Sungguh saya terkejut saat mendengar penuturan Mbah Sarip, seorang tetua di kampung saya bahwa dahulu kala, di kampung saya pernah hidup seorang tokoh bernama Ki Ageng Joloindro. Kenapa saya terkejut, karena nama saya hampir sama dengan nama tokoh tersebut. Nama saya jalaindra. Joloindro mungkin adalah pengucapan jalaindra versi jawa. Beberapa tahun lalu, ketika saya mulai menggunakan nama jalaindra sebagai alias dalam menulis dan mengirimkan karya-karya sastra saya ke media massa baik itu cetak atau pun internet, saya belum mengetahui keberadaan sosok tokoh tersebut.
rahasia apa yang Kausembunyikan di antara bebintang
yang bahkan barisan nisan pun tak Kauberi kabar
dan belulang Kaubiarkan berbisik menerka
menc ... lanjut baca
Sujud Pagi
: kejora maya
tidakkah kaudengar bisikan jingga
pada ujung cahaya pertama yang hinggap di pelupuk mata
selain nada-nada sederhana ke ... lanjut baca
Doa Tanpa Huruf R
aku memang tak pandai mengeja abjad
selalu saja ada yang luput kuucap
aku memang tak piawai menghitung angka
sembilanpuluhsemb ... lanjut baca
andai bisa kukecup keningmu
di langkah pertama setiap kembaraku
tak akan pernah ada sesal ragu
keberangkatan selalu penuh teka-teki
kota-kota, ... lanjut baca
penyair di lidah ombak
dihantam buih
tak selesai ia cipta sajak
penyair di lidah ombak
dihempas gelombang
melarung kata ke ribuan seberang
a ... lanjut baca
: agni
pada jemari yang saling menggenggam bisu
kuisyaratkan selarik sajak di penghujung waktu
kata tak lagi bisa ungkapkan semua
dan kita terse ... lanjut baca
lupakan saja, aku muak mencatat peristiwa
ternyata celana dalam yang dilempar ke atas genteng mampu menangkal hujan
alasan absurd lain adalah pengar ... lanjut baca
hari ini...
kita tetap saja berlarian dalam irama yang kacau balau
melupakan semua yang telah lewat, mengingkari
seluruh janji
terima kasih unt ... lanjut baca
matamu kutub utara
benua dingin bersalju
aku beku. aku kelu
ah, tak mengapa
mungkin aku bisa menari di permukaan licinnya
meluncur, menaklukk ... lanjut baca
Saya mengenal perempuan itu belum lama. Waktu itu tanpa sengaja saya melihat jendela di rumah sebelah yang berada tepat di depan rumah kontrakan saya. ... lanjut baca
BANDAR LAMPUNG, PROVINSI LAMPUNG
Keesokan paginya, Brahma dan Yasmin kembali meniti jalan dengan sepeda motor. Sayangnya, mereka tidak dapat mengin ... lanjut baca
KOTA PANJANG, PROVINSI LAMPUNG
Ning berjalan melewati lapak-lapak dagangan di pasar sambil membawa sebuah bakul kecil di pinggangnya. Bakul itu ber ... lanjut baca
KOTA PANJANG, PROVINSI LAMPUNG, TIGA HARI YANG LALU (SAAT PEMBUNUHAN)
Yasmin tergeletak tak berdaya di sudut dapur. Tubuhnya penuh dengan keringat ... lanjut baca
Esoknya, aku berangkat sekolah seperti hari-hari biasanya. Aku melangkah memasuki ruang kelas. Bintang dan Surya tampak telah tiba terlebih dahulu. Bi ... lanjut baca
Aku terus menangis untuk beberapa saat, hingga akhirnya ibuku mencoba untuk menenangkanku. Sekitar tiga puluh menit kemudian, tangisanku terhenti, per ... lanjut baca
Ini sequel (sequel bukan cerita serial atau bersambung) dari cerpen horror, The Elevator, yang sudah saya posting sebelumnya. Jadi, ceritanya masih ag ... lanjut baca
Ruangan itu berada di lantai paling atas Art Building, dibatasi oleh kaca lebar di bagian sisinya yang berbentuk setengah oval. Dua buah sofa hitam pe ... lanjut baca
“Kenapa kamu tega melakukan ini semua, Ram?”
Tya menitikan air matanya perlahan. Kemarahan, kekecewaan dan kesedihan yang mendalam terpancar ... lanjut baca
Empat tahun lagi aku akan datang untuk mempertanyakan cintamu. Saat itu kamu pasti sedang di wisuda. Berjanjilah kamu akan menungguku.
ooOOOoo
... lanjut baca
Kurasa dengan deskripsi yang nyaris sempurna, penulis tidak perlu untuk mendengar kisah legenda ini dari Mbah Surip hehehe
Bang tulisanmu kali ini adalah tulisan yang punya unsur edukatif dengan sebuah pendekatan yang halus.
showing not telling