Demikian Zhao Leng, dengan tatatapan mata nanar, menjawab ucapan Xiao Er dengan dingin.
Gadis itu muncul kembali dari balik rerimbunan semak tempat ia berganti baju. Penampilannya sudah berbeda sekarang. Kini ia lebih tampak seperti sesosok gadis desa yang bersahaja. Tapi pandangan Zhao Leng terhadap dirinya sudah terlanjur sulit diubah.
Xiao Er balas menatapnya dengan tajam. Kurang suka dengan apa yang baru ia dengar.
Wuaah, sudah lama tak mendapatkan komentar yang kejam.
Ng, enggak kok. Segmen ke13 dan ke12 sebenernya kubikin sekaligus. Soal perubahan kata ganti, aku memang maksudnya ingin menunjukkan bahwa hubungan di antara mereka jadi agak berubah. Cuma kayaknya aku gagal menunjukkannya secara jelas.
Soal sudut pandang yang gonta-ganti itu beserta gaya narasinya, hmm, itu satu hal yang baru kusadar.
alfare, setuju dengan elbintang, kayaknya ada ketidakkonsistenan penyebutan 'saya' dan 'aku' dalam dialog, dan dialognya sendiri juga kurang terdengar wajar di telingaku (seandainya diucapkan).
ada potongan yang sangat wajar dan enak dicerna seperti "tunggu sebentar. apa sih yang kau bicarakan?", tapi lebih banyak kalimat yang panjang-panjang, dan kaku. atau memang kekakuan antar mereka berdua ini yang sengaja ditampilkan? hmmm...
narasinya juga, walaupun ada beberapa paragraf deskriptif yang sangat bagus, tapi ada juga yang penjelasannya agak berlebihan di beberapa tempat. mungkin karena pemakaian kamera / sudut pandang bercerita yang kamu pilih, tidak di belakang kepala zhao leng, tapi agak jauh di samping dia dan xiao er, sehingga segala sesuatu terpaksa dijelaskan dengan cara narasi 'menurut zhao leng begini', 'menurut zhao leng begitu'. jangan-jangan inilah perbedaan gaya bahasa yang kutemukan di bagian sebelumnya, dibandingkan cerita-ceritamu yang dulu, yang lebih lugas karena sudut pandangnya juga lebih dekat. tidak ada yang salah dg pemilihan sudut pandang ini kok, cuma aku pikir memang masih belum halus. lagian sebenarnya aku juga suka model gaya bahasa 'netral' begitu. tipikal epik.
eniwei, soal ceritanya sendiri, dimulai dengan tajam kok. cukup bagus menurutku. dan konflik sepasang manusia itu kayaknya mulai terbangun dengan menarik, dengan latar belakang coba dimasukkan lewat dialog ataw narasi.
yang aku rada heran kemudian, bab 13 terasa berjalan lebih wajar dibanding bab 12. dialog2nya terdengar jauh lebih enak. jangan-jangan, kamu bikin dua bab ini di selang waktu yang sangat berbeda ya? hahahah...
lanjut!
hmm... komentarku sotoy seperti biasa. heheheh...
# apa memang dimaksudkan untuk membuat suasasanya terasa lain? kau membolak-balik penggunaan aku-saya juga nona-tuan-saudara-kau. Biasanya perubahan saya ke aku atau nona ke kau yang digunakan dalam satu crita memungkin perubahan (i)relationship(/i)nya.
# hah. kau mengambil semua kekuasaan narator yah.
# apakah semuanya harus diceritakan? aku seperti melihat adegan bersama seorang yang bercerita di samping ikut menjelaskan.
Alfare. Seorang penulis cerita fantasi yang rapi dan sangat sistematis, tetapi membaca ceritanya tak membikin bosan, malah nambah penasaran dengan kesudahannya. So, cerita ini layak jual.
Sewaktu aku bilang akan menulis cerita ini dan menampilkannya sampai tamat di kcom, aku serius. Cuma kayaknya tenaga yang mesti kukeluarkan ternyata lebih banyak dari yang aku duga. Karena itu, mungkin untuk ke depannya, dengan tiap-tiap segmen yang semakin bertambah panjang aku akan mengirim lebih banyak kata pada setiap postingannya.
Omong-omong, cerita pada bagian ini kurasa mulai sulit untuk dipahami. Kayaknya aku masih punya masalah dalam menuturkan suatu masalah rumit secara runut. Karena itu, tolong komentarnya, ya?
Penjabaran lebih lanjut soal motif dan hubungan antar tiap karakter akan semakin kuperjelas dalam postingan-postingan ke depan. Trims banyak.
18/Jamak
Zhao Leng, Xiao Er, dan Lo Tek Tong akhirnya tiba di tempat tujuan mereka untuk malam itu. Sebuah pondok kecil di tengah hutan, tempat d ... lanjut baca
Makan Siang di Als GebraBag 1: Isu
Hari-hari paling menegangkan Hazik.
Tugas, laporan, gaya rambut, mobil, kuda, dan iguana. Semua bertumpuk di ... lanjut baca
8/Saksi
Langit hitam pekat. Entah malam sudah selarut apa. Hujan berhenti, meninggalkan genangan-genangan air besar di sepanjang jalan. Melompati g ... lanjut baca
[Alfare: Eat My Dust]
Aku memulai hidupku di pintu gerbang sebuah dunia. Kuyakin, setiap orangpun pada awalnya melakukan hal yang sama.
Natalit ... lanjut baca
7/Mereka
Kali ini, sama sekali tak ada yang berani bergerak. Tak ada yang berani bersuara. Masing-masing kembali bertanya-tanya tentang apa sesungg ... lanjut baca
5/Perlindungan
“Wen Chang Wei berperang menggunakan tombak. Tombaknya kemudian patah karena banyaknya musuh harus ia hadapi. Ia lalu memungut tom ... lanjut baca
ku bangun pagi ini
tak beranjak ku..
tak bergerak ku..
tak berisi lihat ku..
hanya memandang kosong...
menerawang lurus..
tanpa sesuatu yg pas ... lanjut baca
Apa artinya jika tak ada kata
Apa artinya jika tak ada tatap
Lalu apa arti kata persahabatan kita kemarin ?
Lalu apa arti kata setia sampai hayat ... lanjut baca
//Koloni Hantu//
0/Latar
Masa Kegelapan.
Kurun waktu penuh kekacauan yang berlangsung pada zaman dahulu kala. Semenjak runtuhnya Imperium Hw ... lanjut baca
4/Pengamatan
Deru tumpahan air hujan yang deras perlahan berubah menjadi nyanyian rintik-rintik pelan. Petir tak lagi menyambar. Udara di luar masi ... lanjut baca
Dan selesai sudah apa yang aku perjuangkan, cintaku telah pergi, cintaku telah usai, cintaku bukan lagi milikku. Dia pergi bersama dengan kekasih yang ... lanjut baca
Dimana dia yang mengerti hati,
Yang setia menemani kegelisahan serta tawa
Meski tak mampu terlihat jelas
Namun mata hati jelas memandang indah kau ... lanjut baca
Sebuah panah yang menusuk diri
Mengekang untuk berlari
Mencari sang belahan hati
Tapi apakah itu berarti?
Bagai saat laras senapan yang ditemba ... lanjut baca
5/Perlindungan
“Wen Chang Wei berperang menggunakan tombak. Tombaknya kemudian patah karena banyaknya musuh harus ia hadapi. Ia lalu memungut tom ... lanjut baca
7/Mereka
Kali ini, sama sekali tak ada yang berani bergerak. Tak ada yang berani bersuara. Masing-masing kembali bertanya-tanya tentang apa sesungg ... lanjut baca
Wuaah, sudah lama tak mendapatkan komentar yang kejam.
Ng, enggak kok. Segmen ke13 dan ke12 sebenernya kubikin sekaligus. Soal perubahan kata ganti, aku memang maksudnya ingin menunjukkan bahwa hubungan di antara mereka jadi agak berubah. Cuma kayaknya aku gagal menunjukkannya secara jelas.
Soal sudut pandang yang gonta-ganti itu beserta gaya narasinya, hmm, itu satu hal yang baru kusadar.
Mas Bam, Bung Villam, 145, dan el. trims banget.
alfare, setuju dengan elbintang, kayaknya ada ketidakkonsistenan penyebutan 'saya' dan 'aku' dalam dialog, dan dialognya sendiri juga kurang terdengar wajar di telingaku (seandainya diucapkan).
ada potongan yang sangat wajar dan enak dicerna seperti "tunggu sebentar. apa sih yang kau bicarakan?", tapi lebih banyak kalimat yang panjang-panjang, dan kaku. atau memang kekakuan antar mereka berdua ini yang sengaja ditampilkan? hmmm...
narasinya juga, walaupun ada beberapa paragraf deskriptif yang sangat bagus, tapi ada juga yang penjelasannya agak berlebihan di beberapa tempat. mungkin karena pemakaian kamera / sudut pandang bercerita yang kamu pilih, tidak di belakang kepala zhao leng, tapi agak jauh di samping dia dan xiao er, sehingga segala sesuatu terpaksa dijelaskan dengan cara narasi 'menurut zhao leng begini', 'menurut zhao leng begitu'. jangan-jangan inilah perbedaan gaya bahasa yang kutemukan di bagian sebelumnya, dibandingkan cerita-ceritamu yang dulu, yang lebih lugas karena sudut pandangnya juga lebih dekat. tidak ada yang salah dg pemilihan sudut pandang ini kok, cuma aku pikir memang masih belum halus. lagian sebenarnya aku juga suka model gaya bahasa 'netral' begitu. tipikal epik.
eniwei, soal ceritanya sendiri, dimulai dengan tajam kok. cukup bagus menurutku. dan konflik sepasang manusia itu kayaknya mulai terbangun dengan menarik, dengan latar belakang coba dimasukkan lewat dialog ataw narasi.
yang aku rada heran kemudian, bab 13 terasa berjalan lebih wajar dibanding bab 12. dialog2nya terdengar jauh lebih enak. jangan-jangan, kamu bikin dua bab ini di selang waktu yang sangat berbeda ya? hahahah...
lanjut!
hmm... komentarku sotoy seperti biasa. heheheh...
Okay... dari bagian sini sedikit banyak kurasa aku mulai bisa mengikuti jalan cerita ini (gah padahal udah ep.12 tapi baru paham sigh...)
ada beberapa hal yang menarik.
# apa memang dimaksudkan untuk membuat suasasanya terasa lain? kau membolak-balik penggunaan aku-saya juga nona-tuan-saudara-kau. Biasanya perubahan saya ke aku atau nona ke kau yang digunakan dalam satu crita memungkin perubahan (i)relationship(/i)nya.
# hah. kau mengambil semua kekuasaan narator yah.
# apakah semuanya harus diceritakan? aku seperti melihat adegan bersama seorang yang bercerita di samping ikut menjelaskan.
ha.ha.
seperti biasa, komentarku pom-pom girl kok
-----------------------------
pemandu sorak fantasi
cheers!
Alfare. Seorang penulis cerita fantasi yang rapi dan sangat sistematis, tetapi membaca ceritanya tak membikin bosan, malah nambah penasaran dengan kesudahannya. So, cerita ini layak jual.