Bayangan-bayangan itu seperti mengepungnya dari segala arah. Tapi meski bulan di atas sana bersinar terang, sosok yang bergerak cepat itu tetap tak dapat dilihatnya dengan jelas. Selalu berupa bayangan dan siluet, yang muncul lalu menghilang di saat berikutnya.
Anak kecil yang ketakutan itu terus berlari, berusaha menjauh dari bahaya yang mengancamnya. Hanya menuruti perintah naluri, dia menerobos sela-sela pepohonan yang tumbuh rapat di rimba liar itu.
Nafasnya mulai tidak beraturan, ia kelelahan. Keringat dingin bercucuran di seluruh tubuhnya. Setelah berlari sejak lama, ia akhirnya menyerah pada apapun yang mengejarnya. Dihentikannya langkah liarnya, dan dengan terengah-engah dia menahan tubuhnya pada sebuah pohon.
Sinar pucat sang rembulan menembus sela-sela dedaunan rimbun dan jatuh pada raut wajah yang kelelahan itu. Si anak berusaha menajamkan pengelihatannya, dan menyelidiki sekelilingnya.
Apapun yang mengejarnya tadi, kini sudah tiada. “Apakah dia sudah menyerah?” batin anak itu. “Sepertinya begitu”. Hanya desah nafasnya yang kini terdengar memecah sunyinya malam.
Si anak merengsek menjatuhkan diri ke tanah, seluruh tubuhnya kesakitan. Ia baru menyadari hal tersebut. Beberapa goresan di pipinya terasa sedikit perih, dan sendi-sendi di kaki terasa nyeri. Bisa dirasakannya keringat yang menetes-netes di wajahnya.
Angin malam bertiup lirih menggoyangkan dedaunan, menciptakan suara gemersik. Hawa dingin meraba kulitnya yang kini hanya dibungkus kaos kumal yang sobek akibat ranting-ranting liar. Anak itu menggigil, menatap purnama dan berharap kehangatan datang menyapanya.
Purnama itu begitu jelas, bahkan dari belantara seperti ini. Pepohonan seperti menyingkir dari sinarnya, dan tak ada awan yang menutupi cahayanya. Purnama itu sangat jelas.
Si anak menatapnya seakan terhipnotis akan keindahannya. Di matanya terpantul sinar pucat rembulan di atas.
Lalu sebuah lolongan panjang dan melengking terdengar. Sangat jelas memenuhi udara yang ikut bergetar. Kemudian sakit yang dirasakan anak itu di sekujur tubuhnya semakin hebat. Ia menggelepar, tak sanggup menahannya. Sementara lolongan itu semakin jelas dan menakutkan. Kemudian berubah menjadi erangan.
:)
:)
:)
:)
:)
:)
:) -------------------------------------------------------------
Ryu terbangun dari mimpi dengan sekujur tubuhnya basah karena keringat. Desah nafasnya tak beraturan. Seluruh tubuhnya sakit. “Mimpi itu seperti nyata”.
Dia tak mengerti sama sekali arti mimpi itu. Mimpi yang terus menghantuinya selama ini. “Kau akan mengerti dengan sendirinya, jika waktunya tiba” hanya itu yang dikatakan kakeknya saat Ryu menceritakan mimpinya. Hal yang sama sekali tidak membantu.
“Mimpi lagi anakku?” tanya kakeknya yang rupanya dari tadi ada di situ. Dia duduk bersila di bawah jendela yang membiarkan sinar bulan menerobos masuk dan menerangi lantai kayu di bawah. Di balik berkas sinar itu dia memandang Ryu dengan tenang.
“Ya” jawab Ryu, “mimpi yang sama”.
“Aku tahu. Kau selalu begitu saat memimpikannya” ucap kakeknya membuat Ryu bertanya “Selalu apa?”
“Bertingkah liar” jawab kakeknya.
Ryu memperhatikan sekelilingnya. Benar. Kasur lantai dan selimut yang dikenakannya kini berada jauh darinya yang terbangun di atas lantai kayu.
“Kau harus berlatih lebih giat lagi” kata kakeknya.
Esoknya adalah hari yang cerah. Mentari musim panas bersinar di langit. Angin yang bertiup membawa bersamanya wangi bunga-bunga dari padang di utara. Dedaunan bergemersik syahdu, membawa ketenangan dalam hati.
Di sebuah kuil kecil di puncak bukit yang terbuka, Ryu duduk bersila. Menutup matanya dan berusaha berkonsentrasi, mengatur aliran udara yang dihirup dan dihembuskannya. Aroma udara musim panas membawa ketenangan tersendiri dalam jiwanya.
Kini dia lebih tenang. Berguru pada sunyi.
“Pengendalian diri, adalah puncak dari semua aliran beladiri. Meski kau mampu mengalahkan musuhmu, tetapi jika kau tak bisa mengendalikan hasrat dalam dirimu, kau masih seorang pecundang. Musuhmu yang sesungguhnya ada dalam dirimu. Belajarlah mengalahkannya, dan kau akan bisa mengendalikan dirimu”
Ryu menarik nafas dalam-dalam untuk yang terakhir kalinya, kemudian sejalan dengan menghembuskannya dia membuka mata perlahan. Dan burung-burung yang dari tadi bertengger di sekitar kuil, tupai yang sedang mengupas biji yang ditemukannya, bahkan kupu-kupu yang menikmati bunga yang bermekaran, semuanya berhamburan dan menghilang dari pandangan.
“Masih belum ada kemajuan rupanya” ucap kakek yang baru saja menapaki anak tangga terakhir menuju kuil itu.
“Aku lapar” kata Ryu memegang perutnya yang keroncongan. “Sudah sejak pagi aku hanya duduk diam di sini”
“Rasa lapar adalah salah satu tipu daya nafsu, kau tak akan bisa mengalahkan dirimu jika rasa lapar saja mengalahkanmu dengan mudah”
“Aku tak bisa konsentrasi jika lapar” Ryu membela diri.
“Apa boleh buat”. Kakek Ryu lalu mengeluarkan makanan yang dibawanya, dan menghidangkannya dihadapan Ryu. “Makanlah! Tapi ingat, jangan sampai kekenyangan” kakeknya mengingatkan.
“Tapi makanan sebanyak ini, sayang kalau tidak habis kan?”
Kakek mendesah pasrah. “Dasar bocah awam!”
“Ingat! Konsentrasi dan kuasai dirimu sepenuhnya!” kata kakek dengan tegas pada Ryu yang telah siap di dalam kurungan itu. Kurungan yang sepenuhnya terbuat dari baja setebal 30 senti di semua sisi, dan hanya ada jeruji kecil sebagai lubang udara dan tempat masuknya cahaya bulan di pintunya.
Ryu mengangguk yakin.
Setelah Ryu duduk di tengah kurungan, kakeknya mengunci pintu kokohnya lalu meninggalkan Ryu sendirian di dalamnya. Malam akan segera tiba.
Sementara itu Ryu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk konsentrasi. Ia harus melakukannya, sepanjang malam. Agar dapat bertahan dari ketakutannya.
Dan..... malam pun tiba. Purnama bersinar terang menerangi seluruh hutan bambu di sekitar rumah kakek. Si kakek duduk di depan kurungan baja yang menawan Ryu, memperhatikan setiap perkembangan.
Di dalamnya Ryu mulai bermandikan peluh. Ada sesuatu pada dirinya yang coba memberontak. Semakin lama semakin kuat, seiring bulan purnama bergerak naik. Ryu berusaha tetap konsentrasi dan mengendalikan dirinya, tapi hasrat yang berontak itu tak parnah sekalipun melemah, selalu semakin kuat.
Bersama jiwanya yang berusaha melawan, kini rasa sakit datang ke seluruh tubuhnya. Menambah penderitaan panjangnya malam ini.
Berjam-jam telah berlalu, dan Ryu sejauh ini masih bertahan dari hasrat yang memberontak dalam dirinya. Hingga akhirnya dia tak kuasa lagi membelenggunya, dan dibiarkannya matanya menatap ke luar melalui jeruji. Ke arah purnama yang membebaskan jiwa lain darinya.
Kakek membuka matanya, pasrah mendengar lolongan mengerikan dari dalam kurungan yang kini mulai berdebam menandakan monster di dalamnya telah terbebas.
End.
dikirim f_as_luki 1 year 21 minggu yang laluTag:








