Di lintang utara tiga puluh sembilan
Tersirat ruang tembikar berkilau lentik
Berdua terkukung sehabis menelan senja
Hadirkan malam dengan tarian zapin
Berseri muka dalam senyap
Menapaki riang menandas sepi
Permadani sutra emas pun merekah
Menyambut tuan menyelam malam
Tuanku datang!
Gegas sebarkan rempah citrus bergamot
Main dan cabikan garputala dalam C Minor
Hingga lentingan beliung melantun ke antartika
Tuanku senang!
Menerangi penghuni malam dengan penuh keikhlasan
Keringatnya menghangatkan tulang yang meramping
Air matanya membuat cermin mendendangkan kerinduan
Tuanku muram!
Denyut nadinya menipis pelan
Gemeretak giginya merentak kelu
Kakinya terpapar beku menciut
Sttt....
Rupanya mentari mengintip muram
Mengatup bisu menatap gersang
Mau menculik tuanku?
Nikahkan saja!
Supaya mentari bersatu dengan tuanku..sang bulan!
Rating
Comments: 17
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
...speechless...
=D> =D> =D> =D>
T.O.P loh..
Metaforanya asik bro...
=D>
puisi nya ehmmm
ehmmmm
aduh kok susah banget yach mo ngomongnya
takut salah comment gue
ehmmm puisinya itu awalnya
ehhh dari akhirnya aja yach?
akhir puisinya itu .....
sorry gak jadi comment
masih grogi ngomongnya
huahuahuahuahua
jadi intinya no comment
iyaa..
keren ion..
perpaduan antara imajinasi, metafora dan ilmu pengetahuan..
jago..jago..
=D>
salam kenal juga ya..
Assalamualaikum?
Pengolahan kata-katamu cukup bagus kawan, bertabur metafor disini.
Salut...
....keren... =D>
tarian zapin di tigapuluh derajat lintang utara, melentik berdua setelah menelan senja.
ada banyak andaian menarik yang kau pakai. ranah-ranah istilah yang tidak kupahami tapi indah. mengapa kau tidak mengoptimalkannya?
=D> Bagus kawan..
Bagus =D>