Di sebuah lorong remang-remang suatu daratan setengah hijau di kawasan Cikarang, aku berdiri. Sebuah alat elektronik yang lahir sekitar awal tahun sembilan puluh enaman mengingatkanku akan sebuah kenyataan bahwa sekarang sudah hampir jam sebelas malam. Satu waktu dimana lima belas tahun yang lalu, keadannya lebih sepi senyap daripada waktu yang sama di hari ini.
no many comments abis biasa banget dan datar abis...nggak ada emosinya...alurnya datar....nggak ada yang jadi poin menarik dari tulisan ini...entah itu di karakter, plot, ide, latar or whatever...sebenarnya idenya menarik, cuma kemasannya kurang...jadinya hambar...keep trying
Pagi terasa sejuk dan indah. Itu sekiranya aku tak melihat foto manis itu di seberang rumahku. Foto seorang wanita muda lengkap dengan lesung pipitnya ... lanjut baca
Alkisah ...
[Ja ilah, belum apa-apa udah alkisah aja nih... ]
Konon kabarnya, aroma romantis itu benar-benar masih terasa jauh sebelum tahun delap ... lanjut baca
Jika usai sudah ...
Maka semua tinggal tutup saja.
Tak perlu berkata,
Tak perlu memaksa,
Cukup rasakan, dan pergilah segera.
Udah menjelang ... lanjut baca
Ada satu masalah dalam perkara percintaanku ... masalah kecil namun berefek besar. Meski semua orang mendukung dan percaya bahwa kami adalah pasangan ... lanjut baca
Jika sejalan dengan waktu, mampu ku sadari ...
Sebuah laku, seuntai kata, dan salah duga ...
Kan Cemari hati nan kotori diri
Dosa laksan ... lanjut baca
Berbicara tentang dunia dan akhirat, berbicara tentang kehidupan sosial dan agama, berbicara tentang sesuatu yang bersangkutan dengan hubungan antar m ... lanjut baca
Waktu itu aku masih bisa jatuh cinta. Aliran darahku masih baik. Jantung di dalam dadaku masih berdetak sewajarnya. Dengan mataku dan otakku, ku atur ... lanjut baca
Aku ini lelaki, fisik ku lelaki, tapi tak murni lelaki.
Aku cukup jantan untuk menerkam, cukup beringas untuk melawan, namun begitu mudah terhempas d ... lanjut baca
Ketika ku duduk di tepi kursi di lantai dua di satu ruangan. Pandanganku jauh ke depan ke daerah lapang ke sebuah rumput hijau.
Sambil mendengar se ... lanjut baca
Serumpuyuk muda-mudi berjalan berhaha hihi, wajahnya ceria dan penuh percaya diri. Dengan bebasnya mereka berekspresi.
"Ya iya lah masa ya iya donk ... lanjut baca
Lentik kembang merah darah
Tanpa bau wangi yang terlalu,
Kelopak tepi kuning keemasan
Di atas sana langit menjadi sehitamku
Kisah lalu merasuk ... lanjut baca
Hallo,
Saya sebenarnya bukan user di site ini, bahkan baru pertama kali mendengar-nya. Tapi saya lihat, bagus juga. Sayang, saya ke situs ini kare ... lanjut baca
Kulihati tiap detak jam yang kuletakkan di atas mejaku itu melaju dengan sangat lambat, seumpama ketiga jarum jam itu dengan malasnya melakukan tugasn ... lanjut baca
Sabtu pagi aku ada di sebuah swalayan di jalan Tamansiswa setelah makan sabu alias sarapan bubur, karena beberapa barang keperluan sehari-hari sudah w ... lanjut baca
Dua jam berlalu, aku mencoba bertahan. Menenangkan diri. Setelah dua kali kirim SMS aku kirim, aku kirim lagi untuk yang terakhr kali:
> KLO G MAU ... lanjut baca
Kugambar sebuah gitar
Dengan sebatang kapur bekas
Beralaskan aspal jalanan
Diselimuti dinginnya malam
Dibuai asap knalpot
Senarnya ada 5
Kuran ... lanjut baca
Café ini terlalu sepi. Hanya ada kau dan aku, serta beberapa pasangan yang menikmati malam. Kita duduk menyendiri di pojok ruangan. Segelas Ice choco ... lanjut baca
Catatan (untuk yang bukan pencinta tuhan):
Cerita ini dalam konteks spiritual, anggur disini bukan anggur yang diminum manusia tetapi anggur rohani ... lanjut baca
[Iklan]
"Bingung dengan istilah yang muncul?" kata Fina, tersenyum manis.
"Atau tidak tahu isi komentarmu?" sambung Ubur, meringis.
"Mungkin wi ... lanjut baca
[Iklan]
"Bingung dengan istilah yang muncul?" kata Fina, tersenyum manis.
"Atau tidak tahu isi komentarmu?" sambung Ubur, meringis.
"Mungkin wi ... lanjut baca
Anjrit sukses membuat gw pingin muntah wakakakaka....
Btw kok cerita lu skrg feelnya ga giu berasa lagi? Keknya buru2 nih nulisnya jadi ga rapi. Makanya jangan ngeluyur dan nyasar ke kemang aja -lho-
kabur ah takut kena toyor...
ada seh yang lebih romantis lagi pilemnya bro, bangku kosong, mayan kan bisa berduaan..wakakakakakak
duh pak!dialognya sih lucu...cuma ceritanya datar dan ga jelas klo gw bilang.
nonton bioskop yuk pak!!!tapi jangan kuntilanak...horor banget. kita nonton SUSTER NGESOT aja gmana????
hahahahahaha
bc judulx,qpikir sbuah refleksi kehidupan ini ibu budi, wati dan iwan masa kini..
trus aq g trlalu ngerti juga maksud critanya..
keep writing..
yah....
namanya juga usaha....
ceritanya udah bagus
tapi
masih datar....
membaca judulnya kirain cerita anak anak..ga taunya....
tapi rada kurang nih pak..
no many comments abis biasa banget dan datar abis...nggak ada emosinya...alurnya datar....nggak ada yang jadi poin menarik dari tulisan ini...entah itu di karakter, plot, ide, latar or whatever...sebenarnya idenya menarik, cuma kemasannya kurang...jadinya hambar...keep trying
nice story^^
keadaan kehidupan berubah seiring berjalannya waktu.. pekerja keraslah yang dibutuhkan, walau sebenarnya tak perlu. (halah...)^^