Well... Nulis bagian ini perlu dua kali diulang-ulang. Susah juga?
Enjoy!
"Aku undurkan langkah perlahan, menatap sosok itu melata di batang pohon yang digeluti ekor panjangnya. Sisiknya mengkilap kuning. Perunggu... Bukan! Emas! Ular besar. Kepalanya menjelma menjadi separuh badan manusia yang mengenakan kostum mencolok itu. Tetap saja monster! Matanya yang tajam mengkilat dan sisik di kulit tangannya tak bisa menipuku. "Lycan!" Dia tersenyum lebar membuka hingga menampakkan pangkal taring dan gusinya. Dia buka taring-taringnya lalu menjulurlah lidah rampingnya yang bercabang. "Ini dia Bliath yang dicari!"
Jemari tangannya menari. Tongkat tombaknya yang patah dia banting, bergulingan di tanah berumput. Perlahan kukunya yang pendek tumbuh panjang dan meruncing. "Shaaaaahh!!" Gerak-gerik ekornya menjadi berkali-kali lipat lebih cepat. Bertopang pada pohon itu, dia dorong tubuhnya mendekatiku.
Sorot mataku memandangnya seakan gerakannya masih terasa lamban. Jemari tangannya merapat seperti mata tombak. Dia mengincar leherku! Garis-garis yang tiba-tiba tertangkap dalam pandanganku menyalakan benakku untuk menghindarinya.
Berhasil! Aku menahan kedua tangannya! Sikunya kugenggam di lipatannya. Kutangkap gerakan lain lagi. Ekornya masih bisa menopang badannya untuk bergerak mendorongku. Tetapi aku berhasil mengimbanginya. Setelah aku tahu dia berniat mendesakku, seketika aku melompat dan mengayangkan badanku. Kuayunkan kakiku kuat memukul dagunya sehingga dia enyah dariku sementara waktu. "Bueegh!"
Tetapi karena tak menyangka aku telah melompat tinggi, aku nyaris terantuk membenturkan kepalaku ke tanah. Aku mendarat dengan kedua tangan dan kakiku menapak -- persis seperti serigala.
Lawanku berdiri, lepas dari topangannya pada pohon yang dipanjatnya. "Sssscchh!!" dia mendesis. Wajahnya memar di pipi dan dagunya. "Masih belum cukup kuat untuk seorang Bliath! Ini hari keberuntunganku! Jeneka!! Kerisa!!"
Telingaku bergetar! Desingan tali yang lentur dari balik bayang-bayang semak-semak di sekitarku. Ada yang melesat dengan cepat ke arahku. "Hrrrrr!!" Kupancing tenagaku dengan geraman singkat. Kuubah suasana hatiku yang terusik bangkit mendukung gerakanku. Lawanku, ular jejadian itu ada di depan mata! Aku bisa meringkusnya -- di samping menghindari anak panah yang terbidik ke arahku. "Mati kau!!"
"Khieeessssshh!!"
Dia menghindar dari lompatan dan sabetan cakarku cukup dengan mengayunkan tubuhnya ke samping! "Ini untuk tendangan putarmu tadi, Lycan!!" Dia angkat badannya tinggi menjulang di atasku. Di lain sisi, ekornya ikut naik dan mulai melilitkan tubuhnya padaku. Melingkariku, lalu sisik-sisiknya mengunci setiap ototku. Cih! Dia berhasil... "Hyah hah hah hah!! Beliau benar! Kau masih gampangan walaupun memiliki tubuh kuat seekor jejadian!" tuturnya sambil mendesis. "Baru semalam kedua muridku berhasil memanahmu! Sekarang biar aku yang meneruskan hasil kerja mereka!"
Sraak!!
"Oh!?"
"Hngg??"
Vefariu?
Celaka! Dia pasti baru kembali dari sungai!
"Hei? Siapa Felaat itu?" Jejadian ular itu terkecoh dan menggeliat menengok. Bagus! Aku pikir situasinya jadi menyulitkan. Jeratannya melonggar. Ada ruang sedikit untukku mengeluarkan tenaga. Kesempatan besar! Kudorong paksa ekornya yang melilit tubuhku. Kugabungkan dengan tenaga di kakiku, aku melompat dan berhasil keluar dari sana. "Oh! Sial!"
Mulutku terbuka lebar. Begitu aku raih punggung dan bahunya sedapatnya, aku langsung mengerahkan sisa tenagaku untuk mendorongnya jatuh dan membenamkan taring-taringku di lehernya. "Scchyaaaaahh!!" dia memekik mendesis. Berontak, dia hendak bangkit dan membantingku. Tak akan kubiarkan! "Percuma!" Kutusukkan lebih dalam lagi cakar di tanganku. Darah menyembur keluar dari punggungnya yang terluka oleh tajam kukuku. Kujepit mulutku lebih rapat dan diapun makin menjadi. Usahanya sia-sia, apapun yang dilakukannya. Ekornya berusaha mengapaiku lagi, tetapi aku ayunkan badanku untuk menghindari cambukannya. Tangannya ikut kutahan agar mata tombak peraknya jauh dari gapaiannya. "Sekarang! Jeneka! Kerisa! Keluar!!"
Kubelalakkan mataku. Tertangkap begitu saja gerakan bayangan yang mencurigakan yang melintas menyelimuti badanku. Pasti para pemanah itu. Aku langsung melepaskan gigitanku dari jejadian ular emas itu dan mendongak menyorot kalau-kalau ada sosok yang melompat dengan senjata tajam terhunus...
Crass!!
Aku salah melihat. Mereka berubah haluan terlebih dahulu sebelum muncul dari semak-semak. Lagi-lagi punggungku tertusuk. Dan lebih parah lagi, keduanya pisau perak! "Tuan Sathra, anda tidak apa-apa?"
Menjawab panggilan dari kedua orang itu, ular itu gontai kembali berdiri. "Masih belum cukup untuk membunuhku dalam wujud ini, Lycan!" serunya. Tersungging senyum ganas di wajahnya beriringan dengan asap putih yang mengepul dari badannya. Bedebah itu menyembuhkan sendiri luka tusukan dan gigitanku! "Ayolah! Jangan lengah dari satu dua belati! Inikah kekuatan dari pecinta bulan purnama?" tanyanya menghinaku disertai desisan-desisan ularnya. "Oh ya! Aku lupa tidak ada bulan purnama malam ini! Shyahahaha..."
"Kurang ajar..."
----------
"Heaaah!!"
"Guhhk!!"
"Uoohh!!"
"Syaahahahahaa!!"
Keroyokan. Cara mereka menang sangat jelas, lengkap dengan pisau-pisau perak yang menjadi satu-satunya senjata ampuh untuk menghadapi jejadian sepertiku. Setidaknya tujuh goresan tertoreh di badanku. Aku berlutut dikepung, hampir ambruk. Hanya pisau pendek yang ukurannya tidak mengalahkan telapak tanganku, tetapi rasanya seperti diiris masuk hingga ke bagian dalam tubuhku. Kakiku gemetaran bangkit. Baru saja aku mendapatkan posisi prima untuk berdiri dan ular itu menghancurkannya dengan memakai ujung ekornya untuk mencambukku di wajah. Kedua orang yang menemaninya melanjutkan dengan menghajarku. Seringkali aku terhempas membentur batang pohon. Kesrakan kakiku membuat rumput berantakan di mana-mana. "Kalau asli seekor Lycan, pasti aku sudah mati pada saat kau menerkamku. Rupanya kau memang payah dan belum terbiasa dengan badan itu," Sathra menyeloteh.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Tuan?" Kerisa menambahkan.
"Senang-senang sudah selesai. Penggal lehernya lalu akan kuperintahkan untuk menarik orang-orang kita yang sedang mencarinya di Kota Asrija. Kematiannya akan membalaskan dendam kita atas Kakek Wa."
...Hah!?
"Sudah kuperintahkan untuk membakar kota itu jika mereka tidak menemukannya. Aku membayangkan ada lautan api di sana ketika aku menengok," dia terkekeh. Kala tatapannya menemukan sosok yang menyendiri, memojok dengan gelisah mengamati penyergapan ini, dia menyahut memanggilnya. "Vefariu? Oh! Murid Gailaz, rupanya? Apa yang kaulakukan di sini?"
Ku...
"Tuan Sathra..." Vefariu menjawab malu, perlahan-lahan berjalan mendekat.
"Gailaz membuangmu, ya? Sebenarnya apa yang terjadi?"
...Kurang ajar!!
Brunus! Luuni! Tuan Kara! Apa yang terjadi pada mereka sekarang??
"Wuaaahh!?"
Kheh!! Mereka terkejut melihatku kembali bangkit. Kurang ajar! Kota Asrija, katanya? Aku menggeram mengepalkan kedua tanganku setelah berhasil melempar Jeneka dengan satu pukulan punggung tangan. Aku berhasil mendapatkan posisi tegap berdiri. Bukan! Tidak benar-benar begitu. Ada darah yang mengalir dari taringku. Aku menahan perak yang melukai tubuhku tadi. Itu masih sakit. "Apa yang kaulakukan pada Jeneka!?"
"Huwaaaarrrrr!!"
Tak hanya kujawab teriakan Kerisa dengan bentakanku, aku menyambutnya yang menghunuskan pisau peraknya dengan satu hantaman yang ampuh mendorongnya hingga terlempar. Sathra langsung beranjak menghadangku dengan menggendong Vefariu di punggungnya. "Minggir!!" Semata-mata untuk melampiaskan amarahku karena mereka membakar Kota Asrija. Aku tahu gertakan takkan ampuh, apalagi fisiknya memiliki ukuran yang berlipat-lipat lebih besar dariku. "Rupanya itu membuatmu marah, yaa?" Mimik wajahnya yang tadi tenang kembali kacau. Senyuman mengerikan terpasang, seakan semangatnya penuh tiba-tiba. "Kalau kau sudah menjadi Lycan, mari bertarung!!"
"Fhraaaaaahh!!"
Dia melesat dengan kecepatan penuh mendatangiku dan menajamkan kuku-kuku tangannya. "Tuan Sathra, awas!" Vefariu menjerit.
"Shyaahahahahaaa!!"
Enak saja!
"Whuaaaaahhh!!"
Melompat!! Tanganku kukibaskan dengan cakar tersiap, dan dengan kekuatanku itulah aku memotong sebelah tangannya. "Hrrryyaaaaahh!!" Kuteruskan lompatanku tadi. Aku langsung berlari meninggalkan orang-orang itu. Buang-buang waktu kalau aku meladeni mereka. Dia kuat. Dan kalau kulihat dari bagaimana cara dia menyembuhkan bekas gigitanku, tangan kanannya yang kupotong pasti akan tumbuh kembali. Bah! Persetan dengan jejadian itu!
Pelan karena aku menjauhinya, tetapi aku sempat mendengar Sathra berteriak, "Sudah terlambat, Lycan! Kau akan menemukan tempat itu menjadi arang ketika kau sampai!!" Hanya saja aku membuangnya dari telingaku karena harapanku -- tentu saja, berkata sebaliknya.
Nyeri tusukan itu kembali berkedut di bahu dan pinggangku. Gah!! Saking perih efek perak itu, mengaburkan sorot mataku. Dengan kecepatanku berlari, semak-semak dan batang pohon yang kulewati hanya terlihat seperti siluet hitam. Tak ayal, seringkali aku tersandung dan ketika aku bangkit kembali, langkahku tidak segesit sebelumnya. Kekuatanku lama kelamaan menurun. Kubentengi perjuanganku untuk kembali menengok Kota Asrija dari rasa sakit itu dengan menyebut-nyebut mereka yang kukhawatirkan. Sesekali aku menggebuk batang pohon di dekatku sebelum aku terus berjalan.
"...Oh!!"
Cahaya jingga kekuningan nampak di ujung pandanganku. Di atasnya, asap hitam mengepul, membentuk seperti ekor di udara. Melihatnya, mulutku terbuka tanpa kuhendaki. Tubuhku kebas begitu saja. Dan mataku kubuka lebar-lebar. Entah dari mana, aku mendapatkan sedikit kekuatan -- hanya untuk berlari melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Uwaaaaaaaahhhh!!"
Bunga api terlihat mekar dari arah Kota Asrija.
dikirim faraj_ibym_vajra 11 minggu 6 hari yang laluTag:








