Sepetak kamar kontrakan di ujung gang itu telah lama ditinggalkan penghuninya. Gelap, hanya temaram lampu bohlam di luar kamar yang sedikit memberi keremangan di dalamnya. Waktu itu tengah malam. Orang-orang tengah sibuk menggembalakan mimpi-mimpinya. Jarum jam mendetak sunyi. Hembus angin menggoyangkan dedaunan rumpun bambu, menjelmakan gerisik dan keriut menyeramkan tak jauh di kebun belakang.
Gurunda, aku pernah membayangkan cerita yang serupa dgn alur yang berbeda dan tokoh2 yang berbeda.
apakah ini sebuah proses yang harus dilalui? sehingga suatu saat semua penulis yang memulai proses kreatifnya akan melalui jalan yang sama dan akhirnya berada pada titik yang sama juga? setara tanpa perbedaan derajat?
omong2, alasanku waktu itu ingin menulis kisah seperti ini karena.. aku ingin menganalogikan Penciptaku dan menganggap seharusnya Penciptaku bisa memasuki duniaku; persis seperti peristiwa masuknya penulis kisah ke dalam adegan perdebatan pulpen dengan buku catatan.. hanya saja, kehadiran laptop di sini membuat analogi yang kuciptakan jadi sedikit terganggu..
ah, begitulah., makin banyak bicara, makin kelihatan bodohnya aku di matamu. huahahaha.
Betapa inginnya saya membuat cerita seperti ini. pernah satu kali saya membuat puisi judulnya "Kepergian Sang Pena". kalau kisah ini bercerita tentang seorang penulis yang tak lagi memperdulikan penanya, puisi saya menceritakan sebatang pena yang tidak mempedulikan lagi penulisnya.
hah, aku tak menyangka ide-ide sejenis itu bisa mengalir sejenius ini.
"Ha..ha..ha! apa kalian cemburu padaku pena dan buku? hmm... memang sudah seharusnya kalau kalian cemburu padaku! Buku, kau pikir dirimu siapa, hah? Tubuhmu tak mampu menanggung deras banjir kata-kata yang akan ditumpahkan tuan kita, sedangkan diriku mampu memanggul seberat apapun data yang akan disimpan oleh tuan kita, entah itu bermega-mega ataupun bergiga-giga. Dan kau pena, tarianmu di tubuh temanmu --- Sang Buku itu begitu kacau! Amburadul! Memang sudah wajar kalau tuan kita ingin mengetikkan kata-kata yang rapi dan teratur untuk kisahnya itu. Dan aku mampu memenuhi harapannya itu sedangkan kau tidak!"
"Selain itu, kalian kira harga kalian itu berapa, hah? Nilai diri kalian tak lebih dari ribuan rupiah saja, sedangkan aku puluhan juta! Tentunya, kisah yang berharga yang ditulis tuan kita itu tak bisa dipercayakan pada kalian! Jadi jangan kecewa kalau tuan kita lebih menyanyangiku daripada kalian!" ujar Laptop.
Pena dan Buku menunduk sedih. Mereka termakan oleh kata-kata Laptop. Buku yang lebih berani daripada pena pun tak bisa berkata apa-apa.
Melihat temannya yang menitikkan air mata itu, pena meledak marah.
"Kau pikir dirimu itu siapa, Laptop! Memang benar kalau daya tampungmu lebih luas dan lebar daripada buku, tapi kau itu tak bisa dipercaya! Sudah seringkali terjadi data-data yang disimpan tuan kita kau hilangkan sehingga tuan kita harus mulai dari awal lagi --- atau lebih parah berhenti menulis! eh, maksudku mengetik! Selain itu, biaya makanmu itu sangat mahal! Tuan kita seringkali juga mengeluh merogok kocek karena uang hasil Royalltynya dihabiskan untuk merawatmu! Kau tak sayang tuanmu karena seringkali 'sakit' "
"Benar, benar!" timpal Buku yang keberaniannya muncul kembali.
"Kau juga tak begitu tulus dan jujur mengalirkan maksud dari tuan kita! Aliran kata-kata yang ingin disampaikan tuan kita selalu terhenti karena kau terlalu sistematis dan mengoreksi tuan kita dengan koma, titik dan tanda seru! Sedangkan pena --- yang walaupun kacau, tapi dengan jujurnya mengalirkan ide itu ke lembaran-lembaran tubuhku!"
"Ya! Ya!" sahut Disket.
"Tanpa aku, tuanmu tak akan bisa menulis kisah yang ada di sebelah kiri ini! Karena tuanmu dan tuanku tahu kalau kau itu tak bisa dipercaya!"
"Sewaktu kau 'sakit' dan menghilangkan data-data yang sudah ditulis tuan kita selama berbulan-bulan, akulah yang menyelamatkannya dengan isi otakku yang akurat!"
"Dan kau Laptop, kau itu terlalu sombong! Mentang-mentang dirimu sudah menggantikan Pena dan Buku, belum tentu tak ada 'yang lain' yang akan menggantikanmu!
Buktinya, aku saja yang sudah mengabdi bertahun-tahun ternyata digantikan oleh CD dan CD digantikan oleh Flasdisk! Jadi lebih baik kau hilangkan keangkuhanmu itu sebelum ada 'yang lain' yang menggantikanmu!"
Laptop membisu karena temannya sendiri si Disket ternyata berpihak pada Buku dan Pena. Seketika itu juga, ia menyadari kalau tak ada suatu "Buku" yang akan terbit tanpa bantuan dari Pena, Buku, Disket dan dirinya sendiri.
Dan dia juga menyadari kalau "Sebuah busur akan diletakkan ketika burungnya telah dipanah" yang artinya 'kami' tak perlu diperlukan lagi, jika ada teknologi yang lebih canggih yang bisa menggantikannya.
Hhhh.... Dasar Tuan! Dialah yang sebenarnya menghkhianati kita dibandingkan sebaliknya.
------------------------------
Cerita di atas spontan aku lanjutin karena nggak bisa "tahan" membaca cerita ini. Jadi mohon maaf kalau ada yang kurang pas (karena memang tak diedit). Selain itu, tak ada cara lain yang pantas menghargai cerita ini selain melanjutkannya atau kira-kira mengira-ngira perasaan si Pena dan Buku. Ya, aku memang tak mahir dalam tutur pujian.
Nilai 9 aku berikan karena nilai sepuluh memang khusus untuk diriku! Ha...ha... mirip Laptop, ya?+
absurd, kata absurd sendiri multiinterpreted; yang jelas cerita ini self-defeated. Dibuat untuk sengaja melanggar hukum nonkontradiksi, menyentuh sedikit ranah metafisika.
Sampai saat ini, aku masih salut sama kisah-kisah yang bisa membuat benda mati menjadi tokoh utama, seolah-olah hidup. Terutama cerita kamu yang membuat tokoh utama bagi benda terpenting seorang pengarang. Mungkin kalau mereka bisa hidup, mereka akan merasa bahagia isi hatinya tersampaikan.
@ meier :
ide dan tekniknya memang bukan baru lagi. teknik yang sama (hiperreal) pernah dipakai oleh sapardi, danarto dan terakhir akmal. aku hanya sedikit ngembangin aja. kalau boleh tahu, apa yang kurang dalam dialognya menurutmu?
sip,idenya bagus..namun rasanya g pernah baca dengan ide yg seperti ini ya...somewhere,somehow.tp penulisannya tentu jd penilaian tersendiri dan yg membuat ini berbeda dgn yg lain,ada yg kurang dalam dialognya g rasa,but mgkn ini hanya perasaan g aja.
rahasia apa yang Kausembunyikan di antara bebintang
yang bahkan barisan nisan pun tak Kauberi kabar
dan belulang Kaubiarkan berbisik menerka
menc ... lanjut baca
Sujud Pagi
: kejora maya
tidakkah kaudengar bisikan jingga
pada ujung cahaya pertama yang hinggap di pelupuk mata
selain nada-nada sederhana ke ... lanjut baca
Doa Tanpa Huruf R
aku memang tak pandai mengeja abjad
selalu saja ada yang luput kuucap
aku memang tak piawai menghitung angka
sembilanpuluhsemb ... lanjut baca
andai bisa kukecup keningmu
di langkah pertama setiap kembaraku
tak akan pernah ada sesal ragu
keberangkatan selalu penuh teka-teki
kota-kota, ... lanjut baca
penyair di lidah ombak
dihantam buih
tak selesai ia cipta sajak
penyair di lidah ombak
dihempas gelombang
melarung kata ke ribuan seberang
a ... lanjut baca
: agni
pada jemari yang saling menggenggam bisu
kuisyaratkan selarik sajak di penghujung waktu
kata tak lagi bisa ungkapkan semua
dan kita terse ... lanjut baca
lupakan saja, aku muak mencatat peristiwa
ternyata celana dalam yang dilempar ke atas genteng mampu menangkal hujan
alasan absurd lain adalah pengar ... lanjut baca
hari ini...
kita tetap saja berlarian dalam irama yang kacau balau
melupakan semua yang telah lewat, mengingkari
seluruh janji
terima kasih unt ... lanjut baca
matamu kutub utara
benua dingin bersalju
aku beku. aku kelu
ah, tak mengapa
mungkin aku bisa menari di permukaan licinnya
meluncur, menaklukk ... lanjut baca
Pkl 00.30. Hanya suara gemerisik TV yang lupa mati. Aku terbuai. Hembusan AC di atas kepalaku menjawab semua kantuk dan lelapku. Tiba-tiba suara seseo ... lanjut baca
Daun-daun Bodi,
Pohon diutara kampus biru ini masih tetap dingin seperti 7 tahun yang lalu. Daun-daun pohon bodi yang terkikis ulat dan kering jat ... lanjut baca
Malam ini bimbang seperti dedaunan tersapu geliat angin musim gugur. Luka-luka yang terlahir prematur terus memenuhi isi otak. Sementara menit mulai m ... lanjut baca
Aku sangat mengenal mu,
Aku juga cintaimu,
Tapi kau tak pernah ada pengertian,
Ku suka,ku sedih kau tak mau tahu,
Aku sangat mengenalmu,
Dulu k ... lanjut baca
Bunda..
ada yang berembun di ujung pori-poriku
sempurna gigilan memecah hati
layaknya batang mahoni yang membeku
berbalut kisah bumi pada pungguk ... lanjut baca
bunda, ketika malammu telah larut
"apa yang bisa kau dengar dariku?"
tak ada cerita indah tentangku sebelum tidurmu yang tak lelap
hanya kisah tent ... lanjut baca
Bamby Cahyadi sungguh beruntung. Karirnya melesat. Hanya dalam tempo setahun, ia kini menjabat [i]Store Manager[/i]. Jabatan yang cuma selangkah lagi ... lanjut baca
"Yak, yak.. aku mulai menulis novel ini, bersamaan dengan dua novel sebelumnya: Pada Satu Bintang dan Rahasia Hujan, yang juga masih dalam penulisan. ... lanjut baca
di bawah rinai akhir Januari
aku memelukmu dalam mimpi
berdesakan dengan kumpulan ingin
di bawah bulir hujan Januari
kupungut keping jejakmu dal ... lanjut baca
wow.... brilianat dari sisi penyampaian. belajar ah menghidupkan benda mati.
waw.
Gurunda, aku pernah membayangkan cerita yang serupa dgn alur yang berbeda dan tokoh2 yang berbeda.
apakah ini sebuah proses yang harus dilalui? sehingga suatu saat semua penulis yang memulai proses kreatifnya akan melalui jalan yang sama dan akhirnya berada pada titik yang sama juga? setara tanpa perbedaan derajat?
omong2, alasanku waktu itu ingin menulis kisah seperti ini karena.. aku ingin menganalogikan Penciptaku dan menganggap seharusnya Penciptaku bisa memasuki duniaku; persis seperti peristiwa masuknya penulis kisah ke dalam adegan perdebatan pulpen dengan buku catatan.. hanya saja, kehadiran laptop di sini membuat analogi yang kuciptakan jadi sedikit terganggu..
ah, begitulah., makin banyak bicara, makin kelihatan bodohnya aku di matamu. huahahaha.
keep writing till you're dying.
wah...
saia kebetulan membaca dari tulisan terkait
bener bagus
dialog yang mengalir
dan ide yang kreatif
salam
saia masiy newbie dalam menulis
Betapa inginnya saya membuat cerita seperti ini. pernah satu kali saya membuat puisi judulnya "Kepergian Sang Pena". kalau kisah ini bercerita tentang seorang penulis yang tak lagi memperdulikan penanya, puisi saya menceritakan sebatang pena yang tidak mempedulikan lagi penulisnya.
hah, aku tak menyangka ide-ide sejenis itu bisa mengalir sejenius ini.
salut ku buatmu...
"Ha..ha..ha! apa kalian cemburu padaku pena dan buku? hmm... memang sudah seharusnya kalau kalian cemburu padaku! Buku, kau pikir dirimu siapa, hah? Tubuhmu tak mampu menanggung deras banjir kata-kata yang akan ditumpahkan tuan kita, sedangkan diriku mampu memanggul seberat apapun data yang akan disimpan oleh tuan kita, entah itu bermega-mega ataupun bergiga-giga. Dan kau pena, tarianmu di tubuh temanmu --- Sang Buku itu begitu kacau! Amburadul! Memang sudah wajar kalau tuan kita ingin mengetikkan kata-kata yang rapi dan teratur untuk kisahnya itu. Dan aku mampu memenuhi harapannya itu sedangkan kau tidak!"
"Selain itu, kalian kira harga kalian itu berapa, hah? Nilai diri kalian tak lebih dari ribuan rupiah saja, sedangkan aku puluhan juta! Tentunya, kisah yang berharga yang ditulis tuan kita itu tak bisa dipercayakan pada kalian! Jadi jangan kecewa kalau tuan kita lebih menyanyangiku daripada kalian!" ujar Laptop.
Pena dan Buku menunduk sedih. Mereka termakan oleh kata-kata Laptop. Buku yang lebih berani daripada pena pun tak bisa berkata apa-apa.
Melihat temannya yang menitikkan air mata itu, pena meledak marah.
"Kau pikir dirimu itu siapa, Laptop! Memang benar kalau daya tampungmu lebih luas dan lebar daripada buku, tapi kau itu tak bisa dipercaya! Sudah seringkali terjadi data-data yang disimpan tuan kita kau hilangkan sehingga tuan kita harus mulai dari awal lagi --- atau lebih parah berhenti menulis! eh, maksudku mengetik! Selain itu, biaya makanmu itu sangat mahal! Tuan kita seringkali juga mengeluh merogok kocek karena uang hasil Royalltynya dihabiskan untuk merawatmu! Kau tak sayang tuanmu karena seringkali 'sakit' "
"Benar, benar!" timpal Buku yang keberaniannya muncul kembali.
"Kau juga tak begitu tulus dan jujur mengalirkan maksud dari tuan kita! Aliran kata-kata yang ingin disampaikan tuan kita selalu terhenti karena kau terlalu sistematis dan mengoreksi tuan kita dengan koma, titik dan tanda seru! Sedangkan pena --- yang walaupun kacau, tapi dengan jujurnya mengalirkan ide itu ke lembaran-lembaran tubuhku!"
"Ya! Ya!" sahut Disket.
"Tanpa aku, tuanmu tak akan bisa menulis kisah yang ada di sebelah kiri ini! Karena tuanmu dan tuanku tahu kalau kau itu tak bisa dipercaya!"
"Sewaktu kau 'sakit' dan menghilangkan data-data yang sudah ditulis tuan kita selama berbulan-bulan, akulah yang menyelamatkannya dengan isi otakku yang akurat!"
"Dan kau Laptop, kau itu terlalu sombong! Mentang-mentang dirimu sudah menggantikan Pena dan Buku, belum tentu tak ada 'yang lain' yang akan menggantikanmu!
Buktinya, aku saja yang sudah mengabdi bertahun-tahun ternyata digantikan oleh CD dan CD digantikan oleh Flasdisk! Jadi lebih baik kau hilangkan keangkuhanmu itu sebelum ada 'yang lain' yang menggantikanmu!"
Laptop membisu karena temannya sendiri si Disket ternyata berpihak pada Buku dan Pena. Seketika itu juga, ia menyadari kalau tak ada suatu "Buku" yang akan terbit tanpa bantuan dari Pena, Buku, Disket dan dirinya sendiri.
Dan dia juga menyadari kalau "Sebuah busur akan diletakkan ketika burungnya telah dipanah" yang artinya 'kami' tak perlu diperlukan lagi, jika ada teknologi yang lebih canggih yang bisa menggantikannya.
Hhhh.... Dasar Tuan! Dialah yang sebenarnya menghkhianati kita dibandingkan sebaliknya.
------------------------------
Cerita di atas spontan aku lanjutin karena nggak bisa "tahan" membaca cerita ini. Jadi mohon maaf kalau ada yang kurang pas (karena memang tak diedit). Selain itu, tak ada cara lain yang pantas menghargai cerita ini selain melanjutkannya atau kira-kira mengira-ngira perasaan si Pena dan Buku. Ya, aku memang tak mahir dalam tutur pujian.
Nilai 9 aku berikan karena nilai sepuluh memang khusus untuk diriku! Ha...ha... mirip Laptop, ya?+
absurd, kata absurd sendiri multiinterpreted; yang jelas cerita ini self-defeated. Dibuat untuk sengaja melanggar hukum nonkontradiksi, menyentuh sedikit ranah metafisika.
Sampai saat ini, aku masih salut sama kisah-kisah yang bisa membuat benda mati menjadi tokoh utama, seolah-olah hidup. Terutama cerita kamu yang membuat tokoh utama bagi benda terpenting seorang pengarang. Mungkin kalau mereka bisa hidup, mereka akan merasa bahagia isi hatinya tersampaikan.
@ meier :
ide dan tekniknya memang bukan baru lagi. teknik yang sama (hiperreal) pernah dipakai oleh sapardi, danarto dan terakhir akmal. aku hanya sedikit ngembangin aja. kalau boleh tahu, apa yang kurang dalam dialognya menurutmu?
@ yg udah kasih komen : terima kasih.
sip,idenya bagus..namun rasanya g pernah baca dengan ide yg seperti ini ya...somewhere,somehow.tp penulisannya tentu jd penilaian tersendiri dan yg membuat ini berbeda dgn yg lain,ada yg kurang dalam dialognya g rasa,but mgkn ini hanya perasaan g aja.