Kisah Bayi Manusia

20
points

Sejak ia dilahirkan kedunia, matanya berbinar. Tampak sebuah kepolosan tanpa logo dosa terpampang di wajahnya. Ia tersenyum dengan penuh ketulusan hingga menimbulkan kesan bahwa ia dicipta memang untuk suatu hal yang telah terencana dengan rapi meski di awal kehadirannya ada goresan ketidak adilan yang menyelimuti tubuh mungilnya.

Kiranya Tuhan memang sengaja menciptakan dia dengan penuh pesona dan tubuh selembut sutra. Meski saat ini hanya bisa berguling-guling di atas ranjang kecilnya, ia menikmatinya. Seonggok daging bernyawa yang tampak tak punya daya namun siapa sangka esok ia akan menjadi sosok yang luar biasa. Hemm mungkin dari sinilah cerita ini berawal.

"Oeekkk ... oeekkk ..."

Tangisannya melengking kala pagi menyapanya, saat itu sosok sang surya tampak belum sempurna. Kokok ayam sesekali terdengar, bukankah ini tanda bahwa hari baru akan segara dimulai, setelah kemarin ia berada di onggokan sampah dengan bau menyengat dan ribuan kuman siap memasuki jasadnya yang masih rapuh. Kini ia menangis, menangis dengan penuh kehangatan di gendongan wanita tua yang kulitnya sudah tampak mengisut karena telah termakan usia. Senyum keduanya kini beradu, pandangan yang sayu telah membalut keduanya dengan perasaan satu.

Wanita tua itu mulai menyadari arti kehadirannya bagi anak manusia yang berada digendongannya. Ia tahu bahwa keberadaannya saat ini jauh sangat berharga dari sebelumnya. Ia mulai sumringah ketika melihat guratan senyum melintas di bibir mungil sang anak. Kesan mendalam begitu saja dirasakannya, kebahagiaan dengan kehadiran bayi tanpa nama dengan asal-usul yang tidak jelas pula. Ia menganggap semua ini keadilan dari Tuhan untuknya setelah sekian lama ia dan suaminya mendambakan kehadiran seorang anak dalam kehidupannya.

"Ibbbbbb..... buuuu"

Kata pertamanya kini telah meluncur dari bibir mungilnya, bukan hanya itu saja, kian hari ia bertambah cerdas. Beberapa kali ia terjatuh dari tempatnya beranjak, saat itulah ia mengalami fase pertumbuhan dan perubahan yang menuntunnya dalam perjalanan menjadi manusia. Yaa tentu saja, ia akan terus tumbuh dewasa hingga suatu saat ia bisa memecahkan misteri kehidupannya di dunia. Tapi masa itu tetaplah menjadi misteri saat ini, karena dia adalah bayi manusia yang telah disingkirkan dari keberadaannya yang seharusnya.

***

Ketika tahun berlalu kini masa pun berubah. Waktu telah memolesnya menjadi pemuda perkasa dan pengalaman menjadikannya murid kehidupan, mengajarinya bertahan di setiap tikungan sketsa hidup yang terkadang tampak kejam seperti hutan belantara. Senyumnya masih tampak manis, namun binar matanya tidak lagi polos seperti dulu. Kini tatapannya menukik tajam bak pisau yang siap menghujam, ia tampak tegak dalam memandang jauh ke depan. Suaranya yang dulu lemah kini telah berganti volume lebih keras dan tegas. Setiap butir kata yang diucapkannya begitu sarat makna dan penuh tujuan, ia tahu tak baik menyia-nyiakan banyak hal termasuk menyia-nyiakan kosa-kata dalam rentetan kalimatnya.

Kesan berbeda telah lahir dari sosok tak berarti, yang sekian tahun lalu telah terusir dari pangkuan ibunya. Terlempar dari rahim wanita yang entah siapa namanya dengan atau tanpa suami ia saat itu berada. Hidup telah banyak memberinya kesempatan, meski tak semua kesempatan itu layak untuk ia dapatkan namun paling tidak ia telah menjadi satu diantara puluhan bahkan ribuan nyawa yang terlahir tanpa diinginkan orang tuanya. Nasibnya pilu namun masa depannya masih akan dilaluinya dengan meninggalkan kepiluan ia bersiap menyongsong kebahagiaan yang memang layak ia dapatkan.

Your rating: None Average: 6.7 (3 votes)
dikirim kun744 16 minggu 16 jam yang lalu
Tag: