KEHIDUPAN YANG FANA, SEBUAH KAJIAN HERMENEUTIK PADA PUISI TIGA TANGKAI BUNGA KARYA ADRIAN ACHYAR
KEHIDUPAN YANG FANA SEBUAH KAJIAN HERMENEUTIK PADA PUISI TIGA TANGKAI BUNGA KARYA ADRIAN ACHYAR
Oleh: Sefryana Khairil
Tiga Tangkai Bunga Teks asli: The Three Flowers (diterjemahkan oleh Adrian Achyar dan Sefryana Khairil)
Berdiri di beranda Lantai dua rumahku Melihat atap-atap rumah Angin sejuk menyapu wajahku
Orang-orang berjalan Pedagang berkeliling Orang dewasa berbincang Anak-anak bermain Ah! Alangkah indahnya hidup ini
Matahari bersinar Cahaya hangat menyusup Cahaya lembut menerpa pohon-pohon Menerpa daun-daun rindang Menerpa bunga-bunga dalam jambangan Menerpa bunga-bunga Tiga tangkai bunga
Bunga-bunga ungu itu Daun-daun hijau Tangkai cokelat Sebuah panorama indah Ciptaan yang begitu sempurna
Semua akan menghilang Mahkota ungu akan gugur Daun-daun akan layu Tangkai cokelat akan patah Semua akan jatuh ke tanah Menjadi debu Ketika aku menatap tiga tangkai bunga itu Sebuah pikiran melintas dalam pikiranku Alangkah fananya dunia ini
I. PENDAHULUAN
Kehidupan Yang Fana
Manusia dan makhluk hidup lain diciptakan Tuhan untuk hidup, tumbuh, berkembang biak, serta beribadah kepada-Nya. Manusia –khususnya— sebagai makhluk hidup yang paling sempurna karena diberikan akal dan perasaan, dapat berpikir bagaimana menikmati hidup yang begitu singkat, karena seperti yang kita tahu, kita akan kembali pada-Nya. Semua hanya soal waktu.
Cara menikmati hidup manusia berbeda-beda. Ada yang dengan bekerja, belajar dan lain-lain. Manusia berusaha mencari cara untuk mengisi kehidupannya. Meskipun demikian, banyak orang yang tidak mengerti apa arti hidup sebenarnya sehingga mereka hanya membuang-buang waktu yang singkat untuk sesuatu yang tidak berguna. Semua akan kembali pada-Nya. Segala keindahan, segala harta, segalanya. Tidak tersisa satu pun.
Adapun puisi Tiga Tangkai Bunga karya Adrian Achyar, Tiga Tangkai Bunga digambarkan sebagai kehidupan yang fana. Tujuan tulisan ini adalah menjelaskan bagaimana analisis teks sastra yaitu puisi Tiga Tangkai Bunga karya Adrian Achyar menurut pandangan hermeneutik. Di dalam tulisan ini akan dibahas prinsip-prinsip dasarnya dan penulis menerapkannya pada karya sastra tersebut. Karya sastra ini dipilih karena penulis tertarik kepada puisi ini terutama analogi kehidupan dengan Tiga Tangkai Bunga.
II. LANDASAN TEORI
1. Hakikat Hermeneutik
Para ilmuan dalam mendefinisikan hermeneutik, mempunyai definisi yang berbeda-beda. Dan kita tidak dapat menemukan satu definisi yang menyeluruh yang mewakili definisi-defini mereka serta bersifat meliputi.Namun kita dapat mengambil suatu definisi yang memiliki kedekatan dan kesamaan di antara definisi-definisi yang ada: Hermeneutik adalah ilmu yang berhubungan dengan penjelasan kebagaimanaan dan keharmonian pamahaman manusia, apakah itu berhubungan dengan batas pemahaman terhadap teks tertulis, ataukah secara mutlak aktivitas-aktivitas kehendak dan pilihan manusia atau mutlak realitas-realitas eksistensi.
Akar kata "hermeneutik" dalam fi'il Yunani "hermeneuein" bermakna menakwilkan (menafsirkan) dan dalam bentuk nomina "hermeneid" bermaka takwil (tafsir).Dalam karya Aristoteles dijumpai kata peri hermeneids yang menyangkut pembahasan proposisi-proposisi dan kemudian dihubungkan dengan takwil.Kata ini dalam bentuk isim juga dijumpai dalam teodhisi udipus di kulunus dan juga dalam karya-karya Plato.Kedua kata "hermeneuein" dan "hermeneid" ini di nisbahkan pada Tuhan pembawa pesan yunani bernama "Hermes" dan secara lahiriah kata tersebut diambil darinya, dan mungkin juga sebaliknya.Nama Hermes berhubungan dengan tugas mengganti apa yang di atas pemahaman manusia ke dalam suatu bentuk di mana fikiran dan akal manusia dapat memahaminya.
Orang-orang Yunani menghubungkan penemuan bahasa dan tulisan pada Hermes, yakni dua hal tersebut (bahasa dan tulisan) merupakan alat bagi manusia untuk memahami makna-makna dan memindahkan pada orang lain.Oleh sebab itu, asas dan sumber kata hermeneutik mengandung aktivitas pada pemahaman, secara khusus aktivitas yang merupakan kemestian dari bahasa, sebab itu bahasa adalah perantara semua ukuran aktivitas ini.Aktivitas perantara dan pemahaman "pesan" atau "berita" sudah mencitrakan nama Hermes, dan ini mempunya tiga aspek penting:
1.Menjelaskan kalimat-kalimat dengan suara keras yakni berkata atau berucap.
2.Menjelaskan dan menguraikan agar dapat terpahami dan disertai dengan argumen-argumen.
3. Menjelaskan seperti penerjemahan dari bahasa asing.
Ketiga aspek di atas bisa diartikan dalam bahasa inggris dengan fi'il "to interpret". Oleh karena itu, kata hermeneutic atau takwil mempunyai tiga aspek yang berbeda:
-Berkata
-Menjelaskan agar dapat dipahami
-Menerjemahkan
Dan ketiga tugas di atas oleh orang-orang Yunani dihubungkan dengan Hermes.
"Berkata lebih kuat daripada tulisan, sebab di dalam berkata terdapat kekuatan hidup makna-makna, yang dalam tulisan kekuatan tersebut bisa menjadi hilang."
Para ilmuan dalam mendefinisikan hermeneutik, mempunyai definisi yang berbeda-beda. Dan kita tidak dapat menemukan satu definisi yang menyeluruh yang mewakili definisi-defini mereka serta bersifat meliputi. Namun kita dapat mengambil suatu definisi yang memiliki kedekatan dan kesamaan di antara definisi-definisi yang ada: Hermeneutik adalah ilmu yang berhubungan dengan penjelasan kebagaimanaan dan keharmonian pamahaman manusia, apakah itu berhubungan dengan batas pemahaman terhadap teks tertulis, ataukah secara mutlak aktivitas-aktivitas kehendak dan pilihan manusia atau mutlak realitas-realitas eksistensi.
Paul Richor mendefinisikan hermeneutik: "Teori aktivitas pemahaman yang berhubungan dengan interpretasi teks."Antony Kerbooy, hermeneutik adalah ilmu atau teori penakwilan.Andrew Bovy, hermeneutik adalah keahlian interpretasi.
Richard Polmer berpendapat bahwa defenisi-defenisi hermeneutik dapat disatukan meskipun memiliki sudut-sudut yang berbeda. Pandangan ini diutarakannya setelah ia mengungkap enam macam definisi hermeneutik.
Keenam definisi tersebut:
1. Hermeneutik adalah teori penafsiran kitab suci (definisi yang paling tua);
2. Hermeneutik adalah ilmu yang berposisi sebagai metodologi umum bahasa (zaman renaisains);
3. Hermeneutik adalah ilmu setiap bentuk pemahaman bahasa (Schleiermacher);
4. Hermeneutik adalah dasar epistemologi untuk ilmu-ilmu humaniora (Wilhelm Dilthey);
5. Hermeneutik adalah fenomena eksistensi dan fenomena pemahaman eksistensi (Martin Heidegger);
6. Hermeneutik adalah sistem-sistem interpretasi (Paul Richoer).
Dan pada akhirnya Richard Polmer juga mendefinisikan hermeneutik sebagai studi pemahaman dan secara spesifik pemehaman teks.
2. Teori-teori Hermeneutik
1. Frederic Ernest Schleier Macher (1768-1834) Teolog, sastrawan dan penerjemah karya-karya Plato.
Teori hermeneutik Schleier Macher didasari dengan pandangan filsafat dan Gnosis dimana secara umum menjelaskan metode tafsir teks. Dan teori ini tidak membatasi diri pada tafsiran teks tua dan teks kitab suci. Dia dengan mengganti pemahaman pada aturan hermeneutik untuk pemahaman kitab suci, tidak meyakini doktrin-doktrin gereja, dan menganggap metode hermeneutiknya universal dan menyeluruh. Schleiermacher hidup di zaman di mana dua aliran filsafat, yaitu filsafat romantik dan filsafat kritik Kant berkembang; sebab itu hermeneutik ia tercampur dengan dua aliran filsafat tersebut. Maka dari itu hermeneutik ini memiliki penekanan pada aspek kondisi-kondisi kejiwaan dan emosional penyusun dan juga memiliki aspek kritik. Dia punya harapan meletakkan kaidah-kaidah universal untuk pemahaman sebagaimana Kant sebelumnya terhadap epistimologi dan penelitian keagamaan mengungkapkan kaidah universal.
Schleiermacher mengungkap dua teori penafsiran, yakni "Grammatical" (nahwu) dan "Technical" (Psychological) untuk menopang dasar-dasar hermeneutiknya.Tafsir grammatical memperhatikan aspek-aspek kekhususan perkataan dan keanekaragaman kalimat-kalimat serta bentuk bahasa dan budaya dimana penyusun hidup dan membuat pikiran penulis terpengaruhi. Sedangkan tafsir technical atau Psichological terselip aspek aliran individu (subyetifitas) dalam pesan penyusun dan corak pikiran tulisan ia. Dengan kata lain setiap penjelasan (perkataan atau tulisan ) harus merupakan bagian dari sistem bahasa, dan untuk memahaminya tanpa mengenal sistem ini tidaklah mungkin. Tetapi penjelasan itu juga mempunyai dimensi insani dan harus dipahami dalam teks kehidupan orang yang memiliki kehendak tersebut.
Dalam tafsir grammatical terdapat dua unsur penting:
Pertama, yang dianggap sebagai takwil dalam suatu perkataan yakni apa yang berkembang dalam ilmu bahasa (pengetahuan bahasa) yang sama di antara penyusun dengan pembaca. Kedua, makna setiap kata dalam suatu kalimat diketahui dari hubungan kata tersebut degan kata-kata lain dalam kalimat tersebut.
Yang pertama memungkinkan hubungan penyusun dengan pembaca dan yang kedua memperjelas hubungan dalam sistem bahasa. Adapun tafsir technical meliputi metode Syuhûdi (penyaksian) dan qiyâsi (perbandingan). Metode syuhudi membimbing si penafsir menduduki posisi penyusun sehingga dia dapat memperoleh kondisi-kondisi penyusun. Metode qiyâsi membawa si penyusun sebagai bahagian dari keseluruhan, dan kemudian sesudah membandingkan penyusun tersebut dengan penyusun-penyusun lainnya (keseluruhan) menghadirkan spesifikasi-spesifikasi yang berbeda dengan yang lainnya. Kepribadian seseorang hanya bisa diperoleh dengan cara membandingkan perbedaan-perbedaannya dengan yang lain.
Schleiermacher tidak meyakini unsur niat penyusun sebagaimana pandangan Cladinus, dan berpendapat bahwa penyusun apa yang ia buat, ia tidak mengetahuinya, dan senantiasa ia tidak mengetahui dimensi-dimensi yang beraneka ragam dari yang dibuatnya. Pengetahuan si penakwil dari si penyusun lebih besar ketimbang pengenalan si penyusun dari dirinya. Dia menggantikan keseluruhan kehidupan penyusun dengan mafhum (pemahaman) niat penyusun, sebab karya seni memperlihatkan dari keseluruhan kehidupan penyusun tidak hanya niat penyusun pada waktu khusus berkarya. Di sini terlihat Schleier Macher terpengaruh dengan konsep Frued "alam bawah sadar".Dia menghakimi bahwa teks mempunyai makna akhir, asli dan pasti, dan berpandangan bahwa setiap kata dalam setiap kalimat mempunyai satu makna dimana makna tersebut adalah mendasar serta dia mengingkari suatu teks dapat ditakwilkan dari beberapa sudut pandang.
Schleiermacher berpandangan bahwa untuk mengenal ucapan seseorang harus mengenal seluruh kehidupannya, dan dari sisi lain untuk mengenal dia harus mengenal pembicaraannya.
2. Wilhelm Dilthey (1833-1912)
Dia berpendapat bahwa tugas seorang ahli hermeneutik melakukan analisis filsafat dan perubahan pemahaman serta takwil dalam ilmu-ilmu humaniora. Dia punya anggapan bahwa kehidupan itu adalah suatu mafhum (komprehensi) metafisika, kehidupan adalah suatu kekuatan yang menjelaskan keinginan-keinginan perasaan (emosi) dan ruh, dan ini dipahami dengan pengalaman. Dia berkata: kehidupan adalah suatu rentetan berkesinambungan dan yang lewat menyambungkan yang sekarang; dan horizon masa datang menggiring kita ke arahnya.
Dilthry dengan mengutarakan metode logikanya dalam ilmu-ilmu humaniora mengambil langkah baru dalam hermeneutik dan takwil teks dan dengan perhatian terhadap kekhususan jiwa penyusun dan penyebaran sejarahnya, dia mengutarakan pandangan-pandangan baru dalam hal ini. Menurut ia takwil digunakan ketika kita menginginkan sesuatu yang asing dan tidak diketahui dengan cara faktor-faktor yang diketahui. Oleh sebab itu jika seseorang, seluruh bentuk-bentuk kehidupan baginya asing dan tidak diketahuinya atau secara mutlak dia tahu, maka dia tidak butuh pada takwil.
Dia melihat bahwa kata itu adalah hasil kontrak sebagaimana teriakan itu muncul dari rasa sakit sebagai alamat natural.Dilthey berpendapat ukuran dasar makna dalam teks adalah niat penyusun dan bahkan makna teks itu menyatu dengan niat rasional penyusun. Dia berkata: seni berasal dari kehendak dan manfaat serta niat seniman dan tidak berpisah dari seniman, dan takwil adalah media untuk mengetahui niat ini. Dan dia menganggap bahwa teks itu merupakan manifestasi kehidupan dan secara nyata merupakan kehidupan ruh dan jiwa si penyusun.
Dia sebagaimana Schleier Macher, penafsir harus mendekatkan dirinya terhadap unsur penyusun bukan penyusun dan karyanya dikembalikan pada zamannya. Dan dengan hal ini, pengetahuan si penakwil terhadap perkataan penyusun lebih sempurna dihubungkan dengan penyusun sendiri. Oleh sebab itu Dilthry berpandangan bahwa hermeneutik bertujuan mengetahui lebih sempurna dari penyusun dari karyanya dimana si penyusun tidak mendapat pengetahuan itu sebelumnya. Dia juga berpendapat tentang kemungkinan menyingkap makna akhir suatu teks. Menurutnya tujuan penakwil menghilangkan jarak zaman dan sejarah antara dia dan penyusun dan syarat terciptanya itu melewatkan seluruh asumsi-asumsi dari zaman kekinian dan mecapai horizon pemikiran-pemikiran penyusun dan melepaskan seluruh ikatan-ikatan dan beban sejarah kekinian dan fanatisme serta asumsi-asumsi.
3. Hans Lacory Gadamer ( Polandia 1901, murid Haddegger karyanya Truth and method).
Hermeneutik Gadamer berhubungan dengan hermeneutik filsafat, hermeneutiknya sendiri merupakan upaya penggabungan pemikiran antara Heidegger dengan Dilthey.
a. Gadamer seperti Ludwig witgenstein salah satu dari tujuan hermeneutik adalah hubungan antara "pemahaman" dan praktek, dalam arti pemahaman bertumpu pada batasan makna khusus. Menurutnya pemahaman dan praktek tidak bisa berpisah satu sama lain.
b. Hermeneutik Gadamer lahir dari dasar pengetahuan ia bahwa hakikat mempunyai batin dan kisi-kisi, dan untuk memperolehnya harus dengan cara dialog. Menurutnya ukuran kebenaran bukanlah kesesuaian antara konsepsi dengan realitas (prinsipalitas realitas) dan bukan juga penyaksian bidahat dzati konsepsi (pengetahuan fitri mazhab Descartes), tetapi kebenaran adalah kesadaran antara partikular dan bagian-bagian serta keseluruhan.
c. Gadamer mengikuti Heidegger bahwa interpretasi selalu diawali dengan asumsi dan hipotesis, pandangan dan budaya. Interpretasi adalah sebuah pra pemahaman sejarah dan berkaitan erat dengan nilai-nilai tradisional, yakni mengasumsikan horizon intelektual yang melatarbelakangi asumsi dan hipotesis tidak menghalangi pemahaman, bahkan sebagai pra syarat yang menunjang.
Oleh sebab itu, setiap penafsiran berakhir pada fusi antara horizon masa lalu dan sekarang, atau antara horizon penafsir dengan horizon teks. Interpretasi menghasilkan keseimbangan tetap, tidak akan ada interpretasi yang absolut dan akhir, We can not be sure that our interpretation is correct or better than previous interpretations.
d. Gadamer, dengan memanfaatkan pasilitas teori-teori Plato dan Aristoteles, meyakini bahwa dalam peristiwa penting hermeneutik harus dilakukan proses dialog dengan suatu teks dan seperti proses dialog di antara dua orang, dan dialog tersebut dilakukan secara kontinuitas sampai mencapai kesepakatan di antara keduanya. Dia dalam menjelaskan proses interpretasi, meyakini bahwa setiap pemahaman adalah suatu penafsiran; sebab setiap pemahaman dalam kondisi khusus mempunyai akar; maka dari itu ia adalah manifestasi khusus dari suatu pandangan. Tidak satupun pandangan yang bersifat mutlak yang dapat ditinjau darinya seluruh manifestasi-manifestasi yang dimungkinkan. Tafsir secara dharuri adalah suatu proses sejarah; tetapi ia tidak hanya pengulangan masa silam; akan tetapi mempunyai kebersamaan dengan makna kekinian. Dari tinjauan ini maka "pandangan terdapat satu macam penafsiran yang sahih", adalah suatu dugaan yang batil. Menurut pandangan Gadamer, tafsir satu teks tidak dapat membatasi observasi maksud penyusun atau memahami zaman penyusun; sebab teks, bukanlah manifestasi dari kondisi rasionalitas penyusun; akan tetapi hanya dengan berasaskan dialog antara si penafsir dan teks eksistensi, akan diperoleh realitas dari itu.
4. Teori Hermeneutik Ricouer
Paul Ricocur menempatkan teks pada tempat yang sentral. Hal yang menonjol pada hermeneutik ialah pengertian bahwa teks pada dasarnya polisemis, sehingga tidak hanya memiliki satu makna. Jadi, maknanya tergantung pada faktor-faktor yang membangun teks seperti terdapat pada bagan berikut:A
Jadi, analisis hermenutik menggunakan teori Ricouer harus terlihat pada proses analisis, yaitu:
(1) Makna unsur-unsur pembentuk teks (bahasa)
(2) Makna teks bedasarkan latar belakang pemroduksi teks
(3) Makna teks bedasarkan lingkungan teks
(4) Makna teks berkaitan dengan teks lain
(5) Makna teks bedasarkan dialog teks dengan pembaca
III. ANALISIS DENGAN TEORI RICOUER Analisis Hermeneutik pada puisi Tiga Tangkai Bunga karya Adrian Achyar
1. Segi Makna Unsur Teks (Bahasa)
Untuk mengerti hermeneutik pada puisi ini, penulis mengambil sampel acak dari puisi ini, yaitu:
Kelompok I
Berdiri di beranda
Lantai dua rumahku
Melihat atap-atap rumah
Angin sejuk menyapu wajahku
Kelompok II
Orang-orang berjalan
Pedagang berkeliling
Orang dewasa berbincang
Anak-anak bermain
Ah! Alangkah indahnya hidup ini
Kelompok III
Matahari bersinar
Cahaya hangat menyusup
Cahaya lembut menerpa pohon-pohon
Menerpa daun-daun rindang
Menerpa bunga-bunga dalam jambangan
Menerpa bunga-bunga
Tiga tangkai bunga
Kelompok IV
Bunga-bunga ungu itu
Daun-daun hijau
Tangkai cokelat
Sebuah panorama indah
Ciptaan yang begitu sempurna
Kelompok V
Semua akan menghilang
Mahkota ungu akan gugur
Daun-daun akan layu
Tangkai cokelat akan patah
Semua akan jatuh ke tanah
Menjadi debu
Ketika aku menatap tiga tangkai bunga itu
Sebuah pikiran melintas dalam pikiranku
Alangkah fananya dunia ini
Dari kelima sampel tersebut, dapat kita ambil kata kunci sebagai berikut:
Kelompok I : Aku dalam puisi ini bersyukur akan hidupnya pada Tuhan atas hidupnya.
Kelompok II : Sebab dilihatnya dunia ini begitu indah dan manusia-manusia begitu menikmati keindahan yang diciptakan tersebut.
Kelompok III : Keindahan alam yang terlihat pada tiga tangkai bunga sebagai wujud dari sebuah kehidupan.
Kelompok IV : Bagaimana makhluk hidup itu tercipta, lahir, bernafas, tumbuh dan berkembang
Kelompok V : Namun semua akan kembali pada-Nya
Pengelompokan ini didasarkan pada bagaimana aku menikmati kehidupan ini dan berusaha untuk menikmati hidupnya. Memandangi segala keindahan yang diciptakan Tuhan.
2. Segi Latar Belakang Pemproduksi Teks
Penulis puisi ini adalah Adrian Achyar, pengajar di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Ia menulis puisi dan cerita dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Beberapa tulisannya ia posting di Komunitas Penulis Indonesia, Kemudian.com dan banyak di antaranya menjadi puisi-puisi terbaik. Adrian Achyar pernah memenangkan lomba juara I lomba menyambung cerita majalah Intisari tahun 2000. Ia banyak menulis tentang kehidupan, agama dan filsafat. Begitipun tujuan Adrian Achyar dalam menulis Tiga Tangkai Bunga adalah untuk menceritakan tentang kehidupan. Tiga Tangkai Bunga adalah wujud dari sebuah kehidupan yang fana, yang tumbuh, mekar, berkembang, lalu layu.
3. Segi Lingkungan Teks
Lingkungan teks pada puisi ini cukup banyak karena yang diketengahkan oleh Adrian Achyar tidak hanya sebuah puisi tentang bunga, melainkan juga tentang kehidupan. Bagaimana makhluk hidup itu lahir, tumbuh, dewasa, dan akhirnya mati.
Penulis memfokuskan pada tiga tangkai bunga krena penulis menganggap persoalan kehidupan sungguh kompleks dan banyak makna yang terkandung di dalamnya.
4. Segi Kaitan Dengan Teks Lain
(saya belum sempat membandingkan)
5. Segi Dialog dengan Pembaca
Menurut saya, puisi ini memberikan penjelasan tentang Tiga Tangkai Bunga yang dihubungkan dengan persoalan kehidupan.
Dan memberi makna lain pada kehidupan dan cara manusia memandang hidup yang begitu fana.
Daftar Pustaka Ratna, Nyoman Kutha. 2006. Teori, Metode, dan Tekhnik
Penelitian Sastra.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
http://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika
Donny Gahral Adian. 2002. Pilar-Pilar Filsafat Kontemporer. Jogjakarta : Jalasutra
Sumaryono, E.1995. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius








lebih mirip tugas kuliah. menurutku, sebuah kajian/telaah/resensi/esai itu harus mudah dipahami oleh setiap kalangan (secara ini diposting di forum umum) dan kehadiran penjabaran teori tanpa diconvert dalam bahasa keseharian cukup mengganggu (atau mungkin untuk saya saja?).
akhir akhir ini saya baca buku Epifenomenon nya Agus B.S. dan heck! Saya yang dudulz dan hijau sastra sama sekali tidak bisa menikmati. Penuh kata kata alien di setiap kalimat-kalimatnya yang harus saya telusuri dengan kamus kamus online. Terlalu lokal, menurut saya. yang bisa mengerti ya dirinya, orang-orang yang studi dalam bidang yang sama dengannya, orang yang kapasitas pengetahuannya sama dengannya, et ce te ra
atau memang sastra harus selalu tampil eksklusif dan berkesan berat?
Eniwei ... carry on ...
miss worm's blog : pieces
click here and grab Orange from online book store
miss worm's blog: pieces
Mbak sefry bisa lebih di sederhakan gak?
ini seperti membaca proposal karya ilmiah.
salam dari si pecinta ungu
http://crystalistgita.blogspot.com/
http://crystalistgitakata.blogspot.com/
Salam Si Pecinta Ungu
http://crystalistgita.blogspot.com
http://crystalistgitakata.blogspot.com
Hermeneutika, ho... sepertinya ini bukan bahasan baru lagi. kalo mau ngebahas yang seperti ini tentu saya sangat tertarik, tapi... apanya yang mau dibahas atuh paak.
relevansi, validitas, atau aplikasinya seeh. soale aku sering denger kalau hermeneutika itu, menurut kalangan tertentu semacam JIL boleh dipandang sebagai alat. tapi aku juga tahu kalau hermeneutika bukan hanya berheti pada alat, tapi melainkan metode dan metodologi itu sendiri. kajian sejarah juga banyak berhutang budi pada konsep hermeneutika sementara ia sendiri hanya diberhentikan sampai pada ranah wacana saja.
tapi... kenapa gak ngelirik majalah Islamia aja sih supaya pertukaran pendapat bisa lebih memuaskan dan lebih berkembang. kalo di sini rasanya... gimana... gitu
kayaknya bahasannya bakal sepi dong...
http://Heartreaper7.blogspot.com
http://Heartreaper7.blogspot.com
Awalnya aku menikmati, di tengah2 aku mengantuk..huhuhu. seperti kata windry, mungkin resensi ini bisa dibuat sesederhana mungkin bahasanya supaya orang awam pun bisa menikmati...kebetulan aku termasuk orang awam itu..=P
menurutku topiknya uda bagus, tinggal balutan bahasanya yg disesuaikan...^^
Prens read my short story & my poems and give ur comment yaaa
Part of Mine
Bner2.... Terlalu berat buat kita2 yang suka baca crita santai di kemudian. hehehe.
tetep sefry n adrian adlh duet maut favoritku di k.com
sukses dah bwt kalian berdua!!
Haduh...bacanya malah jadi tambah bingung...
Love is Like Heaven and Hell
Love is Like Heaven and Hell
Other side
bukannya mau nyalahhin c cuma bahasanya terlalu berat deh n kayak bikin makalah gitu..
gak tau tadi dah berapa kali aku nguap ( sorryyyyy....)
puisinya sih bagus!!!!
tapi ko kaya bikin karya tulis ya ad pendahuluan!!!
kata-katanya yang agak ringan dung biar mudah dimengerti