Tadi malam, saya mengintip lewat jendela. Mendapati bulan yang tinggal separuh sedang terjaga. Melihatnya menatap langit yg telah dimilikinya dengan senyuman bahagia.
Di balik jendela, saya meringis. Hati saya miris dan saya ingin menangis. Tapi lalu, saya memilih mengingkari hati (lagi). Ikut tersenyum meski kelu tak mau pergi.
Jendela lalu menutup tirainya. Bertanya tentang bagaimana hati saya.
"Sakit. Pahit." saya menjawab terbata. Dia hanya tersenyum menanggapinya.
"Aku pun dulu begitu."
Lalu dia bercerita, tentang luka yang tak terhapus waktu. Saya terdiam dan ikut pilu.
"Tak perlu begitu", dia berkata.
"Karena tak semua hal yang kita inginkan akan menjadi kenyataan." tutupnya.
Rating
Comments: 32
Rating:

Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati

Bagus.
"Aku pun dulu begitu."
Dulu itu kenapa ya?
dulu itu, sang jendela pernah juga mengingkari hati.. melepaskan seseorang pergi, meski jd patahati
(awalnya bingung, apa hubungannya sama dikung? tapi setelah baca komen di atas, baru nyambung d!)
kalo aq,,kebanyakan ga bisa melihat sesuatu jadi indah saat hati lagi sakit...
syukurnya,,kamu bisa!!
bisa melihat bulan tersenyum bahagia, padahal hatimu sedang miris!!
atau aq yang salah paham??
muhun dituntun!!
salam kenal
gak,gak salah..
bener, saia berusaha tersenyum,
soalnya dengan begitu saia masih bisa memiliki bulan (meski cuma separuh)
aku jg baca 'dibalik jendela-dika'
iya, ga semuanya bahkan banyak yg ga spt kita inginkan,,
^______^
Hmm, penyusunan paragrafnya bisa dipoles lagi biar lebih nendang, tapi secara keseluruhan udah cukup bagus. Dan emang, kalimat terakhirnya kuat banget untuk menyampaikan pesan yang menjadi inti cerita ini. Skor 8 ya bos!!
ahaha, patahati nya kemaren niro..
.
udah lewat masa..
si bulannya udah kembali ternyata.
biar cuma separuh, hehehe
Hueee. . .
Bagus! Baru patah hati ya kak?
n_n
hmm,, simpel dan bermakna.
jendela yang baik, bulan yang jauh, langit yang beruntung, dan 'saya' yang akan semakin dewasa.
good, tiara.