“Gimana Dok, Istri dan anak saya ?” Tanyaku pada dokter yang baru saja membantu persalinan istriku.
“Alhamdulillah, keduanya selamat Pak! Anak bapak laki-laki. Tapi ada sesuatu hal yang nanti akan saya bicarakan lebih lanjut. Sekarang anda silahkan menjenguk istri bapak dulu yah.”
Tanpa banyak bicara, aku pergi meninggalkan dokter itu dan menghampiri istriku di kamar bersalin, karena hanya istriku yang bisa di jenguk. Wajah istriku terlihat lemas kelelahan, tapi tetap cantik, sama seperti saat pertama kali aku mengenalnya 3 tahun yang lalu.
Ma, buat gue ide cerita ini udah bagus kok. Tapi, sama kayak Miss Worm, gue ngerasa cerita ini mirip sama kisah bayi yg d Jepang itu. Sama2 buta juga lho! (sedikit nanya, loe terinspirasi dari kisah itu juga?)
Buat komen teknis dan lain2, kayakny udah dikomen ama temen2 yg lain ya? Paling gue cuma ikut nambahin satu suara lagi: Ma, kurang gimana... gitu waktu gue baca. ;D
hehehe, menuliskan angkanya daripada terbilangnya mmg lebih mudah dan simpel ya? tapi kurasa ada benarnya jg si jamil begundal, saran bagus buatku jg, thanks.
sekedar saran nih ma bukan dari segi pesan tapi fisiknya doang yang ingin kukritik.
bisa gak lain kali kamu pake abjad aja untuk menggantikan angka-angka. kesannya kayak matematika. keuntungan lain dengan menggunakan abjad adalah kamu bakalan mampu mengeksplor suasana dengan dialog yang lebih hidup. misalnya, "35 centi dengan berat 1 kilo pak?" ganti dengan, "tiga lima senti beratnya sekilo pak?" diantara dua kalimat itu menurutmu mana yang lebih hidup danm gak kaku?
maaf kalau aku banyak mendikte. ini hanya sekedar saran lo.
untuk sementara kamu mesti puas dengan nilai tujuh yang aku kasih.
ima, datar nih, tidak berkonflik tapi aku suka ide yang kamu angkat. kayaknya kalo dieksplor lagi bisa jadi keren, nih. eh, gimana kalo ceritanya ditulis justru dari sudut pandang anaknya itu?
apa ya?
sebener nya aku ga tau mesti kasih koment apa yang pasti cerita bagus
jujur aja aku salut dengan sosok ibu di cerita ini...
moga aja ibunya selalu tegarr
pada saat membaca, kadang karena gw pengen membaca. bukan untuk mengkritik, atau mencari kekurangan dari tulisan orang.
dan saat ini, gw cuma pengen membaca. setelah penat seharian kerja dan meeting bertubi2, gw cuma pengen baca. dan menurut gw sebagai pembaca, bukan editor dan kritikus.. tulisan ini bagus dan gw hanyut kok di dalamnya. terimakasih sudah cukup memberi kenikmatan membaca, mungkin banyak orang lain di luar sana yang akan senang membaca carita ini.
Aku tak lagi menjadi [i]Rembulan[/i]
Sebab luka itu kau anggap karena ku
Lantas semuanya diam sembilu
Kemudian di sini aku hening
Menunduk kembali ... lanjut baca
Diriku sampai pada taraf telah jatuh cinta
Namun hanya dapat kugapai sebatas punggung
Seseorang yang hadir sekelebat bintang jatuh
Yang lenyap kelu ... lanjut baca
Kembali menunduk
Melihat pada genangan keruh
Tertatap dengan seribu pelik
Kemudian jatuh dan berpeluh
Terlalu kotor, hingga ku sendiri tak dapat ... lanjut baca
"Buat apa kamu ikut itu? sadar diri to yo!!Ngaca kalo perlu!" Hardik Ayah Ananda sambil memalingkan muka.
Ananda meninggalkan ayahnya dengan tubuh ... lanjut baca
Cinta terbinasa waktu
Dengan hukum yang penuh palsu
Aku sadar dan sangat paham
Hadir kembali tanpa rasa
Hambar, kering dan lusuh
Datang, menyer ... lanjut baca
Setengah Nyawaku Hilang
Di malam ganjil bulan ramadhan
Gaung takbir tidak lama lagi membahana
CaraMU menguatkan hati, cukup menyentakkan
Terisa ... lanjut baca
Sampah?
Kau atau kami yang sampah ?
Tempat sampah ?
Komunitas kami atau komunitas mu yang sampah ?
Kau belum mengenal kami
untung gak kenal ... lanjut baca
Semalam ganjil di bulan yang sangat indah
Tuhan tahu apa yang ku rasa
Tenggelam di dasar laut yang paling dasar
Menggapai namun tak mampu
Ada ... lanjut baca
Luka lamaku masih menganga
Sekarang kau sayat luka baru diatas luka lama
Haruskah aku masih mengagungkanmu, cinta?
Kabupaten,28 Septemb ... lanjut baca
Dalam keadaan yang seperti ini, aku mencoba bersikap tenang. Membawa ayat-ayat suci yang hanya bisa aku ucap dalam hati. Kelu rasanya lidah ini untuk ... lanjut baca
Mengapa aku masih hidup?
Untuk apa aku dilahirkan?
Kapan aku kan mati?
Karna apa aku khan mati?
Dimana aku kan mati?
Tanya ku kepada Tuhan..
S ... lanjut baca
"rif.." triak dave yang langsung buyarkan lamunanku..
"ngapain seh bengong aja,kesambet lo nanti" sapa dave sambil memukul punggungku.
"iya neh ge b ... lanjut baca
Sisa Hidupku
'Sin,blgin ke Sari yach hr ini aq g mzk coz kata Bunda aq hrz geral chek up hr ini.D jurnal tls aja aq skt. Thanx b4.'
Aku ngirim SMS ... lanjut baca
Baru beberapa pekan ini, Avi dan Dewi berkenalan. Namun, sejak pertemuan pertama, mereka sudah larut bersama. Keduanya bak dijodohkan sejak dalam kand ... lanjut baca
Coba lihat kepada langit apa ada jawabnya..
Keputus-asaan dalam diriku telah mengakar kuat. Bahkan beberapa kali aku mencoba untuk mengakhiri hidupku ... lanjut baca
Payah juga ! Atasanku marah – marah saja hari ini. Aku beranjak menuju ke meja makan, mengambil sebuah toples dan mengunyah beberapa keping keripik ... lanjut baca
Senja itu mampir lagi di teluk ini. Semburat kemerahan bercampur polesan cahaya matahari yang sebagian telah tertutup awan melukiskan sedikit romansa ... lanjut baca
Dua jam sudah Dewi menunggu. Katanya kereta api Gajayana tujuan Jakarta ke Malang yang mengangkut Avi, datang terlambat. “Ah, kereta api kok selalu ... lanjut baca
Bantuan datang, pertempuran sengit itu kini berubah, para pasukan SS kini dalam keadaan di ujung tanduk, namun jiwa dan raga mereka sudah dipatri oleh ... lanjut baca
Demon Tower
Pesawat angkut Hell Hunter terbang perlahan di atas sebuah kota. Tampak gedung-gedung yang tinggi menjulang, di antara bangunan lain ya ... lanjut baca
oke deh ceritanya.
Ma, buat gue ide cerita ini udah bagus kok. Tapi, sama kayak Miss Worm, gue ngerasa cerita ini mirip sama kisah bayi yg d Jepang itu. Sama2 buta juga lho! (sedikit nanya, loe terinspirasi dari kisah itu juga?)
Buat komen teknis dan lain2, kayakny udah dikomen ama temen2 yg lain ya? Paling gue cuma ikut nambahin satu suara lagi: Ma, kurang gimana... gitu waktu gue baca. ;D
hehehe, menuliskan angkanya daripada terbilangnya mmg lebih mudah dan simpel ya? tapi kurasa ada benarnya jg si jamil begundal, saran bagus buatku jg, thanks.
cerita yg satu ini cukup menyentuh.
sekedar saran nih ma bukan dari segi pesan tapi fisiknya doang yang ingin kukritik.
bisa gak lain kali kamu pake abjad aja untuk menggantikan angka-angka. kesannya kayak matematika. keuntungan lain dengan menggunakan abjad adalah kamu bakalan mampu mengeksplor suasana dengan dialog yang lebih hidup. misalnya, "35 centi dengan berat 1 kilo pak?" ganti dengan, "tiga lima senti beratnya sekilo pak?" diantara dua kalimat itu menurutmu mana yang lebih hidup danm gak kaku?
maaf kalau aku banyak mendikte. ini hanya sekedar saran lo.
untuk sementara kamu mesti puas dengan nilai tujuh yang aku kasih.
terus menulis ya!
ima, datar nih, tidak berkonflik
tapi aku suka ide yang kamu angkat. kayaknya kalo dieksplor lagi bisa jadi keren, nih. eh, gimana kalo ceritanya ditulis justru dari sudut pandang anaknya itu? 
titik dramatiknya di mana ya?
Coba Klo pada titik tertentu ada kejutan....yang hebat....
jadi ingat bayi jepang yang lahir sebesar jari... pernah baca, mungkin? hebat para ibu itu..
^_^ ngga komen banyak karena bagus bgt.. numpang belajar yah..
apa ya?
sebener nya aku ga tau mesti kasih koment apa yang pasti cerita bagus
jujur aja aku salut dengan sosok ibu di cerita ini...
moga aja ibunya selalu tegarr
Raditya Wiharsa tuh sapa ya? dalam kehidupan nyata lho.
bagus kok, enak d bacanya. btw, komen-nya neko d bawah keren.
pada saat membaca, kadang karena gw pengen membaca. bukan untuk mengkritik, atau mencari kekurangan dari tulisan orang.
dan saat ini, gw cuma pengen membaca. setelah penat seharian kerja dan meeting bertubi2, gw cuma pengen baca. dan menurut gw sebagai pembaca, bukan editor dan kritikus.. tulisan ini bagus dan gw hanyut kok di dalamnya. terimakasih sudah cukup memberi kenikmatan membaca, mungkin banyak orang lain di luar sana yang akan senang membaca carita ini.