Komandan Piccard hanya bisa berusaha tenang dalam keadaan sangat terdesak itu, kapal akan lolos dan segera masuk ke wilayah Esthar, dan anakbuahnya sedang dikejar-kejar oleh orang satu kapal.
Sial untuk Stradivarius, ketika bergegas menuju pintu keluar, muncul enam penjaga merangsek masuk sembari melepaskan tembakan membabibuta ke arahnya untuk mencegahnya lolos dari cengkraman mereka.
Read more (2017 words)
Stradivarius langsung berguling ke samping untuk berlindung pada dinding palka kapal di dekatnya. Ia bisa mendengar dengan jelas desingan dan pantulan peluru tajam yang menghantam dinding.
Stradivarius melihat jam tangannya, waktu yang ia miliki sudah sangat menipis, apabila terus memaksakan kehendak untuk lolos terlebih dahulu, maka kapal ini akan lolos dari Palung Mariana.
Tak ada waktu lagi!—ia pun kembali mengambil inisiatif—nekat malahan. Ia merogoh kantong celananya, mengambil tombol detonator, mencabut pengamannya dan mengaktifkan bahan-bahan peledak yang tertanam di dalam lambung kapal tanpa ragu.
Tanpa ragu ia memencetnya, walau ia tahu kalau apa yang ia lakukan akan mengancam nyawanya sendiri.
KLIK!
*****
DUMMM!!
Bunyi dentuman memekakkan telinga mencuat dari dek kargo utama Bandolier IV, sang nahkoda dan wakilnya terpelanting karena ledakan itu langsung membuat kapal oleng ke kanan, semua manusia dan barang-barang yang ada berjatuhan dan terguling ke arah kanan kapal dengan cepat.
Sang pilot helikopter yang akan menjemput Stradivarius terkejut ketika melihat ada cahaya terang yang keluar dan disusul bola api plus asap pekat membumbung ke udara dari lambung kanan ECS Bandolier IV.
Stradivarius pun ikut terpelanting karena ledakan mengerikan itu, kepalanya menghantam dinding kapal cukup keras.
“Ya ampun, apa itu?!” tanya seorang awak helikopter sembari menunjuk ke arah bola api raksasa yang membumbung di udara.
”Kapal sialan itu meledak!” jawab pilot helikopter.
*****
“Komandan, kapal berhasil diledakkan!” lapor Anne.
Komandan Piccard menghela napas lega, namun kelegaannya tak lama ketika teringat Stradivarius, nalarnya bekerja, dalam waktu sesempit itu tak mungkin anakbuahnya itu berhasil lolos dari kapal.
“Si keparat itu meledakkan dirinya sendiri!” desis Komandan Piccard khawatir.
*****
Sang kapten kapal dan wakilnya terkejut ketika melihat cahaya sangat terang muncul dari ECS Bandolier IV dan disusul dengan suara dentuman keras yang memecahkan kesunyian dan kegelapan malam di perbatasan itu.
”Apa yang terjadi?!” tanya sang kapten kapal bingung.
Wakilnya hanya bisa terdiam memandangi bola api dan asap hitam pekat membumbung tinggi di udara, menerangi gelapnya samudra, dari dalam lambung Bandolier IV yang mulai ditelan lautan.
”ECS Bandolier IV meledak, Pak!” jawab wakilnya yang tak kalah terpananya melihat Bandolier IV meledak.
*****
“Komandan, ECS Bandolier IV mulai tenggelam menuju mulut palung!” lapor Anne.
Komandan Piccard sedikit bernapas lega, sekarang tinggal anakbuahnya harus meloloskan diri dari kapal itu.
”Stradivarius, di sini Komando, apakah kau mendengarku dengan jelas??” tanya Komandan Piccard dengan nada khawatir.
Belum ada jawaban.
“Stradivarius, di sini Komando, apakah kau mendengarku dengan jelas??” panggilnya sekali lagi.
Belum ada jawaban lagi.
“Stradivarius! Dasar bajingan tengik! Jawab sekarang juga!!”
Stradivarius membuka matanya lebar-lebar, setelah beberapa saat tidak sadarkan diri karena kepalanya terantuk dinding kapal, ia mencoba untuk segera bangkit dan mencoba berjalan menyesuaikan pijakannya yang mulai condong ke kanan, namun rasa sakit yang amat sangat di kepalanya mengganggunya.
Sialan! Aku masih hidup ternyata!—ucapnya dalam hati sembari tersenyum lebar lalu tertawa kecil, memuji keberuntungannya bisa mempermainkan kematian yang sudah dekat sehelai rambutnya.
“—Stradivarius! Kau tak apa-apa??!—“ suara Komandan Piccard menusuk gendang telinganya, membuatnya tersadar kalau ia masih di medan tugas.
Terdengar suara tawa dari frekuensi radio, ”—Whoa, hampir saja!.. Aku tidak apa-apa, komandan!—” jawab Stradivarius yang sedang mentertawakan maut yang luput menerkamnya.
Komandan Piccard menghelan napas lega sejenak, “Stradivarius. Dimana kau sekarang?!” tanyanya yang masih tak bisa menahan kekhawatirannya itu.
“—Aku masih berada di dalam kapal.—“
“Kalau begitu bawa bokong sialanmu itu keluar dari tempat itu! Sekarang!” desak Komandan Piccard.
*****
“Roger, Komando.” Jawab Stradivarius sembari berusaha menyeimbangkan badannya dengan memegangi dinding kapal.
Tiba-tiba di ujung lorong sana, beberapa ABK memergoki dirinya, mereka pun tersadar dan menembaki Stradivarius sembari menunjuk-nunjuki posisinya kepada rekan-rekan mereka lainnya.
Ia berlindung dibalik tembok kapal sambil ditembaki musuh dari ujung lorong yang miring sembari melepaskan tembakan balasan kepada musuh-musuhnya. Mereka pun berlarian menghindari tembakan Stradivarius dan berlindung di sudut-sudut lorong, dan ikut melepaskan tembakan-tembakan buta.
Stradivarius tak bisa menuju buritan kapal—karena terlalu banyak musuh yang menghalanginya—lalu ia memandangi sebuah pintu kaca kapal yang berada disampingnya, ia bisa melihat haluan kapal diluar sana—ia mendapatkan ide bagus.
Ia membuang amunisi MP5-nya yang sudah habis dan mengisinya dengan yang baru. Ia melepaskan tembakan buta dengan tangan kanannya, musuh termakan siasatnya, mereka pun berlindung, ia terus menekan musuhnya untuk tetap berlindung, lalu ia mengambil granat flashbang-nya dan mencabut picunya dengan giginya yang kuat.
Granat flashbang menggelinding mengikuti arah lantai kapal yang miring ke arah musuh-musuhnya yang sedang bersembunyi.
Setelah Stradivarius menghentikan tembakannya, para ABK bersenjata itu langsung bermunculan dari persembunyian mereka tanpa tahu kalau ada granat kejut menggelinding di kaki mereka.
Cahaya dan asap putih mengepul di udara, musuh-musuh Stradivarius itu menjerit kesakitan seperti banci sambil memegangi matanya. Ada yang memejamkan matanya yang perih itu sambil melepaskan tembakan ngawur.
Stradivarius langsung melepaskan tembakan penggertak, otomatis musuh langsung kelabakan bergegas mencari selamat dengan mata yang buta sejenak itu ke tempat aman.
Ia langsung mencabut M1014-nya dan melepaskan tembakan bertubi-tubi ke jendela kapal yang lumayan tebal itu. Dentuman shotgun M1014 yang seperti suara gemuruh guntur itu terdengar bersahut-sahutan.
Tembakan keempat berhasil menjebol kaca jendela kapal, ia langsung memanjatinya dan kabur dari dalam anjungan kapal. Dengan hati-hati ia berusaha menjaga keseimbangannya, berjalan menyusuri dek atas kapal yang semakin miring sembari berpegangan pada sesuatu yang kuat.
“Aaaaa!!..” teriak seorang ABK yang merosot terbawa arus air laut yang merangsek masuk ke dalam kapal, terkantuk lantai kapal dan akhirnya terseret ke dalam dalamnya lautan.
Bandolier IV meringkih, badannya yang besar nan tambun itu semakin hanyut dilalap Samudra Esthar, beberapa awak kapal tak perduli dengan keberadaan Stradivarius, mereka lebih mementingkan untuk bergegas ke sekoci kapal yang selamat atau menceburkan diri ke laut dengan pelampung.
Stradivarius yang sedang sibuk berjalan menyusuri dek kapal yang semakin miring—sembari meraih pagar dek—bisa melihat Warlus terbang hilir-mudik di atas kepalanya beserta suara deru helikopter yang terdengar sayup-sayup.
Stradivarius tersenyum lega ketika mendengar suara deru helikopter itu, “—Akhirnya kalian datang juga!—“ ujar Stradivarius senang.
Sang pilot Seahawk itu bisa melihat posisi Stradivarius dengan jelas, sosok hitam-hitam yang sedang berpegangan dan melambaikan tangan kirinya di pagar dek kapal, ia pun bisa melihat puluhan kontainer kapal yang berada di tengah-tengah dek berjatuhan ke dalam lautan bersama orang-orang yang berlindung di baliknya,.
“Yo, Strad! Bertahanlah disana, kami akan mengulurkan tali untukmu!” pintanya.
“—Roger, Walrus!—“ jawab Stradivarius mantap.
Beberapa awak kapal sepertinya gatal untuk menembaki Stradivarius dan helikopter Seahawk yang menjemputnya, dengan gencar mereka melepaskan tembakan ke arah mereka berdua sembari berdiri di tempat yang datar, Stradivarius membela dirinya dengan melepaskan tembakan balasan.
Senapan mesin M60 yang berada di bagian kanan helikopter mulai menyalak galak, peluru-peluru tajam kaliber 7,62 milimter—dibantu penembak M16A3—dengan kecepatan tinggi menghujani para ABK bersenjata yang mencoba menghentikan Stradivarius menuju buritan kapal tanpa jeda sedikit pun.
Musuh kerepotan dikepung dari dua matra, di darat dan di udara—mana yang harus mereka ladeni? Warlus atau Stradivarius?
*****
“Kapten, ada helikopter yang mendekati Bandolier IV—ia menembaki kapal!” lapor seorang operator kapal kepada sang kapten kapal penjemput.
“Helikopter apa?” tanya sang wakil kapten kapal.
“Helikopter SH-60, milik Angkatan Laut Rune-Midgard, Pak!” jawabnya mantap.
Sang wakil kapten kapal tersentak ketika mendengar jawaban dari operatornya, ledakan keras di Bandolier IV pasti ada hubungannya dengan helikopter milik Angkatan Laut Rune-Midgard itu.
“Siapkan rudal anti-pesawat, tembak jatuh helikopter itu!” titah sang wakil.
“Jangan!” tolak sang kapten kapal. “Jangan tembak helikopter itu, kita hanya diperintahkan untuk menjemput Bandolier IV, bukan membuat masalah yang lebih besar lagi!” tegur sang kapten kapal.
Mereka benar-benar tak berdaya, hanya bisa memandangi Bandolier IV mulai tenggelam ke Palung Mariana.
*****
Walrus tersentak sesaat ketika mesin kirinya ditembaki musuh, alaram peringatan helikopter berbunyi cerewet, namun sang pilot mengacuhkannya dan tetap mempertahankan ketinggian di tengah-tengah gencarnya tembakan musuh ke arahnya.
“Sialan! Kita harus segera pergi dari tempat ini!” desak rekannya sembari mengisi magazen M16A3-nya itu.
Senjatanya menjepret tanpa mengeluarkan sebutir peluru pun, ”Cih! Habis!.. ” ujar Stradivarius kesal ketika baru sadar kalau amunisi yang ia hamburkan tadi adalah amunisi terakhir yang tersisa di kantongnya—yang kini kosong tak ada magazen amunisi yang tersisa dari keenam kantong amunisinya.
Ia langsung mencabut senjata cadangannya, sepucuk shotgun M1014 yang tak lupa ia kokang. Ia kembali melanjutkan pelariannya dengan senapan M1014 itu.
Bandolier IV menukik tajam masuk ke dalamnya palung dibawahnya. Apa yang Stradivarius pijak seketika menjadi sangat miring, beberapa awak kapal yang menembakinya itu langsung jatuh ke dalam laut, ia harus segera mencari sesuatu untuk dipegang sebelum ia akan jatuh bersama yang lainnya ke dalam lautan maut itu.
”Uwaaaaaa!!..” teriak seorang ABK yang tercebur ke dalam lautan.
”Tak ada waktu lagi, turunkan talinya!” desak sang pilot.
Awak helikopter dengan sigap langsung melemparkan tali tambang hitam ke arah Stradivarius yang berdiri tepat di bawah mereka, tapi Bandolier IV yang semakin miring tajam membuat posisi Stradivarius menjauh dari tali tambang yang ia coba raih.
“Sial, meleset!!” ujar awak helikopter.
Sang pilot menggerutu, ia membawa Warlus dengan perlahan mendekatkan tali itu ke posisi Stradivarius. Stradivarius juga sedang berusaha menjulur-julurkan tangannya untuk meraih tali itu, namun tali itu tak kunjung berada di dekatnya.
”Agak ke samping lagi!!” ujar seorang awak helikopter yang memperhatikan posisi tali yang masih jauh dari dimana Stradivarius berada.
Keadaan tak diduga, sebuah ledakan susulan menambah kekacauan di ECS Bandolier IV, karena ledakan susulan itu, kapal raksasa itu dengan cepatnya menukik masuk ke dalam Palung Mariana—tak ada waktu lagi, ia harus mengambil langkah nekat.
Dengan sigap Stradivarius langsung meloncat ke arah tali yang teruntai agak dekat darinya. Ia bisa melihat tali tambang di tengah-tengah kedua tangannya sembari menahan napas, berharap ia berhasil meraihnya.
Stradivarius berhasil meraih tali tambang itu, tubuhnya bergelantungan kesana-kemari di tali itu, ia bisa melihat seluruh Bandolier IV sudah ditelan Mariana.
”Paket sudah berhasil meraihnya!” ujar sang awak helikopter itu.
Sang pilot tersenyum lega ketika mendengarnya, ”Baiklah, segera tarik tali itu, kita segera pergi dari sini. ” ujar sang pilot sembari membawa helikopternya menjauh dari lokasi kejadian.
Sedangkan Stradivarius memandangi tenggelamnya kapal raksasa itu sembari berusaha untuk tetap berpegangan dengan tali helikopter yang bergoyang kencang karena terpaan angin kencang.
*****
“Huaah!!...” erang Stradivarius lega, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai kabin, ia memejamkan matanya sejenak dan mengatur napasnya yang dari tadi terus dibuat tak beraturan.
”Komando, disini Warlus. Paket sudah berada bersama kami. Sekali lagi, paket sudah berada bersama kami.” lapor sang pilot.
Komandan Piccard memejamkan matanya sejenak, lalu mengambil sapu tangan untuk mengusap keringat dingin yang terus bercucuran selama misi berlangsung.
”Bagus, bawa paket sialan itu sampai ke tujuannya!” jawab Komandan Piccard lega.
Komandan Piccard mengusap keringat yang sudah sebesar biji semangka itu dari lehernya. “Bagus, fasis-fasis keparat itu tak mendapatkan apapun..” desisnya puas.
*****
Empat kapal perang penjelajah yang akan menjemput Bandolier IV hanya bisa terperangah melihat kapal yang harus mereka jemput menghilang di cakrawala. Sedangkan sang kapten kapal yang memimpin misi penjemputan itu hanya bisa meratapi karamnya Bandolier IV beserta awak kapalnya.
Misi penjemputan mereka gagal, walau pun hanya sekedar menjemput sebuah kapal kargo, ia pun menarik napas dalam-dalam.
”Perintahkan seluruh kapal untuk mundur!” komando sang kapten kapal dengan berat hati.
*****
Stradivarius memandangi sekoci-sekoci yang ada di bawahnya, mereka tak menembaki helikopter, hanya memandangi helikopter itu dengan keadaan syok dan basah kuyup, pertanyaan pun muncul di benaknya.
“Komando, disini Stradivarius.” Panggilnya.
“—Disini Komando, ada apa, Stradivarius?—” tanya Komando yang terdengar santai itu.
“Bagaimana dengan awak-awak kapal yang selamat, yang sekarang berada di sekoci-sekoci ini?” tanya Stradivarius.
“—Kapal perang kita sedang dalam perjalanan kesana, mereka akan menyelamatkan dan juga meringkus mereka.—” Jawab Komando.
”Roger, Komando.”jawab Stradivarius paham.
“Misi yang menegangkan, heh?” tanya awak helikopter.
Stradivarius tersenyum lebar, ia merogoh kantong IBA-nya. Mengambil sebatang rokok kesukaannya dan membakarnya. Asap rokok mengepul di dalam kabin helikopter, Stradivarius menariknya dalam-dalam dan menghembuskan asap rokoknya dengan ringannya bersama dengan tekanan tugas yang hampir merenggut nyawanya.
”Ya.. Untuk sebuah misi pertama... ”jawab Stradivarius yang masih terengah-engah itu.
Akhirnya ia bisa merokok juga, sudah dari ia berada di dalam kapal selam ia ingin merokok, namun baru kesampaian ketika berada di helikopter, nikmat benar rasanya ketika rokok kesukaannya menempel di bibirnya.
Ia melambaikan tangan kepada kapal perang Galbadia yang mulai banting stir meninggalkan perbatasan.
”Bon Voyage!...” ujar Stradivarius sembari tersenyum lebar.
=== TASK FORCE : STRADIVARIUS EPISODE DUA SELESAI ===
@ cr sikado : wah, minal aidin juga, punten kalo ada salah2 kata, yah!..
@blue dragon : Naah, makanya dari itu ikutin kelanjutannya!
aduh2 minal aidin walfaidin kang, nanti semua TF na aku baca yang belum kebaca, lebaran asli ga bisa online euy wakaka
Stradivarius ? itu bukannya nama org yg pertama kali bikin instrumen biola ya ?
Aaah, nggak kerasa besok udah musti balik ke Bandung.
Kuliah dan kerjaan sudah menunggu disana..
Sebelum balik, publish dulu ceritanya!..
Please, have fun!