aduh ndak tahu kenapa? sepertinya om telalu "mbulet"isasi di pembangunan cerita. Sisi puisi nya om jejalkan pada pendeskripsian yang menurut saya tidak begitu proporsional prosentasenya.
Kemudian soal penggunaan bahasa seperti bahasa dalam chat agak2 mengganggu nih om, contohnya "GR mode on"... Hehhehehe... kalo cerita ini dikonsumsi para chatter saja ya... oke lahhh... bisa dipahami. Tapi klo orang awam kebanyakan pasti "garuk2" dulu kali ya om? Kurang begitu mengenal sepertinya.
Trus... yang kedua adalah masalah pembangunan sekuens cerita, alurnya datar banget ommm... tak ada konflik malah, meski untuk di bagian akhir saya menebak mulai muncul konflik, tapi dirimu mengakhirinya dengan tiba-tiba.
kl aq emank suka cerpen yang ada kata2 puitisnya, jd aq sk.. tp puisi abstrak khas Om Jorna jg muncul di sini satu dari kalimat yg aku tangkap: alasan lain memilih jalan yg sepi itu karena ingin menyapa bintang dan rembulan.. tp total kita bisa bayangkan Om sm gadis kecil berikut suasananya terlukis dg sempurna.. Om.. ditunggu sambungannya..
TERINSPIRASI Puisi Erri.
Juga diskusi-diskusian via YM.
erri makasih ijinnya...
nanti bersambung atau editingnya mesti dikerjakan bareng ya erri.
ayo ayo komennya jangan pake sungkan.
ini cerpen pertama om jorna loh,
masih terasa sangat lari-larian, ga fokus.
dan ini pemicunya :
erri...@};-
demi puisi ini
" Gadis Mungil dan Tiang Penerang Jalan"
Gadis mungil berpita merah jambu
dan pipi tercoreng kelam di kotamu
menunggu hingar-bingar berlalu
Gadis mungil itu berjalan di pinggiran kota
... lanjut baca
siang begitu panas
aku dan tiang bendera berdiri
kuhormat menatap bendera merah putih berkibar
tidak kuhiraukan mereka yang tertawa melihatku
... lanjut baca
"Gin, tolong fotocopy KTP Mama ya," pinta Mama pada Gina. Gadis cilik berusia 6 tahun yang merupakan anak semata wayangnya.
"Males ah, Ma"
"Nanti Ma ... lanjut baca
Aku mencintainya. Gadis itu, sungguh. Yakin 100 persen, aku sangat sangat mencintainya, mengaguminya sampai lubuk yang paling dalem ini. Sampai hatiku ... lanjut baca
Gadis di depan halte bus itu amat cantik. Langsing, dengan pulasan make-up tipis. Benar-benar sempurna. Ia memakai atasan Pink Roxy, dengan bawahan r ... lanjut baca
Ia berjalan dari danau. Air bertetesan dari gaunnya yang putih keperakkan.Di rambut emasnya, rembulan berkilauan. Matanya sehijau gelap danau Marmar.B ... lanjut baca
Selasa berembun di tepian waktu mengulum
lalu petang
memerah
tarik tali
melarut
melarut!!!
Desing bisik manusia di tiap warna dengar
ker ... lanjut baca
Runway 24 jam itu bernama Jalan Dago. Fashionista berlenggak-lenggok menegaskan ikon Paris Van Java. Hiruk pikuk model yang keluar dari halaman majala ... lanjut baca
Perawan Pasir Putih
Awan putih, pasir putih, buik ombak pun putih…
Berbaur dengan desiran ombak membentuk sayap langit
Mempertontonkan hamparan ... lanjut baca
aku rada gmana gitu sama kalimat yg ini :
walau mungkin bukan karena aku benar-benar tak mau ganggu dia
trus...
bner kata yg lain...
kata GR mode on nya itu...
hahaha...
stlah kata itu pun, rasanya juga ada yang beda...
kayak situasi/curhat yang berbeda dari bagian awal2...
itu aja deh yang aku komentarin...
hehe...
lanjutin ya om...
aq tungguin...
salam juga bwat Erri... :>
erri?
ya ... mas jorna selingkuh.
kok secepat itu melupakan khrisna?
salam
Hmmm, ya..ya.. Untuk Cerpen ini aku suka bagian pembukanya, mulai dari paragraf pertama hingga saat menemukan kalimat "Mode On" aku agak ilfil hehehe.
Terus penulisannya pun agak berteknik puisi, tulisan rapat ke pinggir kiri, sehingga saat membaca seperti melompat-lompat.
Namun overall, lumayanlah. Masih bersambung. So, lanjutannya harus lebih menggigit, karena dirimu bagus membuat deskripsi. =D>
Om apa yak?
Di awal jadi berkesan membosankan yak...
aduh ndak tahu kenapa? sepertinya om telalu "mbulet"isasi di pembangunan cerita. Sisi puisi nya om jejalkan pada pendeskripsian yang menurut saya tidak begitu proporsional prosentasenya.
Kemudian soal penggunaan bahasa seperti bahasa dalam chat agak2 mengganggu nih om, contohnya "GR mode on"... Hehhehehe... kalo cerita ini dikonsumsi para chatter saja ya... oke lahhh... bisa dipahami. Tapi klo orang awam kebanyakan pasti "garuk2" dulu kali ya om? Kurang begitu mengenal sepertinya.
Trus... yang kedua adalah masalah pembangunan sekuens cerita, alurnya datar banget ommm... tak ada konflik malah, meski untuk di bagian akhir saya menebak mulai muncul konflik, tapi dirimu mengakhirinya dengan tiba-tiba.
Pemenggalanmu akhir cerita mu terlalu cepat
curhat!!
bermain emosi yang berhasil tapi naratifnya agak kurang. masih kental ciri khas om di puisi, tidak kehilangan gaya.
prinsip stephen king...menggunakan bahasa yang lugas dan mngalir
ah enak...
Emosi si aku dpt dirasakan om...
Cerpen ini seperti curhatan yg dceritakan sejujur2nya...
Alurny sdh lumayan walo blm mulus amat, he...
Kemajuan yg pesat om dbnding crta yg pnh dbuat dlu2. Terus menulis yak!
Hm...blajar EYD yak om?? hehe
kl aq emank suka cerpen yang ada kata2 puitisnya, jd aq sk.. tp puisi abstrak khas Om Jorna jg muncul di sini satu dari kalimat yg aku tangkap: alasan lain memilih jalan yg sepi itu karena ingin menyapa bintang dan rembulan.. tp total kita bisa bayangkan Om sm gadis kecil berikut suasananya terlukis dg sempurna.. Om.. ditunggu sambungannya..
Yah, kok bersambung sih, kirain langsung tamat...
ditunggu cepetan ya lanjutannya...