Semacam lolongan melengking. Sebuah guncangan bergemuruh. Beserta kedua hal itu, sosok Hamarut merah yang mengerikan kembali ambruk ke permukaan tanah. Sebagian besar sayapnya hancur. Sekujur tubuhnya merintih liar. Bukaan cangkangnya yang keras mengeluarkan cairan serupa nanah.
Read more (1985 words)
Berusaha melihat adegan di balik kepak Sayap Prana yang menyilaukan, Janis menyaksikan sosok mirip Galabis itu dengan cepat tak menyia-nyiakan kesempatan. Dalam sekejap, dengan pedangnya yang memancarkan warna giok, ia sudah menyayatkan cangkang lawan berulangkali.
Srat, srat, srat!
Bagaikan semacam tarian hujan singkat, masing-masing gerak menimbulkan lolongan kemarahan yang memenuhi langit. Namun cangkang yang keras semakin retak. Tubuh yang kaku sudah tak dapat lagi bergerak. Langkah terakhir, sebuah sudut kematian; Janis menyadari saat ambruk tadi, Hamarut yang memiliki nyala merah tertahan dalam sebuah bukaan kecil di dinding lembah. Geraknya yang tertahan akhirnya sepenuhnya berhenti saat lolongan panjang mengiringi dihujamkannya pedang hijau ke dalam tubuhnya. Dalam, tegak menancap, mengakhiri segalanya sampai tubuh merah Hamarut hancur menjadi debu. Pedang raksasa itu, dengan sosok mengkilat yang berdiri di belakangnya, kedua tangan raksasa zirah itu bertumpu di gagangnya, bersama getar sayap yang mendengung pelan, perlahan tercabut saat sang raksasa menolehkan kepala ke arah Janis.
Tak diragukan lagi. Yang baru terjadi merupakan pertarungan hidup mati dalam arti sesungguhnya.
“Kau tak apa-apa?” Suara terengah seorang perempuan menggema, bersama angin menderu yang surut secara teratur. “Aku Lusia, ksatria dari Fannaria. Aku harus bertemu Tuan Almar, pemimpin Gran Federick VII segera. Tahukah kau di mana aku bisa menghubunginya?”
Terkesima. Tak ada kata yang lebih tepat untuk menjelaskan perasaan Janis.
“Tolonglah! Ada pesan mendesak yang harus aku sampaikan!”
Pada bagian dada Prajurit Prana yang tiba-tiba membuka, berdiri pada pintu kokpit, adalah salah seorang perempuan paling menawan yang pernah Janis lihat. Rambut bergelng kecoklatan, ikal, terbawa angin yang terus berhembus dari sepasang sayap yang tiada hentinya mengepak, kabut tersingkap memperlihatkan wajah muda yang belum pernah Janis lihat.
Hal pertama yang Janis sadari adalah betapa teguh sosoknya, selaras dengan nuansa Prajurit Prana yang digunakannya.
Galabis yang kerangkanya lebih menyerupai sosok perempuan, bagaikan gadis peri yang keluar untuk berperang: Dulshea, sang Ratu Angin.
Utusan dari Malistia I
Angin tinggi kembali bertiup. Gulungan awan mulai tersibak. Namun, cahaya bintang yang kembali terlihat dari balik tabir kelam seakan tertahan saat cahaya menyilaukan beraneka warna mendadak bersinar dari arah yang lain: Pasukan Prajurit Prana milik Gran Federick VII telah tiba di tempat kejadian.
“Janis! Janis Jacombe! Kaukah itu di sana?” Suara salah seorang anak buah Vim Islandar terdengar berseru dari dalam salah satu Meskias. “Apa kau baik-baik saja? Apa yang baru saja terjadi?”
“Hamarut!” Janis berusaha berteriak melawan deru angin. “Tadi ada Hamarut! Tuan Almar! Cepat hubungi Tuan Almar!”
“Baik! Aku menger…” Suara sang anak buah terputus saat tirai kabut dan debu tersingkap, memperlihatkan sosok Dulshea yang berdiri tegap di baliknya. “Ya ampun… mungkinkah itu? Astaga. Seseorang, cepat panggilkan Tuan Almar!”
Lalu salah satu dari lima Meskias kawannya melesat menuju kediaman Tuan Boris. Janis dalam sekejap menyadari bahwa kehadiran Prajurit Prana yang baru itu pasi menandai sesuatu yang luar biasa.
Selanjutnya, tak ada penjelasan, petunjuk, atau arahan yang perlu Janis berikan. Lolongan terakhir Hamarut di malam itu telah membangunkan nyaris seluruh penduduk Falekenfa. Meski malam masih larut, orang berbondong-bondong datang ke sekitar tebing berbatu untuk melihat sendiri apa yang telah terjadi.
“Hamarut!”
“Tadi ada Hamarut!”
“Hamarut datang sampai sedekat ini?”
“Ki… kita tadi bisa mati!”
“Brengsek! Apa sih yang dikerjakan orang-orang Pihak Cahaya itu!”
Dengan segera, awak kapal Gran Federick VII beserta orang-orang pemerintahan kota yang datang tak lama kemudian sibuk menangani kericuhan massa. Sampai pagi menjelang, nada-nada marah dan takut masih bercampur. Orang-orang, sebagian besar masih mengenakan pakaian tidur, semakin mengerumuni wilayah terjadinya kerusakan. Sebagian ingin tahu. Sebagian sekedar tak ingin tertinggal dari yang lain. Sebagian sisanya hanya berteriak-teriak dan memperkeruh suasana.
Apa keinginan mereka sebenarnya? Janis tak tahu.
Begitu pertarungan berakhir, ksatria Vim yang cemas, masih mengenakan pakaian formal yang ia pakai saat ke jamuan Tuan Boris, menyeruak ke dalam kerumunan dan dengan sigap menarik Janis pergi. Ia hampir menjadi sasaran rasa penasaran massa. Mereka mengetahui Janis adalah satu-satunya saksi yang menyaksikan kejadian tersebut secara menyeluruh.
Karenanya, Vim membawa Janis melintasi kota, kembali ke sekitar wilayah bandar udara. Mereka berdua mengerti. Sedikit saja praduga tentang alasan mengapa Janis bisa berada di sana dapat menimbulkan bahaya. Rahasia tentang kemampuannya yang langka tak boleh tersebar. Di sana, menunggu dengan cemas di tepi landasan pacu adalah Fara Fadilla dan keluarga Kait Karakol. Mengelilingi Fara adalah Pak Kait sendiri bersama istrinya, Alisee, beserta kedua anak mereka, Aivan dan Ekina.
Alisee, seorang wanita pendiam berambut merah. Posturnya mungil, tapi ia senantiasa terlihat sigap dan penuh tenaga. Sorot matanya entah bagaimana selalu menyiratkan rasa pengertian. Sedangkan dua anak Pak Kait, Aivan dan Ekina, tak kalah pendiam dibandingkan ibu mereka. Keduanya berusia di bawah delapan tahun, Janis biasa melihat mereka hanya memandang dengan ekspresi penuh tanda tanya kepada kejadian-kejadian yang belum sepenuhnya mereka pahami. Seperti halnya sekarang ini.
“Kota ini tak enak.” Janis mendengar Aivan, si kakak laki-laki, bergumam.
“Iyaa. Kapan kita pergi lagi?” rengek Ekina, si adik perempuan, menanggapi ucapan kakaknya.
“Hus.” Alisee mendiamkan mereka berdua, tersenyum lega saat Janis tiba, dan membawa kedua anaknya masuk kembali ke Analye. Rupanya, mereka sekeluarga juga telah dibangunkan oleh suara lolongan Hamarut itu.
“Tunggu di sini.” perintah Vim singkat pada Janis, sebelum ia berlari kembali menuju arah pusat kota.
Saat itu, cakrawala di balik pegunungan masih gelap, meski seakan bertambah terang saat kabut perlahan memudar. Udara masih dingin. Awan terlihat seakan pecah. Angin basah mulai bertiup di sekitar landasan pacu yang lapang. Bintang-bintang terang bertaburan di antara awan angkasa yang warna-warni.
“Janis! Apa yang terjadi?” tuntut Fara, melangkah dengan cepat ke arah Janis, kedua alis di atas matanya menyilang begitu Vim pergi. “Tiba-tiba saja kamu hilang. Lalu semua orang ribut-ribut bilang ada Hamarut. Terus…”
“Memang ada Hamarut.” gumam Janis pendek. “Cuma…” Ia masih terganggu dengan apa yang baru dilihatnya. “Hamarut itu jenis Hamarut yang belum pernah kita lihat sebelumnya.”
Pak Kait mengernyitkan dahi. Matanya juga membelalak.
“Kau yakin? Sudah lama tak ada yang seperti ini. Hamarut dari mana? Bukankah semalam tak ada reaksi pada alat pelacak?”
“Itulah.” tanggap Janis cepat. “Kurasa cuma aku yang kemarin merasakannya . Tapi Hamarut ini jenis baru. Cangkangnya warnanya merah.”
“Merah?” ulang Fara, terpana, tak mengerti. “Maksudmu?”
“Sudahlah. Aku juga tak yakin.” gumam Janis, ingin menyudahi pertanyaan. Mereka sama-sama menyadari implikasi kejadian ini berarti apa. “Pokoknya merah, seperti pijar kayu bara. Hamarut itu mengejar Prajurit Prana yang katanya utusan Fannaria.”
Janis kembali teringat akan sosok Lusia, dan selama sesaat ia merasa wajahnya panas.
“Apa Tuan Almar sudah tahu tentang kejadian ini?” Janis bertanya, ingin mengalihkan pikirannya, teringat misi Lusia, ingin memastikan.
“Pasti.” jawab Fara. “Pasukan Kak Vim tadi langsung menyebar dari sini. Betul-betul situasi yang tak disangka.”
Memang benar.
Sebuah Hamarut jenis baru. Yang bercangkang merah. Mungkinkah Hamarut seperti itu luput dari pembacaan alat pelacak?
“Jadi begitu.” gumam Pak Kait dengan penuh pengertian. “Mereka bertarung, dan kau, yang penasaran dengan apa yang terjadi, kebetulan menyaksikan semuanya. Begitu?”
“Semacam itu.” Janis mengangguk, senang ada seseorang yang begitu cepat mengerti. “Prajurit Prana yang baru itu bentuknya mirip Galabis. Jenis yang belum pernah aku lihat sebelumnya.”
“Jenis baru? Mirip Galabis?” Mata Pak Kait seketika berbinar. “Begitukah? Rupanya rencana orang-orang di Kawadevu itu sudah mencapai tahap berikutnya, ya?”
Pak Kait menggumamkan sesuatu yang tak Janis tangkap.
“Lalu Prajurit Prana itu?” tanya Fara.
“Kak Vim dan yang lainnya sepertinya sedang mengurusinya.” Janis menjelaskan. “Aku lega karena Hamarut itu tak sampai ke kota.”
“Memang begitu semestinya.” lanjut Pak Kait. “Baguslah. Cukup untuk laporannya. Sebaiknya kita cepat masuk ke dalam sebelum kita beku kedinginan.”
“Ke… ke Analye?” tanya Janis.
“Untuk keamanan kalian.” lanjut Pak Kait. Suatu hal yang Janis dan Fara sama-sama mengerti.
Analye merupakan kapal udara yang teramat kecil dibandingkan Gran Federick VII yang memang dirancang sebagai kapal perang. Bentuknya mirip burung merpati dengan bagian ekor yang melebar. Kedua Sayap Prana akan terbentang dari kedua sisinya yang melekuk. Warna badannya biru gelap, dengan sejumlah garis putih di bagian atasnya. Tentu saja tidak ada hangar di dalamnya. Analye dibuat untuk mengangkut hanya sejumlah orang saja. Saat ini, karena hanya mengangkut Pak Kait beserta keluarganya, sebagian besar bagian dalamnya lebih memiliki suasana sebuah rumah daripada suasana sebuah kapal. Ruang kargo besar terletak di bagian belakangnya. Cukup luas hanya untuk satu atau dua Prajurit Prana. Sisa ruangannya hanyalah anjungan dan kamar-kamar tidur, serta satu kamar tidak terpakai yang diubah menjadi semacam taman oleh Ruru dan kawan-kawannya.
“Peri-peri itu masih tidur.” Pak Kait menjelaskan saat Janis dan Fara masuk ke dalam, seraya mengamati interior kapal yang kelabu dan sederhana. “Bagaimana mereka menyebutnya? Pesta pergantian musim, ya? Kurasa mereka kelelahan.”
Janis dan Fara tertawa.
Selama beberapa lama, mereka berdiam di sana, di salah satu kamar yang tak terpakai. Menanti sampai hari kembali menjadi pagi. Janis di sebuah kursi. Fara di tepi tempat tidur gantung. Pak Kait di tepi jendela, mengepulkan asap rokok. Menunggu apa selanjutnya yang akan terjadi.
Sementara itu, Aivan dan Ekina, beserta mungkin Alisee juga, sudah kembali tidur.
“Tentang Prajurit Prana yang baru itu.” ungkap Janis tiba-tiba, dan Pak Kait beserta Fara spontan menoleh ke arahnya. Janis rupanya merasakan kegelisahan yang tak bisa dengan mudah disingkirkan. “Apa Pak Kait tahu sesuatu tentangnya?”
“Tidak. Sama sekali tidak.” jawab Pak Kait secara lugas. “Hanya sebuah kemungkinan yang tiba-tiba terpikir olehku. Semua rancangan Prajurit Prana yang sudah ada sampai saat ini nampaknya masih terus dikembangkan, sekalipun sumber daya alam yang Pihak Cahaya punya sudah semakin terbatas.”
“Sumber daya alam, ya?” tanggap Janis, termenung dan mulai berpikir.
“Yah, kau juga pasti tahu kalau wilayah yang bisa didiami oleh kita sekarang semakin sedikit. Serangan Hamarut pada musim-musim terakhir ini semakin ganas. Orang-orang harus terus berpindah ke tempat-tempat dengan pertahanan yang lebih kuat. Kurasa itu yang membuat orang zaman sekarang jadi gampang marah.” lanjut Pak Kait.
Janis teringat akan penduduk yang bergerombol marah di tempat Hamarut tadi berhasil dikalahkan.
“Soal Prajurit Prana yang kulihat itu, bentuk dasarnya memang mirip Galabis. Tapi bentuk luarnya lebih mirip bentuk perempuan.” Janis berkata lagi.
“Hoo, begitukah?” sahut Pak Kait dengan penuh minat. “Menggunakan senjata pedang juga?”
“Iya. Ksatria di dalamnya juga kulihat seorang perempuan.” lanjut Janis.
“Yang betul saja!” Fara berseru tak percaya. Ia tampak kagum sekaligus terkesima. “Memangnya, perempuan juga bisa menjadi ksatria untuk Prajurit Prana ya?”
“Bisa.” jawab Pak Kait. “Meski setahuku jarang sih. Perempuan-perempuan yang mau memakai Prajurit Prana pasti perempuan-perempuan yang luar biasa.”
Janis tak tahu apa yang Fara pikirkan, tapi ia tampak senang dan bersemangat begitu mendengar hal itu.
“Tapi tetap saja! Apa yang tadi kau pikirkan? Kenapa tadi kau pergi sendirian ke luar seperti itu?” Fara kembali angkat bicara, mengungkapkan suatu hal yang sepertinya sudah ingin ia ungkapkan semenjak tadi..
“Maaf, aku, kukira... perkiraanku bakal keliru.” Janis mengaku salah.
“Meski yang lain tadi belum kembali, semestinya kau bisa bangunkan aku, ‘kan?”
“Lalu masuk ke dalam kamarmu saat kamu sedang tidur begitu saja?” tanya Janis.
“Yah, kau bisa mengetuk pintu dulu, ‘kan?” jawab Fara.
“Eh, tapi...” Mendadak terpikir oleh Janis suatu hal yang tak disadarinya sebelumnya. “Yang lain, tadi, sewaktu Hamarut datang, belum datang ke wisma?”
Awak-awak Gran Federick VII yang lain. Baik yang menerima Janis dan Fara atau yang mengharapkan mereka pergi.
“Iya.” jawab Fara, sedikit prihatin. “Bagi mereka, kejadian ini jadi seperti kerja lembur tambahan.”
“Tenang saja.” Pak Kait menengahi. “Ini memang sudah menjadi tugas mereka. Kalian tak perlu merasa terbebani. Toh, kalian saat ini masih dianggap awak kapal yang belum resmi.”
“Oh. Begitu ya?”
Janis entah mengapa merasa ada sesuatu yang tiba-tiba menganga di dalam dadanya saat Pak Kait tiba-tiba mengutarakan hal itu.
Asap rokok Pak Kait masih mengepul. Namun ujungnya semakin bertambah pendek. Di ruang tidur itu, mereka masih kembali menunggu dalam diam.
Saat Pak Kait baru saja hendak mengatakan, “Kalian, kalau memang masih mengantuk, tidur saja lagi di sini.” mendengar terdengar sebuah ketukan di pintu.
Pintu membuka. Rupanya Alisee.
“Sayang, Janis, Fara. Ada salah satu orangnya Vim bilang bahwa kalian mesti menghadap. Secepatnya. Di kapal utama.” ucap wanita itu singkat.
Bersamaan, ketiga orang yang ada di ruangan itu saling berpandangan.
rasanya memang ada yang berbeda dengan cerita senior yang biasanya berkutat dengan deskripsi. Cerita ini antah bagaimana tiba-tiba banting setir dan menitik beratkan pada dialog.
Jadi mirip dengan ceritaku...
he...he...he...he...
Hmmm.. Kelihatannya didominasi oleh dialog, jadi serasa mengantuk. Mungkin karena alur ceritanya sedang relaksasi barangkali yah?...
Hmmm okay aku bingung, "sosok mirip galabis" dan "Galabis yang kerangkanya lebih menyerupai sosok perempuan..." ...ini deskripsi untuk entitas yang sama?
Yah lepas dari itu... rasanya bagian ini lebih terfokus pada dialog ya?