Sebuah kapal hitam melintasi awan. Bentuknya bagai tanjung berlapis batu karang. Sayap-sayapnya yang menyala dengan beraneka warna, penerang bagian-bagian tubuhnya yang kelam, membelah angin senja yang bertiup di latar langit merah keemasan. Inilah Gran Federick VII , salah satu markas bergerak terpenting yang Pihak Cahaya miliki semenjak dimulainya masa Kaliyuga.
Read more (3634 words)
Bentuk anjungan yang lonjong dengan kaca-kaca persegi. Badan bagian atas yang berbentuk mirip dengan badan kapal-kapal layar. Sepasang sayap bagai dayung yang memanjang dari kedua sisi. Lalu sebuah lubang keluar di bawah lambung bagi pasukan Prajurit Prana. Di atas deretan lubang meriam pendukung, terbujur laras meriam utama di punggungnya: Palakka, yang disebut-sebut sebagai tiruan tombak para dewa.
Tujuan utama kapal itu hanya satu: memastikan keselamatan umat manusia selama masa Kaliyuga berlangsung, dengan membasmi Hamarut.
Senja I
Duduk di mulut lubang tempat Prajurit Prana terlontar keluar, di atas lantai miring tempat kaki-kaki raksasa itu meluncur, bersandar pada permukaan silindris dinding-dinding logam itu adalah pemuda Janis Jacombe bersama sahabatnya, Fara Fadilla.
Janis; remaja yang baru belakangan memperlihatkan tanda-tanda pendewasaannya. Berambut coklat gelap yang tertata liar karena selalu tersibak angin. Ia duduk memakai jas kulit pendek berwarna coklat dan syal putih rajutan ibunya sendiri.
Fara, sebaliknya; gadis yang nampak matang. Ukuran tubuhnya lebih kecil dari Janis. Namun dari matanya yang jernih, ia nampak lebih cerdas dan tenang. Rambut pirangnya ia ikat buntut kuda. Bentuk wajahnya agak bulat dengan kulit berwarna kuning. Ia, di tengah terpaan angin kencang itu, mengenakan jaket rapat berbahan tebal dengan warna dasar merah gelap. Ia memakai celana panjang berwarna sama dan sepatu berpermukaan kasar dari bahan kulit.
Di hari yang semakin gelap itu, berkat bola matanya yang tajam dan nalurinya yang terasah, Janis tiba-tiba berdiri.
“Mereka sudah terlihat!” katanya. “Fara! Cepat beritahu yang lain!”
Fara cepat-cepat mengangguk. Dengan sigap ia berlari ke dalam lambung kapal. Tatapan matanya menyorot dengan penuh keyakinan. Ia tak bisa merasa sebaik Janis dan ia sepenuhnya mempercayai kata-katanya.
Hadiah dari Langit – Arus Kehidupan
Merasa merupakan keterampilan yang amat dibutuhkan pada masa Kaliyuga, prasyarat bagi mereka yang ingin menjadi bagian dari pasukan Prajurit Prana. Prana yang mengalir di udara, prana yang terhirup keluar-masuk bersama setiap nafas daratan, prana yang menjadi bagian dari setiap makhluk hidup di Talis Amaruss; kesemuanya dapat diinderai dengan suatu cara tertentu, berhubungan dengan resonansi dan gaya tarik antara makhluk hidup. Keterampilan menginderai prana. Itulah merasa.
Hanya mereka yang sanggup merasa yang dapat mengendalikan sebuah Prajurit Prana, andalan umat manusia dalam menghadapi Hamarut.
Prana dipengaruhi oleh niat.
Prana terolah melalui sikap.
Prana terwujud sebagai bukti kehidupan suatu makhluk, bukti bahwa mereka memiliki peranan yang harus dijalani di dalam alam semesta.
Menurut apa yang ditemukan dalam Kawadevu, prana-lah yang menghubungkan seorang insan dengan takdir yang harus dihadapinya.
Hadiah dari Langit – Raksasa Zirah
Pengguna Prajurit Prana harus senantiasa menjaga kelancaran dan intensitas aliran prananya. Kesehatan yang terjaga, latihan yang rutin, suasana hati dan pikiran yang harus selalu dipertahankan; semua itu baru sebagian dari berbagai hal yang harus seorang pengguna Prajurit Prana perhatikan.
Sebuah Prajurit Prana dikendalikan oleh satu orang. Bentuknya dapat digambarkan sebagai gabungan bentuk manusia antara serangga dan baju zirah. Ramping, dengan tungkai-tungkai tebal dan kepala yang lazimnya berbentuk lancip, senantiasa ada api menyala dari belakang punggungnya yang membentuk sepasang Sayap Prana yang lebar.
Sayap-sayap Prana merupakan tenaga pendorong utama Prajurit Prana. Warna yang dimilikinya tak pernah tetap. Seperti biasan cahaya pada permukaan air, namun menyala dengan sinar bagai terangnya api di kegelapan.
Prana yang mengalir keluar dari dalam tubuh pengguna, sebelum mengalir kembali ke dalam, akan dilalukan melalui saluran-saluran yang tertera pada permukaan-permukaan bagian dalam kerangka Prajurit Prana. Lewat saluran-saluran yang sedemikian halus dan kecilnya hingga tak kasat mata ini, prana yang mengalir akan saling beresonansi, kemudian dilipatgandakan intensitasnya hingga puluhan kali lipat sampai terwujud sebagai cahaya padat yang tampak. Cahaya padat tampak inilah yang kemudian menjadi penggerak utama bagi tubuhnya yang besar, penemuan terpenting yang pernah Kawadevu berikan, sekaligus apa yang menyebabkan sayap-sayap itu sedemikian berkilauan.
Senja II
“Kamu yakin?” tanya Vim Islandar, seorang ksatria Prajurit Prana ternama yang belakangan akrab dengan Janis. “Dari dulu aku ingin tahu, bagaimana caranya kamu bisa merasa sampai sejauh itu sih?”
Janis terlonjak dan menoleh ke belakang. Ia tak menyadari lelaki muda itu telah berdiri di sana.
“Aku tak merasa.” jawab Janis ragu-ragu, menghindari tatapannya. “Hm. Bagaimana menjelaskannya, ya?”
“Aku dengar Hamarut muncul di titik menghilangnya prana, ‘kan?” lanjut Vim, mencoba membantu upaya Janis menjelaskan. Ia turut memandang ke kejauhan, ke titik menghilangnya awan. “Kalau aku dari jarak segini, masih belum bisa memastikan di mana letaknya…”
“Makanya aku bilang, bukan merasa.” kata Janis, tetap memandang ke kejauhan dengan hati berdebar. “Hamarut itu punya sesuatu yang lain. Apa ya? Entahlah. Aku juga tak mengerti bagaimana menjelaskannya. Pokoknya, keberadaan mereka lebih mudah ditangkap dibandingkan prana. Sesuatu itu seperti ‘menyeruak’ di antara prana yang ada di udara. Itu tandanya kalau di situ mereka akan muncul.”
Vim menatapnya, terkesan.
“Adalah suatu keputusan yang tepat bagi Tuan Almar untuk mengajakmu bergabung dengan Pihak Cahaya.” kata Vim lagi, tersenyum simpul.
Janis tak menjawab. Tapi ia merasa tersanjung dikatai seperti itu.
Tinggi, tegap, berwajah lonjong dengan mata biru mempesona; Vim memiliki nuansa meyakinkan yang senantiasa membuat Janis segan setiap kali berada di dekatnya. Sosoknya tampan dan sikapnya selama ini selalu ramah. Lalu berbeda dengan Janis, rambut pirang pendeknya tak pernah kusut oleh terpaan angin. Vim selalu tampak gagah dengan sebilah pedang ramping yang tergantung di pinggangnya. Seragam ksatria Prajurit Prana tingkatan perwira yang dikenakannya menunjukkan bahwa ia salah satu orang terpilih yang diberi kewenangan untuk mengendalikan Prajurit Prana khusus miliknya sendiri sendiri.
‘Sang Penantang dari Malistia’, Vim Islandar.
Janis tak pernah mengatakannya. Tapi sebenarnya ia teramat kagum akan dirinya.
“Aku… aku cuma melakukan apa yang aku bisa.” kata Janis, mengangguk, yang mulai merasa dirinya harus segera terbiasa dengan pujian itu.
“Oke. Aku masih belum terlalu mengerti. Tapi kami tetap mengandalkanmu, Kawan!” sahut Vim kencang seraya menepuk punggung Janis saat Prajurit Prana pertama terlepas dari landasan di samping mereka.
Prajurit Prana itu selama sesaat meluncur bebas di udara, sebelum punggungnya menyala dan terbentuk sayap transparan mirip sayap capung yang mengepak dan mengangkatnya ke udara. Selama beberapa detik, sepasang sayap itu terus mengepak berulang kali sebelum membawa tubuh besar itu menghilang ke sisi lain lambung kapal. Suatu manuver dasar yang selalu membuat Janis terkesima.
Hadiah dari Langit – Berkah
Jatuhnya Kawadevu dipandang banyak orang sebagai berkah dari para dewa. Terkandung di dalam Kawadevu adalah segala sesuatu yang diperlukan untuk menjalani hidup pada masa itu, masa Kaliyuga yang kelam dan penuh derita. Masa ketika Hamarut merajalela, menyebarkan kerusakan dan rasa sakit, menjatuhkan manusia ke dalam sengsara dan putus asa.
Dari jauh, Kawadevu tampak seperti tumpukan rongsokan besar. Namun saat dijelajahi lebih lanjut oleh orang-orang yang secara langsung melihatnya jatuh dari langit pada hari itu—pada suatu hari janggal sebelum badai terjadi di sebuah padang yang sudah lama tandus, orang-orang itu langsung menyadari bahwa ukuran rongsokan itu jauh melebihi perkiraan mereka semula.
Dari dekat, Kawadevu rupanya berbentuk seperti gumpalan-gumpalan besi yang telah dipadatkan dan dibentuk dengan tangan hingga menyerupai sebuah kubah. Dengan permukaan-permukaan halus. Dengan ruang-ruang yang teramat luas. Di dalamnya, terdapat banyak temuan yang untuk selamanya akan mengubah hidup manusia di dunia Talis Amaruss. Di antara yang telah ditemukan adalah rancangan-rancangan awal Prajurit Prana, yang rupanya dapat diwujudkan menggunakan mesin misterius yang terdapat dalam Kawadevu. Lalu ditemukan pula perangkat-perangkat yang ternyata dapat digunakan untuk mengawasi dunia.
Saat jatuhnya Kawadevu dari langit menjadi pemasti bahwa masa yang tengah manusia masuki saat itu merupakan awal dari dimulainya zaman kegelapan yang dinamai Kaliyuga, sesuai dengan kata yang terlontar dalam ramalan tentang masa akan datang dari seorang bijak raja; sebuah kisah lama yang berasal dari zaman dahulu kala.
Kaliyuga merupakan masa yang penuh kekacauan dan ketidakpastian. Ketika iblis-iblis akan bermunculan dari tempat-tempat yang berada begitu dekat di sekitar kita, dari tempat-tempat yang tak pernah bisa diduga. Iblis-iblis yang disebut itu diduga kuat merujuk pada Hamarut, binatang-binatang bersayap yang pertama kali terlihat beberapa tahun silam.
Dari Batas Cahaya dan Kegelapan – Pembawa Kehancuran Sejati
Ada banyak binatang berukuran raksasa dan berbahaya di Talis Amaruss. Tapi tiada satupun yang menandingi keganasan Hamarut.
Hamarut adalah pemangsa segalanya. Tiada satupun yang berada di atasnya secara alami. Tidak pula waktu; sejauh manusia yang hidup di Talis Amaruss bisa lihat. Sebab belum pernah ada Hamarut yang mati karena usia tua sejauh yang bisa ditemukan manusia.
Bentuk mereka menyerupai serangga. Cangkang-cangkang keras mereka berada di luar bagian tubuh mereka yang lunak. Mereka bersayap dan beraneka bentuk. Tapi semuanya memiliki kesamaan dalam warna tubuh ungu mereka yang gelap. Mereka memiliki mulut dan apa yang terlihat sebagai indera penglihatan, pendengar, dan perasa.
Tapi mereka tak memiliki prana. Suatu hal yang berarti semestinya mereka bukan makhluk hidup.
Segala hal yang mendukung kehidupan di Talis Amaruss memiliki prana. Awan, pepohonan, tanah, bebatuan, sungai, binatang, ras-ras berbentuk manusia; semua dalam warna yang berbeda-beda. Tapi Hamarut tidak. Dari Hamarut tak terasa apa-apa. Mereka kosong. Mereka memiliki sesuatu yang lain. Sesuatu yang mungkin menjadi penyebab mengapa mereka bisa muncul di mana saja dan mengobrak-abrik segalanya, menghasilkan kekacauan di mana-mana.
Hamarut, berkat pengamatan banyak orang, diketahui hanya akan muncul pada waktu-waktu tertentu. Pada batas-batas antara cahaya dan kegelapan. Pada waktu antara malam dan siang. Di senja dan di pagi hari. Karena itu, semua penduduk mulai menyingkir, berpindah, dan berkumpul di tempat-tempat yang memiliki penjagaan. Terutama pada saat-saat itu. Detik-detik saat rasa takut dan cemas memuncak. Detik-detik saat kehadiran Prajurit Prana teramat diperlukan.
Hamarut dapat hidup tanpa memangsa. Tapi mereka akan memangsa selama masih hidup. Hanya pasukan Prajurit Prana yang dapat menjadi tandingan Hamarut dalam perang yang menentukan keberlangsungan hidup umat manusia. Dan tanpa terasa, perang melawan Hamarut ini sudah menjelang tahun ketujuh.
Tahun inilah yang dikenal sebagai tahun ketujuh Kaliyuga. Masa yang dikatakan mendahului datangnya saat Kelahiran Kembali.
Senja III
“Kak Vim! Apa Kak Vim tak sebaiknya siap-siap berangkat?” sahut Fara yang baru tiba kembali dengan suara tak kalah kencangnya, persis saat Prajurit Prana kedua mulai meluncur dan melintas di sisinya.
“Haha! Tenang saja! Galabis milikku masih sedang disesuaikan ulang!” jawab Vim penuh gairah. Ia seolah bisa melihat bahwa kemenangan akan menjadi milik pihak mereka lagi.
“Tapi Kak Vim yang jadi pemimpin operasi ini, bukan? Tetap saja, seharusnya Kak Vim tetap siaga dekat Prajurit Prana di manapun berada, bukan?” kata Fara menggurui.
“Ya, ya. Aku mengerti.” Vim tertawa, akhirnya mengalah. “Sampai jumpa nanti!”
Ia berlari kembali ke hangar di dalam lambung, saat Prajurit Prana kelima baru mulai meluncur di sisinya untuk lepas landas.
Tak lama kemudian, Galabis menyusulnya. Merentangkan kedua sayapnya yang lebar, memimpin anak-anak buahnya melayang di langit yang semakin memerah, menari di antara tiupan angin, menyongsong kemenangan.
Janis dan Fara memperhatikan pemandangan itu. Keduanya bertanya-tanya apakah mereka memang benar memegang peranan yang berarti dalam semua ini.
Sang Pemandu Arah – Kenangan Lama di Sebuah Kota
Janis berasal dari sebuah kota kecil di tepi sebuah hutan raya. Sebelumnya, ia hanyalah seorang anak lelaki biasa. Sehari-hari menjalani hidupnya bersekolah bersama Fara, temannya sejak lama, sampai waktu ketika Gran Federick VII datang. Mereka bilang kalau mereka bermaksud melindungi semuanya dari ancaman Hamarut.
Itulah hari ketika segalanya bermula.
Awak kapal itu mengikuti perkiraan dari perangkat pelacak yang mereka miliki. Hamarut akan muncul di tempat yang perangkat pelacak itu tunjukkan. Perangkat pelacak yang mereka dapatkan dari Kawadevu mereka yakini kehandalannya berdasarkan berbagai karya ajaib lain yang telah tempat itu ciptakan. Namun perangkat pelacak itu sebenarnya tak dapat melacak Hamarut secara pasti. Hanya memperkirakan kemuncuannya secara kasar saja. Karenanya, mungkin memang sebelumnya pemantauan keberadaan Hamarut secara pasti diyakini takkan pernah mungkin bisa dilakukan.
Sebab Hamarut hanya muncul pada saat pergantian antara masa terang dan gelap, pada saat fajar dan senja, sebelum kembali menghilang saat batas antara cahaya dan kegelapan sepenuhnya sirna. Pada saat malam yang kelam, atau saat siang yang benderang. Serta, Hamarut pun tak pernah muncul secara teratur dari suatu tempat yang sama.
Maka diyakini bahwa tak seluruh kemunculan Hamarut di Talis Amaruss perlu diantisipasi oleh pasukan Pihak Cahaya. Hanya kemunculan-kemunculan yang dapat mengancam wilayah-wilayah pemukiman saja. Itulah mengapa markas-markas bergerak seperti Gran Federick VII diciptakan.
Namun Janis, seorang bocah tak dikenal pada saat itu, merasa ada semacam kekeliruan dalam perkiraan mereka. Secara langsung dan tergesa ia nekat berbicara pada Tuan Almar, pemimpin tertinggi Gran Federick VII , untuk menyampaikan pendapatnya sendiri tentang arah kemunculan Hamarut. Ia menyebutkan cara-cara merasa yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, sehingga sama sekali tidak ada yang menyangka bahwa kata-kata bocah itu benar-benar akan menjadi kenyataan.
Pembacaan yang menyimpang pada alat pelacak kemunculan Hamarut terbukti dapat membawa akibat yang fatal pada hari itu. Hamarut akan muncul dari sejumlah titik yang berbeda-beda, ucap Janis. Titik-titik yang mengelilingi kotanya sebagai pusar. Bukan hanya dari arah barat dan tenggara seperti yang mereka duga. Sedangkan tempat perlindungan penduduk sipil berada di timur laut. Akan ada celah mematikan seandainya Tuan Almar bersikukuh untuk menerapkan formasi yang awal.
Namun entah karena apa, Tuan Almar percaya padanya. Ia mengubah strategi penempatan pasukannya pada menit-menit terakhir sebelum waktu perkiraan kemunculan lawan, memungkinkan Vim dan anak-anak buahnya melindungi tempat-tempat perlindungan penduduk yang sebelumnya mereka tetapkan. Lalu Hamarut rupanya benar-benar muncul sesuai perkiraan Janis, sehingga secara tak langsung bocah itu telah menyelamatkan hidup ratusan penduduk yang tinggal di kotanya sendiri.
Ia bukan bocah biasa. Ia seorang bocah yang telah menjadi pahlawan.
Maka Tuan Almar menginginkannya. Seluruh Pihak Cahaya pasti akan membutuhkannya. Ia lihat sendiri dengan mata kepalanya bagaimana langit kota itu berubah menjadi medan pertempuran, tapi kota itu sendiri tidak. Tapi ia menunggu. Ia menunggu selama beberapa lama, sebelum dengan seizin orangtuanya, memutuskan untuk mengangkat Janis sebagai salah satu bagian awak kapalnya, bagian tak terpisahkan dari Gran Federick VII .
Keputusan Tuan Almar terbukti hasilnya. Sejak saat itu, kemenangan demi kemenangan terus mereka sambut. Namun saat itu, belum terlihat dampak sesungguhnya dari keputusan ini pada masa yang akan datang. Tanpa mereka ketahui, nasib Talis Amaruss sendirilah yang telah dipertaruhkan di dalam keputusan itu. Dan dengan diambilnya keputusan itu, maka sebagian garis nasib yang akan dunia itu lalui telah ditetapkan.
Senja IV
Dalam kokpitnya, Vim tersenyum saat sebuah rekahan menakutkan tiba-tiba terlihat secara samar-samar di langit di hadapannya.
“Pasukan, kita akan bergerak dari arah bawah! Pada hitungan kelima, ikuti arus angin! Tiga-lima!”
Saat angin tinggi tiba-tiba bertiup, setiap Prajurit Prana dengan dipandu oleh Galabis melakukan tukikan tajam ke arah bawah. Mereka menyingkir dari posisi terdahulu mereka di hadapan Gran Federick VII .
Lalu berkilatlah cahaya dari atas bagi mereka yang berada di dalam anjungan. Cahaya yang datang dari dalam moncong Palakka. Tombak sang dewa mulai disiapkan.
“Keadaan aman untuk tingkat kemiringan dari tiga sampai lima.” sahut seorang perempuan di salah satu penjuru anjungan, persis saat Janis dan Fara tiba kembali di sana. “Jurusan aman! Titik sasaran telah terkunci!”
“Sasaran telah terlihat! Hei, Janis! Kau betul lagi, Sobat!” sambut lelaki yang duduk di dasar teropong, pada sebuah tempat duduk yang berada lebih tinggi dari tempat duduk lainnya.
“Pengisian bahan pendorong selesai! Dua belas detik sampai batas menembak!” Suara seorang lelaki lain segera menanggapinya dari arah belakang.
“Tembak!” perintah Tuan Almar seketika.
Lalu terdengarlah sebuah bunyi mendengung dari atas anjungan. Tombak sang dewa telah mulai bekerja. Senjata yang tusukan-tusukannya mampu menembus lapisan-lapisan langit dan bumi.
Benteng Legenda
Seberkas cahaya.
Mungkin itulah yang dilihat semua orang. Mungkin itulah kesan yang mereka rasakan. Tak ada kata lagi kata yang bisa lebih mengungkap nuansa pertama yang Tuan Almar pancarkan.
Cahaya.
Sebab segalanya dimulai dari sebuah kesan.
Bahkan dari jauhpun, Janis sejak dulu selalu bisa merasakan.
Tuan Almar, lelaki yang memiliki tingkatan aliran prana yang jauh di atas kebanyakan orang, adalah sosok yang keputusan-keputusannya akan selalu berkisar di antara penentuan hidup dan mati.
Kesan.
Dari situlah ikatan takdir bermula. Dari sanalah kehidupan satu insan dengan insan lain bertaut. Bagi mereka yang lemah, inilah satu-satunya cara bagi mereka untuk mengubah nasib. Menggantungkan hidup mereka pada orang lain Yang lebih kuat. Yang lebih tahu. Yang lebih pasti.
Kepastian.
Sebab tidak semua insan memiliki derajat yang setara. Terdapat sejumlah insan tertentu yang berharga lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Harga yang ditentukan oleh apa yang dapat mereka berikan. Apakah itu kebaikan? Ataukah kerusakan? Seberapa banyak insan lain yang nyawanya bergantung pada mereka?
Harapan. Cahaya.
Seperti itulah Tuan Almar seorang lelaki paruh baya yang berwatak dingin dan keras. Berdiri di tengah anjungan, di mana ia bisa mendengar setiap laporan yang masuk dari para anak buahnya, berperawakan tinggi dan tegap terlihat bagaikan karang kokoh yang tak terpatahkan. Namun pada kenyataannya, dirinya seorang bernilai sama dengan sepuluh lapis benteng. Sebuah benteng bergerak. Penyelamat bagi kebanyakan orang. Matanya memicing tajam dari bawah alisnya yang lebat. Rambut merahnya masih tebal dan selalu tersisir rapih. Kemilau keputihan uban mulai tampak pada wajahnya, namun kegagahan dari balik kumis dan jenggotnya tak berkurang.
Sementara dentuman menggelegar terdengar saat laras di atas anjungan mementahkan isinya. Pada bagian langit yang telah ditunjuk Janis sebelumnya, melalui kaca jendela raksasa yang terbentang di hadapan anjungan, titik-titik cahaya segera tampak menghujani kehitaman yang merebak.
Berkas sinar yang lurus itu disusul butir-butir cahaya berekor yang dengan segera tampak meluncur dari bagian bawah kapal. Setiap Prajurit Prana dengan sigap bergerak menghabisi setiap Hamarut yang masih tersisa.
Saat itu, matahari telah semakin condong. Pekatnya malam mulai menyingsing. Namun cahaya dari sang Benteng Legenda masih terang benderang.
Rhesa – Serangan Tiga Penjuru
Para pemberani membentangkan sayap-sayap mereka. Mengukur jarak, mempertaruhkan hidup dan mati. Inilah jalan yang akan ditempuh bagi setiap penggerak Prajurit Prana.
Angka tiga adalah suatu kepastian. Bilangan ganjil yang pertama sesudah satu yang tunggal. Sang Penguasa menyukai bilangan-bilangan ganjil. Tiga-lah yang paling mendekati makna maha-agung dari yang tunggal. Maka dari itu, tiga-lah yang akan menjadi jalan penentu menuju kemenangan.
Formasi Rhesa.
Padanya, setiap Prajurit Prana dari pasukan Gran Federick VII , dalam kelompok tiga-tiga, menusuk tiap Hamarut yang masih tersisa dari tiga arah berlawanan menggunakan Tombak Galipar masing-masing. Hamarut-Hamarut yang dilanda kekacauan akibat serangan pendahuluan dari Palakka itu secara seketika berjatuhan begitu terserang formasi ini.
Tapi Galabis tidak. Galabis yang memiliki Vim di dalamnya bergerak secara perseorangan, tanpa mengikuti formasi tertentu, dengan cepat memotong satu per satu Hamarut kecil yang ditemuinya. Di tangan kanannya tergenggam Pedang Zefia, yang ketajamannya dengan diperkuat Cahaya Prana mampu membelah cangkang-cangkang Hamarut sampai terpecah. Ringikan-ringikan kematian para Hamarut oleh tangannya tak terdengar sampai ke anjungan Gran Federick VII tempat Janis berada.
Artileri – Sang Penantang dari Malistia
Galabis, nama khusus bagi Prajurit Prana milik Ksatria Vim Islandar. Bentuk dan kemampuannya berbeda dibandingkan Prajurit-prajurit Prana lain yang Gran Federick VII miliki.
Tombak Galipar merupakan senjata andalan yang dimiliki setiap Meskias, jenis Prajurit Prana yang dihasilkan secara massal oleh Kawadevu. Meskias merupakan jenis Prajurit Prana yang paling banyak menyusun pasukan Pihak Cahaya. Sebagai jenis Prajurit Prana paling mendasar, Tombak Galipar hampir selalu tergenggam dalam tangan-tangan kanan mereka.
Berbentuk kerucut runcing panjang dengan gagang pegangan sempit yang mencuat dari bawah dasarnya; Tombak Galipar merupakan senjata yang diandalkan untuk memusnahkan Hamarut. Dirancang secara khusus dari bentuk dan bahan yang terbukti mampu menembus cangkang Hamarut yang keras, hanya sedikit senjata yang dapat menyerupainya. Hampir seluruh Prajurit Prana yang Kawadevu ciptakan mempergunakan senjata ini.
Lalu sesekali dalam pertempuran di kejauhan, cahaya Vren akan tampak berkilat. Pada saat gerombolan Hamarut mulai tersebar, pada saat pasukan Prajurit Prana akan mulai berpencar untuk menahan gerakan pelariannya.
Meski tak bisa sepenuhnya melukai Hamarut, senjata jarak jauh Vren yang terpasang pada tangan kiri setiap Prajurit Prana mampu menghambat kepakan sayapnya. Sebelum sasaran akhirnya dapat terkejar dan termusnahkan oleh senjata utama yang di tangan kanan. Sinarnya berupa gumpalan prana padat berwarna kebiruan disemprotkan secara berkelanjutan dari dalam moncongnya, menghalangi pergerakan sayap-sayap sang maut.
Namun Galabis dengan Vim Islandar di dalamnya tidak memerlukan semua itu. Baginya, cukuplah Pedang Zefia. Pengganti segala tombak. Berkilat panjang, bercahaya dengan tajam, hanya dengan itu, lawan-lawannya akan segera berjatuhan.
Dengan kecepatan dan keberaniannya, dengan ketenangan dan kecerdasannya, ia menantang segala yang mengancam diri dan teman-temannya.
Penantang dari Malistia. Salah satu ksatria terbaik yang Pihak Cahaya pernah miliki.
Senja V
Menembus. Mengikis. Mengganggu. Berayun. Menghalang. Kemudian Formasi Rhesa sekali lagi secara hampir bersamaan dan semuapun berakhir.
Setelah penantian yang mendebarkan, awak kapal Gran Federick VII yang berada di anjungan akhirnya melihat bahwa seluruh Hamarut berhasil dimusnahkan. Saat itu, tirai kegelapan telah melingkupi langit. Awan perak yang disinari bintang mulai berwujud di sekeliling mereka, berubah warna dari cercah yang sebelumnya terang. Hamarut yang berukuran besar meregang nyawa akibat hentakan terakhir Formasi Rhesa. Hamarut berukuran kecil dimatikan oleh sapuan cepat Pedang Zefia.
Matahari sepenuhnya tenggelam, diiringi kepulangan kembali pasukan Prajurit Prana membawa kemenangan. Sayap-sayap Prana mereka yang bergetar seperti sayap serangga berdengung perlahan. Galabis di depan, dengan badannya yang lebih besar daripada anak-anak buahnya berwarna kebiruan, serta bagian kepalanya yang lebih memanjang secara mendatar. Pedang Zefia berbentuk segitiga di tangannya, Galabis yang gagah memimpin, telah menjadi ciri khas pasukan milik Gran Federick VII .
Pemandangan inilah yang berapa kalipun Janis lihat selalu menimbulkan decak kagum di dasar hatinya.
Pada hari itupun, tak satupun Hamarut sempat bergerak lebih jauh dari tempat kemunculan mereka. Kesemuanya tertahan dan akhirnya musnah pada saat malam akhirnya datang.
“Kita harus selalu bertahan hidup untuk menikmati pemandangan senja ini, Jacombe.” Tuan Almar berkata, dengan mata masih menatap lurus ke depan, dengan cara berbicaranya yang selalu datar. “Kemenangan kali ini sekali lagi adalah berkat upayamu. Terima kasih.”
Janis, yang ditatap Fara dan awak kapal lainnya, mengangguk.
“Saya hanya melakukan apa yang… saya bisa.” katanya, perlahan. Secara jelas menunjukkan bahwa semua perhatian ini membuatnya merasa tak nyaman.
Tapi kemenangan beruntun seperti ini hanya pernah mereka dapatkan semenjak Janis bergabung bersama mereka. Perkiraan-perkiraannya yang bukan hanya tentang letak munculnya lawan, melainkan juga jumlah dan kekuatan mereka, telah memungkinkan mereka untuk bertempur dengan potensi penuh.
Senja itu genap satu bulan semenjak Janis dan Fara bergabung. Prana mereka yang semenjak mereka kecil telah bertaut, prana mereka yang terhubung dengan takdir mereka masing-masing, seolah menandai bahwa masa depan yang akan mereka hadapi juga akan berhubungan dengan masa depan seluruh Talis Amaruss.
memukau sekaligus bikin pusing
itu Vim Islandar, jd bacanya ky Iskandar hehe...
G tau harus bilang apa. Aku makin minder kalau membandingkan cerita senior dengan punyaku.
Anyway, aku mau copy tapi ada gemboknya
T_T
boleh minta aslinya ga? Buat referensi
Ini kurasa akan menjadi pesaing KAKEA. Tapi bagaimana pun, aku tetap merindukan kisah itu (KAKEA, red).
Oh iya, untuk beberapa kata apakah kamu sengaja mencetaknya seperti itu? Misalnya: mementahkan (bukankah lebih baik memuntahkan?). Sejauh ini, aku mendeteksi dua kata yang seperti itu (terpaut satu huruf, namun membuat "rasa"nya berubah).
Sekali lagi. Ini ciri khas Alfare. Detilnya bikin merinding. Kok, bisa, ya?
KISAH sudah berhenti terbit di K.com. Mungkin, akan muncul dalam bentuk e-book, buku konvensional, atau mungkin film. Aku kurang sreg. Mau menambahkan sedikit lagi inti dan sedikit lagi pesan moral. Yo, kita sama-sama mematangkan konsep!
Waktu kubaca lagi, aku juga merasa begitu. Kurasa bagian ini masih bisa kuperhalus agar tak terlalu terasa seperti info-dump, meski memang demikian maksudku, agar di bagian2 lanjutannya aku bisa fokus pada plot.
Soal sempilan tentang Kawadevu, aku juga mulanya berpikir begitu sih. Tapi lalu kurasa sebaiknya kusebut dulu di awal. Penjabaran lebih lanjutnya nanti dan ya, ADA penjabaran lanjutnya.
Sebenarnya, komennya AkangYamato yang paling kena buatku. Sial, itu benar! Aku enggak mikir sampai ke sana! Trims khusus buatmu Kang!
Soal istilah dll, tenang saja. Aku sendiri yang ngarang masih belum hafal semuanya.
Semuanya, MAKASIH! V/^o^/V
dibaca pertamanya bikin imajinasiku kemana-mana.
jika dilanjutkan, kuharap ini bukan semacam prolog. Sampai saat sekarang, bagi aku prolog dalam sebuah crita fantasy/speculative fiction cenderung blunder.
bagian penjelasan kawadevu apa tidak terlalu dipaksakan nyempil di bagian ini?
kalu kubaca detail*muncullah bakat nyiyirku*
he.he
sensei, pe-er mu sedang kukerjakan. Harap maklum agak lama, karena tugas itu membuka peluang aku untuk bawel sebawel-bawelnya
----------------------
fans KAKEA *one month left behind?*
----------------------
cheers!
Bener-bener parah! Luar biasa! Nilai plus dengan orisinalitas nama tokoh,tempat, dan peristilahannya.
Tapi koq saya kurang sreg ama nama Gran Frederick VII yang berbau Prussian Style dengan nama2 seperti Prana, Kaliyuga, dsb. yang berbau Sansekerta gitu, serasa "nabrak" gitu loch..
hmm... kayaknya, nama gran frederick agak kurang cocok dengan nama 'kaliyuga', 'prana' dan 'palakka', juga 'kawadevu'. hehe...
dan mungkin deskripsi tentang konsep latar, hamarut, talis amaruss, agak kepanjangan buat diletakkan di suatu tempat, membuatku agak kehilangan arah dari plot utama yang udah dibikin di awal ttg janis dan fara. potensial untuk bikin pembaca melewatinya. ceritanya baru mulai bisa terpegang lagi setelah masuk ke bagian dialog.
bagaimanapun, aku suka imajinasi dalam cerita ini. unik. bakal jadi cerita fantasi/science fiction/space opera/speculative fiction yang menarik.
Uhh entah kenapa rasanya kemajuan dikau akhir-akhir ini lumayan pesat ya? atau mungkin saya yang mulai terbiasa dengan cerita-ceritamu.
Hmm soal penamaan dan lainnya: salut. Benar-benar berbeda dari kebanyakan, dan sampai menyertakan 'kaliyuga' wew.
Tapi disisi lain penggunaan istilah-istilah itu masih agak membingungkan, meskipun di dalam cerita bagian2 itu sudah di jelaskan.
Satu lagi yang menarik, tokoh utama yang setidaknya untuk saat ini bukan tipe fighter... well ditunggu lanjutannya. Berlanjut kan??