Derit pintu bercicit-cicit
Sunyi sekam merambah muram
Rumah tua itu catatan kelam
Berhari-hari mengusung legam
Tubuh kaku menjuntai nanar
Jangan tinggalkan aku!
Seminggu merekah malam
Flamboyan tersayang tersimpan harmoni
Di dipan lusuh menghadap timur
Kakak, aku rindu kicau tekukur
Mereka datang!
Membungkus kafan dalam hening
Tandu melambai-lambai heran
Arghhh...lepaskan jangan kau ambil!
Rating
73
points
Views: 28 reads
Comments: 9
Rating:
Comments: 9
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
memeang benar kata mereka
kita tak akan merasakan cintanya
hingga kita kehilangan dirinya
good!!! =D>
em... saya merasakan aura kehilangan itu
menerima kenyataan itu belajar menelan pil terpahit dari dalam jantungmu sendiri...
seperti ada yang hendak terhisap habis?
tapi apa?
ehmmmm
kakak aku rindu kicau terkukur >>> gue suka disininya...... sebenarnya mo kasih point 11 tapi di sini cuma ada 1-10 jadi sorry yach
9 harinya ga keliatan?
membawaku pada suasana rindu-muram dan ketakrelaan..
tulisanmu bagus...
mungkin perlu penambahan metafor saja..
Kamu punya penangkapan atas satu peritiwa yang berbeda menurut saia.
Kamu juga apik mengemasnya. Dan puisi punya klimaks dan diakhiri ending yang mengharukan. Diksi yang kamu pilih klop dengan rasa di makna itu sendiri.
Saia suka bagian tekukurna.
Wah, kamu pasti mengembangkan lagi di fenomena berbeda dan musti....
objektif
Salam