Kenalin, namaku Rezeki. Beberapa orang menyebutku Rizqi. Mmm... atau sebutlah namaku dengan bahasa yang kau suka. Yang jelas, wujudku tak kan kau kenali.
Hari ini long weekend. Sang Pencipta menyuruhku untuk menghibur diriku di dunia, dan memilih seseorang yang aku suka. Namun Dia tidak menitahkan aku untuk menyerahkan diriku padanya.
Di kala hari mulai meredup, aku yang asik berkelana terpaut pada satu lelaki. Aku belum pasti jelas siapa dia, agak sayup-sayup ku dengar namanya, imr. Entah siapa itu.
Lelaki itu tak bersedih, tak juga bergembira. Tepatnya, lelaki tanpa ekspresi di wajahnya. Atau jangan-jangan dia tuna atau buta ekspresi, penyakit yang satu ini sangat jarang obatnya.
Ku dengar dia berkata.
"Rezeki, dimana kau berada ?, sudah lama aku menunggumu, tak jua kau dekati diriku"
Aku terpaku melihat lelaki tuna ekspresi itu, tampaknya dia berdoa sangat khusyu. Berulang kali dia sebut namaku dan nama penciptaku.
"Ku tahu alangkah banyak dosaku, namun salahkah aku bila tetap memohon kepadaMu akan rezeki untukku"
Lama kelamaan aku terharu, ingin segera aku menyentuhnya, melebur dengan dirinya. Segera aku beranjak ke arah lelaki itu. Tapi tiba-tiba malaikat menarikku.
"Stop, kembalilah"
Aku terkejut, dan berusaha menjelaskan akan perintah penciptaku bahwa semua do'a pasti terkabul.
"Memang benar perkataanmu"
"Lalu mengapa tak kubiarkan aku mendekatinya"
"Ada hal yang harus kuingatkan"
"Apa itu ?"
"PenciptaMu lebih tau yang terbaik bagi lelaki itu"
"Apa lagi yang terbaik selain mendapati ku?"
"Itu menurutmu, tapi coba dengarkan aku"
Aku mendengarkan perkataannya.
"Kamu bisa melebur dengan lelaki itu bila kehadiranmu benar-benar yang terbaik baginya, atau kau akan diganti dengan selainmu yang lebih baik baginya, atau kamu dan semua bangsamu akan mendekatinya di hari akhir"
"Tapi, lelaki itu sangat membutuhkannya sekarang. Tidakkah kau lihat?"
"Kamu selalu melihat dari sudut pandangmu"
Aku berdiam diri. Masih aku tak percaya dengan pernyataan yang terakhir ku dengar. Tapi sang malaikat segera melanjutkan.
"Sebaiknya kamu memperhatikan lebih banyak. Coba lihat lelaki itu {sambil menunjuk lelaki yang lain}, menurutmu apakah baik jika dia menyerahkan seratus ribuan pada anak berusia lima tahun"
Aku berpikir keras, apa yang salah. Toh uang itu bisa ditabung untuk kehidupannya kelak.
---
Sementara tak jauh dari situ, tanpa sepengetahuanku, ada lima pasang mata menanti waktu yang tepat. Beberapa dari mereka membawa pisau.
Sesuatu bisa "useless" di tangan orang yang tidak tepat. Satu yang tak pernah terpikir.
Note :
Tidakkah terpikir, memberi uang sebesar itu pada seorang bocah mungkin bukan satu langkah yang tepat. Bahkan bisa jadi membahayakan. Tidakkah lebih baik menundanya di saat dia sudah tumbuh dan benar-benar membutuhkannya?
Sang Pencipta, saat mengerti mana yang terbaik untuk kita, bukan?
(Jawaban untuk noir, thx bro!!)
---
Rating
Comments: 4
Rating:

Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
rada bingung ....hehehe
Tapi dari segi cerita masih ada yang membingungkan. Mengapa lelaki itu mau memberi uang 100.000 kepada si kecil. Lalu, hubungannya dengan orang-orang berpisau?
simple but sure
Bingung aku.... idenya bagus, tapi akhirnya agak membingungkan. Jadi maksudnya si lelaki itu mau gimana? Apa dia yang membawa pisau? Bagaimana kalau dielaborate lagi alurnya jadi lebih rapi dan jelas dengan ending yang dramatis?