sahabat..................

40
points

Jam menunjukkan pukul 09.30, pagi ini Dian tampak segar, sesegar bunga melati di taman bunga kebun belakang. Tapi nampak ada kemurungan diwajahnya, ada apa dengan Dian?. Emm...tunggu!...bukan...bukan kemurungan, lebih kearah cemas.

Dengan penuh keraguan, Dian membuka pintu kamarnya. Beranjak turun, mencari-cari seseorang. Di dapur, gak ada. Di ruang televisi, gak ada. Di ruang tamu, juga gak ada. Tujuan Dian terakhir, sebuah kamar. Tok..tok..tok......, ketukan pelan Dian sudah bisa membuat si empu kamar beranjak. Dian masih membisu.
"Ya?, Dian?, kenapa?" tanya perempuan tinggi langsing dengan kerudung yang selalu dipakainya. Manisnya....batin Dian. Memang tante Dian yang satu ini sudah cantik dari dulu, tak memakai make-up pun sudah cantik.

"Emm...Tante, nanti sore aku mau belajar kelompok sama temen-temen, boleh gak?"tanya Dian sambil sedikti ragu. Dian diam, tak berani menatap tantenya.
"Ya boleh aja dong, sayang. Kenapa gak? Sama Tanty juga kan?"sahut Tante Dewi.
"Iyah, sama Ayu juga." Tante Dewi hanya mengangguk sambil tersenyum.

Fiuuhh...alhamdulillah, boleh pergi. Dian langsung berlari ke kamar. Mencari Hp-nya, dan sms Ayu. Aku boleh pergi, asyik!!!.

Kicauan burung merekahkan hangat sore ini, serasa sejuk dibadan, apalagi jika selesai mandi. Seperti yang dilakukan Dian sore itu, sebelum bergantian pakaian, Dian menyempatkan diri untuk menghirup segarnya udara sore itu. Heemm...semoga hari ini tidak hujan, batin Dian. Senyumnya mengembang menduga-duga apa yang akan terjadi nanti.

"Tante Dewi, aku pergi dulu ya," pamit Dian.
"Ya, hati-hati, jangan pulang malam-malam," jawab Tante Dewi sembari menyuapi Tio, anak pertamanya. Kulayangkan lambaian pada Tio, dia hanya tertawa.

Diujung blok perum tak jauh dari rumah Tante Dewi, telah menunggu seekor.....eh, seorang cowok dengan motor bututnya. Tak jauh dari sana, tampak Dian berlari kecil dan melambai ke arah cowok itu. Dian manis sekali sore ini...batin Sony, nama cowok itu. Sesampai di depan Sony, Dian tersenyum. Dan melajulah mereka berdua, membelah angin sore itu.

"Cantik banget," senyum Sony sambil tetap menatap jalan. Pelukan Dian dipinggang Sony semakin rapat. Bukan cuma karena pujian Sony tapi angin sore itu memang agak dingin. Wah....ternyata Dian tak pergi belajar dengan teman-temannya, hem..ada apa ini? Kenapa Dian sampai berbohong? 15 menit mereka berdua dijalanan, sampailah pada tempat yang mereka tuju.

Seerr...seeerr...serrrr.....deburan ombak menyapu bibir pantai. Sejuk udara makin dirasa. Burung-burung ikut gembira menikmati cuaca sore itu. Matahari mengembangkan senyum melihat dua anak manusia berlarian bercengkrama bagai kanak-kanak.

"Kejar aku, ayo!" tantang Dian yang berlari kearah pinggir pantai, bermain dengan bulir-bulir ombak dan terus berlari kecil.
"Awas ya, tunggu aku!", Sony sedikit tersungkur menginjak kerang-kerang kecil. Sore itu benar-benar sore yang sempurna buat Dian. Walau dia harus berbohong pada Tante Dewi.

Ya....Dian memang tinggal bersama Tantenya yang hampir 5 tahun belum dikaruniai anak. Maka Dian diasuh Tantenya selama ini dengan harapan mereka akan mempunyai momongan. Sedangkan orang tua Dian tinggal di Bandung. Sebenarnya Dian anak semata wayang, tapi Ibunda Dian mengikhlaskan Dian ikut Tantenya di Surabaya dengan harapan yang sama pula. Mereka hanya berdua saja dirumah karena suami Tante Dewi selalu pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan.

"Hihihi......ayo kejar aku!", Dian masih terlalu senang berlarian. Sampai Sony kelelahan, memaksa Dian untuk duduk di kursi dekat depot "Mbok Inah" dan memesan makanan. Sebenarnya Dian agak sebel, karena dia masih ingin merasakan hangatnya air laut yang disinari matahari sore itu.

"Kok cemberut? Kenapa? Gak senang ya aku ajak kesini?", tanya Sony sedikit gusar melihat Dian tetap tak bergeming. " Seneng kok, tapi........", Dian diam. "Tapi apa?". ".....aku masih ingin main-main."
"Ooohh.....ya uda, abis makan, kita main lagi ya", rajuk Sony agar Dian tak bertambah murung. Dian tetap diam. Sony berpindah tempat duduk menghadap Dian, tetap saja diam. Mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Dian, diam. Jauh didalam pikiran dan hati Dian sebenarnya dia merasa berdosa dengan berbohong pada Tante Dewi. Tapi dia nyaman......sangat nyaman berada disamping Sony, cowok yang sudah hampir 3 bulan terakhir ini memenuhi ruang hati Dian. Sony berpindah tempat lagi, kali ini Sony gelitikin pinggang Dian, dan......Dian tersentak, berusaha menutupi kegalauan hatinya dengan tersenyum. "Kenapa, ada apa sih? Bilang dong", desak Sony yang sedari tadi mengamati tingkah Dian. " Enggak...enggak pa-pa kok".

Setelah menghabiskan tegukan terakhir minumannya. Mereka berdua beranjak pergi. Menyusuri jalan setapak, bergandengan, dan bercanda ringan. Dian berusaha melupakan beban di hatinya, walau sedikit mengganggu. Sony melemparkan joke-joke yang lucu, sebenarnya.....andai hati Dian bisa kompromi. Tapi tidak......Dian pura-pura tertawa saat Sony juga tertawa.

Sudah pukul 18.26 Dian masih bersandar dipundak Sony, setelah mereka kelelahan berjalan dan tertawa. Duduk-duduk di tepi tebing begini buat aku semakin nyaman tapi juga gundah jika teringat Tante Dewi tak suka cowok agak berandal seperti Sony, batin Dian. Aduh....gimana ini? Mau sampai kapan aku sembunyi? Sedangkan selama ini aku hidup ditanggung Tanteku. Apa kata orang tuaku? Sudah hidup diasuh malah tak tahu terima kasih dengan pacaran sama cowok yang gak jelas. Hem...sebenarnya Sony anak baik, sudah punya pekerjaan tetap dan siap hidup berumah tangga. Sifatnya juga dewasa, cocok banget sama Dian yang butuh sosok pengemong. Tapi perihal Bapaknya-lah yang membuat semua jadi runyam. Ya.....Sony tak tahu siapa Bapaknya. Sedari kecil Sony tinggal bersama Ibunya, di rumah petak kecil yang ada disekitar perum tempat tinggal Dian.

"Mas, uda malem, pulang yuk", ajak Dian. Sony sedikit kaget, tapi tetap sigap untuk langsung berdiri dan meraih Dian yang duduk disampingnya. Berjalan beriringan, dua sejoli itu beranjak meningggalkan kecamuk dihati masing-masing. Tanpa sepengetahuan Dian, sebenarnya Sony juga bimbang akan hubungan mereka. Sony tahu hubungan mereka tidak akan bertahan lama. Sony juga paham kalau keadaan ini tidak akan berlangsung lama, karena sebentar lagi Dian lulus dan akan kembali ke rumah orang tuanya. Apa yang harus aku lakukan? Menikahinya sekarang?! Itu tak mungkin? Malah menghancurkan masa depan Dian. Dian masih belia, masih terlalu kecil untuk menikah. Hahh....apa yang harus aku lakukan???!!! Batin Sony berteriak. Sedikit kehilangan kosentrasi pada jalan di depannya, Sony sedikit menyerempet pedagang bakso di pinggir jalan. Dian juga terkejut, tapi Sony fokus lagi.

Senyum Dian menghantarkan Sony pulang. Hari itu, walau tak berbicara tentang hubungan mereka, dari diam keduanya sudah dapat mengerti apa yang tersirat.
Dian pulang dengan senyum diwajah agar Tante Dewi tak curiga.

***

"Malem Non, ganggu gak?" suara Sony di handphone genggamnya.
"Malem juga Mas, tumben malem-malem telpon, gak ganggu kok," jawab Ayu.
"Aku pengen cerita nih." buka Sony.
"Cerita apa?"
Helaan nafas didengar Ayu, sahabat Dian ini paling tahu hubungan antara Sony dan Dian. Kalau ada apa-apa, Sony dan Dian selalu curhat ke Ayu.
"Eeemm...aku ama Dian ini gimana ya, Yu?" tanya Sony.
"Gimana apanya sih?" Ayu balik bertanya.
"Yaa...masa' aku cuma gini-gini aja. Terus nanti kalau Dian balik ke Bandung. Aku gimana?" suara Sony yang memelas membuat Ayu makin miris. Aduh, kasian banget sih, tapi salah juga kenapa nekat pacaran kalau tahu udah tau gak bakal langgeng, racau Ayu.
"Eemm...gimana ya, Mas? Ya...Mas ngomong baek-baek aja ama Dian, bicara dari hati ke hati kalau kata orang tua, hehehee...." canda Ayu agar suasana tak kaku.
Terdengar senyum Sony dari helaan nafasnya. Ayu lega, paling tidak bisa menghibur kawannya ini. Ayu sendiri juga tak tahu kenapa keduanya selalu curhat padanya. Kalau kata Dian sih, karena mereka berdua nyaman aja blak-blak'an ke Ayu dari pada ke sobat yang lain.

"Dik Ayu ini bisa aja," gurau Sony. Lalu mengalirlah percakapan gurauan yang lain. Pada dasarnya Ayu juga merasa senang mempunyai teman seperti Sony.

Seminggu berlalu, Dian tak berjumpa sama sekali dengan Sony. Rindu tak terperi membuat Dian selalu gelisah, tentu saja hal ini membuat Tante Dewi curiga, tak biasanya Dian murung seperti itu. Dian dikenal anak yang periang. Teman-temannya juga merasakan hal ini. Hal ini benar-benar mengusik Tante Dewi, sampai-sampai Tante Dewi memperhatikan terus setiap gerak-gerik Dian. Hingga suatu hari...............

"Tante, besok rencananya Dian sama temen-temen mau jalan-jalan, mau nganter Ayu beli baju juga buat acara pernikahan kakaknya, boleh ya?" rajuk Dian.
Tante Dewi agak curiga dengan permintaan Dian kali ini, ada kesan memaksa dan harus benar-benar pergi. Tapi Tante menutupi perasaannya itu," boleh aja, gak pa-pa. Pergi aja tapi ingat....harus hati-hati ya" dengan bijak Tante Dewi pun tersenyum.
"Makasih, Tante,"

Dian pun beranjak dari pembaringan ponakannya yang sedang ditidurkan Tante Dewi. Tampak manis sekali. Dian jadi teringat masa-masa kecilnya di Bandung bersama mama dan papanya. Ah..ternyata sudah lama sekali waktu itu berlalu dan Dian sudah sebesar ini.

Ruang dengan warna biru itu kamar Dian, dia sedang bimbang, memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Sony. Bagaimana ini? batin Dian. Tak lama lagi Dian akan meninggalkan kota ini. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Tetap berhubungan, bisa saja, tapi mau sampai kapan kita akan terpisah jauh? Putus? Apa itu jalan satu-satunya? Oohh....kamarku bagai berputar, pusing tak terkendali. Aku harus menghubungi Mas Sony, kita harus bertemu, batin Dian. Toh aku sudah mendapat ijin pergi dari Tante Dewi. Kita harus selesaikan urusan ini, tetap jalan atau tidak. Waktu tak mau menunggu.

Fajar merekah, pagi itu agak mendung, semuram hati Dian yang tak tentu. Tak jauh dari situ, disebuah rumah juga muram hati seseorang, Sony menimbang-nimbang apa yang akan terjadi nanti dan apa yang harus dia dan Dian putuskan untuk hubungan mereka. Hah...waktu berjalan begitu lambat, mengertikah sang waktu jika aku memang berharap seperti ini, agar aku bisa berpikir keputusan yang lebih baik, hati Sony makin meracau. Tapi ternyata waktu tetap berjalan. Dan Sony mau tak mau harus beranjak menemui kasihnya.

"Dian pergi ya, Tante," pamit Dian sembari mencium Tio, harum bedak yang dipakai Tio menyegarkan perasaan Dian. Hem....andai aku tetap kecil terus, mungkin tak akan memikirkan hal ini.

Dian membuka pintu pagar rumahnya, berjalan ke luar dan menutup pagar kembali. Tante Dewi segera meletakkan Tio di kasur dan mengikuti arah Dian berjalan. Tante Dewi bersembunyi di belakang tirai ruang depan ketika Dian mulai berjalan ke luar. Dian berlalu sampai tak nampak oleh Tante Dewi. Tante Dewi pun berjalan berjinjit agar tak mengeluarkan suara, jaga-jaga jika Dian masih berada di dekat situ. Di pegangnya gagang pintu pagar, dengan ragu di tariknya pintu itu. Sedikit ........demi sedikit.......dan tampaklah Dian berjalan belok di tikungan jalanan itu. Ragu-ragu lagi Tante Dewi, ingin mengikuti ke luar, tapi takut kepergok Dian. Tapi jika tidak diikuti, sampai kapan Tante Dewi harus merasa cemas seperti ini. Karena Tante Dewi yakin ada yang tak beres dengan Dian. Tapi sebelum Tante Dewi berjalan mengikuti arah Dian pergi, dia dikejutkan oleh suara motor yang melaju, dengan buru-buru Tante Dewi segera masuk dan dengan cepat menutup pintu pagarnya. Lewatlah motor yang mengagetkannya tadi, dan yang lebih membuat Tante Dewi tidak bisa bergerak, Dian di boncengan motor itu. Dian....batin Tante Dewi. Dia bersama laki-laki, parahnya laki-laki itu............Sony!. Hampir pingsan Tante Dewi disitu, tapi cepat-cepat menguasai diri karena dari dalam rumah terdengar tangis Tio. Berjalan dengan sempoyongan, Tante Dewi tak mau gegabah. Sama sekali tak menyangka jika selama ini Dian bergaul dengan laki-laki itu. Dari mana Dian bisa kenal dengan Sony? Dari mana Dian punya keberanian berbohong padaku? Selama apa mereka sudah berhubungan? Berbagai pertanyaan muncul dan mengelilingi pikiran Tante Dewi.

Sore menjelang, sehabis memandikan Tio, Tante Dewi menyempatkan menyiram bunga kesayangannya di taman depan. Berusaha senetral mungkin saat Dian pulang. Tante Dewi tak berusaha apa-apa untuk mencari tahu kebenaran dari apa yang dilihatnya tadi. Tidak menelepon Ayu, juga tidak menelepon Tanty. Jam masih menunjukkan pukul 15.15 Dian belum pulang. Semakin resah hati Tante Dewi, muncul pikiran-pikiran buruk dibenaknya. Tapi dengan cepat di tepisnya, berharap tidak terjadi apa-apa dengan Dian. Ada suara dan gerakan di pintu pagar, oohh..Dian sudah pulang. Tante Dewi berusaha menetralkan ekspresi wajahnya.
"Dian pulang, Tante," senyum Dian.
"Gimana jalan-jalannya? Seru? Ayu jadi beli baju apa?" tiba-tiba Tante Dewi memberondong Dian dengan pertanyaan-pertanyaan itu, hal ini pun mengagetkan Tante Dewi sendiri, sebenarnya dia tak ingin mengungkit rasa kecemasan di hatinya, tapi tampaknya rasa benci pada laki-laki itu yang lebih kuat untuk membuat Tante Dewi bertanya seperti itu. ya...tuhan, batin Tante Dewi, semoga Dian tak menangkap kebencian di mata Tante Dewi.
"Eeemm...beli apa ya tadi? Agak-agak gaun, tapi gak begitu terlalu gaun sih, apa ya....Dian dikasih tau kok namanya tadi, merknya juga, tapi lupa...," jawab Dian sambil nyengir.
"Ooohh...gitu, ya uda."
Dian tersenyum dan segera masuk ke rumah mungil nan cantik itu.
Tante Dewi segera berpaling pada bunga-bunga mungil miliknya dan menahan riak airmata. Lagi-lagi Dian berbohong, dari mana dan sejak kapan dia punya kebiasaan berbohong seperti itu? Padahal lingkungan keluarga ini tak pernah mendidik seperti itu, batin Tante Dewi bagai di aduk dengan berbagai pertanyaan yang tak akan terjawab.

Selang 3 bulan, luluslah 3 sekawan itu. Mereka bersorak senang, bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Tanty berencana meneruskan ke sekolah ternama di kota ini. Dian....jelas akan kembali ke kotanya. Dan Ayu tetap di kota ini juga dengan cita-citanya sendiri. Masing-masing punya rencana dan masa depannya, lalu bagaimana dengan kelanjutan hubungan Sony dan Dian? Apa yang kini terjadi dengan Sony?

***

Handphone Ayu berbunyi...........
"Hai non," suara riang ini tak mungkin dilupakan Ayu.
"Hai juga Tan, wah gimana nih? Uda punya cowok belum?," goda Tanty. "Gimana sekolahnya? Sukses?" tanya Ayu sembari tersenyum.
"sekulku te-o-pe deh. Coba kamu ama Dian mau sekul disini juga. Pasti kita kumpul terusssss....bisa jalan-jalan, bisa belajar kelompok sama-sama........"
"bisa nge-gosip bareng juga kan..." potong Ayu.
"Iyah...heheheee...."jawab Tanty lantang.
Aduh...kalo sudah ngobrol kayak gini, kayaknya bakal lama deh, batin Ayu.

Dan waktu teruuuuuus berjalan, meninggalkan yang patut ditinggalkan. Ayu pun merindukan sahabat-sahabatnya. Merindukan masa-masa bercanda bersama, merindukan apa yang jadi milik bersama saat itu, keceriaan, kebersamaan, kesenangan. Tapi ternyata masih 4 bulan dari hari perpisahan mereka. Ayu sudah tak bisa lagi menghubungi Dian, mungkin dia sudah ganti nomor. Karena sebelum berpisah Dian sempat bercerita kalau dia dan Sony sudah memutuskan untuk berpisah baik-baik dan melupakan semuanya. Sedih memang...miris juga hati Ayu ketika mendengar itu. Tapi ya sudah, itu keputusan mereka, Ayu cuma menyesali mengapa hal ini terjadi.

Malam itu Ayu melamun sendiri, dikamar dengan background mickey dan minnie mouse tak membuyarkan lamunan Ayu, andai aku punya pacar, mungkin saat ini tak akan sendiri, lamun Ayu makin berkepanjangan ketika gerimis mengusik atap rumahnya. Hah...hela nafas Ayu tak membuat kantuk yang sudah menumpuk bisa menidurkan Ayu. "Lagu Tak Mau Sendiri"-nya Bunga berbunyi dari handphone Ayu, kaget dengan nomor yang muncul.
"Halo..?" angkat Ayu.
"Halo juga, ini Ayu?" suara cowok diseberang membuat kening Ayu berkerut.
"Siapa ya?" tanya Ayu dengan sopan.
"Tebak dong" tantangnya.
"Eeemm..siapa ya? Gak tau, nyerah"
"Ini Sony, Dik Ayu, inget kan?"
"Ooh..ya ampun, Mas Sony? Gimana kabarnya Mas?" jawab Ayu riang, Ayu sendiri kaget dengan nada suaranya yang terlontar begitu ceria.
Sambil tersenyum Sony menjawab," Baik, Dik. Dik Ayu sendiri gimana? Ganggu gak, aku telpon malem-malem?"
Diliriknya jam di dinding, hah..jam 22.00, pantas saja Mas Sony bilang ini sudah malam, aku gak sadar,"eemm...gak pa-pa kok Mas, emang ada apa?"
"gak pa-pa, pengen ngobrol aja"
"Oohh.." jawabku pendek.
"Eeemm...Dik, boleh aku ngomong sesuatu gak?"
"Boleh laah..kenapa gak."
"Boleh gak aku bilang 3 kata?" tanya Sony lagi.
"3 kata? Apaan?"kening Ayu berkerut, ini orang aneh, uda telpon malem-malem, ngomongnya ngelantur lagi, jangan-jangan ngigau, hihihihiiii.....
"Aku cinta kamu" jawab Sony dengan mantap tanpa ragu.
Hah!!! "Mas...apa? Mas gak salah ngomong kan?" ada getar di hati Ayu.
"Gak, adik. Aku sadar kok, apa yang adik denger itu gak salah"
Jawaban itu membuat Ayu tak bisa bicara apa-apa. Bagaimana ini? Bagaimana bisa mantan sahabatku bisa suka padaku? Ini gak mungkin!? Racau Ayu tak karuan.

"Dik...Dik ayu?? Kenapa? Kaget? Sory, kalo bikin adik kaget, tapi emang ini yang aku rasain selama ini, aku sayang sama Dian tapi ternyata aku lebih respek sama kamu, mungkin kedengerannya aneh, tapi ya..ini nyatanya." tutup Sony.

Ayu tak tahu harus bilang apa, Sony mengerti. Dia akhiri pembicaraan malam itu dengan janji akan menunggu jawaban dari Ayu.

Ayu merenung, malam ini dia benar-benar tidak tidur. Tuhan telah mengabulkan pintanya, tapi mengapa harus Mas Sony? Tanya Ayu tak berkesudahan. Ya..Tuhan, andai dia tahu aku pun sayang padanya, tapi apa adanya diri ini, aku tak bisa, aku teringat Dian disana, walau kami tahu kami tak akan bertemu lagi, tapi aku tetap tak bisa.

Your rating: None Average: 5 (8 votes)
dikirim f1_tr1 1 year 31 minggu yang lalu
Tag: