Read more (3361 words)
Kalimat itu yang dikatakan Iwan berulangkali dalam hati sampai makna kata-kata tersebut menggema di dalam benaknya. Ada dua alasan mengapa ia sampai melakukan itu. Pertama, karena ada orang yang mesti ia temui, dan orang tersebut mudah sekali datang dan pergi sehingga Iwan harus secepatnya menyesuaikan diri dengan sikapnya. Perilaku menyusahkan orang tersebut agak tak terduga, tentu saja. Iwan perlu sedikit persiapan agar bisa mengantisipasi segala yang mungkin terjadi. Sedangkan alasan kedua adalah karena ia tak ingin memikirkan apa-apa tentang tempat ini, tempat dirinya sedang berada.
Ia sedang berada di depan pintu masuk sebuah bangunan perpustakaan. Atap teras bangunan itu berbentuk melengkung dengan dinding-dinding luar yang dibuat dengan warna dasar ungu berpola-pola putih. Arsitekturnya yang entah-dirancang-oleh-siapa memberi Iwan kesan bahwa bangunan tersebut terbentuk dari sejumlah igloo yang ditumpuk seenaknya, namun pada akhirnya memberi kesan bentuk yang tak terlalu buruk. Di hadapan perpustakaan itu ada ruang terbuka luas berlantai beton yang banyak dilalui orang. Ada semacam tangga ke bawah di tengah-tengah lantai beton di hadapan perpustakaan itu, yang membawa orang ke lantai lebih rendah di antara bangunan perpustakaan dan bangunan lain yang ada di hadapannya.
Banyak anak muda yang berkeliaran di wilayah ini, kebanyakan usianya telah menginjak paruh akhir masa remaja, menjelang usia dua puluhan. Orang-orang muda di sekelilingnya ini membuat Iwan merasa risi. Ia merasa seperti sedang berada di tempat di mana ia tak semestinya berada. Ia punya alasan bagus untuk merasa seperti itu.
Tapi cuaca hari itu menyenangkan. Cerah, matahari bersinar terik menyilaukan, sehingga tempat-tempat yang tertutup bayangan memberikan kesejukan yang diinginkan semua orang.
Iwan bertanya-tanya tentang ke mana perginya orang yang ia tunggu. Ia masih termangu-mangu untuk beberapa lama, berdiri di hadapan pintu kaca itu, sesekali memberi jalan dengan canggung pada beberapa mahasiswa yang berjalan melintas di hadapannya.
Sejenak kemudian ia terhenyak saat merasa melihat seseorang yang ia kenal: seorang gadis berkuncir dengan blus biru dan rok berenda panjang yang melintas di dekat pintu gedung di seberangnya. Tapi rupanya gadis itu bukan orang yang ia tunggu, sehingga dengan muram ia kembali bersandar dekat pot tanaman tempat ia semenjak tadi berdiri.
Ia hampir saja memejamkan mata dengan bosan sebelum ia teringat kembali akan tekad yang terus diulangnya.
Jangan memejamkan mata.
Sial, pikirnya. Ia membuka mata kemudian kembali memperhatikan sekelilngnya dengan seksama.
Iwan mulai merasa sebal dengan kampus ini, lingkungan universitas tempat di mana ia berada. Tapi kemudian ia berpikir mungkin itu semua semata-mata karena orang yang mengajaknya bertemu di tempat ini masih belum datang juga. Tak semestinya orang mempermasalahkan sesuatu yang diakibatkan oleh hal yang sama sekali lain, meski Iwan sepenuhnya sadar mungkin itu murni sifat dasar manusia; selalu ingin punya sesuatu yang bisa disalahkan.
Mendadak ponsel dalam sakunya bergetar.
Kamu ada di mana sekarang?
Demikian isi pesan yang tertera pada layarnya.
Kamu sendiri ada di mana?
Iwan membalas pesan itu dan jawaban akan pertanyaan itu sampai di ponselnya tak lama kemudian.
Aku sudah nunggu kamu di ruang baca koleksi umum dari tadi, tau!
Iwan mengernyit heran.
Ruang baca untuk koleksi umum itu ada di mana?
Sebelumnya Iwan sempat masuk ke dalam perpustakaan itu, melewati palang pintu yang ada di balik pintu kaca kedua setelah menitipkan tasnya di tempat penitipan barang. Ia menjelajahi seluruh ruangan yang bisa ditemuinya demi menemukan orang yang ia cari, yang memanggilnya hari itu untuk datang ke tempat itu. Semua tempat yang bisa dijelajahinya sudah ia periksa, terkecuali WC wanita dan beberapa ruang arsip yang tak boleh dimasuki orang yang bukan pegawai. Ia tak menemukan Hania di manapun.
Ya ampun! Dari pintu masuk belok kanan! Naik tangga ke atas dari sana!
Jawaban selanjutnya yang datang dari Hania kembali membuat Iwan mengernyit.
Iwan masuk kembali ke dalam bangunan perpustakaan, menitipkan tasnya kembali di tempat penitipan barang, menghadap kanan dari arah pintu masuk, dan melihat beberapa hal yang sudah ia lihat sebelumnya: sederet tempat duduk, beberapa papan pengumuman dengan bekas-bekas kertas poster tercabik-cabik, sebuah tempat sampah, sebuah toko buku universitas, sebuah tangga menuju basement yang tampaknya dipakai sebagai ruang baca, dan sebuah tangga yang melingkar ke atas yang untuk suatu alasan tak banyak dilalui orang. Iwan mengira tangga itu khusus hanya boleh dilalui pegawai sampai kemudian ia melihat, tak disadarinya sebelumnya akibat bayangan yang menutup teras tangga, sebuah papan bergambar panah yang juga bertuliskan ‘Ruang Koleksi Umum’.
Sedikit heran akan keteledorannya sendiri, Iwan menapaki tangga melingkar ke atas itu.
Ruang baca untuk koleksi umum itu hampir seperti berada di tempat yang lain. Nuansanya sama sekali berbeda dari ruang-ruang lain di perpustakaan itu, di mana di balik deretan rak buku yang sesenyap apapun selalu ada mahasiswa yang duduk tak jauh darinya. Di tempat ini, bisa dibilang hampir tak ada orang sama sekali.
Sebuah ruangan luas terbentang di balik sebuah kaca jendela yang lain. Di baliknya ada sebuah pintu palang berputar, dengan penjaga wanita yang nampak suntuk akibat kesepian hebat yang terdapat di sana. Di balik kaca jendela itu ada rak-rak buku panjang dan meja-meja rata dengan kursi-kursi berderet.
Perbedaan yang paling terasa di ruangan itu adalah ketiadaan kesan sumpek dan terkungkung yang ada di bagian-bagian perpustakaan yang lain. Perbedaan yang sebenarnya ada pada betapa buku-buku yang disajikan di sana tiada yang berhubungan dengan mata-mata kuliah universitas. Kebanyakan, Iwan perhatikan, adalah buku-buku umum seperti majalah, kamus, ensiklopedi dan karya sastra yang kemungkinan besar merupakan sumbangan dari lembaga-lembaga asing seperti British Council. Hampir semuanya bisa dikatakan bahwa (Iwan perhatikan lagi dari kesan kumal yang buku-buku itu tampakkan) isinya sudah tidak lagi sejalan dengan perkembangan zaman.
Di samping salah satu meja yang ada di sana, Iwan melihat Hania sedang berdiri.
Gadis itu berambut agak ikal, gaya kuncirannya kali ini mengingatkan Iwan akan salah stau tokoh seri animasi Jepang yang pernah dilihatnya. Ia mengenakan blus terusan warna krem berlengan panjang dan celana berujung melebar yang dari jauh terlihat seperti rok panjang. Masih sama seperti dulu, penampilannya selalu membuat Iwan terbayang akan seorang bintang iklan.
Hania tak mengenakan kacamata, tapi ada sesuatu pada pantulan cahaya di matanya yang kadangkala terlihat tak wajar. Orang mungkin akan mengira itu akibat tipuan mata atau ilusi optik, tapi Iwan tahu lebih tentang hal itu. Sesuai janjinya, Iwan belum pernah mengatakan apapun tentang matanya itu pada siapa-siapa.
Saat tiba di depan Hania, Iwan berusaha tersenyum untuk memberikan kesan ramah. Tapi ia gagal. Ia selalu merasa canggung setiap kali Hania berada di hadapannya.
Sebaliknya, Hania hanya memandanginya saat menyeret dengan kasar sebuah katalog nama orang yang nampaknya tadi baru diambilnya dari rak buku yang ada di dekatnya. Ia meletakkan katalog tebal itu di atas meja yang terletak di hadapannya. Kemudian ia duduk di atas kursi yang sudah tertarik dari bawah meja itu dan memasukkan ponsel lipatnya yang berukuran kecil ke dalam saku.
Iwan ragu-ragu apakah sebaiknya ia ikut duduk atau tetap berdiri.
Hania melontar senyum yang sekilas terlihat sinis, kemudian mengarahkan jempolnya ke arah salah satu rak yang dipenuhi karya-karya sastra klasik berbahasa inggris.
Iwan mengerti.
Ia beranjak ke arah rak buku itu dan di sana ia menemukan beberapa buku yang menarik perhatiannya, seperti kompilasi lengkap cerita Alice in Wonderland karya Lewis Caroll dan beberapa roman karya Austen. Tak jauh darinya ada novel sains-fiksi yang Iwan dapati dikarang oleh pencipta serial Narnia, suatu hal yang menggelitik rasa penasarannya kalau saja bukan karena lapisan debu yang ada di atasnya.
Hampir semua buku yang ada di sana seakan sudah tak disentuh selama berbulan-bulan.
Mengerutkan kening, Iwan kemudian mendapati di rak sebelahnya terdapat sejumlah buku cerita tipis yang nampaknya sengaja dirancang untuk pembelajaran bahasa inggris. Iwan agak menyayangkan mengapa buku-buku ini tergeletak di bagian perpustakaan yang sepi ini begitu saja, karena sebagian berkat buku-buku seperti itulah, bahasa inggris Iwan bisa sedemikian terasah seperti sekarang. Sekalipun sebagian besar buku yang ada di sana terdiri atas karya-karya lama, bagi beberapa orang buku-buku itu mungkin merupakan harta kekayaan yang tak ternilai. Suatu kenyataan yang hanya bisa dipahami oleh segelintir ornag saja.
Iwan selama sesaat hanya mengamati buku-buku itu sebelum mendapati apa yang menjadi alasan Hania memintanya ke sini: ada sesosok orang yang dilihatnya di balik deretan rak itu, seorang lelaki muram yang duduk membungkuk di atas meja yang di sana sambil membaca sebuah buku tebal berisi entah apa.
Tak salah lagi, sebab tak ada pengunjung lain selain mereka bertiga di tempat itu. Pastilah karena dirinya Hania kemudian mendesaknya ke sini.
Mulanya Iwan agak bertanya-tanya, ada apa pada orang ini yang dipermasalahkan Hania kali ini? Tapi setelah memperhatikannya dengan seksama, ia langsung bisa tahu apa yang salah dari orang itu, dan karenanya, mulut Iwan seketika ternganga.
Orang itu ternyata tak mengenakan celana.
A… apa-apaan?
Meski duduk secara wajar di depan meja, dengan kepala agak tertunduk seperti sedang membaca, ia telanjang dari pinggang sampai ke mata kaki. Apa yang nampak sebagai gumpalan hitam di dasar lantai, agak tertutup oleh kegelapan di bawah meja, sepertinya adalah celananya yang telah ia lepas begitu saja.
Iwan tak tahu harus berkata apa. Setelah menelan ludah, berusaha untuk tak bersuara, bertanya-tanya dengan penuh kebingungan, ia kembali pada Hania dan serta-merta merenggut bahunya.
”Kamu ingin aku melakukan apa lagi sekarang?” sergahnya dengan suara tertahan.
Hania, agak terkejut, hanya nampak terkesima oleh luapan emosi yang mendadak ini. Ia kemudian dengan tenang tapi cepat menggerakkan kepalanya ke samping, ke arah dinding kaca dekat pintu masuk.
Memahami isyarat dari Hania, Iwan serta-merta melepaskan tangannya. Si wanita penjaga palang pintu rupanya telah melirik ke arah mereka berdua dengan raut wajah penuh perhatian.
Setelah menenangkan Iwan, Hania menghelas nafas, kemudian balas memandangnya dengan raut muka keheranan.
“Lakukan saja dulu seperti biasa, setelah itu baru nanti kita bisa tahu apa yang mesti kita lakukan, ‘kan?” katanya.
“Mana bisa!” balas Iwan.
“Ha? Kenapa?” tanya Hania heran, seakan dirinya baru ditanyai pertanyaan paling tak perlu sedunia.
“Aku… aku enggak akan bisa konsentrasi dong!” bisik Iwan, tak yakin bisa mengungkapkan masalahnya karena bingung dengan sikap tenang yang Hania tampakkan.
Hania kali ini mengernyit sebelum memperlihatkan apa yang nampak seperti ekspresi melecehkan.
“Sejak kapan kamu perlu konsentrasi buat melakukan hal kayak gini?”
“Jangan bercanda!” kata Iwan tersinggung. “Dia itu ‘kan…”
Iwan untuk sesaat tak bisa melanjutkan kata-katanya karena menyadari tatapan mata si penjaga perpustakaan semakin memicing ke arah mereka.
“Dia itu apa?” tantang Hania, tanpa mempedulikan pandangan mata tajam dari jauh yang menghunjam punggungnya.
Iwan tak bisa habis pikir bisa-bisanya gadis ini memperlakukan orang yang tak pakai celana sebagai sesuatu yang sudah biasa ia lihat sehari-hari. Sejujurnya, Iwan menjadi semakin merasa ngeri terhadapnya. Tapi ia tak ingin terlalu menarik perhatian dengan pergi dari tempat itu begitu saja. Bila sampai ada berita tersebar tentang bagaimana mereka berdua pernah terlihat bersama, Iwan tahu mungkin Hania takkan pernah memaafkannya.
“Co… coba lihat saja sendiri!” sahut Iwan, akhirnya menyerah untuk menjelaskan.
“Buat apa?” desis Hania, meski ia mulai mengambil langkah-langkah lebar menuju tempat di mana Iwan tadi berdiri.
Tapi belum lima detik, Hania sudah kembali dari balik rak buku itu. Wajahnya di luar dugaan merah padam.
“Ke… kenapa sekarang dia enggak pakai celana?!” desis Hania tertahan dengan muka tersipu
“Mana aku tahu! Itu yang mau aku tanyakan ke kamu!” kata Iwan frustasi, meski ia terkejut juga karena Hania sendiri sejak awal ternyata memang tak tahu inti permasalahannya.
Dengan pipi masih merona, Hania memandang mata Iwan, lalu tertawa geli.
Kenapa kamu bisa-bisanya ketawa di saat kayak gini?!
“Oke, maaf. Kali ini kita berurusan sama yang betul-betul sinting sekarang. Tadi sih dia masih pakai celana.” ujarnya sambil nyengir. “Pokoknya lakukan saja seperti biasa.”
Iwan melongo. Lalu ia menggeleng lemah.
Bisa-bisanya kamu mengatakan sesuatu seperti itu.
Saat beranjak kembali ke rak buku itu, Iwan berpikir bahwa mungkin ia memang harus memperbaiki pendapatnya; Hania tak seburuk itu. Setidaknya, ia tak terbiasa melihat orang-orang yang tak memakai celana di depan umum. Tapi tetap saja sikap tenang Hania membuat Iwan merasa dongkol padanya.
Lepas dari itu, Iwan harus mengakui tadi dirinya mungkin memang terlalu berprasangka. Terlepas dari segala yang telah mereka lalui bersama sampai sejauh ini, rupanya mereka memang masih belum terlalu saling mengenal satu sama lain.
Mengingat apa yang udah terjadi, itu bukan hal yang aneh sih.
Iwan menghela nafas. Ia telah kembali ke sisi rak buku tempat ia tadi berdiri, sekali ini berusaha sebisa mungkin untuk tak menghiraukan orang yang tak mengenakan celana di baliknya. Kemudian ia memejamkan mata dan melakukan apa yang belakangan ini selalu Hania minta darinya: memasuki dunia lain.
***
Melebur ke dalam kegelapan, Iwan sampai ke suatu semesta di mana hanya dirinya seorang yang pernah berpijak. Angkasa miliknya itu terasa sepi dan suram, namun tanda-tanda kehidupan berlimpah–ruah di sana: telinganya mendengar bermacam suara, kulitnya tersentuh beragam permukaan, dan meski matanya tengah terpejam ia bisa melihat dengan sesuatu yang mungkin saja merupakan mata batinnya sendiri.
Mata batin seseorang sekali dibuka takkan bisa ditutup lagi.
Namun pada kasus Iwan, apa yang dilihatnya saat mata ragawinya terbuka untuk suatu alasan selalu lebih menyilaukan daripada apa yang dilihatnya dengan mata batinnya. Inilah jenis pengendalian yang hanya dimiliki oleh dirinya seorang. Karena itu, ia selalu waspada setiap kali hendak menutup matanya dalam keadaan sadar. Kadangkala ia bisa terbawa ke dunia yang sama sekali lain.
Dalam dunia itu ia bergerak selagi ia diam. Ia berkelana menembus nuansa yang hanya bisa dirasakan olehnya.
Kemudian terdengar bunyi mendesir yang menyapu rak-rak buku.
Mungkin itu bunyi angin?
Ada suara banyak orang yang berbicara dari jauh…
“…Kak, tapi kalau begitu bagian ini mestinya begini dong…”
“…Hei, kau suka bacaan-bacaan kayak begitu?”
“…kok enggak ada di sini…”
…yang kemudian menyatu menjadi dengung suara percakapan yang takkan bisa langsung dipahami olehnya.
Bergerak lebih jauh lagi, ia kemudian mendengar lantunan suara dedaunan bergemerisik ketika angin berhembus, sehingga Iwan tak lagi bisa membedakan apakah ia telah sampai di luar ruangan atau masih berada di dalam perpustakaan. Lalu ada warna langit di atasnya yang secara mendadak tersapu oleh kegelapan, diikuti munculnya burung-burung camar yang terbang di atas lautan api yang membara. Kemudian suara-suara percakapan semakin terdengar tak jelas.
Tapi di tengah semua kekacauan itu, Iwan merasa tenteram di sana. Seolah-olah dirinya telah kembali berada di tempatnya berpulang.
Sebentar lagi ia semestinya menemukan apa yang ia cari. Tapi perasaan apa ini? Iwan mulai merasakan sesuatu yang belum pernah dijumpainya sebelumnya.
Ia berusaha mencari tahu lebih lanjut, memastikan dengan segenap konsentrasi yang dimilikinya, namun…
“Hei! Kamu enggak apa-apa?”
Iwan terlonjak.
Seketika ia membuka mata dan terkejut saat mendapati seseorang telah berada di sampingnya. Seorang lelaki, muda, berwajah agak tirus, mengenakan kemaja kotak-kotak hijau tipis dan celana jins berwarna biru gelap. Di tangannya tergenggam sebuah buku tebal yang nampaknya tadi sedang ia baca.
Ketahuan!
“Aku… aku baik-baik saja kok!” Iwan cepat-cepat berkata dan tertawa lemah. “Aku tadi cuma lagi nyari buku tapi lupa judul buku yang mau aku am… bil…”
Ucapan yang keluar dari mulutnya melemah saat menyadari siapa sosok yang berada di hadapannya: ia tak lain orang yang tak memakai celana tadi.
Mulut Iwan tanpa terasa jatuh membuka.
Rupanya orang itu sudah mengenakan celana kembali.
“Kamu betulan baik-baik aja?” Orang tersebut mengernyit sebagai bentuk tanggapannya atas ekspresi tolol yang Iwan tampilkan.
“Oh, ya. Aku baik-baik aja kok.” tukas Iwan hati-hati.
Sial.
“Kamu mahasiswa baru?” tanyanya lagi.
“Ah? Oh, ya. Semacem itu.” tutur Iwan lagi.
Kenapa dia tiba-tiba bisa ada di sini?
“Oh. Ya udah kalo gitu.” jawabnya, seakan maklum dengan segala ketololan anak muda zaman sekarang.
Lalu orang itu membelakangi Iwan untuk beberapa lama ketika mengembalikan buku yang tadi dibawanya ke raknya yang semestinya. Selanjutnya, ia berlalu ke arah pintu palang putar. Di tengah jalan ia sempat memperhatikan sosok Hania dengan seksama; gadis itu tengah duduk di mejanya, membaca sebuah buku seakan tak menyadari apa-apa yang terjadi. Jelas terlihat di mata Iwan bahwa gadis itu sebenarnya sedang berusaha untuk tak membalas perhatian darinya, namun orang yang memperhatikannya itu nampak tak menyadari hal tersebut. Kemudian orang itu melewati pintu palang putar dan tanpa berhenti lagi menuruni tangga menuju lantai bawah.
Tanpa sadar, Iwan menghela nafas lega.
Ia beranjak kembali pada Hania yang, meski terlihat seperti sedang mempertahankan posisi tenangnya, Iwan lihat sebenarnya bisa meledak emosinya sewaktu-waktu.
“Jadi? Apa yang bisa kamu rasa?” tanya gadis itu cepat, nampak cemas dengan kemungkinan bahwa Iwan telah gagal.
“Yang biasa-biasa aja. Aku… dia keburu pergi.” Iwan mencoba menjelaskan.
Hania melotot.
“Tunggu apa lagi? Kejar dia dong!”
“Tunggu, tunggu sebentar.” kata Iwan, teringat kembali akan sensasi aneh yang dirasakannya tadi. “Sebelum itu, menurut kamu, apa yang bakal kita hadapi kali ini?”
Hania bangkit berdiri sambil menggeleng.
“Mana aku tahu. Kamu juga tahu aku enggak pernah tahu, ‘kan?”
“Apa kamu enggak merasa orang itu tadi cuma ngebuka celananya karena merasa selangkangannya kepanasan?”
“Enggak mungkin.” bantah Hania, sama sekali tak tertawa. “Aku yakin ada sesuatu yang lain di balik tingkah abnormalnya itu.”
Yang kamu maksud enggak mungkin ‘fetish’, kan?
“Kamu enggak bisa ngasih gambaran Hantu yang nempelin dia kayak apa?” desak Iwan lagi.
“Susah ngejelasinnya.” kata Hania tak sabar, bahasa tubuhnya seolah mendesak Iwan agar buru-buru menyusulnya.
Iwan menghela nafas.
“Kalaupun dia seorang eksibisonis, memangnya apa yang bisa kita lakuin?”
Hania mengejapkan mata.
“Eksibisonis itu apa?”
“Lupakan.” tukas Iwan. “Aku ikuti dia sekarang.”
“Tunggu.” tahan Hania, ganti dirinya kini yang bersikap gelisah. “Orang itu enggak akan berbahaya… ‘kan?”
“Kamu yang mestinya tahu soal itu.”
Hania menatapnya dengan pandangan penuh arti. Iwan benci Hania setiap kali ia melakukan hal ini. Ia berusaha untuk tak menghiraukannya. Ia hanya mengangguk dan bergegas pergi untuk menyusul orang itu.
Hania untuk beberapa lama masih berdiri di sana, terdiam seolah tak yakin hendak melakukan apa. Kemudian ia pun melewati pintu palang putar dan kembali ke lantai dasar.
Sang wanita pustakawati memperhatikan punggungnya ketika ia pergi.
Hania kemudian memperhatikan sekelilingnya, yang kini bertebaran mahasiswa di mana-mana. Ia menarik nafas perlahan, kemudian keluar dari gedung, beranjak ke tempat yang persis sama di mana tadi Iwan berdiri menunggunya.
Menilai betapa Iwan tak langsung terlihat olehnya, Hania menilai Iwan telah dapat mengikuti jejak orang tadi.
Tapi baru lebih dari satu jam kemudian, ketika panas matahari mulai memudar dan jumlah mahasiswa yang berkumpul melewatkan jam makan siang semakin berkurang, Iwan muncul kembali. Ia datang di luar dugaan dari dalam gedung perpustakaan, kemungkinan besar dari wilayah ruangan utama yang berada di balik pintu kaca yang ada tepat di depan pintu utama tempat Hania berdiri.
“Dia masuk WC.” Iwan memberitahunya.
“Kamu yakin?” tanya Hania.
“Aku ikutin dia sampai ke tangga.” jawabnya.
“Lalu?”
“Dia enggak keluar lagi.”
Hania tak yakin dirinya mendengar apa yang Iwan katakan dengan benar.
“Apa?”
“Dia enggak keluar lagi.”
“Jadi dia masih di dalam?”
“Mungkin.”
“Jadi dia masuk ke wilayah utama, baca-baca lagi sebentar, kemudian masuk WC?”
“Enggak. Dia begitu masuk ke dalam situ, langsung naik tangga menuju WC. Tahu ‘kan? WC-nya ada di ambang tangga? Tempatnya agak jorok?”
Hania mengangguk, ia pernah menjelajahi keseluruhan gedung perpustakaan ini sebelumnya. Tapi kemudian ia mengernyit heran.
“Jadi dia selama satu jam masih ada di dalam WC itu?” tanya Hania dengan terkesima.
“Iya.” jawab Iwan, senang bahwa Hania akhirnya mengerti maksudnya.
“Apa dia sadar dia lagi kamu ikutin?”
“Kayaknya enggak.” ujar Iwan, meski pertanyaan itu sedikit mengusik rasa percaya dirinya. “Aku menunggu dia dari luar WC. Enggak mungkin dia bisa melihat aku dari sana ‘kan?”
Hania tampak seperti sedang berpikir. Tapi ia sepertinya tak tahu harus mengatakan apa lagi.
“Kurasa kita kali ini salah orang.” gumam Iwan pelan, untuk suatu sebab yang kurang bisa Hania pahami. “Kita nemu orang aneh sih, tapi kupikir kita salah orang.”
Hania, dengan ekspresi bersungguh-sungguh, memandangnya.
Kenapa kamu sekarang mikir kayak begitu sih?
“Menurut kamu, apa dia sedang melakukan sesuatu di dalam WC itu?” tanya gadis itu lagi.
Iwan terpana sesaat.
“I… yaah.” jawabnya dengan sejujurnya, meski jelas-jelas ia mencoba menghindari kontak mata karena Hania masih memandanginya cara yang sama.
“Apa?” tanya gadis itu dengan nada suaranya yang dingin.
Seketika air muka Iwan berubah dan ia mulai salah tingkah.
“Mungkin lebih baik kamu enggak tahu soal itu!” katanya, mengibaskan tangannya ke samping dengan keras. “Gimanapun juga, kita pasti salah orang!”
Lalu ia buru-buru beranjak pergi dari sana seakan tak mau tahu tentang urusan itu lagi. Di belakangnya, Hania, sedikit keheranan, hanya memandang kepergiannya dengan mimik muka muram.
membuat prolog. karena ini media online. prolog akan membantu pembaca di awal untuk tahu, mereka akan dihadapkan pada apa. Sehingga mereka punya harapan tersendiri dan rela melewati tempo lambatmu ^^. kecuali kalau kamu sudah punya nama, ya prolog tidak lagi harus.
Wah cerita psikologis yg keren. Nuansa muram dan angsty-nya terasa banget. Aku suka cerita seperti ini. Numpang belajar bikin suasana dong.
Wah asyik, punya bacaan baru lagi. Si Hania itu Necromancer ya ? Ini dia tipe cerita yg paling aku gemari. Psichological supernatural. Ditunggu lanjutannya ya. Ayo semangat !
------------------------------------
Bizarre murder, Demonic creature, Mysterious People, The Fragile One. There's something in Bandung. Here at The Altered Blood
Terlalu panjang. Menurut saya, untuk menaruh tulisan di kemudian.com sebaiknya jangan terlalu panjang. Hal ini bisa disiasati dengan membaginya menjadi bagian-bagian pendek.
Judulnya sudah menggairahkan, tapi isinya terlalu lambat. Coba langsung di "gebrak" dulu pembacanya, pasti lebih bergairah lagi bacanya.
Pembagian paragrafnya menurut saya keliru. Sebuah kalimat yang berdiri sendiri diluar paragraf sebaiknya terdiri dari beberapa kata saja dan hanya satu kalimat. Seperti contoh kam: "jangan memejamkan mata", itu bagus menurut saya.
bagus. menarik.
pertama, kamu memilih menggunakan perspektif orang ketiga terbatas, gua suka dan rasanya cocok di cerita.
kedua, ceritanya emang 'berbeda'.
ketiga, deskripsinya udah cukup mendetil, dan perasaan tokohnya udah bisa keluar semua.
openingnya udah cukup bagus, dan menarik perhatian.
tapi yang kudu diperhatikan, ada beberapa pembaca yang pingin langsung masuk ke 'aksi' atau 'sumber masalah'.
mungkin bisa disiasati dengan meringkas beberapa paragraf deskriptif tentang buku atau perpustakaan, atau menyelipkan beberapa dialog kecil di awal. buat sedikit menyeimbangkan.
secara keseluruhan, bagus banget kok.
ditunggu lanjutannya.
gua kebayang neil gaiman nih...
Sori, aku belum kebiasa sama sistem di sini. Makasih.
lanjut dulu ya ..
Tapi jangan terlalu dempet dunk, kasih jarak lah .. biar mata kucing ini tidak terlalu lelah melototin tulisannya he5 ..