Cahaya. Itulah hal pertama yang Oki sadari ada di balik pintu itu. Karena lamanya ia berada dalam kegelapan, selama beberapa saat matanya terus mengejap. Sampai ia pada akhirnya mendapati bahwa apa yang menyinari dirinya merupakan sejenis cahaya berwarna lembut. Jinggakah? Atau ungu? Yang pasti tak terlalu terang, agak kuning keemasan. Sama-samar Oki ingat bahwa jenis cahaya itulah yang akan tampak saat siang memudar dan malam perlahan merayap. Sudah lama sekali semenjak Oki melihat secara langsung cahaya seperti itu.
Read more (3280 words)
Saat Oki melongok ke dalam, ia sadari bahwa cahaya yang memancar berwarna senada dengan warna permukaan dinding. Yang Oki lihat adalah sebuah lorong tangga batu yang menurun menuju ke bawah. Rupanya tangga seperti inilah yang terdapat di balik pintu itu; tumpukan anak tangga yang tampaknya dibuat dari batu-batu keras yang telah dihaluskan dengan tangan. Tapi bagaimana bisa? Bukankah dirinya dan Febi berada dalam sistem saluran pembuangan air moderen di bawah sebuah kota? Bagaimana mungkin tangga batu yang sepertinya berasal dari zaman pertengahan ini bisa ada?
“Fe... Febi?”
Namun Febi tak menjawab. Gadis kecil di belakangnya itu hanya menampakkan seseuatu yang mirip seutas senyum dan mendorong Oki untuk masuk.
Oki melangkah ke dalam pintu itu dan memperhatikan sekelilingnya lebih lanjut. Bukan hanya anak-anak tangga yang terbuat dari batu, melainkan dinding dan langit-langitnya pula. Semua terbuat dari tumpukan batu yang tersusun rapat. Dibentuk persegi. Direkatkan secara sempurna antara satu sama lain. Lebih dari itu, semua diterangi oleh cahaya hangat yang berasal dari dasar tangga. Lorong bertangga itu tak panjang. Tak heran jika cahaya itu bisa sampai kemari. Tapi cahaya apa ini? Apa sebenarnya yang ada di dasar sana?
“Di sana.” ujar Febi, bibirnya kembali membentuk apa yang hampir tampak sebagai sebuah senyuman. “...ada apa yang Kakak butuhkan untuk menuntut keadilan.”
“A... ada apa di bawah sana?” tanya Oki, untuk pertama kalinya menyadari bahwa ada baiknya ia bersikap waspada terhadap gadis ini.
“Malaikat mesin yang akhirnya kembali ke dunia setelah sekian lama semenjak alam semesta terakhir dibuat.”
“Apa?”
Oki mengernyit. Dalam sekejap, ia menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badan, menghadap gadis itu. Tapi belum sempat Oki melanjutkan komentarnya, tiba-tiba terdengar langkah kaki berderap. Sepertinya berasal dari bagian lorong saluran air yang baru saja ia dan Febi lewati. Bersamaan, keduanya mengangkat kepala. Terkejut, menyadari betapa banyaknya orang yang datang dari derap langkah kaki itu saja..
Lalu, semuanya berlangsung dengan begitu cepat. Febi tiba-tiba mendorong Oki ke bagian dalam lorong batu. Sehingga dalam ketidakseimbangannya, Oki terpaksa menuruni beberapa buah anak tangga. Sementara gadis kecil itu sendiri melesat kembali ke arah lorong saluran air. Kemudian ia melakukan sesuatu yang tak sempat Oki lihat. Sesuatu menyebabkan pintu di antara mereka tertutup rapat kembali.
Oki ternganga.
“Febi? Febiiiii!”
Oki berteriak saat terdengar bunyi menggesek, seiring bunyi gerigi-gerigi bergerak, mengiringi saat-saat pintu logam itu kembali tertutup. Tapi tak hanya itu saja. Sebuah tembok batu rahasia mendadak jatuh berdebum dari atas, menutupi permukaan baja yang rata dengan permukaan batu karang yang bergelombang. Oki terguncang dan melangkah mundur. Ia bersyukur melakukan itu sebab sejumlah batangan besi hitam kemudian tiba-tiba mencuat keluar, persis dari sisi-sisi dinding di dekatnya. Berjajar melintang di hadapan tempat pintu itu berada sebelumnya, merintangi bagaikan sebuah pagar.
Oki terpana. Yang baru dilihatnya adalah tertutupnya tiga buah lapis pintu.
“Febi! Febi!”
Apa yang ada di bawah sana sampai pengamanan seperti ini dibutuhkan? Tempat apa sebenarnya ini?
“Febii! Febiiii!”
Oki mencoba terus berteriak. Namun sia-sia. Tak ada apapun yang terdengar dari balik tembok di hadapannya. Suara atau bunyi yang berasal dari sana akan sepenuhnya teredam oleh ketebalan dinding.
Tubuh Oki gemetar. Kembali ia merasa lemas. Sebisa mungkin, ia berusaha mencerna rangkaian kejadian yang telah terjadi. Tentang siapa Febi. Tentang apa sebenarnya yang gadis itu hendak tunjukkan. Tentang bunyi langkah kaki yang selama sekejap tadi mereka berdua dengar. Siapa mereka? Tentarakah? Terlintas kembali di benak Oki bahwa dirinya sempat mengira Febi tengah dikejar oleh tentara Kisokudira. Tapi Febi hanya seorang anak kecil! Jadi mengapa?
Menyadari dirinya tak memiliki pilihan lain, sadar bahwa ia tak menemukan perangkat apapun untuk membuka pintu tiga lapis itu dari dalam, Oki memandangi lorong tangga batu tempat ia sedang berada. Kemudian, ia memutuskan untuk menyusurinya sampai ke bawah.
_________
Jingga. Hanya cahaya jingga yang memenuhi udara. Tapi cahaya jingga itu selama sekejap akan berubah ungu setiap kali Oki mengejapkan mata. Kemudian, seolah hendak mempermainkan perasaannya, kembali menjadi kuning setiap kali ia membuka matanya lagi..
Apa yang dilihatnya itu bagaikan sebuah tipuan pada kenyataan. Seolah mengindikasikan bahwa segala yang ia lalui merupakan suatu keberlanjutan yang tak pasti. Tapi sesudah semua yang Oki lihat dan alami dalam perjalanannya untuk sampai kemari, ada terlalu banyak pikiran yang kini memenuhi kepalanya sampai ia akhirnya memilih untuk tak mempedulikan keganjilan ini lagi.
Terdapat ruangan yang teramat luas di dasar lorong tangga batu itu. Sepenuhnya, mungkin, dibentuk dari pahatan batu-batu keras. Langit-langit yang teramat tinggi, nyaris tak terlihat, beserta tiang-tiang panjang yang menjangkau sampai ke permukaannya, membuat Oki tertegun dan selama beberapa detik membuatnya menahan nafas. Ada bermacam ukiran yang memenuhi dinding dari bawah sampai ke atas, berupa pola-pola rumit; mungkin gambar, mungkin tulisan, dalam aksara-aksara yang tak bisa Oki pahami maknanya. Sedangkan di dasar ruangan itu, terutama tersebar di sekitar ujung lorong tangga batu, terdapat berbagai ukiran, arca, yang dengan susunannya yang teratur seolah menyambut kedatangan Oki di sana.
Oki terpaku. Apa yang kemudian disadarinya sudah terlalu ganjil untuk bisa ia pahami.
Sebuah selasar. “Ruangan” tempat ia berada bukanlah sebuah ruangan. Melainkan sebuah selasar. Selasar yang bila diamati dari bentuknya yang memanjang, berukuran raksasa. Mungkin seluas arena-arena olahraga di atas permukaan tanah yang duku Oki ingat pernah lihat. Ia telah tiba di sebuah lorong yang lain, yang jauh lebih besar, yang dipenuhi patung, arca, ukiran-ukiran di dinding, serta deretan tiang-tiang teramat besar di sepanjang kedua sisinya. Menerangi selasar itu entah dari mana, cahaya jingga-ungu itu masih memenuhi udara.
“Apa... tempat apa ini?”
Setelah Oki perhatikan, atap selasar raksasa itu berbentuk melengkung. Ukiran berpola rumit itu juga dapat ia temukan di sepanjang tiang-tiang. Lalu ada pecahan-pecahan batu di sana-sini, memenuhi lantai. Tapi secara keseluruhan, ruangan itu masih berada dalam kondisi yang baik. Kemudian, yang awalnya Oki kira sebagai arca itu, ternyata sebenarnya merupakan landasan bagi patung-patung lain yang rupanya terus memanjang ke atas, ketinggiannya nyaris mencapai langit-langit. Patung-patung apa itu, sosoknya tak dapat Oki gambarkan. Hampir tampak berbentuk serupa manusia, tapi juga bukan. Patung-patung itu berderet di sepanjang dinding, di antara tiang-tiang, semuanya menghadap ke tengah ruangan.
Lalu, karena dihadapkan pada bentuk-bentuk yang teramat asing itu, ketegangan merayapi Oki.
Bagaimana mungkin ada tempat semacam ini tersembunyi di bawah kota? Lalu dari mana cahaya terang ini berasal? Ini tak mungkin cahaya matahari, bukan?
Oki mencoba berjalan, menyusuri selasar panjang yang lebar. Di kiri-kanannya, selalu ada patung yang berdiri, dibatasi oleh tiang-tiang tebal. Langkah kakinya bergema di sepanjang selasar. Sesuatu pada gema tersebut membuatnya merasa cemas. Apakah benar hanya dirinya seorang yang berada di sana?
Rupanya tidak.
Sebab saat sudah menyusuri hampir setengah bagian selasar, tak jauh dari apa yang dilihatnya sebagai gerbang melengkung teramat besar, bunyi desingan tiba-tiba terdengar. Mengikuti naluri dan refleksnya yang terasah, Oki melompat mundur. Lubang peluru telah berada di lantai tempat sebelumnya ia berpijak.
Kepala berputar. Seorang perempuan berdiri di tepi salah satu patung. Tangan kanan perempuan itu menggenggam senjata api.
“Apa?”
Perempuan itu dikejutkan oleh kecepatan gerak Oki.
Namun kemarahan dan naluri bertahan hidup yang sebelumnya tertahan kini menggelegak. Oki telah melompat menyerang, melakukan sergapan dengan kedua kaki dari udara. Perempuan itu membidikkan pistol ke arahnya. Namun dengan batu dari pecahan lantai yang entah kapan Oki ambil, dengan mudah pistol itu dapat Oki singkirkan.
Perempuan itu meringis saat lemparan batu Oki mengenai tangannya. Ia terkesima. Tapi dengan tangannya yang satu lagi, ia telah sigap. Disambutnya kaki kanan Oki yang terayun di udara. Kemudian dengan sedikit menggesar titik beratnya, ia berhasil membuat Oki jatuh terjerembab ke lantai.
Ia mencabut sebilah pisau untuk ditempelkan ke leher, tapi tinju Oki telah mengayun. Terpaksa dengan tangan yang memegang pisau itu, ditahannya lengan Oki. Lalu, seolah telah menyepakatinya sebelumnya, bersamaan keduanya berkata “Siapa kau?” dan barulah mereka terpana memandang satu sama lain.
Oki masih melotot.
Dari tampilannya, perempuan itu hanya beberapa tahun lebih tua daripada Oki.
“Apa? Kau... cuma seorang bocah.”
Oki telentang di bawah, tangan setengah terayun. Sedangkan perempuan itu berada di hadapannya, separuh berjongkok. Tangannya yang berpisau masih tertahan di siku Oki. Tapi ia tersenyum.
“Tenang. Jangan berontak. Aku tak bermaksud menyakitimu.” lanjut perempuan itu lagi.
Rambut dikuncir, berwarna merah kecoklatan. Wajah kecil, sorot mata yang tajam. Perempuan yang terkesan tangguh hanya dengan pandangan sekejap saja.
“Kau orang Kisokudira?”
Oki menggeleng.
“Kau tahu ini tempat apa?”
Oki mengernyit. Dari cara perempuan itu mengucapkannya, rasanya pertanyaan itu diajukan bukan dengan maksud menginterogasi.
“Tunggu, jadi maksudnya, Kau juga tak tahu ini tempat apa?” tanya Oki, teringat kembali akan segala pertanyaan yang hendak diajukannya semenjak ia bertemu Febi, gadis kecil yang telah membawanya ke sini.
Perempuan itu menghela nafas, lalu melepaskan tangkapannya pada kaki kanan Oki.
“Kalau tak tahu, lalu bagaimana kau bisa sampai ke sini?” Perempuan itu balik bertanya.
“Ceritanya panjang.” gerutu Oki, masih waspada, yang ditanggapi oleh perempuan yang masih tersenyum itu dengan gerakan mengangkat bahu.
“Ya sudah, kalau begitu. Soalnya kurasa lebih kurang aku juga sama. Ceritaku juga panjang. Jadi mungkin kita senasib.”
Oki mengerutkan kening. Setelah semua penderitaan yang telah dialaminya, mendapatkan sambutan yang ramah seperti ini sama sekali bukan sesuatu yang disangkanya.
“Jadi? Siapa kau?” tanya si perempuan, sembari menggaruk-garukkan kepala seraya membantu Oki berdiri, sebelum ia akhirnya terdiam saat memperhatikan remaja itu dengan seksama.
Oki juga balas memgamatinya, dan bisa melihat kalau perempuan itu mengenakan sejenis pakaian safari lusuh. Di bawah, kedua kakinya terlindung oleh kaus kaki panjang dan sepatu berbahan tebal, bersol karet.
“King.”
“Maaf?”
“Ce... Ceking.” gumam Oki pendek, mengulang nama paling pertama yang terlintas dalam pikirannya, sebisa mungkin berusaha untuk tak bertatapan langsung dengan wajah perempuan itu.
“Hm. Begitu ya?” ucap si perempuan seraya memandangi Oki sekali lagi. Sepertinya ia menilai nama itu mungkin ada hubungannya dengan postur tubuh Oki yang agak terlalu kurus. “Aku... Rosa. Aku beritahu saja namaku karena sepertinya kau orang baik-baik. Maka dari itu aku juga beritahu saja kalau aku sudah terjebak di sini selama dua hari. Menurut jamku, setidaknya.”
“Apa kau bilang?” desis Oki, memotong ucapannya. “Dua hari?”
“Yap. Kau sendiri?”
“Aku? Aku... baru tiba.”
“Apa katamu?” Ganti Rosa yang terkejut. “Le... lewat mana? Tunjukkan jalannya!”
“Sudah tak bisa.”
“Kenapa?”
“Pintunya... sekarang sudah tertutup. Tak bisa dibuka dari dalam.”
Rosa selama sejenak kehilangan kata-kata. Lalu ia tampak menunjukkan pemahaman dan menghela sebuah nafas panjang.
“Begitu ya? Bahkan sampai cara kita bisa masuk ke sini pun mirip, ya? Mungkin kita berdua memang benar-benar ditakdirkan untuk senasib.”
Untuk beberapa saat, mereka berdua tak saling berbicara.
“Ah, maaf soal pistol itu.” ucap Rosa lagi kemudian. “Isinya hanya peluru listrik kok. Peluru seperti itu takkan membunuh. Hanya memberi kelumpuhan sementara. Sebisa mungkin aku harus berjaga-jaga. Nih, kalau tak percaya, kau lihat saja sendiri.”
“Ah. Aku percaya kok.” ucap Oki, karena ia bisa rasakan bahwa Rosa tak memiliki nafsu perlawanan terhadap dirinya lagi. Lalu ia kembali memandang sekelilingnya dan bertanya, “Ini... tempat... apa, jadinya?”
Bisa dilihatnya bahwa secara keseluruhan selasar di sekelilingnya sudah begitu lama tak terjamah tangan manusia. Agak tak heran, jika mempertimbangkan keberadaannya yang begitu tak wajar di bawah permukaan kota.
“Aku tak tahu.” gumam Rosa. “Tapi belakangan aku merasa tempat ini mirip sebuah kuil.”
“Kuil?”
“Oke. Nanti kau akan paham sesudah kita tiba di kemahku.”
“Kemah?”
Rosa berbalik sambil melambaikan tangannya. Meminta agar Oki mengikutinya.
_________
Kembali mereka susuri selasar raksasa itu. Namun saat mereka lalui gerbang melengkung yang sebelumnya Oki lihat, Oki dapati bahwa ruangan sudah kembali berganti. Kini di hadapan mereka adalah sebuah amfiteater raksasa. Rupanya selasar raksasa itu berujung di sana.
Masih terbuat dari tumpukan dan pahatan bebatuan, ada bangku-bangku berderet secara diagonal di sepanjang dinding yang membentuk ruangan menjadi segi enam. Di dasar deretan bangku itu, terdapat sebuah panggung berlantai batu yang mungkin seluas lapangan sepakbola. Di belakang panggung itu, berdirilah patung makhluk misterius paling besar dan paling mengerikan dari yang sejauh telah Oki lihat. Cahaya kuning keemasan misterius itu juga menerangi tempat ini.
“Itu bukan patung.” ucap Rosa, dan Oki seketika mendelik ke arahnya.
“Maksudmu?”
“Perhatikan, itu bukan patung. Bahannya bukan bebatuan.”
Lalu Oki sadari bahwa “patung” yang dilihatnya memiliki permukaan yang mengkilat, seperti dari logam. Hampir tak disadari olehnya akibat terangnya cahaya kuning. Lalu Oki tersadar bahwa yang memancarkan cahaya ini mungkin adalah “patung” ini sendiri.
Apa yang membuatnya berpikir demikian, ia tak tahu. Tapi sesuatu itu membuat Oki sampai terhenyak. Ada sesuatu dalam dadanya terasa bergetar. Selama beberapa lama, ia mendapati dirinya tak bisa maju.
“Ah, kamu juga merasa seperti itu?” tanya Rosa. “Aku juga pertamanya begitu, waktu pertama melihat benda itu.”
Itu sama sekali bukan patung. Itu sesuatu yang terbentuk dari logam. Sebuah mesin. Mesin raksasa dengan kerangka menyerupai sosok manusia, bila diperhatikan lebih lanjut. Tapi tak mungkin hanya sekedar itu...
“Itu... seperti semacam dewa, ya?” lanjut Rosa, dengan seutas senyuman. “Dengan ukurannya saja, kita bisa dibuatnya terpaku.”
Tinggi menjulang sampai lima belas meter. “Patung” dari logam itu memang memiliki nuansa dominan. Lapisan dasarnya hitam mengkilat. Tapi seperti yang Oki jabarkan, tampak seolah ada cahaya yang memancar dari raga sosok itu. Cahaya lembut berwarna kuning-ungu itu. Tapi entah bagaimana itu bisa terjadi. Bila Oki memicingkan mata, ia bisa dapati bahwa seluruh permukaan tubuhnya bagaikan sebuah baju zirah. Dengan lekukan-lekukan yang halus dan beberapa sudut tajam di sebagian tempat. Bentuk kepalanya, dari tempat ia berdiri, sulit untuk dilihat. Sepasang tangannya tampak kekar dan terkepal. Ada sesuatu yang seperti rangka sayap mencuat dari belakang bahu dan panggulnya.
“Ini... benda apa?” tanya Oki.
“Entahlah. Robot mungkin? Sudah ada di sini waktu aku pertama tiba. Aku... aku tak bisa menceritakan alasanku, tapi aku sebelumnya berada di suatu tempat sekitar sini karena suatu urusan. Ada... ada sesuatu yang harus kucari. Lalu kulihat ada pintu tersembunyi yang tiba-tiba membuka sendiri. Di mana ya? Mungkin sekitar Area 65? Lalu saat aku coba lihat apa yang ada di dalamnya, tahu-tahu aku terkurung di sini.” Demikian Rosa menjelaskan.
Area 65? Kecurigaan Oki kembali timbul.
“Kau berasal dari kelompok mana?” tanya Oki sengit.
“Kelompok?” ulang Rosa, mengangkat alis. “Apa... itu penting untuk dipikirkan sekarang?”
“Ti... tidak. Tidak juga.” ucap Oki pelan. Menyadari bahwa pertanyaan itu malah membuatnya teringat akan kelompoknya sendiri. Kelompok yang telah menaunginya selama berbulan-bulan. Teman-temannya yang sudah tewas terbantai beberapa saat lalu. Kesedihan dalam dirinya kembali timbul.
“Ayo. Aku sudah membuat kemah di sekitar situ.”
Rosa menunjuk salah satu sudut panggung batu, di mana sebuah tas dan beberapa gulungan dari bahan plastik sepertinya teletak.
“Itu... ‘kemah’?”
“Kemah.” tawa Rosa, meski dengan wajah muram ia hanya mengangkat bahu.
Rosa memasakkan air bagi Oki dan berbagi sedikit makanan dengannya. Butuh waktu tak lama bagi Oki untuk membuka diri terhadapnya.
“Kamu dapat air ini dari mana?”
Rosa menunjuk ke bagian belakang panggung, di mana sebuah kolam yang terbuat dari susunan batu rupanya terletak. Tetesan-tetesan air yang secara berkelanjutan jatuh tepat dari atasnya ternyata tertampung di sana. Air kolam itu berbeda dengan air kotor di gorong-gorong. Irama air saat jatuh dan mengalir, yang baru disadari oleh Oki sesudah Rosa memperlihatkannya, memberinya suatu sensasi damai yang sudah lama tak dirasakannya. Air kolam itu sendiri terasa tampak jernih dan menyejukkan.
“Jadi karena itulah!” ucap Oki, dengan nada penuh kepahitan beberapa lama kemudian. “Aku kemudian mengikutinya karena ingin balas dendam terhadapi mereka!”
Ia terdiam untuk beberapa lama. Nafas memburu. Bahu bergetar.
“Ya Tuhan. Jadi berkat gadis itu ya?” desis Rosa, dengan mata melebar.
Oki baru saja menuturkan pada Rosa bagaimana caranya ia bisa sampai sampai kemari.
“Lalu gadis itu?”
“Dia mengurungku di dalam begitu kami sampai kemari. Kurasa, itu karena tentara Kisokudira tengah mengejarnya.”
“Tentara... Kisokudira?”
“Brengsek! Aku takkan pernah memaafkan mereka!” teriak Oki marah. Teriakannya membahana sampai ke setiap penjuru ruangan. “Mula-mula mereka menghabisi teman-temanku! Kemudian mereka mengejari anak kecil seperti Febi! Sejauh mana kekejaman mereka akan berlangsung?”
“Tapi.” Rosa menyela lemah. “Bukankah?”
“Soal urusan makanan kalengan itu sudah pasti jebakan! Buktinya, begitu mereka selesai memberondongi teman-temanku dengan peluru, mereka tinggalkan seluruh makanan kaleng itu di sana begitu saja! Sudah jelas itu pancingan buat kelompok-kelompok tak terorganisir seperti kelompokku!”
“Begitu ya.” Rosa menghela nafas dalam-dalam, menundukkan kepala dengan prihatin. “Begitu rupanya, ya? Memang, sejauh yang aku tahu sampai dua hari yang lalu, orang-orang Kisokudira memang sepertinya merencanakan sesuatu. Pada minggu-minggu terakhir ini mereka membangun sejumlah pangkalan di sisa-sisa reruntuhan kota.”
“Pangkalan?” tanya Oki, mengingat ia sudah lama tak melihat keadaan puing-pung kota yang berada di atas tanah.
“Iya. Pangkalan. Kau belum sadar? Tempat yang kau dan temanmu lihat waktu itu mungkin adalah pangkalan tentara. Tak kusangka. Mereka membangun sampai ke bawah tanah. Entah apa yang diinginkan orang-orang Kisokudira itu di tanah rusak seperti ini.”
Oki mengejap-ngejapkan mata. Ia ternganga untuk beberapa saat, heran karena tak menyadari kenyataan ini sejak awal. Bukankah gudang makanan yang ia dan Ceking temukan memang tampak terlalu terawat untuk ukuran gedung makanan biasa? Untuk ukuran gudang makanan yang kebetulan masih terkubur dan tak terjamah bahkan lama sesudah Angin Kematian bertiup? Oki memang sempat merasakan suatu firasat buruk, tapi kenapa ia bisa sampai tak memperhatikannya sebelumnya?
“Tapi harus kau akui. Temanmu memang agak terlalu gegabah dengan menyatroni gudang makanan itu. Orang yang terburu keinginan seperti dia sebenarnya kurang pantas menjadi pemimpin.”
Benar! Oki tak memiliki pilihan selain percaya. Seharusnya ia memperingatkan Ceking waktu itu! Seharusnya ia lebih bersungguh-sungguh dalam membuatnya berpikir dua kali! Bukankah dirinya termasuk salah satu anak yang paling besar? Salah satu dari mereka yang menjaga yang lain? Jika memang demikian... seandainya memang benar demikian... maka kematian seluruh anggota kelompoknya tak lain tak bukan adalah akibat kelalaiannya sendiri! Dirinya! Semua itu adalah salahnya!
“Uh... uwa...”
Kenyataan yang baru disadarinya itu terasa begitu menyakitkan. Ia hampir ingin menangis lagi.
“Anjing semua orang-orang Kisokudira itu!” teriak Oki penuh amarah. Mata basah. Sekujur tubuh bergetar. “Biar kubunuh mereka semua! Akan kutemukan malaikat mesin yang dibilang Febi lalu akan kubantai mereka semua di negeri mereka sendiri!”
Rosa memberinya sebuah tatapan yang penuh iba.
“King? Hei, King? Temanmu, yang menemukan gudang itu bersamamu.” ucapnya dengan lembut. “Yang kau bilang telah menolongmu di awal-awal sesudah Angin Kematian bertiup. Boleh aku tahu siapa namanya?”
Tapi pertanyaan Rosa tak terjawab. Sebab tiba-tiba saja, di seluruh ruangan yang luas itu, membahana di setiap sudut amfiteater itu, sebuah tawa berkumandang.
“Ahahahaha! Hahahahahahahaha!”
Rosa bangkit berdiri. Ia mencabut pistol dan pisaunya. Oki mendelik cepat ke segala arah dengan waspada.
“Siapa itu?” bentak Rosa. “Tunjukkan dirimu!”
“Ahahaha! Awalnya aku kira aku akan mati karena terjebak di sini, tanpa makanan, tanpa teman, seorang diri.” Suara seorang lelaki yang terdengar keji dan merendahkan dengan kerasnya berucap. “Tak kusangka. Ternyata aku punya dua orang teman. Bukannya panik, tapi mereka malah main rumah-rumahan! Duduk-duduk. Minum minuman. Makan makanan tanpa menawarkan sedikitpun padaku!”
“Makanya, kubilang tunjukkan dirimu! Mana kami tahu kau ada di sana kalau kau sendiri tak muncul?” sahut Rosa lagi.
Tiba-tiba Oki menarik lengannya dan menunjuk ke puncak salah satu deretan bangku. Di sana, rupanya terbuka sebuah pintu tersembunyi yang tak mereka sadari keberadaannya sebelumnya. Sebuah pintu lain yang nampaknya berujung pada lorong lain, tersembunyi oleh corak ukirannya yang sama dengan corak ukiran dinding. Berdiri di ambang pintu, tampak seorang pria kurus kering dengan rambut lusuh, janggut berantakan, dan sepasang mata berkilat yang melotot liar. Pakaian yang dikenakannya pun, entah itu kemeja atau kaus, terlihat sudah dekil dan kumal.
Oki mendesis begitu melihat sosoknya.
“Bagas!” katanya. Tanpa sadar menggerakkan kaki dan melangkah mundur.
“Oho! Rupanya salah satu teman senasib baruku ini mengetahui namaku.” ucap pria menakutkan itu dengan girang.
“Kau kenal?” tanya Rosa.
“Bagas si Perkakas. Julukannya yang lain, sang Tukang Kulkas.”
“Tukang Kulkas?”
“Karena kebiasaannya menimbun potongan-potongan mayat korbannya ke dalam kulkas! Di... dia pembantai haus darah dari kelompok Serigala Malakinngita! Dia akan turut serta dalam pertikaian kelompok manapun asal bisa membunuh! Ini, ini gawat. Kenapa dia bisa ada di sini?”
“Hee?” Bagas, masih di puncak deretan bangku, memperlihatkan seringai mengerikan saat nama dan julukannya itu tiba-tiba disebut.