Pengamen

Petikan gitar melantun di salah satu bus kota yang ngetem di sebuah halte. Lantunan lagu yang mengiringnya pun tak kalah indah. Senyumnya pun menebar ke seluruh penjuru bus yang sumpek. 2 lagu sudah diselesaikannya, kini giliran dia mengeluarkan sebuah kantung bekas permen dan meminta kepada setiap penumpang.

"Ya, terima kasih atas perhatiannya. Semoga selamat samapi tujuan, dan sebelum turun harap diperiksa kembali isi tasnya. Terima kasih" ia memulainya dari depan.

Satu pekerjaan kini sudah selesai, dan ia akan bersiap-siap untuk naik bis berikutnya. Begitulah pekerjaannya sehari-hari, tak berubah sedikitpun. Didengarnya suara adzan Dzuhur berkumandang, segera ia langkahkan kainya menuju masjid terdekat. Terik matahari yang bersinar, semakin membuat penatnya kota Jakarta saat itu. Lalu lalang kendaraan dengan bergerumulnya asap knalpot membuat sesak di dada. Tenggorokan yang juga sudah hampir mengering, tetap ia tahan demi berjalannya puasa hari ini. Sesampainya di masjid, ia letakkan gitar kesayangan untuk bersandar di dinding masjid dan ia berlalu menuju tempat ambil wudhu.

“Segaaarrr...” ucapnya dalam hati saat ia mulai membasuh wajahnya yang bermandikan keringat itu. “Astaghfirullah, gw kan lagi puasa kok malah mikirin ginian sih...” timpalnya lagi dalam hati. Ia menyegerakan wudhunya untuk segera melakukan shalat berjamaah yang sudah terdengar iqamat. Setelah shalat, ia berniat untuk kembali melakukan aktivitasnya. Ia berhentikan sebuah bus patas yang menuju Blok M, ia dendangkan lagu Opick yang berjudul Taubat dengan merdunya dan khusyuk.

Usai menyelesaikan lagunya, ia harus pindah ke bus lain. Saat hendak turun bus, sebuah motor melaju dengan cepatnya, kaki yang baru saja ia langkahkan keluar harus ikut terseret motor tersebut, gitar yang tadi ada di genggamannya pun sudah terlepas. Orang-orang yang melihatnya, hanya bisa terkejut dan meneriaki si pengendara motor untuk berhenti. Darah bercucuran dari kepalnya yang terbentur aspal, ia lemas tapi tetap berusaha melepaskan kakinya dari motor itu. Sampai motor itu terhentipun belum juga kakinya terlepas. Semua orang membantu melepaskan karena nafasnya sudah tersengal-sengal. Pendarahan hebat membuat badannya semakin lemas, tubuhnya lecet-lecet tergores aspal. Hingga...

“Laa Ilaaha Illallah...” nafas terakhir ia hembuskan, ia meregang nyawa dalam kejadian itu. Orang-orang sekeliling yang tak mengenalnya hanya bisa berpasrah dan menyerahkan si pengendara motor ke kantor polisi terdekat dan mengantarkan mayat pengamen itu ke rumah sakit.

Rating

29
points
Views: 29 reads
Comments: 5
Rating:
48.3333

Favorites

You have to login to access this feature click here

Flag

You have to login to access this feature click here
reach_dreamy's picture
reach_dreamy at Re: Pengamen (16 weeks 7 hours yang lalu)
50

Smile good story

iniAku's picture
iniAku at Re: Pengamen (16 weeks 16 hours yang lalu)
20

Gambaran kerasnya kehidupan di Jakarta. Tapi Hebat Banget kalo ada yang masih megang teguh imannya kayak gini.

shutupandkissme's picture
shutupandkissme at Re: Pengamen (16 weeks 18 hours yang lalu)
80

Merinding..

numpang promo : Teater Malam & Airmata

buayadayat's picture
buayadayat at Re: Pengamen (16 weeks 19 hours yang lalu)
70

lagi, ide yg relatif berat coba kaupadatkan.. terutama di akhir2..
hingga dramatisasi siapa si pengamen tak begitu kudapat hingga simpati yg kuberi tak begitu kuat..

indri_ast04's picture
indri_ast04 at Re: Pengamen (16 weeks 19 hours yang lalu)
70

good