Di kala sepi, terkadang, pikiranku meloncat ke beberapa tahun lalu. Selalu begitu, entah kenapa.
Ada satu bagian hatiku yang hilang tanpa jejak, membuatku selalu ingin mencarinya. Aku bukan pendendam, hanyasaja jangan perlakukan aku seperti itu.
- OOO -
Malam itu, salju turun hanya sedikit. Tapi suhu yang mendekapku bukan main dinginnya. Hampir-hampir aku pingsan karenanya. Karena bukan tubuhku saja yang dingin, hatiku juga. Mmm, tepatnya Satu sisi dalam hatiku.
Stasiun Yoshinogari menjadi saksi bisu kelumpuhanku. Baru kali itu aku, seorang pria, menangis. Tak berapa lama setelah aku bercakap dengan kekasihku, Amalia. Jarang sekali aku menangis semenjak ditinggal pergi ayahku belasan tahun yang lalu. Tapi entah kenapa hari itu aku tak mampu menahan panasnya bola mataku. Bara amarah berubah menjadi lelehan air mata.
"Kaka, kenapa kau perlakukan aku seperti itu?"
"Perlakukan kamu bagaimana?", tanyaku
"Kaka kasar!!"
Aku hanya terdiam, tak tahu hendak berkata apa.
"Aku malu kak, malu"
"Aku hanya ingin melindungimu", jawabku
Persoalannya cukup sepele, pikirku, pikir seorang lelaki. Tapi bagi wanita, mungkin tidak demikian.
Suatu hari dia merasa kesal dengan prilaku teman kuliahnya, dia pun begitu deras meluncurkan kata-kata curhat kepadaku. Dia menangis.
Di antara lelahnya tugas, aku mendengar, aku menimbang, aku berpikir, kelewatan!!. Kelelakianku terangkat. Amarahku memuncak. Namun aku bisa apa? aku di Kyushu dia di Jakarta, mereka di Jakarta.
Lalu kuhubungi salah satu rekanku, bermaksud meminta data tentang mereka. Hanya ingin bercakap-cakap satu lawan satu. Antara lelaki dengan lelaki. Yang aku minta, bukan pertanggung jawaban, hanya penjelasan.
Rupanya rekanku menyebarkan permintaanku di sebuah milis yang diikuti dia dan mereka. Amalia malu. Sebuah email menantangku. "Pengecut!! tanya alamat aja pake email"
"Setan", batinku, "Kau pikir aku dimana?". Jika aku adalah Rahwana mungkin aku sudah mengudara ke angkasa, mendekati mereka lalu mencabik-cabik mulutnya.
- OOO -
Amalia, hanyalah seorang wanita yang halus, mencintai ketenangan, membutuhkan kehangatan. Tapi aku tidak demikian, aku seorang lelaki, aku buas.
"Cinta tak perlu memiliki kak"
"Aku tidak setuju, cinta harus memiliki"
Amalia terisak
"Lantas buat apa mencinta kalau tidak boleh memiliki?"
Amalia masih terisak
"Apa artinya jika cinta tidak memiliki?"
Telepon tertutup. Kami pun berpisah.
Setidaknya kau bisa menunggu aku pulang nanti, tak perlu mencari pria yang lebih jinak. Aku bisa berubah, meski perlu waktu. Aku menggumam.
Aku bukan pendendam, hanyasaja jangan perlakukan aku seperti itu, aku berpikir.
Cinta, bagiku, harus memiliki. Semua cinta. Pun jika mencintai Tuhan, agama, alam, semuanya. Kita harus memiliki... Hanya dalam kadar yang berbeda. Setidaknya kita punya "RASA" memiliki sehingga tak mudah meninggalkannya, mengacuhkannya, merusaknya.
Aku menatap foto anak ku yang lucu, dan istriku yang manis. Tapi jujur saja, masih saja terasa satu sisi hatiku telah hilang. Tapi sekarang apakah aku harus mencarinya?
Imr
Rating
Comments: 7
Rating:

Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
setuju banget
cinta harus memiliki
emang omong kosong klo bilang enggak (baru ngerti -oooho-)
tapi lebih seru baca cerita lucu ya? tulisannya lebih mengalir
Mohon saya dimaafkaaan! Mula-mula gak ngerti, hehe... Pas baca komen dari Julie, baru ngeh... Hehe... maaf ya, emang suka lemot nih...
pertamanya nisa g ngerti di bagian awal, kesannya ngambang.
Tapi cerita model seperti ini sudah bisa terbaca gimana akhirnya. Tipe2 anak2 kemudian banyak yg seperti ini
ternyata sakit hati itu bisa sangat berkarat ya. bahkan setelah bertahun-tahun sakitnya masih belum hilang juga walau telah ada yang penggantinya
bagus kok
sedih.. namun kayaknya bs dibikin lebih sedih lagi supaya emosinya terasa 
hi its my favorite quote di cerita elo:
Ada satu bagian hatiku yang hilang tanpa jejak, membuatku selalu ingin mencarinya. Aku bukan pendendam, hanyasaja jangan perlakukan aku seperti itu.
kata-katanya indah aja buat gue ...
pertama, manusia itu mahluk sosial.
kedua, manusia itu memiliki perasaaan.
ketiga, apa jadinya jika manusia tidak memiliki perasaaan...
renungkanlah....