Seperti hidup yang memutar nasibku pada rodanya
Demikianlah aku menari cinta di panggung sajak
Tak selalu puitis, sesekali tersaji rujak kata-kata
Dengan sambal yang nyaris hambar, tak menggertak
Biar penyair menggonggong, puisiku tetap berlalu
Sebab puisiku adalah aku, kemauanku, perasaanku
Sedangkan label yang banyak didengungkan hanyalah persepsi
Selera perut yang tak bisa semua kuwakili
Puisiku hanya sebuah cemas akan ketidakpedulian
Pada kesenjangan yang mengasingkan
Jiwa-jiwa dalam keramaian
Dengan makna seadanya, semampunya.
(20 Desember 2007)
Rating
49
points
Views: 18 reads
Comments: 6
Rating:
Comments: 6
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
bagus (normatif banget komenku.heheh)
I've been here before. Haha.
Masih eksis ternyata.
nee dia penulis yang tetap "AKU"...
menulis buka karena harus menulis tp karena ingin menulis...dengan kejujuran walau kadang tak ada tutur lembut atau rayuan manis...
MUANTEPPPPPP BGT...
meski rada lugas masih terselip emosi dari puisi ini
keras dan menghentak puisinya
gonggongan
yang bisa
lahirkan
puisi
seeep jez !