Kau tahu Agnira, malam saat kau melingkarkan kedua tanganmu di pundakku, mencoba merangkulku, merengkuhku erat seakan malaikat maut akan segera mengangkat jasad dan rohku naik ke langit, aku tahu bahwa kita tidak ditakdirkan untuk bersatu. Cinta telah bermain-main di kedalaman hati kita, namun ia tidak memberi ruang bagi kita untuk hidup bersama lebih lama.
makasih atas komen dan masukannya.
memang, mungkin itulah kelemahan atau kekurangan sebuah cerpen yang ditulis dalam dua rentang waktu yang berbeda, nadanya menjadi berbeda. terus terang, hasil akhir dari ceritanya juga melenceng jauh dari awalan yang kurencanakan.
hatur nuhun..
Terus terang, paparannya bukan jenis bacaan favorit gw.
---
Tapi,
"Inilah mungkin yang dirasakan oleh Santiago manakala ia bertemu dengan gadis gurun bernama Fatima di oase Al-Fayoum, dan tergoda untuk meyakini bahwa pertanda-pertanda telah menuntunnya untuk menemukan kekasihnya itu, bahwa Fatima-lah sebenarnya harta yang ia cari."
Kutipan ini yang membekas buat gw. Kenapa coba akhirnya Santiago tetap berangkat mengejar harta dan meninggalkan Fatima? "Karena laki-laki gurun memang harus pergi meninggalkan wanitanya," jawab Fatima meringankan beban Santiago. Ugh!
---
Salam buat Jatinangor. Jembatan cincin, sekarang dan sepuluh tahun lalu, tetap sama kan? Jadi kangen...
Jalaindra, di paragraf kedua, pengulangan kata "kota" terasa mengganggu.
---
Sebenarnya, bahasa kamu cerdas, tapi kadang aku melihat seolah ada nafas cukup lama memisahkan antar paragraf sehingga seolah "nada"nya berbeda. Kadang bahasanya datar, kadang kau meliuk-liuk. Akhirnya aku mendapat kesan, untuk sebuah monologue, tulisan ini menjadi kurang lancar. Beberapa deskripsi pun seolah berkepanjangan. Menjadi jenuh tuk berlama-lama orang mengikuti. Dan spt yang aku sebut di awal, masih ada pengulangan kata yang kentara dalam kalimat berdekatan, sehingga menjadi sedikit mengganggu.
--
Silahkan menulis lagi. Ditunggu!
rahasia apa yang Kausembunyikan di antara bebintang
yang bahkan barisan nisan pun tak Kauberi kabar
dan belulang Kaubiarkan berbisik menerka
menc ... lanjut baca
Sujud Pagi
: kejora maya
tidakkah kaudengar bisikan jingga
pada ujung cahaya pertama yang hinggap di pelupuk mata
selain nada-nada sederhana ke ... lanjut baca
Doa Tanpa Huruf R
aku memang tak pandai mengeja abjad
selalu saja ada yang luput kuucap
aku memang tak piawai menghitung angka
sembilanpuluhsemb ... lanjut baca
andai bisa kukecup keningmu
di langkah pertama setiap kembaraku
tak akan pernah ada sesal ragu
keberangkatan selalu penuh teka-teki
kota-kota, ... lanjut baca
penyair di lidah ombak
dihantam buih
tak selesai ia cipta sajak
penyair di lidah ombak
dihempas gelombang
melarung kata ke ribuan seberang
a ... lanjut baca
: agni
pada jemari yang saling menggenggam bisu
kuisyaratkan selarik sajak di penghujung waktu
kata tak lagi bisa ungkapkan semua
dan kita terse ... lanjut baca
lupakan saja, aku muak mencatat peristiwa
ternyata celana dalam yang dilempar ke atas genteng mampu menangkal hujan
alasan absurd lain adalah pengar ... lanjut baca
hari ini...
kita tetap saja berlarian dalam irama yang kacau balau
melupakan semua yang telah lewat, mengingkari
seluruh janji
terima kasih unt ... lanjut baca
matamu kutub utara
benua dingin bersalju
aku beku. aku kelu
ah, tak mengapa
mungkin aku bisa menari di permukaan licinnya
meluncur, menaklukk ... lanjut baca
Pesta cocktail @Blackpearl-Martini Bar,
1 Agustus 2007, 09.00 pm
Suasana Blackpearl, club-bar baru di bilangan jalan arteri permata hijau itu, ... lanjut baca
DAMAR dan Mawar. Padahal mereka anak-anakku. Dua-duanya lahir dari rahimku, buah percintaanku dengan satu-satunya lelaki bernama Danu. Demi Tuhan, aku ... lanjut baca
Kala semua orang terbujur menyembah sang khalik, yang kaulakukan berbeda dari kesibukan wajar orang-orang kebanyakan.. Wahai kasih,, ingatkah kau, dia ... lanjut baca
Terkadang ku sedih karna mu
terkadang ku sakit melihat tingkahmu
tapi walau bagaimanapun ku tetap sayang padamu
menyayangimu segenap jiwaku
anda ... lanjut baca
terus menari, dalam setiap hentakan jantung ku.
detaknya selalu terasa lebih kecang setiap aku melihat mu.
lengkungan senyum itu, terasa bagai seb ... lanjut baca
Sesuatu yang tidak kau tahu...
Engkau tak akan pernah tau…
Bila aku sangat mencintaimu,
Karena semua itu akan terus tersimpan di hati…
E ... lanjut baca
ketika aku akan bahagia
ada satu kisah seakan melarangku bahagia...
ketika semua sudah terencana
aku harus merelakan semua jadi sia-sia...
saat ... lanjut baca
Ya Allah
Akhirnya jawaban-Mu datang juga
Terimakasih karna ku tak perlu menunggu lama
untuk melihat jawaban dari semua
Hari ini ku mendapatkan ja ... lanjut baca
Dan untuk sang masa lalu
kan ku persiapkan langkah kakiku
Ku kan berlari Meski bukan untukmu
Ku hanya ingin kau tahu
Dan untuk sang masa lalu
K ... lanjut baca
Sebenarnya cerpen bisa lebih KUAT setelah editing, mungkin editingnya gak pada waktu yang tepat kali ya...
makasih atas komen dan masukannya.
memang, mungkin itulah kelemahan atau kekurangan sebuah cerpen yang ditulis dalam dua rentang waktu yang berbeda, nadanya menjadi berbeda. terus terang, hasil akhir dari ceritanya juga melenceng jauh dari awalan yang kurencanakan.
hatur nuhun..
Kok rasanya lambaaat banget ya.
melelahkan, monoton
Terus terang, paparannya bukan jenis bacaan favorit gw.
---
Tapi,
"Inilah mungkin yang dirasakan oleh Santiago manakala ia bertemu dengan gadis gurun bernama Fatima di oase Al-Fayoum, dan tergoda untuk meyakini bahwa pertanda-pertanda telah menuntunnya untuk menemukan kekasihnya itu, bahwa Fatima-lah sebenarnya harta yang ia cari."
Kutipan ini yang membekas buat gw. Kenapa coba akhirnya Santiago tetap berangkat mengejar harta dan meninggalkan Fatima? "Karena laki-laki gurun memang harus pergi meninggalkan wanitanya," jawab Fatima meringankan beban Santiago. Ugh!
---
Salam buat Jatinangor. Jembatan cincin, sekarang dan sepuluh tahun lalu, tetap sama kan? Jadi kangen...
Setuju, di paragraf kedua, "kota" terlalu sering diulang.
Tapi lewat dari paragraf itu oke pisan...!
Jalaindra, di paragraf kedua, pengulangan kata "kota" terasa mengganggu.
---
Sebenarnya, bahasa kamu cerdas, tapi kadang aku melihat seolah ada nafas cukup lama memisahkan antar paragraf sehingga seolah "nada"nya berbeda. Kadang bahasanya datar, kadang kau meliuk-liuk. Akhirnya aku mendapat kesan, untuk sebuah monologue, tulisan ini menjadi kurang lancar. Beberapa deskripsi pun seolah berkepanjangan. Menjadi jenuh tuk berlama-lama orang mengikuti. Dan spt yang aku sebut di awal, masih ada pengulangan kata yang kentara dalam kalimat berdekatan, sehingga menjadi sedikit mengganggu.
--
Silahkan menulis lagi. Ditunggu!