Archie and Anna --- Detektif Cinta

35
points

Sudah seminggu lamanya Archie & Anna – Siswa kelas II SMU D. O. S. membuka jasa biro detektif di sekolahnya. Namun, murid-murid yang membaca brosur detektif yang ditempelkan di mading sekolah itu, hanya mendengus remeh atau tertawa kecil membayangkan seorang (atau dua orang) anak SMU mencoba-coba menjadi detektif.

Archie adalah anak kelas II-3 yang bertubuh kecil dan lemah. Ia pandai sekali di dalam bidang sastra, literatur, mitologi-mitologi yunani, psikologi, garis tangan, shio dan zodiak. Tetapi, ia sangat lemah di dalam olahraga, sains dan matematika. Ia sangat membenci metode dan logika. Dan walaupun kedengarannya aneh — untuk seorang detektif, ia juga membenci fakta. Menurutnya, fakta hanyalah sebuah hal remeh yang tak perlu didebat atau diselidiki lebih jauh lagi. Kita bernafas memerlukan oksigen. Itu fakta. Bumi berbentuk bulat. Itu juga fakta.

Lalu, apa salahnya kalau bumi ini tidak berbentuk bulat ? Apa salahnya kalau gas yang kita hirup, kita namakan “karbondioksida” ? Toh, bagaimanapun juga, apapun gas yang kita hirup itu, yang lebih penting adalah kalau kita masih hidup. Dan, apakah bumi berbentuk bulat atau tidak, yang penting, kita tidak terlempar jauh ke angkasa luar.

Bayangkan! Perlukah Copernicus dan Galileo dijatuhi hukuman mati karena hanya mengatakan matahari adalah pusat tata surya? Beberapa tahun yang lalu, kita mengatakan kalau planet di galaksi Bima Sakti ini ada sembilan. Dan sekarang, buktinya pluto sudah ditendang dari label ‘planet’. Begitu pula, tidak menutup kemungkinan bahwa di masa depan matahari-nya ada dua atau lebih, kan? Bukankah definisi dari matahari itu adalah “bintang yang terdekat dengan planet kita” ? Tentu, akan ada saja kemungkinan bintang lain yang mendekat ke planet bumi ini. Nah, apakah orang yang sekarang mengatakan kalau matahari itu sebenarnya ada banyak, akan dihukum gantung?

Apa bedanya kalau matahari ada dua atau tiga? Kebenarannya, Bumi ini pasti akan semakin panas dan sungai-sungai meluap, kok. Cuma itu. Apa bedanya, kalau sebenarnya, kita cuman hidup selama delapan jam di alam mimpi dan tertidur selama 16 jam di dunia ini? Apa bedanya kalau Tuhan itu ada atau tidak? Apa bedanya perlu percaya atau tidak kepadanya? Bukankah semua perbuatan pasti akan ada akibatnya? Jadi, untuk apa mempengaruhi orang lain untuk percaya pada Tuhan? Apakah dengan membuat orang lain percaya pada Tuhan akan membuat kepercayaan kita pada-Nya semakin meningkat? Ataukah, karena ketidakyakinan kita atas keberadaan-Nya, maka kita berusaha membuat orang lain percaya padaku atas kata-kataku bahwa ‘Tuhan itu ada’ sehingga mau tidak mau, kita harus mempercayai ucapan kita sendiri yang mengatakan ‘Tuhan itu ada’ karena orang lain sudah percaya ucapanku itu? Lalu, siapa yang sebenarnya orang itu percayai? Keberadaan Tuhan atau orang yang mengatakan ‘Tuhan itu ada’ ? Bukankah iman dan kepercayaan itu berasal dari lubuk hati yang terdalam dan hanya bertimbal balik antara insan pribadi itu sendiri dengan ‘Tuhannya’ ? Jadi, untuk apa ‘orang luar’ ikut campur hubungan timbal balik zona vertikal ini? Apa buruknya kalau kita tidak mempercayai Tuhan? Lagipula, sebenarnya apa yang dimaksud definisi dari ‘Tuhan’ itu dan percaya pada apa-Nya? Bukankah setiap agama mempunyai definisi yang berbeda mengenai ‘Tuhannya’? dan mungkin seorang atheis pun dapat melihat ‘Tuhan’ di dalam perwujudan yang lain. Misalnya saja, di dalam diri kedua orangtuanya. Dan apakah dengan percaya atas keberadaannya dapat membuang semua sifat jelek di dalam diri kita?

Seorang pemuka agama akan mengatakan ‘Memang sudah saatnya dia dipanggil Tuhan’ ketika melihat ada orang yang meninggal entah karena sakit, tua, kecelakaan atau mungkin pembunuhan. Tapi seorang detektif akan terus mengusut dan menyelidiki ‘bagaimana cara dia mati’ dan akan meminta pertanggung jawaban kepada yang bersangkutan.

Karena itu, seorang pembunuh tidak bisa mengatakan “Aku membunuh dan ini dosaku. Biar nanti kupertanggung jawabkan di hadapan Tuhan! Kalian jangan ikut campur!”. Bagaimanapun juga, pembunuh itu harus ditangkap dan diadili sesuai hukum yang berlaku.

Mengenai adil atau tidaknya proses hukum itu, tergantung dari negara yang bersangkutan dan kode etik serta moral pelaksana hukumnya. Beberapa negara ada yang sudah menghapuskan hukuman mati dan sebagian lagi belum. Jadi, hal ini sangat relatif dan tidak bisa dibilang adil atau tidak adil. Yang teradil adalah hukum perbuatan itu sendiri yang akan membalas ‘ganjaran’ entah baik atau buruk dari perbuatan yang dilakukannya dan entah bagaimana caranya.

Seorang detektif tidak boleh membebaskan seorang pembunuh meskipun korbannya itu “pantas dibunuh”. Tugasnya hanyalah menyelidiki, menemukan dan menangkap setiap pembunuh. Itulah kode etik semua detektif di dunia ini. Entah bagaimana nasib si pembunuh, biarlah Sang Jaksa yang bertugas mendakwa berat ringannya atas kejahatan yang dilakukan si pelaku. Dan di titik ini pula, si pelaku berhak mengajukan pembelaan ‘alasan ia melakukan pembunuhan itu’ untuk meringankan tuduhan yang ditimpakan kepadanya melalui jasa pengacara. Jika yang ia bunuh adalah Hitler atau Mussolini, mungkin masyarakat akan memaklumi atau bahkan bersorak gembira dan memberikan sejumlah hadiah dan penghargaan kepada si pelaku. Tapi, untuk meluruskan ‘sistem hukum’ itu agar berjalan lurus dan tetap eksis, maka semua pelaku tindak kriminal tetap harus dihukum disamping hadiah dan penghargaan yang diterimanya.

Sebaliknya, jika sistem hukum beserta hakim dan jurinya tidak bisa memutuskan hukuman mati untuk orang yang — katakanlah telah membunuh puluhan atau ratusan nyawa, maka diperlukanlah seseorang yang menganut kode etik ‘Dosa manusia memang hanya urusan orang itu dengan Tuhannya’ dan ‘Tugasku hanyalah mempertemukan mereka’ atau dengan kata lain, pemburu hunter atau pembunuh si pembunuh.

Pembunuh hunter ini, tentunya memiliki kode etik yang dia ciptakan dan miliki sendiri. Pertama, dia hanya membunuh orang yang telah membunuh puluhan atau ratusan nyawa baik secara langsung maupun tidak langsung — misalnya, korupsi yang menyebabkan ribuan orang kelaparan dan meninggal dunia.

Kedua, tak boleh ada korban lain selama proses perburuannya itu, terutama di pihak orang awam atau mungkin seseorang yang melindungi si pembunuh, tapi tidak melibatkan diri dalam proses pembunuhannya.

Ketiga, tidak ada alasan apapun bagi pembunuh hunter untuk tidak membunuh mangsanya entah karena dia sudah tua atau masih terlalu muda (red: anak kecil), laki-laki atau perempuan, mempunyai tanggungan untuk merawat orang tuanya yang sudah lansia atau bayi yang masih olok. Apalagi alasan basi cinta dan ketertarikan dengan lawan jenis. Pokoknya, jika si mangsa itu terbukti sudah membunuh atau secara lalai telah menyebabkan puluhan atau ratusan nyawa meninggal, maka sudah saatnya dia “dipertemukan dengan Tuhan” walaupun si hunter itu sedang menanti ajal.

Siapapun pembunuh hunter yang melanggar salah satu dari kode etik itu, maka dia dia akan dicap sebagai “hunter yang akan diburu” oleh pembunuh hunter lainnya. Itulah pandangan Archie mengenai pembunuh atau pemburu hunter.

Dan jika dia ditanya lebih lanjut, apakah seorang detektif harus mencari dan menangkap pembunuh hunter yang telah membunuh korban yang memang seharusnya dibunuh, maka dia akan menjawab tegas “harus” karena semua pembunuh hunter telah menganut kode etik khusus sebelum dia memutuskan mengambil jalan ini, yaitu: bahwa semua orang yang mengambil jalan pedang akan mati di ujung pedang dan semua pembunuh hunter yang sudah berlepotan dan berlumuran darah korbannya, harus diadili dengan hukuman mati atau diburu oleh pembunuh hunter lainnya yang masih awam.

***

Anna adalah siswi kelas II-4 yang jago bermain bola basket dan memegang sabuk hitam di karate, Judo, dan Taekwondo (terlalu berlebihan, ya? ^-^). Ia sangat jangkung dan agak tomboi sehingga menyebabkan cowok-cowok tidak berani mengajaknya pergi nonton atau kencan, walaupun dia cukup cantik.

Pertemuanya dengan Archie, setidaknya bisa menambal lubang hitam di hatinya — sebagai teman.

Setelah memutuskan untuk mendirikan biro detektif, mereka menyulap ruang peralatan olahraga menjadi biro detektif “Archie & Anna” yang buka setelah sekolah usai.

***

Siang itu, seorang murid cewek kelas I-7 menyusup masuk diam-diam ke kantor yang terletak di sudut tangga itu. Archie yang sedang membalik halaman buku dan Anna yang sedang merapikan buku-buku misteri di rak buku, terkejut dengan kedatangan klien pertama mereka.

Archie spontan berdiri dan menyambut calon kliennya. “Mari, mari. Silakan duduk!” sambut Archie sambil menarik kursi untuk kliennya. “Nah! Sekarang, coba katakan apa yang bisa kami bantu untukmu?” lanjut Archie setelah dia duduk di kursinya yang empuk. “Apa ada anggota keluargamu yang hilang? Atau mungkin, uang atau perhiasan yang dicuri? Atau yang lebih baik, seseorang yang meninggal secara mendadak dan misterius? Diracun mungkin? Sianida? Diduga bunuh diri? Atau yang lainnya?”

Serangan rentetan pertanyaan Archie membuat cewek itu tampak resah dan cemas. Ia duduk diam selama semenit. Dengan sabar, Archie menanti jawaban. Anna mencoba membantu menenangkan cewek itu dan berkata, “Sebelumnya, boleh kutahu namamu Miss—“

“Yolanda! Veronica Yolanda” sahut cewek itu.

“Baiklah, Miss Yolanda. Kasus apa yang kau minta kami selidiki?” tanya Anna resmi dan tanpa basa-basi.

“A—aku” mata Archie berbinar-binar dan wajahnya penuh harap. “Ya, ya?” dorongnya.

Veronica dengan susah payah menghindari tatapan Archie agar tidak perlu melihat tampangnya yang kecewa. “Aku ingin kalian mencari tahu nama seseorang”

Archie melongo dan wajahnya tampak pucat. “Nama?! Hanya itu yang kau minta? Sebuah nama!?” responnya marah. “Tidak ada yang matikah? Tidak ada teman sekelasmu yang tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri?” tanya Archie kesal.

Veronica ketakutan dengan ledakan amarah Archie. Anna mencoba menahan senyum dan mengambil kendali. “Well, siapa dia? Anak kelas berapa?” tanyanya simpati.

Veronica merasa adanya dewa penolong. “Anak kelas III IPS1. Aku melihatnya pada saat dia sedang bermain bola di waktu istirahat. Wuahh… saat itu dia kereeenn sekali! Aku menguntitnya untuk mengetahui letak kelasnya. Lalu, aku—“ Veronica terhenti karena merasakan sorot mata Archie yang dingin. Tidak ada lagi keramahan saat waktu ia menyambut kliennya. Wajahnya sedingin es dan bibirnya terkatup rapat.

“M-m-maaf! Apa ini berarti kau tidak mau memenuhi permintaanku?” tanya Veronica pada Archie takut-takut.

Dengan tenang, Archie bertanya balik pada Veronica. “Kau kenal orang yang bernama Casey?”

“Tidak” jawab Veronica.

“Apakah kau tahu, kalau dia adalah otak dari semua cerpen ini? Apa kau tahu, kalau dia adalah naratorku? Apa kau tahu, kalau dia seorang editor yang mengurutkan secara kronologis dari kasus-kasus (walaupun belum ada satupun) yang kutangani? Apa kau tahu kalau dia mencoba menciptakan ‘aku’ seseram mungkin dengan mengungkapkan pandangan-pandanganku tentang seorang pemburu hunter? Dan sekarang, kau malah bertanya padaku apakah aku mau menerima kasusmu! Kurang ajar! Tentu saja aku tidak mau menerimanya! Itu bisa merusak imageku! Nama? Hanya sebuah nama? Astaga! Kau benar-benar menghinaku! Aku tersinggung! Sangat tersinggung! Apalah arti sebuah nama? Apa kau tak pernah dengar itu dari Shakespeare? Nama hanyalah untaian huruf-huruf dari A-Z. Jika kau suka pada seseorang, mengapa kau harus mempedulikan namanya? Nama yang sama bisa membuat seseorang menyukainya dan membuat orang lain membencinya! Jika kau suka pada cowok itu, katakan saja terus terang! Katakan saja ‘Aku tidak tahu siapa namamu dan aku tak peduli. Aku tahu kalau namamu bagi dirimu sendiri adalah sangat indah, tapi aku tidak ingin berpura-pura terkesan dan mengatakan kalau namamu indah, walaupun seandainya yang sebenarnya adalah demikian. Aku cuma ingin berteman dan mengenal dirimu lebih dekat dan kuharap kaupun demikian, karena bagiku tidaklah penting siapa nama orang itu sebenarnya atau dari derajat mana dia terlahir, tapi yang penting adalah apa yang dilakukannya dalam hidup ini dan nama apa yang ditinggalkannya setelah dia mati’ — daripada kau bergombal ‘Hai, cowok! Boleh kenalan?’ — Mengerti?”

Veronica bangkit berdiri dan menangkupkan telapak tangan ke mulutnya. “M-ma..af, permisi!” air mata mengalir turun di pipinya.

***

“Kau keterlaluan Archie! Kau tidak mengerti perasaan wanita! Kau tidak sensitif!” semprot Anna marah.

“Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan saja, Anna!” sahut Archie.

“Seharusnya kau berpikir dahulu sebelum berbicara! Memang, apa salahnya kalau kita menerima kasus ini?”

“Astaga, Anna! Sel abu-abuku bisa bekerja lebih baik dari itu! Lagipula, Casey telah berusaha menciptakan diriku sebagai detektif yang cinta pembunuhan dan kematian. Aku bisa merusak imageku kalau menangani kasus yang sepele ini.”

“Jangan sombong, Archie! Perjalanan ribuan mil itu dimulai dari langkah kecil. Nama adalah suatu hal yang sangat berharga yang diberikan kepada kita pada saat kita lahir — bahkan sebelum makanan dan pakaian! Memang kau pikir, apa semudah itu penulis kita menciptakan nama-mu dan nama-ku? Archie & Anna? Lagipula, sel abu-abu Casey sendiri belum mampu untuk menciptakan sebuah kasus pembunuhan yang rumit dan pelik dengan ruang yang terbatas di dalam cerpen ini. Maka dari itu, dia menciptakan Yolanda yang hanya meminta dicarikan nama seseorang sebagai kasus perdanamu!”

“Kurang ajar! Awas kau, Casey! Aku protes! Aku tidak ingin cerita ini dijadikan sebagai kasus perdanaku! Tolong kepada semua editor di muka bumi ini, jangan ada yang bersedia menerbitkan cerpen ini sebelum dia merubah jalan ceritanya!”

***

Casey tersenyum-senyum sendiri sambil mengetikkan kata-kata ini. “Tak bisa, Archie! Tak bisa! Takkan ada editor yang akan mengeditmu. Aku akan mengirim cerpen ini ke situs kemudian.com Bagaimanapun juga, kau akan hidup dan akan banyak orang yang membaca kasus perdanamu ini!” senyumnya mengejek.

“Oh, tidaaaaaaaaak!” jerit Archie memelas.

*~~~The End~~~*

Your rating: None Average: 7 (5 votes)
dikirim lastwritter 1 year 35 minggu yang lalu
Tag: