Di persimpangan itu aku berdiri. Menunggu pemberangkatan untuk sebuah perjalanan, yang aku sendiri kurang mengerti.
Read more (3238 words)
Aku sedang menunggu sebuah tumpangan. Akan ke manakah tujuanku? Aku sama sekali belum menyadari setiap perjalanan-perjalanan ini. Mungkin, karena alam bawah sadarku terbentuk dari seluruh peristiwa-peristiwa yang dialami orang lain, baik yang dilihat, didengar maupun di dan tersugesti, yang telah terekam sebagai sebuah motivasi untuk menjalani hidup, tanpa menyadari ada hal yang lebih penting dari itu. Aku hanya melakukan pengulangan-pengulangan tindakan dari peristiwa yang dilakukan orang lain.
Aku hanya akan berangkat, beranjak dari kondisi kehidupan saat itu.
Yah! Saat itu. Saat di mana aku tidak menyadari satu hal yang terpenting dalam kehidupan. Saat di mana aku tidak mendapatkan pembelajaran dan pemahaman tentang satu hal itu. Saat di mana satu hal itu kurang aku hargainya. Saat di mana aku hanya menyadari usiaku bertambah ketika berada di bulan kelahiranku saja - aku terlalu pongah dengan egoisme diri yang sedang memuncak. Saat dimana satu hal itu sebenarnya membawa alam kepada segala perubahan nyata di dunia ini. Saat di mana satu hal itu tidak bisa di putar balikkan – tetapi efek penemuan dan keilmuan membuat orang berimajinasi terhadapnya. Satu hal itulah yang sebenarnya telah membawaku beranjak dan akan terus beranjak lalu itulah pemberangkatan dan perjalanan.
Satu hal itu relatif dari berbagai macam perspektif dalam ruang. Secara kuantitas dia adalah faktor yang sangat mencukupi, tetapi dia membatasi dirinya sendiri agar dia menjadi sesuatu yang essensial, sehingga dia membuat dirinya langka bagi kehidupan ini. Secara kualitas dia adalah nol, karena kualitasnya hanya ditentukan pada orang-orang yang memakainya.
Satu hal itu adalah waktu. Hanya waktulah yang membuat keberangkatkanku dari setiap kondisi-kondisi saat itu - dalam sepenggal, sebidang, seruang dan senafas kehidupanku – ke kondisi-kondisi kehidupanku saat ini dan masa yang akan datang. Bukan cita-cita yang akan memberangkatkanku, bukan pula impian, apalagi mimpi. Apalah artinya semua itu tanpa waktu. Tanpa waktu yang ada hanya kematian.
Kenapa harus waktu? Padahal dia tidak berwujud. Seperti udara juga tidak berwujud, tetapi kulit masih bisa merasakan sentuhannya seperti lidah yang merasakan hembusan.
Waktu? kita tidak pernah bisa merasakannya. Dia berlalu begitu saja, tanpa pernah mau menunggu walau sesaat bahkan hanya untuk 10-43 detik saja - satuan waktu terkecil yang sulit diterima oleh daya pikir. Tetapi waktu memberikan effect, impact dan karma. Waktu menciptakan kausalitas hidup.
Terkadang dia egois terhadap nasibku.
Waktu adalah takdir dalam kehidupan. Tanpa waktu yang ada hanya kematian dari kehidupan nyata. Tetapi setelah kematian pun waktu untuk roh kita baru mulai berjalan dalam dimensi waktu lainnya. Waktu gaib barangkali.
Apakah waktu itu hidup? Hidup tanpa fasilitas untuk mempertahankan hidup. Hidup tanpa zat dan bentuk.
Aku penasaran dengan waktu yang telah membawaku. Hingga saat ini.
Coba. Aku membayangkan diriku sedang berada dalam sebuah tempat yang kosong, gelap tanpa cahaya. Berdiri diam tanpa tempat berpijak, mungkin mengawang. Tempat kosong itu adalah sebuah ruang yang mengelilingiku. Sementara itu waktu dimana? Apakah waktu mengelilingi ruang? Atau ruang yang mengelili waktu? Bukan. Aku rasa bukan begitu. Mungkin begini. Aku berada dalam ruang gelap yang berbentuk lingkaran mengelilingiku. Setengah dari lingkaran itu adalah ruang dan setengahnya lagi adalah waktu.
Aku berpikir sejenak.
Bukan-bukan.
Lingkaran itu adalah ruang sedangkan jari-jari yang kasat mata di dalamnya adalah waktu.
Aku pikir, juga bukan begitu. Terlalu gampang membayangkan waktu jika diandai-andai seperti itu.
Waktu dan ruang dua hal yang tidak terpisahkan. Jika posisi ruang bisa di rekayasa tetapi posisi waktu entah dimana. Waktu adalah misteri hidup, yang bisa aku lakukan terhadap waktu hanya mengukurnya.
Sepersekian detik. Sedetik. Semenit. Sejam. Sehari. Seminggu. Sebulan. Setahun. Sewindu. Seabad. Semilenium. Ke belakang atau ke depan.
Kini aku menyadarinya mengapa waktu yang membawa aku pergi, karena aku berimajinasi dan bertindak di dalam ruang dan waktu itu sendiri. Ruang terkadang konstan dari bermacam perspektif, tetapi waktu terus berjalan meskipun aku hanya diam ketika berada dalam ruang yang statis.
Ruang dan waktu. Di dalam ruang ada waktu dan di dalam waktu ada ruang.
Aku sendiri tidak berarti bagi waktu, tetapi aku hanya sedikit berarti bagi orang-orang yang juga menempati ruang dan orang-orang yang dibawa waktu. Juga bagi orang-orang yang kehilangan sedikit waktu di dalam unconsciousness-nya menjalani waktu itu sendiri.
***
Di persimpangan itu dulu aku menunggu angkutan pertama hingga aku bisa berada di angkutan yang aku tumpangi ini. Kini aku sedang dalam perjalanan. Tidak cukup satu angkutan saja yang bisa membawaku. Tetapi aku harus estafet dari satu angkutan ke angkutan lainnya.
Di persimpangan kampung itu aku memulai keberangkatanku dengan angkutan desa, keluar dari kampung itu supaya bisa mendapat angkutan selanjutnya.
Angkutan desa. Sopir desa dan kondekturnya desa. Bahasanya desa, bahasa keramahtamahan. Sikapnya desa, sikap saling menghargai. Kedermawanannya juga desa, menolong tanpa pamrih. Orang-orang kampung itulah rata-rata penumpang angkutan desa.
Aku adalah penumpang bersama orang-orang kampung yang ada di dalam angkutan desa. Mereka, sopir, kondektur, dan para penumpang bertanya, aku akan ke mana? Aku menjawab, aku akan melakukan perjalanan sesuai yang dilakukan banyak orang, karena umur memaksaku untuk terus bergerak. Menjalankan kodratku sebagai manusia dimuka bumi. Jawabanku dihargai, mereka mengucapkan nasehat-nasehat. Hati-hati dalam setiap perjalanan, ingatlah pepatah pendahulu kita – di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung - alam terkembang jadikan guru - dalam setiap denyut nadi, Allah mengetahui keberadaanmu. Jika Allah mengingatmu maka jangan sekali-kali kamu melupakan Dia.
Aku merasa bangga dengan perjalanan yang akan aku hadapi ini. Kebanggaan itu tidak akan ada artinya jika tidak ada pertanyaan-pertanyaan dari penumpang orang-orang kampung ini. Bukankah bagian terbesar dari kebanggaan itu karena adanya orang-orang disekitar kita? Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang cendrung membutuhkan penghargaan dan makhluk yang melakukan segala ekspresi , eksistensi dan kemampuan diri di tengah-tengah lingkungan sosialnya.
Aku turun dari angkutan desa itu ketika sampai di persimpangan kedua dan harus melanjutkan perjalanan dengan naik pedati melewati perbukitan, nanti di belakang Puncak Merpati aku akan bertemu simpang yang kedua. Aku akan menunggu angkutan selanjutnya. Sambil menunggu aku akan membaca koran dan buku-buku yang sengaja aku bawa untuk bekal hidup.
Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Karena menunggu adalah kesabaran. Sudah habis buku-buku aku baca dan koran pun sudah kadarluarsa. Bahkan beberapa buku aku koyak karena kebosanan ini. Tubuhku sudah pegal duduk menunggu.
Belum juga ada angkutan ketika aku melihat ke jalur angkutan dari beberapa arah. Sedangkan waktu akan terus berjalan dan usiaku pun telah bertambah. Belum juga ada angkutan. Apakah aku harus pulang ke kampung? Tetapi tidak ada angkutan juga.
Dalam kondisi penantian seperti inilah tujuan semakin tidak tentu arah, dari tujuan-tujuan yang sebenarnya tidak di mengerti. Untuk apa aku menunggu angkutan? Mengapa aku harus melakukan perjalanan? Untuk apa buku-buku dan koran-koran? Apa kita buang saja dia?
Aku merasa kehilangan sesuatu.
Apa yang hilang? Apa yang kurang?
Setelah aku pikir-pikir tidak ada yang hilang karena aku tidak membawa apa pun selain dari buku dan koran, dan tidak pula mendapatkan sesuatu berupa objek. Tetapi yang kurang banyak. Yah! Banyak yang kurang.
Belum lagi selesai aku berpikir menjawab kebingunganku, datang seorang bapak menghampiriku. Dia duduk di sebelahku. Dia tersenyum padaku.
“Mau pergi?” tanya-nya.
“Iya, Pak. Tetapi saya bingung tidak ada angkutan yang lewat.”
“Sebentar lagi biasanya angkutan akan ramai. Kamu akan ke mana?”
“Saya tidak tahu mau ke mana, Pak?”
“Kamu punya uang untuk ongkos?”
“Habis, Pak. Gara-gara menunggu angkutan.”
Bapak itu tersenyum. Sedangkan aku gelisah memikirkan diriku akan ke mana?
“Kamu mau bekerja bersama bapak?”
“Mau, Pak!” aku memberi tekanan intonasi pada Pak.
“Mari ikut bapak, kita akan berkuli,” ajak si bapak sambil membawaku ke rumahnya yang agak jauh dari simpang itu.
Aku mengikuti si bapak dari belakang. Kemudian aku mempercepat langkah agar sejajar dengannya.
“Pak. Kenalkan nama saya, Syahdan.”
“Panggil saya, Pak Edi,” ujarnya menyambut salamku. Genggaman tangannya erat dan kokoh, sepertinya Pak Edi pekerja keras.
Sesampai di rumahnya, aku di perkenalkan kepada keluarganya, dibuatkan minum dan di suruh makan sepuasnya.
Semenjak hari itu aku hidup dengan mereka, aku mengambil sedikit kebahagian mereka. Pak Edi dan keluarganya sudah menganggap aku seperti adiknya sendiri.
Besok pagi kita mulai bekerja, kata Pak Edi. Aku manggut-manggut saja.
Pagi jam 6.30, kami mulai menggali lubang untuk pondasi tembok sekolah itu. Setiap bangunan harus diberi pondasi yang kuat. Kita akan sedikit menanamnya, agar pagar yang kita dirikan kokoh, jadi pagar ini harus mempunyai dasar yang kuat agar tidak goyang. Begitu juga kehidupan ini, ciptakan pondasi dalam diri agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang akan merugikan, kata Pak Edi.
Galian pondasi selesai setelah beberapa hari.
Pagi ketika anak-anak di sekolah baru berdatangan kami sudah setengah jam larut dalam pekerjaan. Mengayak pasir lalu mencampurnya dengan semen dan diaduk dengan air. Mulai membangun pondasi dengan batu alam. Ternyata pondasi buatan Pak Edi jika dibandingkan dengan pondasi tukang lainnya jauh berbeda. Dalam bekerja Pak Edi punya prinsip. Segala sesuatu mesti dilakukan dengan sungguh-sungguh. Pak Edi bekerja dengan kepuasan hasil kerjanya, bukan dari apa yang akan diterimanya dari kerja.
Setelah dua minggu pengerjaan pagar aku diberi upah oleh Pak Edi. Itulah kebahagian pertama yang aku rasakan. Menerima uang dari keringat. Aku bisa membeli sandal dan baju. Aku juga membeli buku. Aku bahagia dan banyak mendapat pelajaran dari Pak Edi. Kadang aku berpikir bahwa ada beberapa prinsip hidup Pak Edi yang tertanam di jiwaku.
Disela-sela perkerjaan yang boleh dikatakan berkuli, aku juga membantu-bantu di warung Pak Edi yang terletak di pojok sekolah. Aku melakukan setiap pekerjaan dengan senang, menggoreng, mencuci piring, menghidangkan. Apakah ada kebahagian seperti itu akan datang?
Setahun berlalu. Usiaku bertambah. Waktu berjalan. Angkutan-angkutan akan membawaku kembali. Perjalanan. Panjang.
Aku mohon pamit kepada Pak Edi dan keluarga. Pak Edi sosok rendah hati, tapi kokoh dalam prinsip dan harga diri.
“Pak. Waktu telah berlalu, saya dijemputnya untuk sebuah perjalanan lagi. Saya akan pergi, Pak. Saya mengucapkan terima kasih atas segala kemurahan hati Pak Edi menerima saya selama ini,” kataku kepada Pak Edi. Memang, aku tidak menangis tapi aku hanya kuatir apa masih bisa bertemu lagi dengan beliau, karena aku tidak akan pernah tahu kemana dan berapa lama perjalananku ini.
Pak Edi orang yang periang, beliau tersenyum dan sering tersenyum di sela-sela omongannya. Beliau bilang, kamu laki-laki jika ingin berjalan langkahkan kaki. Jadilah laki-laki jangan seperti laki-laki.
Aku jauh berjalan, persimpangan lagi. Ada angkutan. Aku menyetop, naik. Penumpangnya hanya dua orang wanita, satunya sudah agak tua. Angkutan ini tanpa kondektur. Mungkin karena angkutan kota. Dua orang di hadapanku memperhatikan gerak-gerikku dengan sinis. Apakah mereka menganggapku pencopet? Aku tidak berani menatap terlalu lama pada wanita yang sudah agak tua itu, karena setiap kali aku melihatnya dia selalu membelalakkan matanya. Walau aku sudah mencoba tersenyum dan menundukkan kepala padanya. Dia tetap bermuka suram, seperti aku pernah salah saja padanya.
Aku hanya seorang penumpang. Dan aku tidak tahu siapa dua wanita ini. Ahh… lebih baik aku duduk manis, tanpa merespon pandangan tajamnya. Biarkan dosa-dosa angkuh menyelubunginya. Aku akan duduk tenang dan tidur.
* * *
“Ha-ha..ha…!” menggelegar tawa si wanita tua. Aku terkejut, dia menendang kakiku dengan membelalakkan matanya dia berkata, “Hey! Akulah penguasa di sini semua harus patuh dengan komandoku!” aku mengangguk. Wanita ini menyeramkan, membuat tubuhku terasa kaku seperti batu. Dia pantas dipanggil wanita karena perempuan hanya ibuku.
Jika jiwa di bawah komandonya, apakah jiwa ini budak dalam istananya? Atau abdi-abdi kandang dan budak bagi ego-ego pelampiasan emosi? Lalu di mana istana jiwa? Kedamaian jiwa? Istana. Istana. Istana…!! Teriakku.
“Hey! Jangan berteriak di istanaku!” bentak wanita tua itu, “Yang boleh berteriak hanya aku. Aku ratu di sini!”
“DAN KAU!” hardiknya, “Harus patuh padaku!”
Aku menunduk, kasihan jiwaku. Menangis ragaku. Tertawalah ratu itu. Oh… belenggu. Belenggu jiwaku. Terpasung imajiku dalam sebuah perjalanan. Penjarakan tubuhku dalam jeruji-jeruji keterbelakangan. Lepaskan aku. Lepaskan aku! Teriakku meronta.
* * *
“Hei…hei,” tegur wanita tua itu menyenggol-nyenggol kakiku, membangunkan aku dari tidur yang baru saja menggigau. Aku mengucek-ucek mataku. Nafasku sesak. Aku kembali melihat dua wanita itu.
“Hei… sampean kira ini mobil buuapak mu?! Pake acara-acara tidur gitu toh?” (bahasa jawanya apa?) ujarnya dengan intonasi jawa.
Aku menggeleng, seraya melihat ke mata supir yang terpantul dari kaca spion di depannya. Mata itu seperti tersenyum, lalu matanya beralih ke sisi kiri jalan ketika sepasang suami istri menyetop angkutannya.
Suami istri itu naik. Aku menggeser dudukku ke pojok belakang. Ketika angkutan akan berjalan, sang suami berkata supaya mobil jangan dimajukan dulu, karena dia dan istrinya belum dapat tempat duduk yang enak. Mobil urung berjalan.
“Dek-dek… kamu pindah ke dekat pintu!” ujar si suami itu padaku. Aku pindah duduk ke dekat pintu dan tempatku semula didudukinya. Sedangkan istrinya di sebelahku, sambil menebar senyum kepada kedua wanita yang duduk di hadapannya. Dia juga tersenyum padaku, aku berpikir istrinya cukup ramah.
Angkutan mulai berjalan pelan. Kira-kira baru lima ratus meter, duduk si istri pun mulai gelisah. “Ahh…! Pak supir, berhenti dulu dong,” ujarnya, angkutan pun menepi dan berhenti, “Saya kesempitan. Dek kamu pindah ke situ aja!” suruhnya menunjuk-nunjuk bangku serap di belakang supir. Aku pindah lagi, lebih baik aku mencari tempat yang aman saja.
Angkutan kembali berjalan setelah pak supir memastikan kepada si istri itu.
Aku membuka bukuku dan larut dalam bacaan. Di buku itu ada kalimat yang terbaca olehku, orang ketiga cendrung mendapat perlampiasan emosi ketika keinginan-keinginan tidak terpenuhi oleh orang-orang yang menganggap harga dirinya lebih tinggi dari orang ketiga tersebut.
Apakah orang ketiga yang dimaksud buku ini, aku? Lalu bagaimana cara aku menempatkan diri dekat orang-orang seperti ini?
Aku bolak-balik bukuku mencari jawabannya, tetapi tidak ada. Aku buka kembali buku kedua, juga tidak ada. Aku gelisah. Aku harus bagaimana bersikap. Sekilas aku melempar pandangan kepada dua wanita dan suami istri itu, mereka mendongakkan kepala. Seakan kepala mereka itu tidak bersahabat, apa lihat-lihat! Jangan main-main di daerah kekuasaan kami! Mungkin begitu pikir mereka.
Aku mempraktekkan kalimat dalam buku itu kepada pak supir. Aku akan berteman dengannya. Bukan untuk melampiaskan emosiku.
Masih ada orang-orang yang mau melihat kita apa adanya.
Dan ternyata benar, ketika ban angkutan itu bocor, aku membantu pak supir. Membuka baut, menuruni ban serap lalu menggantinya.
“Pak. wanita itu pemilik angkutan ini, ya?”
“Bukan.”
“Tetapi mengapa seperti dia pemiliknya?”
“Ya. Sama seperti sepasang suami istri itu” sahut pak supir itu sambil menurunkan dongkrak. “Mereka akan seperti itu, jadi tidak usah kamu dengarkan. Apalagi masukan dalam hati,” sambungnya.
Aku mengangguk. “Pak, masih jauh perjalanan kita?” tanyaku lagi.
“Wah. Tergantung waktu, kalau angkutan ini cepat penuh. Berarti kita akan cepat sampai di tujuan,” jawabnya. Memang angkutan ini jalannya agak pelan.
“Kamu bisa bantu saya cari penumpang? Kamu cukup memanggil penumpang yang berdiri dipinggir jalan. Nanti kamu akan saya gaji,” tawar pak supir.
“Mau, Pak.”
Mulailah aku memanggil-manggil calon penumpang. Sesekali berteriak. Hah.. sekarang aku kondektur tapi di sela-sela itu aku masih tetap membaca buku.
Cukup lama perjalanan ini dan aku pun mulai bosan. Kapan akan berakhir semua ini? Umurku sudah bertambah juga tapi kehidupan masih seperti itu-itu juga.
“Nak. Dua tikungan lagi kita akan sampai di tujuan. Tikungan pertama setelah gedung perkuliahan itu dan tikungan kedua setelah kantor swasta itu. Kamu hendak kemana, nak?” ujar supir itu.
“Saya tidak tahu akan kemana, pak. Tetapi saya akan melakukan perjalanan lagi. Bukankah hidup ini sebuah perjalanan? Saya mungkin laki-laki petualang, pak. Bukankah seorang laki-laki mestinya bersikap berpetualang?” jawabku.
“Mengapa kamu tidak di sini saja? Lebih baik di sini,” tawar pak supir lagi.
“Tidak, pak. Kata hati saya mengatakan kota ini sangat buruk untuk perjalanan hidup saya ke depan. Saya seperti ditunggu-tunggu oleh kota lain yang lebih menjanjikan masa depan saya. Saya akan mencari kota itu, pak. Walau tujuan sebenarnya masih mengambang,” jawabku, saat itu angkutan sudah hampir tiba di tikungan kedua.
“Ya. Lakukanlah,”
***
Tidak lama menunggu, angkutan lain siap membawaku ke kota lain. Perjalanan yang indah menuju kota impian. Melewati pesisir, perbukitan, dan sungai-sungai yang menjelma seperti benang sutera yang siap dirajut. Elang mengejarku, seolah menantangku untuk berlomba dengan angkutan yang membawaku.
Kau tidak akan terkalahkan olehku, elang. Karena aku lambat dan lebih lambat dari siput. Tapi tahukah engkau dongeng tentang siput yang mengalahkan kancil dalam perlombaan lari? Secerdik-cerdiknya akal kancil ternyata masih ada yang lebih cerdik dari dia. Tapi aku tidak akan memakai akal siput maupun kancil dalam setiap perlombaan, perjalanan dan keputusan. Karena bagiku harga diri bukanlah ditentukan oleh kemenangan atas sebuah perlombaan dengan akal-akal kancil ataupun siput, tetapi harga diri adalah prinsip untuk mempertahan kebijaksanaan kejujuran dalam sebuah pertarungan. Meskipun akan membawa kekalahan. Kekalahan karena kejujuran jauh lebih baik dari pada menang karena akal bulus, sebab dosa itu akan berantai. Seperti perkawinan dan kelahiran, perkawinan dan kelahiran lagi.
Elang menjauh, ketika aku mengakui kekalahanku.
***
Dan tibalah aku di kota yang baru.
Kota ini bagaikan surga dunia, sebagian wanitanya membukakan dada untuk dipamerkan tapi sebagian lagi memperlihatkan pahanya. Mereka wanita-wanita yang sepertinya menawarkan tubuhnya untuk dijamah.
Di sudut lainnya aku melihat wanita-wanita merokok, memainkan jari-jari lentik di sebatang rokok yang mereka hisap, seperti permen tangkai mereka mengulum filter rokok itu.
Di sisi lain kota ini aku juga melihat sebagian kecil perempuan yang memaki jilbab. Kesucian, keanggunan, kewibawaan dan kedewasan terpancar dari wajah mereka. Hatiku damai melihat yang begini, tetapi tidak bisa menolak pandangan wanita seronok tadi.
Kedamaian pandanganku lalu dikacau oleh perempuan-perempuan berjilbab yang memperlihatkan lekuk tubuh dengan pakaian ketat yang terkadang memperlihatkan kutang berwarna hitam, atau lubang pusar mereka yang jelek. Perempuan-perempuan beginilah yang akan mengikis norma-norma ketetapan. Lama-lama menjadi trend dalam berbusana, berjilbab tapi setengah membuka aurat. Apakah mereka tidak siap dengan jilbab penutup auratnya?
Lalu, orang-orang di kota ini seperti berlari, tanpa menghiraukan yang lain kecuali diri sendiri. Sikap borjuis kecil telah tertanam di penduduk kota ini yang sebagian mengaku sebagai penduduk urban. Mereka akan mengeser seenaknya, semaunya asalkan mereka mendapat posisi yang enak. Tak peduli kaki orang terinjak atau akan terjatuh karena ulahnya. Mereka sepertinya mempelajari teori dialektika secara berlebihan. Begitu sebagian manusia di kota ini. Apakah KAMU juga begitu?
Tidak semuanya begitu, aku lihat masih ada orang-orang baik yang senang mengunjungi mesjid dan pengajian. Tetapi menemukan orang baik yang begini agak sulit di kota ini. Banyak bermuka dua, di depan bermuka manusia tetapi di belakang bermuka monyet.
Pemandangan ini dapat dilihat dari atas angkutan yang seadanya hingga angkutan yang sedikit mewah dan mewah. Kini aku sedang menumpang dalam angkutan mewah itu, berjalan-jalan mengitari kota mencari tempat pemberhentian sebagai tujuan terakhir.
Banyak tempat pemberhentian yang bisa aku turuni, tetapi tidak layak bagiku untuk turun karena pemberhentian itu melanggar norma dan perundang-undangan pendiriannya. Bukankah norma dan perundang-undangan itu diadakan untuk mengingatkan kita akan dosa dan pelanggaran? Bukannya untuk dilanggar.
Tetapi pemberhentian yang layak belum memperbolehkan aku untuk turun karena karcisku sudah kadarluasa. Mereka mau karcis keluaran terbaru.
Aku sedang mencari akal untuk turun. Atau apakah aku akan turun di tempat pemberhentian yang tidak layak, kemudian membeli karcis keluaran baru dan naik lagi ke angkutan ini sebagai penumpang. Lalu, baru turun di pemberhentian yang layak?
Tidak! Dosa tidak akan pernah hilang begitu saja.
Atau?! Aku harus menunggu keajaiban. Berharap penumpang lain memiliki karcis keluaran terbaru dan memberikannya satu padaku. Tetapi berharap saja tidak cukup!
Untungnya supir yang membawa angkutan mewah ini berbaik hati padaku, dia tidak mengomel atau bermuka masam. Yang penting aku tahu diri saja di angkutan ini, kapan aku harus duduk dan kapan aku harus berdiri. Tetapi dia kurang memberikan pemecahan, bagiku itu wajar karena dia mengendarai angkutan ini.
Belum semua bagian kota ini dikelilingi, baru sebagian kecil. Aku akan tetap mengelilinginya di sela-sela bacaan bukuku, hingga ada tempat pemberhentian layak yang mau menerima karcis kadarluasaku.
Seperti yang sudah aku katakan, lebih baik kalah dengan benar dari pada menang dengan salah.
Pabuaran
26 Februari 2006 – 6 Maret 2008