Demi-Human (Chapter 2 : Lycan! - Akhir)

21
points
"

The last part of Chapter 2!
Enjoy!

"

Anuaf 22, Wahyang 40.

Aku kembali ke Kota Asrija, berhasil menemui Tuan Kara walaupun tidak dalam raga yang dikenalinya. Tanpa perpecahan baru, tanpa kekerasan.

Tempatku berlindung hampir tidak ada karena aku telah berubah menjadi makhluk malam. Berita buruk kematian kerabatku masih terngiang kala aku menyendiri. Bukan di dalam rumah Tuan Kara.

"Brand tewas... Brand tewas..."

Begitu bunyinya. Mataku seperti menatap wajah Brunus yang muram. Padahal aku tengah menikmati sunyinya Kota Asrija malam hari.

Itu pertama kalinya aku merasa lebih nyaman berada di luar pada malam yang luar biasa dingin. Aku jauhi api unggun kala Tuan Kara menyalakannya ketika dia hendak membaca buku. Aku tetap menikmati jamuan bersama mereka, dan berlangsung hangat walaupun rasanya sepi juga tanpa Will dan Brand yang biasa berpangkal di rumah itu.

Dan sekarang kutatap langit dari atas atap rumah Tuan Kara, Kuhelakan nafas. Sementara kutopang daguku. Aku lega karena jalanan benar-benar tanpa tanda-tanda kehidupan jadi aku bisa melepas tudungku.

Aku mulai merasa kalau aku hidup jadi mengikuti apa yang ingin dilakukan oleh hasratku. Hawa dingin ini memang dirindukan para satwa buas di hutan. Bayangan adalah tahta. Anginpun bertiup mengikuti irama desisan hatiku. Aku mulai tak bisa melepaskan tatapanku menuju angkasa. Apa yang sebenarnya kunantikan? Adakah keajaiban di langit?

Sejauh mata memandang ke langit, kerlap-kerlip permata begitu indah. Tetapi, aku seperti belum menemukan sesuatu. Aku tahu hanya itu yang dapat mengisi kekosonganku.

Bulan.

Kurematkan kepalan tanganku kala kuangkat tinggi-tinggi. Kumpulan awan itu terasa memuakkanku. Aku mulai merasa resah atas penungguanku -- seperti menanti kekasih yang telah lama dinanti.

"Lelah dalam penungguanmu?"

Sesuatu menyita perhatianku. Suara itu menghunjam telingaku, berdengung menggantikan memoriku akan berita buruk dari Brunus. Ada penguntit! Sial! Aku celingukan marah, tetapi tak bisa kuikuti dengan inderaku. Perlahan aku mulai merasakan bahaya. Bayang-bayang malam yang tadi menjadi tahtaku berbalik menjadi mata pedang yang tertuding ke arahku. Aku hendak menarik lengan mantelku perlahan-lahan sembari melirik ke setiap penjuru.

"Telingaku tak mungkin berhalusinasi," pikirku menyelidik. "Tetapi, pintar sekali dia? Mata, telinga, dan hidungku tak menemukan apa-apa selain bau manusia yang tertidur."

"Sepertinya kau tak bisa melihatku, sesuai dugaanku," suara itu muncul lagi. Suaranya cukup merdu. Wanita, mungkin? Di mana? Aku tak menyangka ada dewi malam yang sudi menghampiri makhluk buas nan buruk rupa sepertiku. "Kau siapa?" tanyaku membalas.

Suara itu terkekeh sejenak seperti tersenyum manis ke arahku. Aku tidak mengerti sama sekali. "Kau jangan membuat ini seperti aku akan menerima keajaiban! Apa berat bagimu untuk membuat segalanya lugas?" tanyaku lagi.

"Tidak seperti itu, Dax," jawab suara itu memanggil dengan menyebut namaku. AKu merasa agak terusik. "Aku berbicara denganmu melalui sihir. Aku tidak berada di sekitarmu, dan karena itulah aku mengerti mengapa kau bingung. Namaku Luuni. Aku seorang 'Runusatra'."

'Runusatra'??

"Kuberitahukan padamu sesuatu, Dax," kata Luuni. "Aku tahu apa yang telah kaulakukan. Semua berawal dari ketika kau mendapati dirimu di dalam gua itu..."

"Kau berbicara mengenai dukun yang telah mengubah diriku menjadi seperti ini?" tanyaku memotong.

"Ya," jawabnya.

"Memangnya siapa dukun itu?"

"Dia adalah..."

"Uohok!!"

Mendadak aku tersentak. Sesuatu menusuk punggungku. Nyaris aku terhempas dari atap. Aku berbalik dengan sekejap. Kugapai punggungku, dan kudapati benda yang menusukku. Anak panah. "Ada yang ingin membunuhku!" gumamku. "Siapa? Di mana??"

Dan di tengah-tengah kewaspadaanku, Luuni kembali berbicara, "Rumah di seberang jalan, persis menghadap persimpangan!"

Aku segera menoleh dan menyeringai. Siluet! Ada dua! "Itu mereka!" Aku mengambil sedikit langkah ancang-ancang. Aku melompat sebisaku, dan berhasil kuseberangi dua rumah sekaligus. Siluet itu kuamat-amati mulai panik ketika aku menyadari keberadaan mereka. Lompatan kedua, aku berhasil sampai ke tempat mereka berada. Cakar sudah tersiaga. Bersamaan kutatap mereka sambil kuserang mereka dengan tanganku. Satu orang berhasil kugebrak. Dia gagal menghindariku dan terjatuh dari atap tempat dia berdiri -- lain dengan yang satu orang lagi. "Kerisa!"

Aku berhasil merekam penampilan mereka. Tak layak disebut sebagai pembunuh malam! Mereka memang menggunakan busur pendek -- benda yang umum untuk membunuh diam-diam. Tetapi kostum mereka penuh dengan kain bercorak misterius yang tak ayal pasti akan terlihat mencolok dan jelas. "Pakai sihirmu, Jeneka! Kita harus lari!" Orang yang kupukul jatuh itu merintih ketika kawannya bergegas menghampirinya.

Kuusahakan agar mereka tidak lari. Aku buru-buru menerkam mereka dalam gapaian cakar-cakarku yang terhunus bagai pedang. Tetapi orang yang dipanggil Jeneka itu memiliki lidah yang gesit dalam melafalkan manteranya. Sebelum tanganku memenggal kepalanya, kabut mengelilingi tubuh mereka dan mereka menghilang begitu saja. Aku kibaskan tanganku melenyapkan kabut itu, tetapi mereka tak ada di selubungnya. "Sial!" Aku menyeringai.

"Kau berhasil?"

Keberadaan Luuni mulai terasa seperti pengamat yang sok tahu buatku. Gundah? Lebih tepat kalau kukatakan risih. Agak terusik dengan keberadaannya, aku menukasnya. "Cih! Kau melihat semuanya, bukan? Paling tidak aku berhasil membalas panah mereka."

Bilangnya begitu. Aku pikir aku bisa kembali berjalan pulang ke rumah Tuan Kara.

Tersentak. Tubuhku terasa begitu berat.

Tak ada apa-apa. Perlahan-lahan semuanya jadi hitam. Seperti malam berubah menjadi sangat gelap. Semuanyapun menjadi kabur. Pandangan mulai melayangkan kepalaku. Aku tak dapat berpikir. Salah kugerakkan kakiku, aku tersungkur.

"Dax, kau tidak apa-apa??"

Rubuh.

Your rating: None Average: 7 (3 votes)
dikirim faraj_ibym_vajra 13 minggu 4 hari yang lalu
Tag: