Lepas semua angannya. Beban di hati tidak lagi menyesakkan! Kini dia berada dalam singgasana-Nya, bermanja dalam dekap kasih-Nya, menikmati peluk hangat-Nya, dalam sebenar-benar kedamaian. Tak lagi dia rasakan sakit yang amat sangat menjalari seluruh tubuh dan otot-otot persendiannya. Kini Dita tak merasa terasing lagi, karena Dia lah Kekasih Sejatinya. Dita bahagia! Rasa kecewanya terobati sudah. Dita berada dalam genggaman cinta-Nya.
Read more (2372 words)
Syukurnya tak cukup menyikapi segala nikmat yang dianugerahkan-Nya. Tak terhitung sudah indah yang dia rasa. Dita diciptakan menjadi khalifah di bumi, menjadi pelengkap sebuah puri harapan. Mungkin hanya sedikit yang hampir selalu disinggahi Dewi Fortuna sepanjang hayat seperti dirinya. Memiliki seorang ayah yang sukses sebagai pengusaha adalah kebanggaan. Mempunyai bunda yang dengan segenap ketulusannya, mengabdikan sepanjang hidupnya mengurus rumah tangga, melayani ayah dan telah membentuk kepribadiannya adalah anugrah. Terlahir sendiri dalam sebuah keluarga harmonis adalah idaman banyak orang. Betapa tidak! Semua terfasilitasi. Semua kebutuhan lahir batinnya tercukupi, bahkan lebih dari cukup. Rumah megah, mobil mewah dan yang terpenting kekayaan batin ayah bundanya yang senantiasa memberi teladan baginya, juga orang-orang di sekitar mereka. Dita tidak dibiasakan menjadi anak manja, meski tidak satu kalipun mereka pernah menolak keinginannya. Dita terlatih mandiri, hampir semua pekerjaan rumah adalah tugasnya. Dan di rumahnya tidak ada pembantu. Tak jarang Dita memasak, membuat kue, atau sekedar mencoba resep baru. Di waktu luang, Dita sempatkan membuat apapun, mulai dari menyulam sampai merangkai bunga. Cita-citanya, kelak menjadi seorang istri dan ibu yang bisa dibanggakan, seperti pula dia mengagumi bunda. Beliau adalah sebenar-benar wanita. Sangat kreatif! Apapun setelah ada di tangan beliau, bisa menjadi sesuatu yang menarik. Seringkali bunda menjahitkan baju-baju Dita, yang tentu saja dengan design yang up to date dan lain daripada yang lain. Tak heran di antara teman-temannya, Dita dijuluki si trendsetter!
Tak cukup kata paparkan kesempurnaannya. Kharisma mereka menjadikan kekayaan keluarga Suryadibrata tak tertandingi. Seorang dermawan yang bijaksana, tutur kata dan perilaku yang selalu terjaga. Donatur tetap beberapa yayasan yang begitu rendah hati. Baginya kekayaan adalah amanah. Masih ada langit di atas langit! Ojo dumeh! Karenanya, sombong tidak masuk dalam kamus hidupnya. Sangatlah masuk akal jika ayah bunda Dita memiliki begitu banyak saudara. Mereka pengayom orang-orang lemah, dan menjadi pencerah golongan atas yang seringkali menindas. “Kesombongan hanya milik Allah. Kita hanya tetes mani yang karena kuasa-Nya dijadikan sebagai makhluk paling sempurna diantara makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lain. Kita terlahir tanpa memiliki apapun, dan pada akhirnya kita pun akan kembali hanya dengan helai kafan”. Warisan ilmu yang senantiasa menjadi pengendali dalam setiap langkah. Dan pada saatnya Dita tuai benih itu. Kenikmatan hakiki menjadi miliknya, selamanya…
*** ***
Menjadi anak tunggal tidak membuat hari-harinya sepi. Rumahnya adalah surga. Semoga selalu berkah…Rumah yang menjadi griya penuh cinta, Insyaallah, karena selalu dipenuhi saudara-saudara, hamba Allah yang tidak seberuntung Dita. Anak-anak yatim piatu…Ayah bundanya telah mengajari Dita menebar kasih dengan sesama. Kerinduan itu mengusiknya. Matanya nanar kala tersadar tak kan dirasakan lagi gelak tawa dan canda mereka. Tapi Dita yakin, doa-doa tulus akan selalu terucap dari bibir-bibir mungilnya, mengalir tak henti menentramkan jiwa…
Adalah sebuah keniscayaan, jika alur hidup tidak selamanya lurus mulus. Dita bangga menjadi putri dari seorang Pandu Suryadibrata, sang pewaris tunggal! Dita bahagia dengan keberadaannya! Tapi ada ruang kosong di relungnya yang tak pernah mampu tertutup. Tidak satupun dari yang dimilikinya mampu menggenapkannya. Semakin matang pemikirannya, semakin menguat tanya dalam dada. Satu tanya saja, hanya satu tanya. Siapakah aku sesungguhnya, Ya Rabb? Gumaman lirih seringkali terucap dari bibirnya.
*** ***
Putaran waktu kian cepat. Hampir seperempat abad sudah umur Dita. Saat paling dinanti selama enam tahun. Rona cerah terpancar di bening mata ayah bundanya. Meski dalam waktu lama dan hanya dengan IPK seadanya, tapi kebanggaannya padanya tak pernah berkurang. Butiran kristal bening mengaliri sebuah kehampaan. Dita tak peduli lagi dengan make-up yang mulai luntur. dipeluknya keduanya dengan penuh haru “Terimaksih ayah, terimaksih bunda!”. Dirasa sesak dadanya. Mungkin Dita tidak bisa menjadi seperti yang mereka harapkan, tapi inilah yang terbaik yang dapat dia persembahkan. Tekadnya dalam hati, setelah dia sandang gelar Sarjana Ekonomi, dia akan jadi seorang ekonom hebat, yang akan menjadi penerus ayah kelak! Baginya, perhelatan wisudanya ketika itu terlalu mewah, hampir menyerupai perayaan pernikahan. Ayah bundanya telah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari. Studio foto terbaik dipilihkannya untuk mengabadikan kebahagiaannya. Undangan disebar pada seluruh kolega dan keluarga besar Suryadibrata, tak lupa dengan beberapa panti asuhan juga, untuk menghadiri syukuran atas kelulusannya. Bahagianya meruah! Bukan semata karena acaranya yang pasti akan sangat meriah, tapi karena itu berarti Dita bisa melepas kangen dengan saudara-saudaranya. Ibu, tante, bu ‘de, kakak, ade, dan tentunya kakeknya tercinta…hmmm kakek? Setiap kali Dita menyebutnya, menegang seluruh tubuhnya…kenapa kakek? Bukankah dia kakak ayahnya? Kenapa dia tak dibiasakan memanggilnya Pak ‘de?
*** ***
“Halo, Dita! Selamat ya sayang. Mudah-mudahan setelah ini kamu cepat mendapat pekerjaan dan segera menemukan pilihan hati”. Satu persatu tamu undangan berdatangan. Seperti dugaannya, sangat meriah. Tak hentinya salam hangat dan peluk cium ia dapatkan. “Terimakasih om, terimakasih tante”. Hanya itu yang mampu terucap. Dita menyambut semua dengan senyum tulus yang ia punya, dengan segala suka cita. Pandangnya menyapu segala arah, mencari satu sosok yang selalu membuatnya merasa nyaman dalam dekapnya. Cerminan dirinya terlihat ada padanya. Tak pernah dipahami! Bukan hanya satu sosok itu, tapi ia rindu kehadiran keluarga Kakek Wiryo Suryadibrata. Jiwanya menyatu dalam keluarga itu, hatinya sangat dekat dengan mereka, anak cucu kakek Wiryo.
Lelah ia menanti. Tamu-tamu dan keluarganya yang lain mulai meninggalkan rumahnya. Tapi belum ada tanda-tanda akan datang menyusul satu keluarga yang sangat diharap kehadirannya. Ingin rasanya ia membagi bahagia dengannya, dengan mereka…Acara telah benar-benar berakhir! Dita kecewa! Sangat! Kakek Wiryo dan keluarga ternyata tidak datang, juga tidak ada ucapan selamat walau hanya lewat telepon…
***
Malam merambati bumi…Sepi menambah senyapnya hati Dita. “Assalamu’alaikum…” Pintu kamar Dita terbuka perlahan. Temaram lampu dan air mata membaur mengaburkan pandang. Rasanya dia mengenal sosok itu! Ibu! Jeritnya tertahan dalam hati. “Dita! Kamu sudah tidur, nak?” lembut suaranya begitu menenangkan, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. “Ibu! Kaukah itu?”. Tak menunggu jawab, Dita melompat dari atas tempat tidur, menghambur ke pelukannya. Hangat menjalar di sekujur tubuh, menembus hingga ke akar hati, hal yang tak pernah ia dapati dalam pelukan bunda…”Kenapa ibu terlambat datang?” Dita terisak dalam kata. “Kok, nangis? Sengaja ibu datang terlambat. Ibu ingin menatapmu lebih lama!”. Bergetar nada suara nya. Dita pererat dekapnya. Entah apa yang ia rasakan! “Selamat ya sayang! Sekarang kamu sudah menjadi semakin dewasa. Semoga ilmu yang kamu dapat bermanfaat bagi orang banyak. Ibu bangga sama kamu”. Tertahan kalimatnya, menambah aliran deras di pipinya. “Ibu tidak sendiri kan?”. Berat ia lepaskan diri dari pelukan ibu. “Nggak dong! Ibu datang rombongan, ada kakek Wiryo, tante Iin, tante Eli, tante Eni, bu ‘de Ratna, juga si kecil Putri. Mereka ada di bawah”. Ah! Senangnya! Tak sabar ia bergegas menuruni tangga. Di ruang keluarga, dilihatnya mereka sedang bercengkrama dengan ayah bunda. dihampirinya kakek Wiryo, diciumnya tangan keriput itu, dikecupnya hangat keningnya. Bergantian dihampirinya tante dan bu ‘de. Peluk cium terasa begitu menentramkan. Bagian dari dirinya terpisah! Dan serpihannya menjadi mosaik indah dalam keluarga itu…Ingin ia bermanja di pangkuan kakek, atau di pangkuan ibu. Tapi langkahnya mendekati bunda dan bergelayut mesra di pundaknya. “Anak manja! Lihat kak! Dita protes ceritanya, dia kira kak Wiryo dan keluarga nggak akan datang. Makanya sejak acara selesai tadi, dia mengurung diri di kamar”. Bunda mengerling nakal ke arah Dita. Ia tersipu, “Bunda! Jangan buka rahasia dong! Kan Dita malu”. Dita meringis kala bunda mencubit hidungnya. Lengkap sudah kebahagiaannya hari itu. Kemesraan bunda dengannya ditanggapi dengan derai senyum semua yang ada. Dari sudut matanya terlihat ada kilatan aneh dari sorot mata ibu. Diantara senyum tulusnya dirasakannya ada bias perih samar pada air muka yang lagi-lagi memanah rasanya. Seolah menyadarkannya, perlahan ia tegakkan kepalanya. Ada apakah gerangan ibu di matamu? Andai saja Dita dapat membaca isi pikiranmu…Ah! Ibu! Keanehan yang mengusiknya akhir-akhir ini semakin meraja. Kenapa padamu aku memanggil ibu? Tidak tante atau bu ‘de? Kenapa adikmu aku panggil tante dan kakakmu kupanggil bu ‘de? Kenapa pula aku memanggil anak-anak mereka kakak atau adik? Dan siapakah anak-anak mu ibu? Siapa pula suamimu? Hanya keluargamu yang tidak aku tahu. Hati tak pernah terlerai. Hentakkan tanya di dadanya semakin menguasai keingintahuannya…Banyak hal tak terjangkau akal. Dari silsilah keluarga, kakek Wiryo adalah kakak ayah dan semestinya Dita memanggil anak-anaknya kakak……..Mungkinkah dia? Pikiran konyol menggelitik. Tidak! Dita berontak! Meski satu sisi hatinya tetap gamang… Tidak mungkin! Apalah arti sebuah panggilan. Kenapa dia harus dipusingkan itu? Tak ingin ia berkhayal. Dita berpijak di bumi nyata dan bukan berada dalam buaian atau dongeng yang meninabobokan…
*** ***
Semua tanya yang tak pernah berujung jawab, sedikit demi sedikit menguap dari benaknya seiring dengan bergulirnya detik menapaki jalanan lara yang mendera. Tidak sesulit yang ia bayangkan sebelumnya, dalam waktu tidak lebih dari dua bulan, Dita sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih dari cukup. Posisinya sebagai accounting telah menempatkannya pada posisi penting dalam perusahaan. Dan dia bangga dengan potensi yang dia miliki, karena meskipun kolega ayahnya terdistribusi hampir di seluruh kota, dia bisa masuk tanpa campur tangan beliau. Dita sangat menikmati pekerjaannya. Bidang yang sesuai, dan lingkungan yang begitu bersahabat, menjadi modal utama baginya untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik.
***
Hidup ibarat aliran sungai yang senantiasa mengalir menyusuri alur bumi menuju muara keabadian cinta-Nya. Tak ada yang tahu akan setiap rencana Sang Maha, tiada teraih, semua ada dalam genggaman-Nya, berjalan sesuai dengan taqdirnya masing-masing…
Enam bulan setelahnya, adalah titik balik kehidupan Dita, karena dari sanalah ia temukan muara dari segala Cinta…Hari itu seperti biasa Dita datang lebih awal ke kantor, segera menjalankan tugas-tugas yang telah menjadi haknya. Hanya saja, ia merasakan ada sesuatu yang aneh dengan tubuhnya, setiap ruas-ruas di tubuhnya terasa ngilu, kaki dan tangannya lemas bukan main, hampir tidak bisa digerakkan, padahal ia tidak pernah lupa sarapan dan minum vitamin. Ia paksakan untuk tetap bertahan hingga jam kantor usai, ia hanya mengusahakan untuk tidak terlalu banyak bergerak.
***
Di rumah, keadaannya tidak menjadi lebih baik, malah sebaliknya, rasa ngilu berubah menjadi rasa sakit yang tak terperi. Dengan sangat terpaksa ia pun shalat dengan posisi duduk. Allah Maha Tahu… Sejak saat itu, ia sudah tidak mampu lagi bekerja…Ayah bundanya terang saja begitu khawatir, karena makin hari keadaannya kian parah, di seluruh tubuhnya muncul bercak-bercak hitam, persis seperti gosong terkena api atau air panas. Tangan dan kakinya kaku, tidak bisa digerakkan. Diagnosa dokter sangat mengejutkan mereka. Dita terkena kanker kulit stadium tinggi yang diakibatkan karena iritasi dari getah karet (lateks). Diagnosa yang sangat beralasan, karena Dita bekerja di perusahaan yang memproduksi ban, dimana bahan dasarnya adalah lateks. Kepedihan yang tak bisa terlukiskan, air matanya turun perlahan membasahi muka yang mulai tirus, begitu pun dengan ayah bunda.
Segala upaya dikerahkan ayah bunda untuk kesembuhan Dita. Rawat inap di Rumah Sakit terbaik sudah tak terhitung hari. Perkembangan tidak terlihat sedikitpun, akar-akar kanker telah mengganggu fungsi organ tubuhnya yang lain. Lambungnya sudah tidak mampu mencerna makanan dengan baik. Seperti mengidap Bolemia, setiap kali makanan tertelan, setiap kali pula ingin dimuntahkannya kembali, praktis tak ada asupan makanan yang dapat menyokong kekebalan tubuhnya lagi. Sementara itu, seluruh tubuhnya menghitam dan semakin kaku, jangankan tersentuh, terpaan hembusan angin saja membuatnya ngilu, rintih kecil seringkali terucap…Bosan ia dengan keadaan Rumah Sakit, dengan kemonotonan, dengan saling silang selang infus di tubuhnya, dengan bau obat yang semakin membiusnya dalam rasa yang tak terbantahkan nyerinya, Dita memohon pada bunda untuk dapat menikmati sisa hidupnya di rumah saja. Meski dengan berat hati, bunda dan dokter yang merawatnya akhirnya menyetujui permintan Dita.
Tak patah arang, setelah di rumah pun, ayah bunda Dita tetap mengusahakan kesembuhannya. Berbagai cara pengobatan alternatif dicobanya. Tapi hasilnya tetap nihil…Setiap hari, rumahnya tak pernah sepi dari tamu yang ingin memastikan keadaannya, entah itu keluarga, tetangga ataupun kolega ayah. Tak ada satupun dari mereka yang mampu menyembunyikan rasa ibanya. Bagaimana tidak, ia lebih seperti tengkorak hidup kalau tidak ingin disebut mayat hidup.
***
Adalah ibu, yang dengan doa-doanya selalu menemani Dita, dalam isaknya, beliau perdengarkan kalam-kalam Illahi di telinganya. “Kamu harus kuat, sayang! Kami semua menyayangimu” Berat nada suaranya. Dibelainya rambut Dita yang semakin menipis. Dita tersenyum, merekahkan bibir yang pecah-pecah karena dehidrasi pastinya. “Insyaallah ibu, doakan aku agar tetap sabar dan ikhlas…” Matanya terpejam, meleleh samudra ketegaran dalam dada, Rabb, hamba ikhlas. Gumamnya lirih…Hening menemani, ketika tiba-tiba, dadanya terasa nyeri luar biasa, ulu hatinya perih, mual, tanpa bisa ia tahan lagi, Dita terbatuk, dan…”oek!!” Dita muntah darah, lagi, lagi, dan lagi…Tenaganya terkuras, matanya nanar, pendengarannya mulai samar.
Dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, ia selalu optimis untuk bisa bertahan hidup, demi ayah bundanya, demi ibu, demi orang-orang yang ia cintai. Dita tahu Allah selalu mengabulkan setiap permintaan hamba-hamba-Nya. Tiga bulan dalam rasa sakit, pandangnya semakin kabur. Dita hanya tinggal raga berbalut tulang yang terbujur kaku, perih, pedih, sedih berbaur dalam nadi yang mulai tersendat aliran darahnya…Dita hanya bisa menyebut nama-Nya dalam hembusan nafas yang semakin berat ia rasa. Laaillahaillallah Muhammadarrasuulullah…
***
Malam tak terhias bintang, sunyi senyap jagat raya. Kelam mewarnai lazuardi, menambah kepiluan rasa. Tubuhnya serasa melayang, matanya terpejam dengan sesungging senyum termanis yang ia sisakan bagi mereka yang selalu mencintainya. Tak ia rasakan lagi sakit yang selama tiga bulan terakhir menyiksanya. Dan ia temukan semua yang ia cari selama ini…
“Innalillahi Wainna Ilaihi Raji’un…”. Terdengar lirih terucap dari setiap bibir. Lantunan ayat suci begitu mendamaikan. Tak ada kehisterisan, satu bukti penghambaan pada Sang Pemilik Kehidupan. Ridha! Hanya isak tangis yang terdengar, tertahan, dan sakit! Di satu sudut ruang terlihat bunda dan ibu saling berpeluk dengan derai air mata. Ada penyesalan yang begitu dalam dirasakan bunda. “Ratih, maafkan tante! Bukan maksud tante menyembunyikan siapa sebenarnya Dita. Jujur tante sangat takut kehilangan Dita, dan terlalu egois sehingga selalu mengulur waktu membeberkan sebuah kebenaran. Tante sangat menyesal, Rat!”. Mata ibu semakin basah “Tidak tante, ngga ada yang perlu disesali. Semua adalah kehendak-Nya. Dita akan selalu bangga memiliki bunda seperti tante” “Tapi aku berdosa tidak mengatakan yang sebenarnya kalau ternyata, kamulah ibu kandungnya, Rat!”…….Dita menatap keduanya dengan terharu, jadi, selama ini?…Ya Allah, inilah yang terbaik yang telah Engkau berikan. Dan Engkau Maha Tahu akan segala sesuatu. Tidak ada hal yang harus dipertanyakan lagi tentang keadaannya di waktu lalu…
***
Tidak ada kebencian, pun tidak ada kesalahpahaman, semua menyayangi Dita. hingga setelah ia menghadap-Nya sekalipun. Hari ini terlihat ibu bersimpuh di depan sebuah pusara yang bertuliskan Dita Ramadhani binti Ramadhan, lahir: 15 Agustus 1975, wafat: 16 Agustus 2001 dengan kekhusuan doa-doa nya. Demi Engkau Ya Allah, aku ridha dengan segala ketetapan-Mu…
-Bhineka Raya, 20 Juni 2005-
Rating Views: 75 reads
Comments: 6
Rating:
Favorites You have to login to access this feature
click here Flag You have to login to access this feature
click here
Semua comment teman-teman semoga jadi motivasi buwatku untuk terus dapat menulis dengan lebih baik lagi
tulisannya dah bagus cuma diakhir kok kesannya terburu-buru yah..
bagus..
anti klimaks yg menarik.
terus buat kagi y!
Ini adalah nasihat. Menjadi salah satu pelajaran hidup, untuk menjalani hidup secara bijaksana. Tidak ada yang bisa melawan kehendak-Nya, maka terimalah segala hasil yang ia berikan setelah segala usaha yang kita lakukan
Teruslah berkarya!
sungguh..aku bangga dengan ketulusan hati tuk selalu berserah diri pada Allah..keep writing ndri !! dalam banget maknanya
nice story..
i can feel it...
keep writing