Selamat malam petang yang tersenyum……
Serupa pekat yang terlelap di punggung langit
Sedangkan butir embun masih terlalu hijau
Bergulir tipis di samping jasadmu yang membeku
Menebarkan aroma pagi yang terlalu dini untuk dimimpikan
Aku menampar congkaknya matamu
Lalu, dengan tertatih mencoba mengais mimpi semalam
Tentang aku yang tercipta melalui doa di kala malam
Dan dirimu yang terlahir oleh rahim senja di perbatasan mimpi
-khianat, ya dunia hanya seonggok mimpi dan doa yang terkhianati
oleh congkaknya dosa yang bersekutu dengan harapan-
selamat malam petang yang terenyum…..
aku beritakan lagi padamu
bahwa dewa masih tidur
serupa bayi menggelepar meratapi puting yang tak lagi kemerahan
hanya kebusukan tercium dari daging yang jadi santapan nikmat
para lalat keparat…
malam mulai membeku
tepat disaat dia mulai terjaga
tapi terlambat, para lalat telah kabur
membawa mimpi dan harapan mereka yang telah lama terpenggal
terpenggal oleh sabetan belati sang waktu
sang waktu yang sombong
menjelma sebagai sebuah tirani bagi akal dan kenyataan
lalu, di mana Tuhan….
Atau…jangan-jangan…..
Ah tidak, Tuhan tak sejahat sang waktu
Yang merampas semua asal-usulku
Lalu menguburkannya di pinggir kali
Sembari tersenyum serupa petang…..
Rating
Comments: 8
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
Keren. .!!!
Aq sdkt merinding..apalagi pas bc ini musik biola-piano i sad mgalun,jd kena bgt
sama nih sama komen yang udh2
bahasa km slalu indah tapi yang ini lebih kalem, klo yang satunya itu emang bahasa tinggi
yang ini bisa aq terima pesannya *aq pemula*
hehe...pengandaiannya pake alam...nice
hmm, kau ini versi lembut dan indah dari kawan darkskie..
senang melihat kepekatan bisa dibalur sebegini rupa..
Gila keren ah puisi mu..Lam kenal ya
ada nuansa pemberontakan
tersembunyi di jemari
melompat jadi puisi
seeep jez !
Salam Kenal YakZ....

Oh, puisi darkside yach?
Lumayan bagus puisinya..
Thank dah kasih komentar
Ya, maunya begitu tapi entahlah akhir-akhir ini aku seperti kehilangan gaya berpuisi, maunya puisi melooow mulu.. Gak pa2 dech.. Ada saatnya puisiku bermakna... ada pula saatnya puisiku memuja... Ah, Puisi bagiku hanya Syuara...