembari memandangi alat CCTV yang mengawasinya dari atas.
Petugas keamanan itu begitu teliti memeriksa undangan itu, ia pun menghubungi pusat keamanannya untuk mengkonfirmasi nama Komandan Piccard di daftar undangannya Bagian Protokoler lewat radio.
Beberapa saat kemudian Bagian Protokoler menjawabnya.
Petugas itu langsung tersenyum lebar kepada Komandan Piccard—benar-benar 180 derajat, “Jendral Halberdier sudah menunggu anda daritadi. Silahkan, Pak!” Sambut si petugas itu memberi jalan kepadanya.
Senyuman ramah dari seorang pria yang tak akan ragu untuk menembaknya apabila tak ada dalam daftar undangan, plus diantarnya dirinya ke dalam rumah sang tuan rumah yang seperti istana negri dongeng itu membuat Komandan Piccard tahu kalau ia masuk dalam deretan teratas dari daftar undangan Bagian Protokoler.
*****
Pintu gerbang masuk dibuka, suara alunan musik klasik bercampur suara bincang-bincang puluhan tamu serta dentingan gelas sampanye dan peralatan makan dari perak menggema di seisi ruang tamu sebesar lapangan sepakbola, yang penuh dengan ukiran dan hasil karya klasik itu langsung menyambut keterhenyakan sang kolonel.
Selamat datang di wilayah kekuasaanku!—Sambut lukisan tiga setengah meter sang punya rumah, Jendral Matthew Halberdier—dengan pose heroik karismatik ala Napoleon Bonaparte—sembari menatap tajam Komandan Piccard.
Kekaguman dan rasa sesal pun menyeruak ketika melihat isi rumah sang Panglima Angkatan Bersenjata Republik Rune-Midgard itu.
“Hmmm, andai aku tak bersedia memimpin satuan itu...” desisnya kesal sebelum melanjutkan perjalanannya menembus gelombang manusia berpakaian mewah itu.
Komandan Piccard dengan seragam tentaranya, lengkap dengan tanda jasa dan pangkatnya yang berbaris-baris dan bewarna-warni, menarik perhatian para hadirin borjuis yang ada di ruang tamu sang jendral yang luar biasa luasnya itu.
Tatapan mereka penuh tanya, siapa dia?—tapi Komandan Piccard tak punya waktu untuk memikirkannya, ia terus menerobos di tengah-tengah lautan manusia, mencari orang yang ia cari.
Ternyata tak Cuma dia yang memakai seragam militer, puluhan perwira dari berbagai matra—Darat, Laut, Udara, Marinir—berbaur di tengah-tengah acara pesta pora ber-budget roket, lengkap dengan pangkat dan tanda jasa yang tak mau kalah panjangnya dengan Komandan Piccard.
Entah sudah berapa puluh pelayan dengan tuksedo putih lengkap dengan celemek sutra di tangan kanannya menyodorkannya sampanye dan kaviar kualitas wahid, namun sepertinya kopi, makanan siapsaji, serta MRE membuatnya mati rasa, makanan mahal itu tidak membuatnya bernafsu.
Ada tiga orang wanita memperhatikan sang letnan kolonel, namun sang komandan hanya tersenyum dan mengangguk sopan kepada para wanita itu.
”Hihihi!” tawa genit terdengar dari tiga wanita itu.
Tak disangka, umurnya yang sudah mulai masuk kategori lewat setengah baya, masih disukai oleh para wanita-wanita dibawahnya. Tapi, mungkin saja wanita-wanita yang memperhatikannya itu seumuran juga. Kalangan se-wah mereka, penampilan bisa saja menipu dengan mengeluarkan banyak uang untuk mempermainkan umur mereka.
Akhirnya ia sampai di ruang dansa, kali ini suasana jauh lebih tenang ketimbang ruang tamu yang penuh dengan manusia makan-minum dan mengobrol dengan suara keras dan lantang.
Di sini ia Cuma bisa mendengar suara alunan musik orkestra yang disewa oleh sang Jendral untuk mengiringi sesi dansa waltz, beberapa orang penting pun terlihat sedang asyik bersantap dan mengobrol dengan suara yang tenang di meja makan masing-masing dan dibelakangnya, para bodyguard dengan tenang menjaga mereka.
Komandan Piccard tahu benar siapa saja yang ada di sana, mereka adalah kalangan paling elit di antara paling elit.
“Nicholas!..”
*****
Komandan Piccard pun terjaga dari keterpanaannya. Ia pun tersenyum lebar ketika melihat orang yang ia tunggu menyapanya, Jendral Matthew Halberdier, Panglima Angkatan Bersenjata Republik Demokratik Rune-Midgard.
Kawan lamanya benar-benar berubah, kini mata biru dan rambut coklat yang bersinar cerah kini sudah mulai kusam, penuh dengan uban dan dikelilingi kantung mata, namun masih ada yang tidak berubah dari sosok Matthew Halberdier, tubuhnya masih berdiri tegap walaupun sekarang kantung-katung lemak ada dimana-mana, wajah boleh mulai keriput.
”Jendral!..” balas Komandan Piccard sembari menjabat tangan sang jendral dengan hangatnya.
”Bagaimana kabarmu, Nak??” tanya Jendral Halberdier yang masih belum puas tertawa.
”Sehat!.. Sehat sekali, Pak!” jawab Komandan Piccard penuh semangat.
Tiba-tiba sang jendral menekuk mukanya, ”Tolong, jangan panggil aku bapak, aku tak suka terlihat tua.. Panggil saja seperti dulu!” protes sang jendral.
Mereka pun tertawa lepas, aroma persahabatan begitu menusuk hidung dalam pertemuan dua sahabat dekat itu.
”Ya, ya.. Maafkan saya, Pak!.. Maksud saya—Matt.” ujar Komandan Piccard.
Jendral meremas kedua bahu adik kelasnya itu, ”Nah, begitu dong seharusnya!.. Mari!..” ajak Jendral Halberdier.
Mereka berdua pun berjalan meninggalkan ruang dansa yang dipenuhi oleh para undangan yang berpakaian serba mewah nan glamor, beberapa pejabat militer dan MCA dari berbagai angkatan pun ikut hadir bersama istri-istrinya.
”Selamat ulang tahun, Jendral!” sambut seorang pejabat yang memergokinya di tengah-tengah keramaian.
Sang jendral pun menyambutnya dengan senyuman ramah, mereka berbicara basa-basi sejenak, sedangkan Komandan Piccard hanya bisa setia menunggu di belakang sang Jendral hingga akhirnya mereka kembali berjalan meninggali peradaban.
“Sayang sekali kau tak dapat kue ulang tahunku.” Gumam Jendral Halberdier.
“Maaf, orang-orang mabuk menghalangi lalu-lintas.” Jawab Komandan Piccard.
Jendral Halberdier tertawa ketika mendengarnya, “Seperti apa yang kita lakukan dulu ketika merayakan Midgard Day.. Kadang aku merindukan saat-saat itu..” seloroh sang jendral bintang empat memaklumi.
Akhirnya mereka berdua sampai ke tujuan, sebuah ruangan yang steril dari keramaian dan dijaga oleh bagian keamanan setiap lorong yang terhubung, Jendral Halberdier menyuruh seorang anggota yang menjaga pintu ruangan itu untuk membukakan pintu.
“Katakan kalau saya sedang tidak ingin diganggu!” perintah sang jendral.
“Siap, Pak!” jawab sang anggota Bagian Keamanan mantap sembari membukakan pintu ruang kerjanya.
*****
Akhirnya, mereka berdua sampai di ruang kerja sang jendral. Kalau sudah berada di ruang kerja, tak akan ada yang berani mengganggunya dan Komandan Piccard. Jendral Halberdier menyalakan api unggunnya dan melepaskan tuxedonya yang sudah tak mampu lagi menahan perutnya yang membuncit itu.
”Luar biasa sekali ruang kerjamu, Matt..” gumam Komandan Piccard sembari memandangi isi di dalam ruang kerja sang jendral.
Patung dan lukisan para pahlawan dan jendral terkenal, foto-foto bersejarah, tanda jasa dan cindera mata selama sang jendral melakukan kunjungan ke negara-negara sahabat, semuanya membuat ruang kerja sang jendral semakin sedap dipandang. Mereka berdua pun memulai pembicaraan serius.
”Bagaimana dengan gugus tugas yang kau pimpin?” tanya Jendral Halberdier.
”Lancar.. Semua berjalan dengan sangat lancar, tak ada permasalahan selama mereka menjalankan tugas yang diberikan. Kalau pun ada, itu semua bisa diselesaikan dengan cepat.” jawab Komandan Piccard.
Jendral Halberdier tersenyum puas ketika mendengar laporan dari Komandan Picard. ”Tak salah kalau aku memberikan tugas kepadamu untuk memimpin gugus tugas ini..” puji Jendral Halberdier.
Sang jendral menuangkan champagne untuk Komandan Piccard, ”Champagne?” sodor Jendral Halberdier, Komandan Piccard menerimanya dengan suka hati.
”Terima kasih..” jawab Komandan Piccard.
“Sayang sekali kalau minuman berumur duaratus tahun ini tidak dinikmati pada saat sebaik ini.” Timpal Jendral Halberdier.
Mereka berdua mengangkat gelas kristal mereka masing-masing, ”Untuk kesuksesan..” gumam Jendral Halberdier sembari menegak langsung champagne-nya.
“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan para pemberontak Desa Murkovii?” tanya Komandan Piccard.
Jendral Halberdier tersenyum lebar ketika mendengarnya, “Misi perdanamu itu, eh?..” tanya Jendral Halberdier.
”Sangat melelahkan dan menegangkan..” gumam Komandan Piccard.
“Ya, aku juga mendapatkan laporan mengenai misi itu, syukurlah kekhawatiranku ternyata tak terbukti.”
”Lalu, bagaimana dengan kabar mereka?” tanya Komandan Piccard tak sabar.
”Menurut MCA, setelah insiden penyerangan di desa kecil itu, para pemberontak itu habis disapu oleh pasukan Galbadia. Pemimpinnya, Nikolai Tupolevski, dan juga para pengikutnya yang lolos dari pembantaian di Murkovii kini jadi buronan nomer satu di Turkjiyan.” Jawab Jendral Halberdier.
Nicholas Piccard langsung menghabiskan champagne mahal itu. Jendral Halberdier kembali menyodorkan mulut botol champagne-nya.”Tambah?” tawar Jendral Halberdier.
”Tidak, terima kasih.” tolaknya.
“Ada rencana untuk menyelamatkan mereka?” tanya Komandan Piccard.
Jendral Halberdier hanya menghela napas, “Setelah rapat evaluasi operasi perdanamu beberapa hari yang lalu, kami memutuskan untuk tidak terus ikut campur di Turkjiyan, setidaknya untuk sementara waktu..” jawab Jendral Halberdier.
Komandan Piccard terkejut ketika mendengarnya, “Kenapa?!.. Padahal kan mereka telah menyelamatkan agen kita dan kita juga punya kesepakatan untuk membantu mereka, kan?” tanya Komandan Piccard.
Jendral Halberdier menyandarkan tubuhnya yang gemuk itu ke kursi kerjanya yang empuk itu. “Eksekutif yang memegang keputusan, Kolonel.” Jawab Jendral Halberdier singkat.
“Aku masih tak habis pikir, Matt. Mereka itu sekutu kita!.. Mereka memiliki kesepahaman yang sama dengan kita, sama-sama melawan ketiranian Galbadia! Tapi kenapa kalian mencampakkan mereka? Kenapa?!” Komandan Piccard makin naik pitam.
Thx all for the support and the critics, kalo nggak ada kalian mungkin cerita ini nggak akan berkembang

@ Alfare : Yeps, without the baddies and intrigues, sebuah cerita kurang seru, hehe.. Udah mulai dikenalin koq lawan2nya dan juga intrik nya juga dari episode sekarang, semoga kelanjutannya semakin seru.
Hmm. Ini jadi jauh lebih bagus. Editan masih bisa dilakukan sih. Akang udah jauh berkembang nih!
Sejak dulu aku ingin usulin kalo perlu ada tokoh2 antagonis yg juga ditonjolin bagi tim Stradivarius. Intrik2 di kalangan petinggi militer juga bakal bagus. Pernah main Metal Gear Solid? Ayo Akang!
(aku masih rada aneh karena meski ini cerita dgn setting antah berantah, merek dan logo dsb masih sama dgn dunia sini)
kalaupun inovasinya banyak juga gpp kok Akang. Sedikit atau banyak, itu tetap tandanya anda berevolusi ke Akang yang lebih baik
masih the best kok kang...keren nie. lanjuttt...(eh, kaga ada lanjutannya yak?) ahak hak hak...
Hmmm, saatnya membuat sedikit inovasi baru di episode selanjutnya--EPILOG--maaf kalo rada payah bikin epilogue-nya, maklum masih ucup, hehe...