Pemuda yang bernama Muhyiddin ini awalnya bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang pengangguran biasa seperti kebanyakan pemuda lain di kota ini. Tinggal bersama bapak yang sakit-sakitan dan tiga orang adik tiri. Di sebuah lorong sempit bau selokan; dekat pasar yang becek saat hujan dan berdebu saat kemarau. Tampangnya biasa-biasa saja. Tak dapat dikatakan tampan. Paling tidak bila standar ketampanan itu diukur dari seberapa rapi giginya, seberapa lurus rambutnya, seberapa putih kulitnya, atau seberapa banyak pacarnya.
Ide ceritanya bagus. Kok skarang makin banyak yang membuat cerita dengan tema sosial yah? Hehehe. Ditunggu lanjutannya. Buat ending yang mengejutkan yah! ^^
cerita ini hanyalah fiksi, rekayasa, aslinya bikinan tukang tipu. apabila ada kesamaan nama, karakter, tokoh, tempat dan kejadian; terus terang saya sendiri juga bingung.
Menemukan kembali korsase anggrek mungil berwarna ungu ini, mengingatkanku pada senja paling muram sepanjang hidupku. Matahari tampak terseok saat itu ... lanjut baca
Inilah sebuah sore; tanpa gerimis, tanpa solilokui. Hanya iring-iringan dan tangisan. Serta langit yang berwarna pudar. Kau sama sekali tak mengingink ... lanjut baca
The art of voodoo. Ruben menatap nanap buku dalam genggaman tangan yang tanpa disadarinya bergetar.
Ya tuhan! yuki?! Gadis dari keluarga Katolik ta ... lanjut baca
Inilah negeri ibuku,
Tempat sejuta nyanyian menggugus di setiap napas
Sesuci tartil, semurni tilawah
Mereka takkan terdengar indah sampai kau benar ... lanjut baca
Bukankah kau lebih aku dibanding diriku,
Seperti aku lebih kau ketimbang dirimu?
Tampaknya tak begitu
Dan katamu, harusnya tak seperti itu
Mungk ... lanjut baca
Pohon mangga depan rumahku. Terkurung di balik pagar
Kerdil, cuma bisa berbisik kecil
Merayu tetangga pekarangan seberang
Yang juga sepucuk pohon m ... lanjut baca
Dalam episode mimpimu. Yang paling kelam sekalipun
Bayangnya tak pernah punya ruang
Haruskah menyelinap?
Seperti bulan yang mencuri waktu tidurnya
... lanjut baca
Dalam bentuk apa pun
Aku dapat mendatangi kamarmu
Membacai dongeng
Berisi petuah tetua dulu
Aku coba menceritakan Jaka Tarub versiku
Di mana s ... lanjut baca
Kau tahu apa kata Schopenhauer tentang hidup? "Tak lebih sekedar samudera derita dan air mata." Menyedihkan.
Katamu, rasa sakit itu tengah kau rasa ... lanjut baca
“Muhyiddin, sedang apa kau?” Lelaki yang ternyata Muhyiddin itu tidak menjawab. Mulutnya mengunyah sesuatu sambil matanya mendelik seram serupa or ... lanjut baca
Di hari lingkungan hidup, Muhyiddin dan para penyelamat lingkungan diundang Presiden ke Istana untuk diberi penghargaan. Tentulah hal ini membuat bapa ... lanjut baca
Tamu yang bernama cinta itu datang lagi
Dan tololnya aku sama sekali tidak tahu
Diam-diam menyergap dalam sunyi
Menyeruak dari dalam dan mencengker ... lanjut baca
Air! Kami butuh Air!! Tiada hujan, maka tiada air di gurun pasir ini. Bibir mengering, kerontang. Jalan membungkuk, lemas. Langkah kaki terseret-seret ... lanjut baca
hujan membasahi pagi, kelopak-kelopak daun tak kuasa menahan tetesan-tetesan air, menimpanya dan kemudian jatuh ke tanah membuat pendar-pendar yan ... lanjut baca
Dalam waktu yang sangat singkat ini
Ingin kusampaikan berjuta hal yang ingin kulakukan
Dalam waktu yang sangat singkat ini
Ingin kusampaikan pada ... lanjut baca
Lan..
Ingin aku tuk mengenalmu..
Ingin aku tuk menggapaimu..
Ingin aku tuk mengukir rasa dihatimu..
Ingin aku tuk menaruhmu di istana hatiku..
... lanjut baca
Dosakah…?
Tiap apa yang kuabai dari apa yang ia seru
Kalau saja jodoh,
Akalku tak berontak, bakal.
Karena akal dihadang menalar
Karena akal d ... lanjut baca
Pada malam terakhir, kau tak banyak bicara. Sorot matamu kosong. Pikiranku jadi tak keruan. Hitam bagaikan kopi tanpa gula dan, pahit. Apa lagi yang m ... lanjut baca
sesekali kau acuhkan kataku
mungkin bosan menimpamu
tapi pernahkah kau tunjukkan
apa yang kau lakukan?
terdiam sepi
tak tau apakah kau masih ad ... lanjut baca
hmm...gimana kelanjutannya nih...
ga sabar baca endingnya....
njut
yang sudah kubaca selama ini, karya jamil_begundal memang mesti keren.
spt biasanya, tulisanmu punya gaya yg berbeda, pemilihan kosa katamu enak dibaca, mengalir lancar. tp aku mau liat lanjutannya dulu sebelum berkomentar lbh banyak. buruan, mil!
Setuju dengan pendapat sebelumnya. Tema2 seperti ini jarang dieksplor. Lanjutin...
Ide ceritanya bagus. Kok skarang makin banyak yang membuat cerita dengan tema sosial yah? Hehehe. Ditunggu lanjutannya. Buat ending yang mengejutkan yah! ^^
...kamu memang begundal... hehehehe ;p
aku tunggu lanjutannya.
^_^