“Bandolier IV akan berlayar diatas permukaan Palung Mariana, palung ini cukup dalam untuk menelan kapal raksasa itu beserta isinya. Kau harus mensabotnya tepat pada waktunya, tepat ketika ia berada di area palung raksasa ini.
Lakukan sebelum kapal ini melintasi palung ini dan dijemput oleh kapal perang Kekaisaran Galbadia yang melakukan patroli di sekitar perbatasan Esthar-Midgard. Kita menemukan aktifitas pelayaran dan berhasil menyadap komunikasi radio sebuah kapal perang milik Angkatan Laut.
Read more (1985 words)
Mereka mengatakan kalau akan berlayar menuju garis perbatasan untuk menjemput Bandolier IV yang sedang melaksanakan tugas terakhirnya karena operasi intelijen mereka akhirnya ketahuan MFB.”
Sudah tak ada lagi sisa tembakau di rokoknya, dengan santainya ia membuang puntung rokoknya ke lantai dan menginjaknya, satu batang rokok kesukaannya ia cabut dari dalam bungkusnya dan menempelkannya ke bibir.
”Menenggelamkan ke dalam palung, agar barang-barang curian itu tidak bisa diambil kembali oleh musuh, heh?” tebak Stradivarius sembari menyalakan rokok keduanya.
Ia menyesap dalam-dalam asap rokoknya dan menghembusnya dengan tenang ke udara.
Komandan Piccard tersenyum, “Analisis yang bagus, prajurit.” Jawab Komandan Piccard.
Stradivarius menyandarkan tubuhnya ke sofa, sambil kembali menyesap dalam-dalam dan menghembuskan asap rokoknya pelan-pelan.
”Ngomong-ngomong, kenapa kita tidak langsung saja terang-terangan menghancurkan kapal itu? Dia kan melakukan pencurian rahasia negara dan berada di wilayah yurisdiksi kita, kan?” tanya Stradivarius enteng.
“Argumen yang bagus, Stradivarius.. Aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu. Tapi sayangnya kita terganjal oleh para haram jadah yang bernama politikus yang ada di pemerintahan kita.
Mereka minta untuk membuat sabotase ini dibuat seolah-olah kecelakaan murni, dan kita tidak ada pilihan lain kecuali mematuhi permintaan, secara konstitusional, para bos kita di gedung sana.” jawab Komandan Piccard.
“Alasan yang tak masuk akal.” gerutu Stradivarius.
Militer dan politik seperti kucing dan anjing, juga minyak dan air, tak akan bisa kompak dan mengerti satu sama lain, tapi militer akhirnya menjadi kerbau yang dicokok hidungnya, mematuhi segala perintah para pejabat tinggi yang dikuasai para politikus, dunia memang tidak adil.
”Itu bukan urusanmu untuk memikirkan alasan mereka—termasuk aku!” tegur Komandan Piccard.
“Yang harus kau pikirkan sekarang, adalah menyusup dengan diantar dengan kapal selam, menyusup dan memasang C4 di dalam lambung kapal, segera keluar dan meledakkan Bandolier IV tepat diatas Palung Mariana dari jarak yang aman sebelum kau akan dijemput oleh helikopter.” Lanjut Komandan Piccard.
“Siap, Komandan.” jawab Stradivarius.
“Sebelum taklimat ini ditutup dan kau mempersiapkan tugas perdanamu ini, aku ingatkan sekali lagi. Para mata-mata Galbadia itu mengatakan bahwa, kapal kargo ini dijaga ketat oleh pasukan Angkatan Laut Kekaisaran Galbadia yang menyamar menjadi ABK Bandolier IV, mereka bersenjata dan berbahaya.”
Akhirnya taklimat singkat itu selesai, Komandan Piccard berdiri dari duduknya untuk bersiap-siap memimpin operasi rahasia itu. Stradivarius langsung berdiri tegap dan memberikan hormat kepada sang komandan.
”Setengah jam lagi jemputan akan datang. Ini tugas pertamamu, jadi, bersiaplah sebaik mungkin.” ujar Komandan Piccard sembari mengambil kembali berkas taklimat rahasia itu.
“Semoga beruntung!” lanjut Komandan Piccard sembari membuka pintu keluar ruang CQB.
Stradivarius dibiarkan sendirian, diam mematung dengan rokoknya yang sudah mulai sebatas filter, terselip di antara telunjuk dan jari tengah kanannya, tak disangka, ia langsung diberikan tugas yang tergolong berat untuk sebuah tugas pertamanya.
Menyusup ke sebuah kapal kargo raksasa yang dijaga oleh para anakbuah kapal bersenjata—mereka pasti banyak kalau dilihat dengan seberapa besar kapal sialan itu—Stradivarius hanya bisa meringis sembari menggelengkan kepalanya, melemparkan puntung rokoknya dan menginjaknya dengan gemas.
“Sialan!” desisnya yang sudah keracunan adrenalin.
Akhirnya yang selama ini ia tunggu—datang juga sekarang!
PUKUL 2200
SUATU TEMPAT DI SAMUDRA ESTHAR
PERAIRAN REPUBLIK RUNE-MIDGARD
WRRRRRRRR!!!
Bunyi deru rotor helikopter SH-60 Seahawk milik Angkatan Laut Rune-Midgard yang membawanya ke sebuah tempat rahasia dimana letaknya berada di luasnya Samudra Esthar.
Stradivarius terus menghisap rokok filter kesukaannya untuk melepaskan ketegangan di dalam kabin helikopter, saatnya ia bisa menikmati rokok kesukaannya, sebelum harus rela berpuasa sejenak sampai misi pertamanya selesai.
Pakaian selam yang terbuat dari karet khusus anti-air bewarna hitam yang nyaman, dan sebuah ransel MOLLE hitam legam tahan air—yang berisi semua perlengkapan yang akan ia butuhkan nanti—teronggok di sampingnya, itu yang akan ia bawa dalam perjalanan ke Bandolier IV nanti.
“Nah, itu dia!..” tunjuk awak helikopter Seahawk ke sebuah siluet kapal selam yang sedang berlayar di permukaan laut sore hari dengan laut yang cukup tenang.
Kapal selam kelas Advent, MWS Red XIII dengan gagahnya berlayar di lautan luas, tak pernah ia sangka kapal selam kelas terbesar yang dimiliki oleh Angkatan Laut Rune-Midgard itu begitu besar dari yang ia bayangkan selama ini.
”Baru pertama kali aku melihat kelas Advent dengan mata kepalaku sendiri..” gumamnya kagum.
“Yeah!.. Tiga Seahawk bisa parkir di atas punggungnya!” timpal awak helikopter.
Jauh di ujung kapal, terlihat sebuah kapal selam SDV yang menempel diatas badan kapal, persis seperti ikan remora yang terus menempel pada tubuh ikan paus biru raksasa, itu akan jadi wahana transportasi untuk mengantarnya ke Bandolier IV nanti.
“Red XIII, disini Seabird, kami melihat visualmu dari atas sini, ganti!” panggil pilot Seahawk yang mengantar Stradivarius itu.
Beberapa saat kemudian, kapten kapal selam Red XIII pun menjawab panggilan sang pilot.
“—Di sini Red XIII, roger, kami juga bisa melihat visualmu dari bawah sini!—“
Sang pilot langsung bermanuver terbang tepat diatas kapal selam MWS Red XIII itu, dengan hati-hati ia mendekatkan Seahawk-nya dengan kecepatan rendah, menyesuaikan posisi dengan sasaran bergerak butuh kemampuan yang tinggi.
Setelah merasa posisi antara helikopter dan punggung kapal selam sudah cukup pas, sang awak lalu mengulurkan tali tambang ke bawah, “Saatnya kau turun!” ujar awak helikopter.
Stradivarius pun mengangguk mengerti, ia pun segera bersiap untuk meluncur ke kapal selam itu dengan tali tambang itu.
“Terima kasih atas tumpangannya, kawan!” ujar Stradivarius sembari memasang body harness yang ikut tergantung pada tali tambang itu dengan kuat.
”Sama-sama, kawan! Semoga sukses.” jawab si awak helikopter itu.
Gesekan antara pakaian selam Stradivarius yang sedang fast rope dengan tali tambang itu terdengar berdecit-decit cepat, ia pun mendarat dengan mulus dan selamat diatas lambung kapal selam raksasa yang licin oleh air laut itu.
Setelah kedua sepatu boot anti-licinnya menjejak di punggung kapal selam dengan mantap dan melepaskan kembali body harness, ia mengacungkan jempol kearah Seahawk.
Beberapa saat kemudian, Seahawk melesat meninggalkan Stradivarius bersama kapal selam hitam itu dengan kecepatan penuh, tak sampai satu menit, helikopter pengantarnya itu hilang di tengah cakrawala yang mulai gelap.
Ia pun berjalan dengan hati-hati menuju pintu masuk, ia tak mau menggagalkan misi yang akan ia laksanakan nanti karena jatuh terpeleset dan terjebur ke laut karena lambung kapal selam yang sangat licin itu.
Seorang awak kapal membukakan pintu untuknya, lengkap dengan jaket biru muda dan topi bergambarkan kapal selam kebanggaan mereka itu.
”Selamat datang di Red XIII, kawan!” sambut sang awak kapal selam itu ramah kepada pria berpakaian selam superketat itu.
”Terima kasih.” jawabnya dengan senyuman tak kalah lebar dari sang awak kapal selam itu sembari bergegas masuk ke pintu palka.
*****
Tiba-tiba kapal selam-mini yang mengantarnya oleng ke kiri, membuat dirinya yang sedang melamun itu tersentak kaget dan refleks memegangi dinding kapal.
”Whoa!.. Ada apa ini, kapten??” tanya Stradivarius panik.
”Tenang saja, hanya ombak besar lewat..” jawab sang kapten kapal selam-mini dengan entengnya.
Yeah, hanya ombak besar gundulmu! Hampir saja goncangannya membuat jantungku copot!—Kutuknya dalam hati sembari memandangi asam sang kapten kapal dan co-pilotnya terlihat menikmati perjalanan ini seperti sepasang manula yang sedang pergi piknik.
Dengan hati-hati, kapal selam mini itu menyelam mendekati ECS Bandolier IV yang berada lima puluh kaki di atas permukaan mereka yang juga sedang sibuk diombang-ambing ombak lautan.
Stradivarius menghela napas panjang mencoba menenangkan diri setelah jantungnya berdegub kencang karena ombak besar yang tak sopan membangunkannya dari lamunan.
”Kepada Komando, disini Berang-Berang, kami sudah sampai di titik peluncuran.” lapor kapten kapal selam mini itu sembari terus mempertahankan posisi kapal selamnya yang digoyang oleh ombak besar untuk tetap berada dekat dengan sasaran.
”—Disini Komando, diterima Berang-Berang!.. Stradivarius, kau dengar itu?—” tanya Komandan Piccard.
“Sangat jelas, Komando. Disini Stradivarius, bersiap untuk meluncur ke sasaran.” jawab Stradivarius.
Tanda perintah untuk berangkat sudah keluar dari mulut Komandan Piccard alias Komando, ia pun dengan kesulitan—karena badannya yang dijejali ransel besar dan peralatan selam yang tak kalah berat dan besarnya—mencoba berdiri dari tempat duduknya.
Ia memeriksa kembali peralatannya—termasuk tali tambang sintetis yang melilit pinggangnya itu, setelah yakin semuanya beres ia pun bergegas masuk ke dalam sebuah ruangan sempit sebesar tubuh orang dewasa plus peralatan selamnya.
”Sudah siap, kawan?” tanya seorang awak kapal selam sembari mengedipkan matanya.
Stradivarius menghela napas panjang, “Dari tadi aku sudah siap.” Jawabnya.
Setelah Stradivarius duduk di ruangan kecil yang hanya mampu menampung empat orang—berjejalan, awak kapal menutup palka ruangan kecil itu serapat mungkin agar air laut yang akan menyembur masuk ke dalam ruangan kecil itu tidak merembes ke dalam ruang kendali.
Ia pun segera memasang kacamata selamnya yang tebal dan membuka keran selang oksigen yang sudah ia masukkan ke dalam mulutnya, ia bisa merasakan aliran segar masuk ke dalam paru-parunya.
Tanpa ragu sang kapten memencet tombol pintu peluncuran. Beberapa saat kemudian, lantai yang Stradivarius injak terbuka, air laut pun merembes kencang hingga memenuhi ruangan.
Dengan cepat ia mengayuhkan tangan dan kakinya untuk keluar dari SDV, lalu ia menyalakan baling-baling kecil untuk membantunya cepat ke permukaan laut, gelombang pasang di kedalaman laut sedikit mengubah posisi menyelamnya itu.
Ia bisa merasakan kalau tubuhnya yang ditekan dari atas itu bergeser sedikit demi sedikit, ke kiri dan ke kanan karena terbawa arus, namun ia terus melihat ke permukaan, membiarkan tubuhnya yang berat itu di dorong oleh baling-baling kecil yang membuatnya seperti kapal selam hidup—dan bisa merokok.
Akhirnya ia sampai di permukaan laut, ia bisa merasakan kalau gelombang pasang lautan mengangkatnya tinggi-tinggi, gemuruh hujan badai disertai terjangan petir menyambutnya, Stradivarius berusaha untuk tetap mengendalikan tubuhnya agar tidak terbawa arus lautan yang menjauhinya dari kapal.
Ia bisa melihat ECS Bandolier IV yang luarbiasa besarnya itu, terombang-ambing dan dihantam deburan ombak oleh ganasnya cuaca buruk di Samudra Esthar, lampu-lampu Bandolier IV pun terlihat remang-remang karena pendeknya jarak pandang, tak disangka, monster sebesar Bandolier IV, bisa nyaris tak berdaya seperti kapal kertas. Satu jam lagi, kapal itu akan lolos dari mulut Palung Mariana.
“Disini Stradivarius, aku akan bergerak menuju sasaran!!” lapor Stradivarius sembari melepaskan perlengkapan selamnya yang berat.
Ia langsung menyelam dan berenang menuju sasaran, mencari celah yang bisa , dengan menggunakan kedua tangan dan kakinya sendiri.
*****
Sedangkan di dalam kapal, sang kapten kapal terus mengawasi kondisi kapal raksasanya itu. Ia bisa bernapas lega, walau dihajar oleh ombak besar, Bandolier IV masih tetap berlayar sesuai dengan jalurnya dengan menggunakan sistem GPS.
Setelah beberapa lama meninggalkan rekannya untuk menghubungi kapal penjemput serta memantau sadapan komunikasi radio, sang wakil nahkoda kembali ke anjungan kendali kapal.
”Bagaimana dengan kapal kita?” tanya sang wakil.
”Sesuai dengan jalurnya, kau tidak perlu khawatir..” jawab nahkoda enteng sembari menyandarkan punggunya di kursi.
Sekarang giliran sang nahkoda yang bertanya, ”Lalu.. Bagaimana dengan jemputan kita?”
“Sebentar lagi mereka sudah sampai di titik pertemuan.” Jawab sang wakil.
Lau bagaimana dengan pantauan alat penyadap dan radarmu?.. Apakah ada yang mencurigakan dari komunikasi dari pihak berwajib?” tanya sang nahkoda.
Sang wakil menggelengkan kepalanya. ”Tak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya berjalan dengan sempurna, toh satu jam lagi kita akan sampai di wilayah Esthar.” jawab sang wakil nahkoda yakin.
Sang nahkoda berpikir sejenak, ia merasa ragu, ia pun berani untuk bicara kepada wakilnya itu.
“Ngomong-ngomong, apa iya militer mereka tidak bertindak sedikit pun?” tanya nahkoda curiga.
Wakilnya tersenyum sinis, “Mereka tak akan mau mengorbankan kapal perang mereka di tengah badai seperti ini!” ejeknya.
Mereka berdua pun tertawa lepas, menikmati sekali ejekannya kepada militer Rune-Midgard selagi bisa.
*****
Stradivarius terus berusaha mengayuh kedua tangan dan kakinya hingga ia sampai di dekat Bandolier IV, walau gelombang ombak yang tak terkendali itu terus berusaha mengubah arahnya.
Kejamnya ombak itu tak menciutkan nyali dan usahanya untuk sampai ke kapal, karena berenang di tengah ombak tinggi dan ganas—serta dingin—sudah menjadi santapan sehari-hari ketika dia dilatih.
Akhirnya ia berhasil juga mendekati Bandolier IV, ia pun segera mencabut pistol M1911A3-nya dan memasang alat pengait—yang menghubungi tali tambang yang ada di pinggangnya—pada ujung larasnya, ia pun membidik pistol yang terkenal tahan gerusan air garam itu ke pagar buritan kapal. Namun ia tak terburu-buru untuk langsung melepaskan tembakannya, ia menunggu gelombang yang mengganggu bidikannya itu mulai tenang.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya timing-nya datang juga. Ia pun langsung menekan picu pistol M1911A3-nya dengan mantap.
Yaay!!.. Epi 3.3 udah nongol!.. Hope you enjoy it.
Yaay!!.. Epi 3.3 udah nongol!.. Hope you enjoy it.