Bumi nampak murung seperti gelisah
Mendung bawa kabar tentang duka
Tiupan angin malam bawa pertanda
Alam bawa kisah tikus resah
Beritakan tangis
Saat gelombang laut hanyutkan ribuan manusia
Tanpa mau mengerti datang tepati janji
Diwaktu suami terlelap mendekap istrinya
Gemuruh gelombang singkirkan tawa yang ada
Air air keruh menari di nurani
hancurkan gubuk, hancurkan kedamaian manusia
Ratakan dengan tanah
Oh Tsunami...
Apakah dosa manusia?
Apakah Tuhan marah?
Ataukah alam enggan bersahabat?
Rating
68
points
Views: 28 reads
Comments: 11
Rating:
Comments: 11
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
penjiwaanya bagus
keren yang bilang datar. tampar aja
menurut saya memang beginilah yang harus digambarkan maaf shinichi sepertinya sekali ini saya tidak setuju dengan komentar anda, saya rasa ini tidak datar memang digambarkan harus seperti itu
Apakah dosa manusia?
Apakah Tuhan marah?
Ataukah alam enggan bersahabat?
-peletakan yang jangal di bait terakhir
-Struktural bait/pemilihan kosa kata
dan ketertautan alur juga sedikit kacau
-feel nya kurang menyentuh hanya lebih
di judul saja
-Penuangan ekspresi yang lumyan
menyentuh jiwa
salam kenal dari orang yang lemah ilmu ini
setuju dengan komentar yang sudah2,,
di bait akhir seperti lagu,, tapi itu adalh sebagian ending yang menarik dari karyamu ini ...
meski terkesan datar (padahan saya juga ga bisa bikin kaya begini, ahak...hak...hak...)
puisi perenungan yang tergolong bagus!
terus menulis sahabat!
salam,,
makasih moga menjadikan aku lebih bagus dalam berkaya
dibait terakhir kaya' lgu deh!
dibait terakhir kaya' lgu deh!
datar
ide nya keren..
aku hanya merasa kurang nyaman di bait akhir. mungkin lebih baik jika dislip2in di antara bait awal
salam