Rasa Ini

44
points
"

Ditulis ketika diri ini merindukan rasa hati yang telah membeku

"

Wahai Rasa, tiba-tiba kau datang, padahal aku sudah mengusirmu. Tapi aku tak sanggup membendungmu. Aku begitu merindukan kehangatan dirimu. Aku begitu mendambakan belaian dirimu.

Wahai Rasa. Mengapa kau begitu indah? Mengapa kau begitu menjanjikan? Mengapa kau begitu kunantikan?

Sudah sebegitu dinginkah aku Rasa? Aku sudah terlalu lama mengurungmu dalam dinginnya penyesalanku. Aku begitu lama memasungmu dalam bekunya ketakutanku. Hingga kini aku justru ketakutan akan dirimu.

Tahukah kau siapa yang mengembalikanmu ke hatiku? Dia adalah Abdi. Laki-laki yang kukenal melalui dunia maya. Aneh bukan? Tapi banyak yang bilang tidak aneh.

Abdi selalu bertutur lembut padaku, membuatmu semakin mencair dan meluruhkan segala penyesalan itu. Abdi suka menyapaku dengan mengirimkan sms, langsung begitu dia membuka matanya hanya untuk mengatakan padaku, “Gi apa beib?”

Abdi begitu mengisi kekosongan hari-hariku dengan cerita-ceritanya lewat dunia maya yang menghubungi kami selalu. Abdi juga sering mencurahkan perasaannya di malam hari dengan telepon-teleponnya.

Aku tahu engkau menantikan seorang Abdi untuk membantumu mencair, benar kan wahai Rasa? Kejujuran Abdi akan identitas dirinya membuatku juga membuka diriku dan mentransfer dirimu dengan Rasanya. Kamu pasti senang karena mendapatkan teman baru lagi, ya kan Rasa?

Aku begitu berterima kasih padanya karena sudah mengembalikanmu. Aku benar-benar berhutang budi karena sudah membuka pintu ketakutanku dan mencairkan kebekuan di tubuhmu yang disebabkan olehku.

Tapi aku tetap takut, wahai Rasa. Aku takut engkau akan kembali memanas dan melukai hatiku lagi. Aku takut engkau kembali menyebabkan air mataku tumpah lagi.

Salahkah aku? Aku menginginkanmu tapi sekaligus ingin mengusirmu. Ya, aku mencintainya. Aku mencintai Abdi. Berkat dia aku merasakanmu kembali.

Aku merindukanmu yang menyebabkan debaran jantung ini. Aku merindukanmu yang membuat lonjakan di dadaku yang seperti ingin meloncat keluar dari hatiku. Aku merindukanmu yang selalu menggelitik hatiku, memutarbalikkan perutku ketika melihat laki-laki yang kuinginkan. Ya, aku menginginkanmu.

Tolong jangan lagi memanas wahai Rasa. Tolong jangan lagi melukaiku. aku hanya ingin menjadi berani untuk mempersilahkanmu datang kembali ke hatiku. Berilah warna dirinya di hatiku, oh Rasaku. Pudarkanlah warna lain yang sudah terlalu lama melukaiku ini. Aku rasa kebekuanmu selama ini cukup untuk membuat warna itu pudar dan menggantikannya dengan warna dari Abdi.

Selamat datang Rasa ku. Selamat datang kembali di hatiku. Gantungkanlah harapanku di tempatnya yang tertinggi. Bersanding denganmu ditempatmu yang dulu pernah ada di hatiku.

Jakarta, 8 January 2007

Your rating: None Average: 7.3 (6 votes)
dikirim Farah 1 year 45 minggu yang lalu
Tag: