menikmati versi ini, tak mengurangi kenikmatan dari membaca versi 2dimensi cerpennya. justru, gue ngerasa, ini sebagai pelengkap yang bikin tambah nikmat.
tetep, gue musti baca berulang baru ngerti... (duh, maafkan keoonanku ini^^) tapi, cape gue untungnya terbayar dengan kepuasannnnnn--klimaks--lho????
endingnya ditelan (lebih detil) di sini yak. seru seru.
Ya, ga sanggup banget. Di awal-awal dibuka dengan adegan horor. Hehe.
Aku unduh versi PDF-nya aja. Baca lain kali. So, unduh juga skenario PDF-ku, ya? Tapi, kamu suka genre apa? Skenarioku itu bergenre sci-fi.
Akan kupertimbangkan merilis skenarioku itu di bawah GNU FDL.
Aku melihat source HTML skenariomu. Kayaknya, kamu mesti pertimbangkan caraku untuk Xro Prince. Main aja ke posting-nya yang kedua. Di situ, ada taut untuk unduh skenario dan caraku memposting Xro Prince.
@dadun: Seorang 'aku' memang tak kan pernah bisa sefleksibel 'kamera'. Namun sesosok 'kamera' tak kan pernah bisa menggambarkan isi hati sang 'aku'. Merdeka!
2008/08/01
@pikanisa: What-ifs-nya sbb.: Barang ini hanya berdurasi ¼ jam, kependekan buat bioskop bahkan tivi, sehingga; 1) gak mungkin dilirik produser 'beneran'. Diekspansi jadi 20-50an menit sepertinya belum membuat iklan sanggup ngejar biaya produksi. Tapi seandainya diekspansi sampai 100an menit maka; 3) Jakarta Underground adalah model yang bagus untuk tipe penontonnya. 2) Soal siapa sutradaranya, whah!, ini keputusan dari banyak kepala. Bikin skrip hanya sebagian kecil dari rentetan kerja yang panjang. Eniwei, adalah tidak adil untuk menyamakan The Bold and the Beautiful dengan Criminal Minds. Genre dan penontonnya beda bangetz.
@dirgita: Soal FDL, gue serius. Selain gak bentrok dengan ToS kemudian.com, gue hanya amatiran yang melaknat plagiarisme. Genre gue crime dengan selingan techno-thriller, post-cyberpunk sama dikit-dikit humor, untuk semua bentuk prosa yang gue bisa. Soal tampilan, format monospace ini disamakan dengan mirrornya di wordpress yang restriktif dengan caranya sendiri, sehingga gue gak harus nge-markup dua kali.
2008/07/26
@azelia: Fokusnya bukan di figur penggantung-dirinya, Zel, tapi anaknya, Jejaka #1 yang melihat langsung si bapak meregang nyawa sampai kemudian hari ... silakan liat lagi. Demikian pula tentang linggis yang lu tuker sama kunci Inggris. Yang dicari petugas awalnya bukan pelaku tapi saksi mata sebelum Tentara #1 memutar arah penyelidikan hingga ... bla-bla-bla.
@dian_k: _Spec_ ini dalam _3rd-person POV_, walau _limited_ karena gak ada narator ato solilokui. Sedangkan cerpennya tentu saja, teteeep, _1st person_. Kendati keduanya dibangun dalam semesta (plot, karakterisasi, set) yang kurang lebih sama, efeknya jelas jadi beda: _spec_-nya gak selucu cerpennya.
@pikanisa: Gue juga harus capek-capek belajar gaya bebas dulu sebelum mengarungi Selat Kamal--tanpa mengurangi rasa hormat ke yang lebih suka naik feri ato nunggu Suramadu jadi.
@Bamby Cahyadi: Yang ginian emang harus di_-break-down_ dulu, apalagi kalo gak ada keterlibatan _storyboard artist_ sama sekali.
andrea,
seems like you'll never stop surprising me! never think you'll gonna make something like this!
di sini lebih jelas adegan2nya dibanding cerpennya, for sure.
well, 'nuff said. great work.
sayangnya aq g terlalu ngeh gimana patokan2 menulis script
*eh btw... ilmu ku kan selalu ketinggalan jauh dibanding dirimu yak's hehehehehe
---------------------------------------
So ... mari kita beranalogi "What if" for the next Ndie?
-What if... klo script mu ada yg ngelirik, kira2 produser mana yg bakalan meleng ngelirik?
-What if... klo script mu dah punya produser yg kuat, kira2 sutradara mana yang kuat akomodir idealisme mu?
-What if... klo dah punya semua elemen dalam penggarapan, kira2 penonton mana yang cocok buat pasar kamu?
(back to market oriented, yang terlanjur suka ma sinetron menye2, haha-hihi seputar dada-paha, atau segala yang berdarah2)
“Adalah komitmen saya pribadi, bersama Scripta tentunya, untuk kembali ke duduk perkara yang sebenarnya. Kami hanya ingin menekankan bahwa, seba ... lanjut baca
«SIDE B Aku diseret ke bawah, menuruni tangga yang semakin gelap. Teman-teman Jaket Jingga sudah lebih dulu menghilang.
Setelah turun satu lan ... lanjut baca
«SIDE A Sebut aku kleptomania. Nyatanya, aku hanya pembosan. Kalian tuduh aku tukang pamer, menunjuk-nunjukkan curian ke orang yang tidak punya i ... lanjut baca
Aku bilang, buku itu hanyalah buang waktu.
Aku berani katakan itu, tak peduli apa yang kalian pikirkan. Tentu aku tidak akan bilang kalau John ... lanjut baca
Selamat malam.
Ada satu kata yang menggambarkan saya: was-was. Bahasa sekarangnya: obsesif-kompulsif, o-bé-ès-é-ès-i-èf. Saya tidak akan l ... lanjut baca
Penulis terang menolak segala bentuk penyensoran-diri. Walau demikian, kelanjutan cerita ini berpotensi menyalahi peraturan kemudian.com perihal Perat ... lanjut baca
Kan…cud! Bikin kaget saja. Untung tidak ada mobil yang menyeruduk.
Tanpa menengok spion, aku tepikan motor. Kutarik telpon di pinggang. Masih ... lanjut baca
cerita sebelumnya (opsional) | versi berterjemahan
“Sepertinya, harus dipercepat, Teh. Ada … sebut saja, hal-hal yang sebelumnya tidak masu ... lanjut baca
“Ceritakanlah!” Sondang memaksa.
Andai Sondang bukan kawan karib yang lama tak bertemu muka, aku enggan. Dia pesan kwetiaw porsi kedua sewa ... lanjut baca
Kan…cud! Bikin kaget saja. Untung tidak ada mobil yang menyeruduk.
Tanpa menengok spion, aku tepikan motor. Kutarik telpon di pinggang. Masih ... lanjut baca
Teman-teman, mungkin dah pada tau. Pengen sharing ajah.
Saya tadi dapet info dari blo9on kalo website kita tercinta ini disebut-sebut di wikipedia ... lanjut baca
Rekan2 ingin tahu ranking para member Kemudian.com ?
Silakan lihat di http://kemudian.com/ranking
Ranking berdasarkan total poin dari komentar y ... lanjut baca
email berikut dikirimkan ke milis2 sebagai ucapan terima kasih kepada teman2 yang sudah membantu menyebarkan informasi kemudian.com
Terimakasih, 44 ... lanjut baca
Dear all kemudianers
Kali ini kemudian.com menghadirkan sebuah fitur baru yaitu layanan blog hosting.
Blog di kemudian.com ini ditujukan bagi pe ... lanjut baca
Barusan lihat salah satu member yang baru gabung di kemudian.com. Kaget pas lihat user profilenya, baru kelas 6 SD!!
lihat deh
http://kemudian.com ... lanjut baca
Dalam rangka peningkatan fasilitas kemudian.com, salah satu yg ingin diketahui adalah kecepatan akses situs kemudian.com.
Silahkan gunakan link ber ... lanjut baca
Salam sastra,
Salah satu sahabat saya, Dino F. Umahuk, memberi tahu saya bahwa ia telah menulis pengantar resensi di Kemudian.com dengan kajiannya ... lanjut baca
menikmati versi ini, tak mengurangi kenikmatan dari membaca versi 2dimensi cerpennya. justru, gue ngerasa, ini sebagai pelengkap yang bikin tambah nikmat.
tetep, gue musti baca berulang baru ngerti... (duh, maafkan keoonanku ini^^) tapi, cape gue untungnya terbayar dengan kepuasannnnnn--klimaks--lho????
endingnya ditelan (lebih detil) di sini yak. seru seru.
Ya, ga sanggup banget. Di awal-awal dibuka dengan adegan horor. Hehe.
Aku unduh versi PDF-nya aja. Baca lain kali. So, unduh juga skenario PDF-ku, ya? Tapi, kamu suka genre apa? Skenarioku itu bergenre sci-fi.
Akan kupertimbangkan merilis skenarioku itu di bawah GNU FDL.
Aku melihat source HTML skenariomu. Kayaknya, kamu mesti pertimbangkan caraku untuk Xro Prince. Main aja ke posting-nya yang kedua. Di situ, ada taut untuk unduh skenario dan caraku memposting Xro Prince.
2008/08/17
@dadun: Seorang 'aku' memang tak kan pernah bisa sefleksibel 'kamera'. Namun sesosok 'kamera' tak kan pernah bisa menggambarkan isi hati sang 'aku'. Merdeka!
2008/08/01
@pikanisa: What-ifs-nya sbb.: Barang ini hanya berdurasi ¼ jam, kependekan buat bioskop bahkan tivi, sehingga; 1) gak mungkin dilirik produser 'beneran'. Diekspansi jadi 20-50an menit sepertinya belum membuat iklan sanggup ngejar biaya produksi. Tapi seandainya diekspansi sampai 100an menit maka; 3) Jakarta Underground adalah model yang bagus untuk tipe penontonnya. 2) Soal siapa sutradaranya, whah!, ini keputusan dari banyak kepala. Bikin skrip hanya sebagian kecil dari rentetan kerja yang panjang. Eniwei, adalah tidak adil untuk menyamakan The Bold and the Beautiful dengan Criminal Minds. Genre dan penontonnya beda bangetz.
@dirgita: Soal FDL, gue serius. Selain gak bentrok dengan ToS kemudian.com, gue hanya amatiran yang melaknat plagiarisme.
Genre gue crime dengan selingan techno-thriller, post-cyberpunk sama dikit-dikit humor, untuk semua bentuk prosa yang gue bisa. Soal tampilan, format monospace ini disamakan dengan mirrornya di wordpress yang restriktif dengan caranya sendiri, sehingga gue gak harus nge-markup dua kali.
2008/07/26
@azelia: Fokusnya bukan di figur penggantung-dirinya, Zel, tapi anaknya, Jejaka #1 yang melihat langsung si bapak meregang nyawa sampai kemudian hari ... silakan liat lagi. Demikian pula tentang linggis yang lu tuker sama kunci Inggris. Yang dicari petugas awalnya bukan pelaku tapi saksi mata sebelum Tentara #1 memutar arah penyelidikan hingga ... bla-bla-bla.
@dian_k: _Spec_ ini dalam _3rd-person POV_, walau _limited_ karena gak ada narator ato solilokui. Sedangkan cerpennya tentu saja, teteeep, _1st person_. Kendati keduanya dibangun dalam semesta (plot, karakterisasi, set) yang kurang lebih sama, efeknya jelas jadi beda: _spec_-nya gak selucu cerpennya.
@pikanisa: Gue juga harus capek-capek belajar gaya bebas dulu sebelum mengarungi Selat Kamal--tanpa mengurangi rasa hormat ke yang lebih suka naik feri ato nunggu Suramadu jadi.
@Bamby Cahyadi: Yang ginian emang harus di_-break-down_ dulu, apalagi kalo gak ada keterlibatan _storyboard artist_ sama sekali.
baca sambil manggut-manggut *pura2 ngerti*
Btw, si org gantung diri itu disini jadi sia-sia yah gak disenggol sama sekali sampe ahir cerita, padal agak detil tuh adegan bunuh dirinya.
Trus, org2 kok bisa lgs tau yah klo yg nglempar linggis itu org dlm kreta?
andrea,
seems like you'll never stop surprising me! never think you'll gonna make something like this!
di sini lebih jelas adegan2nya dibanding cerpennya, for sure.
well, 'nuff said. great work.
baru tau caranya buat scenario juga... gini ya... hm..hm...
mulai merambah sCenario writing
JUGA NDIE...
wehhh ternyata...
sayangnya aq g terlalu ngeh gimana patokan2 menulis script
*eh btw... ilmu ku kan selalu ketinggalan jauh dibanding dirimu yak's hehehehehe
---------------------------------------
So ... mari kita beranalogi "What if" for the next Ndie?
-What if... klo script mu ada yg ngelirik, kira2 produser mana yg bakalan meleng ngelirik?
-What if... klo script mu dah punya produser yg kuat, kira2 sutradara mana yang kuat akomodir idealisme mu?
-What if... klo dah punya semua elemen dalam penggarapan, kira2 penonton mana yang cocok buat pasar kamu?
(back to market oriented, yang terlanjur suka ma sinetron menye2, haha-hihi seputar dada-paha, atau segala yang berdarah2)
Membacanya saya jadi sedikit mengerti tentang skrip film dan teknik untuk membuatnya (tapi belum ternayangkan).
Tulisan ini sangat informatif, ceritanya juga bikin penasaran karena tidak tampil itu, tetapi harus di visualisasikan.