”Segera hubungi MSS Saratoga untuk segera mengirimkan Warlus menuju sasaran.” komando Komandan Piccard.
“Tapi komandan, apakah secepat ini kita harus mengirim mereka?” tanya Anne ragu.
”Aku merasa kita harus mempercepat skenario misi ini, apalagi kondisi cuaca mulai membaik beberapa menit yang lalu. Segera laksanakan, Sersan!” desak Komandan Piccard.
Beberapa menit kemudian—setelah mendapatkan perintah berangkat dari Komando—awak helikopter SH-60 Seahawk dengan kode sandi “Warlus” langsung bergegas menuju kendaraan kesayangan mereka.
Read more (1879 words)
”Kenapa kita harus bergegas lebih cepat dari yang direncanakan?..” tanya sang ko-pilot yang sedang sibuk mengutak-atik instrumen disekitarnya.
”Tak ada pertanyaan, yang ada kita harus segera berangkat.” jawab sang pilot sembari menyalakan mesin helikopter dan mengaktifkan perangkat navigasinya.
NGUUUNGGG...
Bunyi dengungan mesin helikopter, beberapa menit kemudian rotor helikopter mulai berputar perlahan-lahan, sedangkan baling-baling ekornya mulai berputar kencang.
Tiga awak helikopter yang datang belakangan, bergegas masuk ke dalam kabin helikopter dan menuju posisi mereka masing-masing, dua orang merapat ke senapan mesin ringan M60 yang masing-masing bertengger di sisi kiri dan kanan helikopter, sedangkan yang ketiga meraih senapan M16A3 dengan teropong bidik yang ada di rak yang membelakangi kursi pilot.
Para ABK melepaskan tali pengekang yang mengikat ketiga roda kokoh helikopter—yang digunakan untuk mencegah sang helikopter bernilai puluhan juta yang mangkal di atas dek kapal, lari dari posisinya dan nyemplung ke samudra karena hembusan angin laut atau ombak lautan.
Sang pilot menyetel frekuensi radio dimana Komandan Piccard berada, Setelah menyetel di frekuensi yang ditentukan, sang pilot langsung melapor.
”Kepada Komando, disini Warlus, kami sedang dalam perjalanan menuju sasaran!” lapor sang pilot.
“—Disini Komando, diterima Warlus—!” jawab Komandan Piccard.
WRRRRRR!!
Bunyi deru rotor Warlus yang memecah kesunyian dek kapal MSS Saratoga itu. Seorang kru kapal memberikan isyarat kepada sang pilot kalau helikopter sudah siap untuk berangkat, beberapa kru kapal dengan rompi bewarna-warni, berhaburan menjauhi posisi Warlus yang bersiap untuk terbang.
“Ayo kita berangkat!!” ujar awak helikopter sembari menggenggam erat senapan M16A3-nya itu tak sabar.
Sang pilot membalas jempol sang kru kapal dengan acungan jempol. Beberapa saat kemudian, Warlus sudah mengangkasa, menuju kawasan perbatasan Midgard-Esthar dimana Stradivarius dan Bandolier IV berada.
Sang ko-pilot sedang mengawasi kondisi cuaca di radar cuaca yang tak jauh dari paha kirinya, badai yang berbentuk pusaran bewarna hijau mint terpampang jelas memakan layar LCD, Bandolier IV terlihat berada di ekor badai yang mulai berputar menjauhi kapal itu.
”Sepertinya penerbangan kali ini tidak berlangsung mulus, kawan!.. Paket kita berada di daerah badai.” umum sang ko-pilot kepada para awak helikopter.
Sang pilot memandangi citra badai yang ada di dalam layar LCD radar cuacanya itu, ia pun mengangguk, “Yup!.. Dengan pusaran sebesar itu, kita akan jadi susu kocok.” Jawabnya setuju.
Para operator senapan mesin M60 hanya bisa menelan ludahnya ketika mendengar kalau penerbangan mereka akan menuju kawasan badai.
”Emmm.. Dan ada satu hal lagi, empat kapal perang Galbadia sedang berlayar mendekati perbatasan.” tambah sang co-pilot setelah melihat kondisi sekitar sasaran lewat GPS.
Empat titik bewarna merah berada di dalam wilayah kedaulatan Esthar mendekati garis wilayah kedaulatan Republik Rune-Midgard yang bewarna garis putih putus-putus, sedangkan ECS Bandolier IV beberapa milimeter lagi—di layar GPS—akan memasuki wilayah Esthar.
“Apa jenis kapal perang itu?” tanya seorang awak helikopter resah.
“Emmm, keempat-empatnya Kelas Roughenberg, kapal penjelajah ringan, benar-benar masalah besar.” Jawab sang pilot.
“Yow, apakah kita tidak akan ditembaki oleh empat kapal itu nantinya, kalau kita terlalu dekat dengan mereka?” tanya si M16A3 resah.
“Tergantung, kawan—sebenarnya, negara kita dengan negara mereka tidak berperang sehingga tak akan menyerang kita kalau kita masih berada di wilayah perairan kita sendiri—tapi entahlah, aku berharap tangan mereka tak gatal.” Jawab sang co-pilot.
Semua awak helikopter bersandi Warlus itu hanya bisa berharap kalau mereka masih bisa berada di kawasan Midgard sembari menikmati goncangan-goncangan turbulen ekor badai yang mereka lewati, sedangkan sang pilot terus memacu helikopternya dengan kecepatan penuh, naik-turun, naik-turun dengan menghentak-hentak seperti memaksakan mobil sedan mewah untuk ngebut di jalanan rusak.
Mereka berdoa—sembari berpegangan pada dinding kabin—berharap mereka tak jatuh karena badai maupun ditembak oleh rudal anti-pesawat dari kapal perang musuh yang kebetulan seorang operator senjatanya tak sengaja jempolnya terpeleset menekan tombol peluncuran .
Helikopter yang hanya bermodalkan sepasang senapan mesin M60 dan sepasang rudal anti-kapal Harpoon tak akan cukup untuk bisa mengaramkan keempat kapal perang penjelajah, dengan sistem persenjataan yang jauh lebih lengkap dan banyak, sekaligus.
*****
Beberapa mil di wilayah perairan Esthar, empat kapal penjemput itu berlayar dengan kecepatan sedang. Berlayar hati-hati menyusuri arus samudra yang masih kurang bersahabat. Sang kapten dari empat kapal perang itu sedang memperhatikan cakrawala yang ada di depannya yang tertutup kabut.
Seharusnya mereka sudah bisa melihat visual Bandolier IV, namun belum ada tanda-tanda keberadaannya, mencari kapal di tengah badai memang mengesalkan, walau dekat, jarak pandang yang terhalang kabut dan derasnya hujan badai membuatnya terasa sangat jauh.
Beberapa saat kemudian, terlihat cahaya-cahaya kecil yang bersinar remang-remang samudra yang berkabut—itu lampu kapal Bandolier IV.
”Apakah itu kapalnya?” tanya sang wakil kapten sembari membenarkan tudung jas hujannya yang bewarna hitam.
”Tidak salah lagi..” gumam sang kapten yang bisa melihat tulisan ECS Bandolier IV di haluan kapal raksasa itu dari teropongnya, “Perintahkan kepada seluruh kapal untuk bersiap-siap melakukan penjemputan!” komando sang kapten kapal.
*****
“Pak, radar maritim kita mendeteksi kapal perang Galbadia berada di garis perbatasan. Posisi mereka berada di dekat Bandolier IV dengan jarak dua puluh mil!” lapor Anne.
Komandan Piccard memandangi pantauan radar maritim itu, ”Mereka sudah sampai... Anne, kapan Bandolier IV akan sampai di wilayah Esthar?” tanya Komandan Piccard.
“Dengan kecepatan berlayar yang dimiliki Bandolier IV, maka mereka akan sampai setengah jam lagi, Pak!” jawab Anne.
Komandan Piccard langsung menghubungi Stradivarius.
”Stradivarius, disini Komando. Waktumu tinggal lima belas menit lagi, selesaikan tugasmu dan segera pergi dari kapal itu dan ledakkan kapal itu secepatnya!”
“Roger, Komando.” jawab Stradivarius yang sedang melaksanakan tugas akhirnya, yaitu memasang bahan peledak di Blok terakhir, Blok 4-9.
Dengan hati-hati ia menurunkan badannya sembari tak lupa mengawasi sekitarnya. Setelah aman, ia langsung segera meninggalkan tali tambang hitam itu, karena nanti ia akan keluar dari lambung kapal dengan menaiki tangga.
Sekarang tinggal mencari posisi yang enak untuk menanamkan bahan peledak terakhir di Blok 4-9.
Sial baginya, ketika ia mau melintasi perempatan lorong menuju Blok 4-9, ia melihat seorang ABK bersenjatakan G3 memandanginya dengan tatapan terkejut.
Sial!—umpatnya. Ia pun langsung bergegas lari menuju kegelapan Blok 4-9.
“Siapa itu?!” labrak sang ABK sembari menodongkan senapan G3-nya ke arah lorong depan yang gelap.
Stradivarius pun melepaskan tembakan gencar namun senyap ke arah ABK sial itu, beberapa peluru menerjang seluruh tubuhnya, sedangkan sisanya meleset dan memantul di lorong sehingga menimbulkan suara dentingan yang keras.
Dua rekannya yang tak jauh berada di posisinya berada, mendengar suara berisik iyu, tanpa banyak tanya, mereka langsung saja bergegas menuju lorong dimana suara itu berasal.
Stradivarius bisa mendengar jelas suara dentingan lantai besi terdengar bersahut-sahutan, berarti ada banyak orang yang mendengar suara rikoset pelurunya itu, ia pun bergegas menghilang.
Dua orang ABK itu sampai di lorong dimana asal suara mencurigakan itu berada, namun ketika mereka datang ke sana, tak ada apa pun yang mencurigakan, semuanya kosong, tak ada apa-apa, mereka masih kebingungan, mempertanyakan pendengaran mereka yang terlalu tajam.
“Sial! Padahal aku mendengar suara ribut-ribut di sini!” kutuknya atas keraguan dirinya kepada rekannya yang melongok-longok ke sepanjang lorong sempit dan penuh dengan pipa uap.
Sedangkan di ujung lorong, Stradivarius sedang bersembunyi di balik sudut lorong, menyimak pembicaraan kedua ABK yang masih kebingungan itu sembari terus menggenggam erat senjatanya dan memandangi jasad yang ia seret ke tempat persembunyiannya.
“Hanya perasaan saja..” gumam seorang ABK sembari meninggalkan tempat itu, telinga Stradivarius yang tertutup tudung selamnya itu bisa mendengar mereka berjalan meninggalkan tempat kejadian perkara itu dengan tenang.
Setelah lama menunggu agak lama, ia pun memberanikan diri untuk melihat lorong itu, mencoba meyakini kalau dua penjaga itu benar-benar meninggalkan tempat itu, positif kosong, Stradivairus menghela napas lega—hampir saja!
“—Stradivarius, kau sudah mulai kehabisan waktu! Segera selesaikan tugasmu! —“ desak Komandan Piccard yang semakin resah melihat posisi Bandolier IV mulai keluar dari mulut palung.
Untung saja suara Komandan Piccard yang lantang marah-marah itu hanya terdengar di telinganya saja, ia langsung bergegas memasang bom terakhir sebelum segera meninggalkan kapal itu.
”Blok 4-9 sudah!” lapor Stradivarius sembari bergegas pergi dari tempat itu.
”Dan segera pergi dari tempat itu!!” desak Komandan Piccard.
Ia pun bergegas meninggalkan Blok 4-9 menuju dek atas, keluar dari dek utama yang gelap dengan pengab itu, loncat dari atas kapal, berenang agak jauh dari kapal dan menyalakan detonator bahan peledak, dan—bum! Misinya berhasil.
Namun pikirannya itu langsung buyar ketika ia memergoki seorang ABK yang luput dari pengawasannya itu sedang melaporkan mayat orang yang ia habisi itu, lewat radio.
“Kepada seluruh ABK! Ada penyusup! Semuanya waspada!” umum ABK itu lewat saluran terbuka.
Tak ada jalan lain!—Desak Stradivarius kepada dirinya sendiri.
ABK itu tersentak ketika memergoki Stradivarius berlari kencang ke arahnya sembari mencabut pistolnya dan bersiap-siap mengayunkannya dari kegelapan ruang mesin.
”Hey!!” labraknya sembari mengarahkan senjatanya dengan panik, namun, Stradivarius terlalu cepat untuknya, sebuah hantaman keras gagang pistol mendarat menyakitkan tepat di dahinya.
Ia jatuh tergeletak di atas lantai sembari memegangi dahi mengkilatnya yang berdarah dan mengerang kesakitan, tiga tembakan senyap langsung menembus jantung dan kepalanya tanpa ampun, Stradivarius memandangi mayat yang ia lupa untuk disembunyikan, sembari meringis mengutuk kecerobohannya itu.
*****
“Ada penyusup yang masuk ke kapal kita, Kapten!!” lapor seorang kru nahkoda yang mendapatkan laporan kilat itu kepada sang kapten kapal.
Sang nahkoda dan wakilnya hanya bisa menganga ketika mendengar laporan anakbuahnya, sepertinya guntur yang menyambar antenna kapal kalah telak dengan berita ada penyusup yang masuk ke kapalnya.
“Ba—Bagaimana bisa??” tanya sang nahkoda tak percaya.
“Segera nyalakan alaram tanda bahaya!!” desak wakilnya yang bisa mengendalikan keterpukulannya.
Kru nahkoda yang diperintahkan langsung memencet alaram tanda bahaya untuk memperingatkan seisi awak kapal yang masih belum menyadari keberadaan tikus got yang sempat berhasil menyusup dan menghabisi beberapa rekannya tanpa ketahuan—juga nyaris kabur tanpa ketahuan.
*****
Suara sirene tanda bahaya dinyalakan, sudah tak usah ditebak lagi, keberadaannya sudah ketahuan! Namun Stradivarius tetap terus berlari menuju buritan kapal untuk segera meloloskan diri.
“Well, sepertinya aku sudah benar-benar ketahuan!” ujarnya di tengah pelarian.
Seisi kapal langsung heboh. Para ABK yang sedang menikmati waktu istirahatnya di dek tidur, langsung beranjak dan meraih senjata mereka masing-masing—dengan wajah penuh Tanya, apa yang terjadi?
“Apa yang terjadi??” tanya seorang ABK yang sedang asyik nongkrong di bar kapal kepada rekannya yang mulai beranjak dari tempat duduknya sembari membawa senjatanya.
“Kita kedatangan tamu! Ayo!” jawabnya terburu-buru.
Keadaan berubah begitu cepat, kebingungan para awak kapal seketika berubah ketika sang nahkoda mengumumkan alasan kenapa ia menyalakan alaram bahaya, mereka yang bebas dari tugas jaga berhamburan keluar dari kamar masing-masing—Stradivarius membuat seisi sarang lebah mengamuk!
”—Ada penyusup di kapal! Cari dan habisi dia!!—” desak sang nahkoda yang keluar dari speaker-speaker yang terpasang di seluruh bagian kapal yang mulai dipenuhi olah orang-orang bersenjata dan berwajah waspada.
”Itu dia!!” tunjuk seorang ABK kepada kelima rekannya ketika memergoki Stradivarius yang sedang berusaha kabur meninggalkan dek kargo utama.
Belum sempat menembak, mereka sudah harus menyingkir berlindung di balik kontainer ketika buruannya itu melepaskan tembakan buta ke arah mereka. Ketika tak ada tembakan lagi, mereka memberanikan diri untuk keluar dari perlindungan mereka—buruannya sudah tidak ada, mereka pun segera mengejarnya.
“Komandan, sepuluh menit lagi kapal akan melewati palung!!” lapor Anne yang ikut panik.
Dari wilayah Esthar, sang kapten kapal bisa mendengar sayup-sayup suara alaram dari arah Bandolier IV, ia pun bisa melihat beberapa ABK berlarian sembari menenteng berbagai macam senjata ke segala penjuru dek kapal dengan teropongnya.
“Ada apa, Kapten?” tanya sang wakil kebingungan.
“Sepertinya kawan kita sedang dalam masalah.” Jawab sang kapten sembari berdesis tajam.
siip lah..
Hope you enjoy it!
Hope you enjoy it!
Hope you enjoy it!