“Coba lihat,” teriakanmu seketika mem5isa7hka&nV kepalaku dari lamunan yang tengIah) aku ciptakan bersama jendela dan( atap bangunan menjulang yang nyaHris9 sejajar dengan tinggi kita, “1b(uJlUaFnJnNyDa(&Z sangat indah.”
Kuikuti arah telunjukmu, menatap seUsuUat(u7 yang kau sebut indah itUu.H Jujur, aku lebih suka bul3an~ sabit; jauh lebih cantik.
“Kau bayangkan, seandainya malam benYar-6ben2arG menelan alam dengan hitam— ..6.”X# oh, aku tahu sesuatu yang0 lebih pasti. Ialah suaramu yangD hilang ditelan bebunyian kendaraan yanQgN berlalu-lalang di belakang kita. Baga7iman(apunH,^ kita tidak sedang berada diT kafe temaram atau longue yang sangat nyaman. KauX tahu, aku sempat frustrasi sa)atQ pertama kali kau mengajakku keB tempat ini. Dalam mimpi sekaElipuBn,E aku tak pernah berani meTmiCkiHrkDan( diriku duduk pada pembatas si~si% jalan layang sambil berbincang d@e|n$gSaFnK seseorang atau hanya sekadar menZikmJati+ malam. Terlalu berbahaya untukku.
“Kebisingan dan sedikit ketegangan diI sini akan memberimu kedamaian dalDam| bentuk lain,” meski kutahu kau$ hanya berusaha mengatasi ketakutanku wakt4u~ itu, “percayalah,” ya, aku p!e8rNcUaTyNaP,W bersamamu segalanya akan baik-baik saDjaM.Q
Rasa percaya diriku kian beQrtWam#ba1hJ ketika kulihat sepasang sejoli dXu$dYu#kX mesra di atas sepeda mot)or& yang ditepikan beberapa meter da(riU keberadaan kita, bahkan juga bebeXrapaH meter dari keberadaan mereka. Ti9baC-tJibAaC aku teringat perkataan temanku ten^tan6g7 jalan layang yang menghubungkan PasZteuRr$ – Surapati ini. “Di sini) tempat orang pacaran, kan?” peErtNanPya9an^kuZ terdengar sangat norak di teli8ngakCuH sendiri.
Nilai 8- untukmu,
knapa "min"? Karena kau tak membuatku terkejut seperti biasanya. Dari awal baca aku udah menduga ada sesuatu dari tokohnya. Aku ingat bahwa kau suka bermain2 disini. Tapi aku suka suara batin tokohmu,Dun
Sampai beberapa paragraf, saya masih mengira bahwa si tokoh aku adalah laki-laki (saya lupa bahwa dadun suka melakukan trans-gender saat menulis cerita. hehe), saya mengira demikian karena merasa bahwa tokoh 'dia' amat feminim dan pasti perempuan. Tapi saat dia bilang 'tuang puteri', "lho, jadi si aku ini perempuan?", lalu saya pun menginterpretasikan bahwa tokoh 'dia' adalah laki-laki... laki-laki yang sensitif dan romantis. Tapi di bagian akhir saya sadar bahwa mereka berdua memang benar-benar perempuan (kalau bisa dibilang 'benar-benar'), itu saya lupa kalau dadun jg suka dengan tema semacam ini. Walhasil, sepanjang cerpen saya habiskan untuk menebak-nebak gender para tokohnya..., dan mungkin memang itu yang kamu inginkan?
Salam jumpa, kawans^^ beginilah hasilnya tulisan pelarian dari TA yang naudzubillah menyusahkannya.... semoga masih layak baca. muhun saran dan kritiknya ya. hatur nuhun...
...Emosi saya naik. Mendadak, saya lebih mengidolakan Pawang Hujan ketimbang Einstein. Dan memuja ilmuwan yang berhasil menciptakan molekul air tanpa ... lanjut baca
{1}
Ketika saya sedang menatapimu dan tiba-tiba kamu balas menatap saya, sebuah ledakan terjadi di dalam dada dan mestinya kamu tahu gejala itu ada ... lanjut baca
“Tehnya, Mbak,” perempuan sekitar empat puluh tahunan itu masih melakukan hal yang sama setiap pagi, antara pukul setengah sembilan hingga sembila ... lanjut baca
bagian sebelumnya
Oedipus Kompleks?
“Apakah itu?” tanyaku mengambang di udara bersama sketsa Riana.
Temanku menjelaskan istilah itu seb ... lanjut baca
Aku melihatnya di sana. Selintas, tetapi keyakinanku berani membunuh waktu dan dosis minimalis kejelasan dalam hiruk pikuk keramaian. Itu dia!
“Y ... lanjut baca
Ponselku berdering saat kami tengah bercumbu malam itu. Ah, sialan! Terkutuklah si pengganggu kesenangan orang! Aku nyaris membanting ponsel sampai ku ... lanjut baca
Ponselku berdering saat kami tengah bercumbu malam itu. Ah, sialan! Terkutuklah si pengganggu kesenangan orang! Aku nyaris membanting ponsel sam ... lanjut baca
Bukan tidak sengaja sepasang mata saya menemukanmu ketika suara merdu itu diperdengarkan. Bosan ini memaksa saya melakukan ekspedisi visual ke seisi ... lanjut baca
“Saya sedang tidak merindukan siapa-siapa,” kecuali diri saya—dan rasa rindu keparat itu sendiri.
Saya pernah merindukan dia. Berhari hingga ... lanjut baca
“Wah, kau tampan sekali,” matanya seterang cahaya malam purnama saat mengatakannya. Dan terlengkung tulus melukis indah lesung pipinya. Sekali lag ... lanjut baca
Matahari terbenam di horizontal itu
Membuat semua mata tertuju padanya
Namun pandanganku hanya tertuju padamu
Kau, yang berdiri di sampingku
Di ... lanjut baca
Rinai gerimis berlompatan
membasuh alam lewat sentuhan
disambut oleh polah ikan-ikan
menimbulkan suara gemericik di kolam
mencipta harmoni musik h ... lanjut baca
Oh, sekarang mentari itu bernyanyi
Membunuh lapar dari segala samar
Aku dan kau adalah duka
Mengapa kau lupa dengan syair-syair daun dan kayu-kayu ... lanjut baca
Kau dan aku...
telah disiapkan Illahi untuk bersama
untuk saling mengisi kekurangan
memadukan semua perbedaan
disini, di pelataran keikhlasan hati ... lanjut baca
Kau dan aku adalah satu
Bagai burung dan sayapnya
Bagai ikan dengan insangnya
Bagai kuda dengan kakinya
Kau dan aku tak kan terpisahkan
Burung ... lanjut baca
chairil dah ada aku
ws rendra sudah punya
balada orang-orang tercinta
soetardji punya o amuk kapuk
cak nun punya syair lautan jilbab
hamka punya ... lanjut baca
Terkadang aku berpikir,
Apakah kau diluar jangkauan tangan dan hati ini,
Atau hanya akulah yang takut menjangkaumu?
Apakah aku harus berpaling,
... lanjut baca
Kau adalah fotosintesa fase kehidupan,
mengikat lembut cahayamu dalam klorofil hatiku…
sel-sel itu tumbuh menjadi denyut,
berdetak sampai musim m ... lanjut baca
pasupati.
(secara ampir tiap hari lewatin sana)
kdg2 malah suka sebel ama motor2 yg nongkrong pinggir jalan...
.
soal cerita..
bikin saia ber-ooooh ria.
cewek dan cewek?
*tiba2 inget cewek tomboy tp cantik yg sempet kasih saia sebuket bunga..(saia pikir krn kami sahabatan).
.
hebat..bikin saia bernostalgia tentang jalan layang..
hehe..
diriku tiada maksut apa pun, hanya ingin memberitai bahwa di bandung ada PASUPATI, gitu loh...
agak-agak gimanaaa.. gitu lho.
Hehehehe
Dadun banget. Puitis, romantis, Lambat dan sensitif hehehe. Kalau di dunia fanfic, model beginian disebut "ansgt" kayaknya.
Nilai 8- untukmu,
knapa "min"? Karena kau tak membuatku terkejut seperti biasanya. Dari awal baca aku udah menduga ada sesuatu dari tokohnya. Aku ingat bahwa kau suka bermain2 disini. Tapi aku suka suara batin tokohmu,Dun
Sampai beberapa paragraf, saya masih mengira bahwa si tokoh aku adalah laki-laki (saya lupa bahwa dadun suka melakukan trans-gender saat menulis cerita. hehe), saya mengira demikian karena merasa bahwa tokoh 'dia' amat feminim dan pasti perempuan. Tapi saat dia bilang 'tuang puteri', "lho, jadi si aku ini perempuan?", lalu saya pun menginterpretasikan bahwa tokoh 'dia' adalah laki-laki... laki-laki yang sensitif dan romantis. Tapi di bagian akhir saya sadar bahwa mereka berdua memang benar-benar perempuan (kalau bisa dibilang 'benar-benar'), itu saya lupa kalau dadun jg suka dengan tema semacam ini. Walhasil, sepanjang cerpen saya habiskan untuk menebak-nebak gender para tokohnya..., dan mungkin memang itu yang kamu inginkan?
DaduN...
moTiF waRna yanG sama...
Tapi..... Lw seLaLu punya caRa unTuk bikin "dy" gag nGeBoseninn...
9w gag bRenTi2 jadi FaNs bRaT Lw..
=D> =D> =D>
wuakakakakakakakakakaka, sampe ngakak lihat komentar bl09on, tapi setuju sih, Dun makin genit aja.. ha ha ha
sejak membaca tulisanmu yg duludulu, aq jadi betah baca2 disini.
yg ini... gak nyangka. alus banget
ih, jadi ngiri aq.
Dun cerita kmu kok makin genit aja. Tp keren karena d balut kualitas deskripsi yg ga norak. 2 thumbs up