Pieces Of Cheating (Part 2)

21
points
"

sori panjang bgt, cuz ga bisa neh bikin cerpen...ni part 2 nya, klo penasaran, baca dulu aja yg part I...hope u'll like it =)

"

(7)
“Siapa?”tanya Andy setelah aku menerima telepon dari Brendan yang mengajakku nonton film buatan temannya.
“Temen. Ngajak bikin tugas bareng. Em, Andy, kayaknya nanti aku nggak bisa makan siang bareng kamu deh.”
“Tugasnya mendesak?”
“Iya.”
“Ya udah deh. Kalau gitu nanti siang aku akan habiskan waktu dengan nonton filmnya anak jurusan perfilman saja.”
Aku langsung terkejut,”Eh, mendingan nggak usah. Filmnya nggak begitu bagus deh.”
“Masa’ sih?”
“Iya. Pokoknya aku nggak mau kamu nonton film lain selain film yang aku mainkan nanti.”
“Kenapa harus begitu?”
“Yah… ya karena aku cuma ingin kamu nonton filmku saja, bukan yang lain. Promise me, Andy. Berjanjilah kau hanya akan melihat filmku dan bilang kalau permainanku bagus. Please?”
“Em…baiklah. I promise. Tapi kapan filmmu akan keluar?”
“Sebentar lagi mungkin. Sabar ya,”
“Oke.”
“Em, aku udah sampai…” ucapku pada Andy ketika kami sudah sampai di depan area gedung jurusan perfilman. “…sampai jumpa besok ya,”
Andy mengangguk. Dia memegang tanganku, mencoba mendekatkan wajahnya ke wajahku. Namun sebelum dia sempat menciumku, aku menghindarinya.
“…Aku hampir telat, Andy. Maaf ya, aku… aku buru-buru.”
“Ya udah deh.” ucapnya. Aku bisa melihat kekecewaan di wajahnya. Aku meninggalkan dia berdiri di belakangku sementara aku terus melangkah menuju ke tangga untuk ke lantai dua. Dalam hati aku merasa aku adalah cewek yang paling jahat sedunia.
Siang itu sesuai rencana, aku menemui Brendan yang ternyata sudah berdiri di depan studio pemutaran film menungguku.
“Sudah lama?” tanyaku.
“Yah, lumayan. Kok lama sih? Kenapa?”
“Kuliahnya agak melebihi waktu. Maaf ya,”
“Susah ya ngeyakinin Andy?”
“Brendan…”
“Kamu tahu kan aku paling nggak suka dibuat menunggu?”
“Iya, aku tahu.”
“Ya udah, yuk ke studio film. Nanti telat lagi.” ucapnya mengajakku berlalu menuju ke studio pemutaran film yang ada di lantai tiga, lantai paling atas kampus perfilman.
Sejak saat itu, aku sering menghabiskan waktuku dengan Brendan. Aku lebih banyak menemaninya menyelesaikan filmnya. Tak jarang aku bolos kelas demi dia. Aku terus saja menunjukkan padanya bahwa aku sangat mencintainya. Musim dingin sudah hampir berakhir ketika kami menemukan sekuntum bunga disela-sela salju Turquoise meadow yang sudah menipis. Aku dan Brendan sedang duduk di atas batu memandangi Turquoise meadow yang terhampar. Setengah jam yang lalu, film Brendan sudah dinyatakan lulus.
“Joshie…”
Aku menoleh lagi pada Brendan yang ada disampingku.
“Thanks for everything.” ucapnya menatapku lekat-lekat. Tatapan yang selalu membuat diriku serasa terkunci dalam kendalinya. Dan ketika posisiku terkunci, dia selalu berhasil mencium bibirku.
Aku merasa tak sadar tiap kali dia menciumku sampai-sampai aku tak mendengar suara derap kaki kuda yang berhenti tak jauh dari kami. Ketika kami berdua kembali ke dunia nyata, kami terkejut melihat pengendara kuda itu. Namun aku lebih terkejut dari Brendan. Aku melihat Andy duduk di punggung Zorro, kuda Andy, dan dia menatapku dengan tatapan terkejut dan kecewa yang begitu dalam. Dunia khayal yang baru saja kukunjungi langsung menghilang tanpa jejak, aku merasa terkejut dengan kehadiran Andy. Aku juga bingung dan merasa bersalah sekali padanya.
Melihatku tak berkutik, Andy membalikkan haluan Zorro dan memacunya meninggalkan aku dan Brendan.
“Andy! Andy, tunggu!” aku berusaha mengejar Andy. Aku tahu aku tidak akan mampu mengejarnya dengan berlari tapi entah kenapa aku masih mengejarnya.
“Joshie, sudah!” teriak Brendan. Aku masih memandangi kuda Andy yang semakin tak terlihat lagi.
Tanpa kusadari mataku mulai berkaca-kaca. Brendan menghampiriku.
“Kenapa kau menangis? Dia sudah tahu tentang kita, so what? Bagus kan dia sudah tahu. Kamu nggak perlu repot-repot memberitahunya dan kamu nggak perlu sembunyi lagi darinya.”
“Tidak semudah itu, Brendan. Kau tahu?...aku...aku merasa aku wanita paling jahat sedunia. Aku merasa telah mengkhianati kepercayaan Andy, telah menyakiti hatinya yang sudah tulus mencintaiku...”
“Ini waktumu untuk memutuskan, Joshie. Sudahlah, jangan menangis untuknya. Sudah saatnya dia tahu kalau yang kaucintai bukan dia.”
“Tapi aku merasa...”
“Jadi kau masih memikirkannya? Kau masih ingin bersamanya? Jadi begitu?...”
Aku terdiam tak menjawab. Brendan menatapku lama, menunggu jawabanku. Merasa sia-sia, dia pergi meninggalkanku sendirian di padang rumput ini. Apa yang kurasakan di hatiku semakin kacau. Aku tak tahu harus bagaimana.

(8)
Pagi itu sebelum kuliah, aku pergi ke area gedung jurusan advertising. Aku ingin mencari Andy dan bicara padanya. Kuputuskan untuk menunggunya di tempat duduk di depan kelasnya.
Setelah setengah jam menunggu, kulihat pintu kelas terbuka dan para siswanya berhamburan keluar. Aku berdiri dan mencari-cari Andy. Setelah beberapa anak yang keluar, akhirnya kutemukan Andy baru keluar menenteng tasnya.
“Andy,” panggilku. Dia menoleh padaku dan tampak terkejut namun dia hanya diam saja. Aku masih bisa melihat tatapan kekecewaan di matanya.
“Boleh aku bicara padamu?” tanyaku.
Dia hanya mengangguk. Kami terdiam berhadapan menunggu semua anak-anak lain berlalu dari tempat itu. Setelah agak sepi, aku mulai bicara.
“Aku...ingin minta maaf.”
“Atas apa?”
“Kau tahu atas apa.”
“Sudahlah.”
Aku menatapnya heran,”Andy...”
“Sudah, tidak perlu kaupikirkan. Aku tahu kamu nggak akan bisa mencintaiku seperti halnya aku mencintaimu. Tak akan pernah bisa. Dan ternyata cintamu cuma untuk Brendan. Aku tahu pasti ada sesuatu karena... sikapmu berbeda setelah kau kembali dari membuat film di Velvet. Kau...kau lebih sering menghindar dariku. .. tapi aku mencoba bertahan...“
“Maafkan aku, Andy. Aku nggak berniat untuk menyakitimu...” mataku mulai berkaca-kaca lagi.
“Aku tahu. Kau hanya ingin mendapatkan cintamu. Waktu itu... waktu kau membatalkan makan siang kita, aku tahu kau pergi dengan Brendan. Aku melihatmu berjalan berdua dengannya. Mulanya aku nggak curiga, kukira itu berhubungan dengan pembuatan film kalian. Tapi sepertinya tidak hanya itu kan?”
Aku hanya terdiam bagaikan terdakwa yang akan divonis oleh hakim setelah dulu dituntut oleh Travis, sebagai jaksa.
“Tapi ya sudahlah. Sekarang... aku ingin tanya sama kamu. Siapa yang ada dalam hatimu? Aku... atau Brendan?”
Aku tersentak dan memberanikan diri menatap wajahnya yang meminta kepastian.
“Jawab aku, Valerie.. Aku siap mendengarnya.”ucapnya selalu memanggil namaku, bukan nama panggilanku.
Setelah terdiam cukup lama, sambil menatap mata hijau Andy aku menjawab,”Maafkan aku, Andy.”
Andy tampak menghela nafas dan mengangguk,”Aku pasti memaafkanmu. Kamu nggak perlu khawatir. Aku mengerti.”
Air mataku mulai menetes.
“Terimakasih sudah mencoba mencintaiku. Bye... Valerie...” kalimat terakhir itu diucapkannya sebelum dia berlalu dari hadapanku, meninggalkanku berdiri sendiri di depan kelasnya. Sementara aku hanya memandang kepergiannya.
Seminggu setelah hari itu, aku memutuskan untuk bertemu Brendan. Sudah seminggu ini aku belum bicara atau pun bertemu dengannya. Aku pergi ke kamar asramanya yang berada di lantai dua asrama cowok. Kucari nomor kamar D22. Dan setelah menemukannya, aku melihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Aku membuka pintu kamarnya lebih lebar dan masuk ke dalamnya. Baru selangkah aku masuk ke kamarnya, kulihat Brendan duduk di depan komputernya. Dan dia tak sendirian, disampingnya berdiri Tracy. Mereka berdua tampak berbicara lepas. Kulihat Tracy memegang bahu Brendan yang duduk. Sesegera mungkin aku meninggalkan kamar itu, aku tak sanggup lebih lama lagi melihat kedekatan mereka. Sesaat sebelum aku berbalik, Brendan memergokiku. Aku tak tahu bagaimana reaksinya, aku hanya terus mempercepat langkahku dan dapat kudengar Brendan memanggilku. Aku berharap dia mengejarku namun tak kudengar suara langkah kakinya.

(9)
Aku sedang di lab penyuntingan gambar ketika melihat Brendan berdiri di ambang pintu lab. Aku mencoba tak mempedulikannya dan tetap berkonsentrasi di depan komputer. Kudengar suara langkah kaki mendekatiku.
“Ditungguin Brendan tuh,”
Aku menoleh dan melihat Travis berdiri disampingku.
“Kita kan lagi kuliah.”
“Jadi akhirnya kamu memilih juga.” kata Travis yang masih juga sinis padaku. Dia masih menyayangkan perbuatanku yang selingkuh dari Andy. Aku tak mempedulikan ucapannya. Kulihat Brendan masih berdiri disana memandangiku.
Aku meneruskan pekerjaanku. Ketika aku melihat ke arah Brendan berdiri lagi, kulihat dia sedang menghisap rokoknya dan bersandar di tembok samping pintu menghadap keluar. Aku merasa tidak tenang melihatnya menungguku. Aku terus mencoba tak memikirkannya namun aku tidak bisa. Kupercepat pekerjaanku dan setelah selesai kukemasi buku-bukuku ke dalam tas. Travis yang duduk di komputer seberangku tampak melirikku dengan tatapan aneh. Dengan cuek aku menjinjing tasku dan keluar dari lab.
Sesampainya di luar, Brendan langsung mencegatku dengan pertanyaannya.
“Kok lama?”
Aku menghela nafas, “Ada apa?”
Brendan cuma diam dan langsung menarik tanganku, membawaku pergi dari tempat itu.
“Kau mau membawaku kemana, Brendan?” tanyaku terkejut. Brendan masih juga tak menjawab. Aku hanya mengikutinya. Brendan membawaku ke bawah pohon di belakang area kampus perfilman.
“Waktu itu ketika kamu ke kamarku, kamu ada perlu apa?” tanyanya.
“Nggak, nggak ada apa-apa.” jawabku memalingkan mukaku darinya.
“Joshie...”
“Untuk apa lagi kita bicara, Brendan?”
“Kau cemburu pada Tracy kan? dengar, Joshie, kau menyesali apa yang terjadi antara kita karena merasa telah mengkhianati kekasihmu itu. Ketika aku tanya padamu, kau tak menjawab...” Brendan terus saja bicara. Aku tak tahan mendengarnya.
“Aku putus dengan Andy.”ucapku pelan. Namun Brendan tak mendengarku, dia masih meneruskan kalimatnya,
“... lalu apa yang harus kulakukan? kau tak sekalipun menghubungiku sementara aku harus menyelesaikan filmku. Tracy datang... dan dia membantuku. Dia hanya membantuku waktu itu. Dia...”
“Brendan, aku sudah putus dengan Andy!!” ucapku lebih keras membuatnya berhenti bicara dan menatapku.
“Apa?”
“Harus berapa kali aku bilang? aku sudah tidak bersama Andy lagi. Waktu itu aku ingin bilang padamu tapi aku menemukanmu berduaan dengan Tracy. Kau tidak tahu bagaimana perasaan hatiku.”
“Lalu kenapa kau tidak bilang padaku?”
“Untuk apa lagi? Kau dan Tracy...”
“Joshie, aku sudah lelah untuk bilang padamu kalau Tracy itu hanya teman dekatku.”
“Tapi dia menyukaimu kan?”
“Lalu kenapa?”
Aku menatap Brendan yang juga menatapku. Aku selalu tak mampu berkata-kata tiap kali dia menatapku seperti itu. Aku langsung terkejut ketika dia tiba-tiba memelukku.
“I’ve found you...” bisiknya pelan.

Malam itu kami semua kru pembuatan film Brendan berkumpul di sebuah cafe untuk merayakan pemutaran film perdana yang akan ditayangkan besok. Semua orang tampak bersenang-senang, namun Brendan terlihat sangat tidak tenang. Dia tidak begitu menikmati pesta itu dan memutuskan untuk keluar dari cafe.
Aku menemukannya duduk di sebuah kursi panjang yang ada di bawah lampu taman depan café. Aku langsung menghampirinya. Di tangannya ada sepuntung rokok yang menyala.
“Brendan,”
Dia hanya menoleh. Aku duduk disampingnya.
“Kamu kenapa? Kenapa nggak bersama anak-anak?”
“Lagi nggak mood aja.”
“Kamu cemas akan pemutaran film besok ya?”
Brendan mengangguk.
“Penontonnya pasti banyak, percaya deh. Aku sempat mendengar anak-anak Greencastle College berencana melihat film kamu.”
“Joshie, kaukatakan apapun juga, aku nggak bisa berhenti memikirkannya.”
“Kau hanya gugup.”
“Aku hanya tidak mau berharap. Kalau hasilnya tidak sesuai yang aku inginkan, aku pasti akan sangat kecewa.”
“Aku tahu itu. Tapi seharusnya kamu lebih tenang.”
Dia tak mempedulikan ucapanku dan hanya menghisap rokoknya lagi.

Tiga jam kemudian, aku berada di kamar asrama Brendan. Aku duduk di tepi ranjangnya, menyeka keringat di wajah Brendan yang kini terlelap dengan handuk kecil. Dia kebanyakan minum. Aku sudah berusaha mencegahnya minum di café tadi, tapi dia tak menghiraukanku. Sepertinya dia sedang tertekan memikirkan pemutaran film perdananya. Sangat tertekan dan gugup hingga jadi tak terkendali seperti ini.
Aku sangat mencemaskannya hingga tak mampu meninggalkannya sendiri di kamarnya. Dia hampir pingsan di café tadi. Setengah jam yang lalu sebelum dia terlelap, dia ingin aku ada disampingnya. Dia ingin aku menemaninya sampai dia tertidur. Aku tidak tahu apakah dia sadar atau tidak ketika mengatakan hal itu padaku.
Oh, Brendan… dalam keadaan apapun kau selalu terlihat tampan. Aku merasa tak mau beranjak dari tempat ini meski dia sudah terlelap. Beberapa saat kemudian, aku melihat Brendan membuka matanya. Dia melihatku yang ada disampingnya. Matanya tidak sepenuhnya terbuka, dia terlihat masih setengah tidur.
“Brendan, kau mau sesuatu?” tanyaku. Dia tak menjawab, aku hanya merasakan tangannya meraih telapak tanganku.
“Lindsay… Lindsay, stay here…” ucap Brendan.
Aku tersentak.

(10)
Empat jam lagi film Brendan diputar di Greencastle College. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya sekarang, apa yang dilakukannya bersama para kru untuk mempersiapkan penyangan filmnya. Aku mencoba untuk tak mau peduli. Dia tak pernah menghubungiku setelah aku meminta penjelasan padanya tentang Lindsay. Aku begitu marah padanya ketika dia mengatakan bahwa Lindsay adalah seseorang di masa lalunya.
Beberapa saat yang lalu Dennis, lawan mainku di film Brendan menghubungiku, menanyakan dimana aku berada dan kenapa tak datang ke studio pemutaran film. Aku hanya mengelak dan mengatakan bahwa aku tak bisa hadir nanti.
Kini aku sedang di tepi sungai dekat Turquoise meadow. Di tengah lamunanku, kudengar ponselku berbunyi. Aku sedikit terkejut ketika melihat nama Travis di layarnya.
“Travis, ada apa?”tanyaku.
“Lebih baik kamu ke studio sekarang.”
“Aku nggak akan ke studio.”
“Kenapa?”
“Aku punya alasan sendiri, Travis.”
“Tapi… kau salah satu aktris. Kau harus datang.”
“Tidak. Aku tidak akan datang.”
“Joshie, kau harus lihat bagaimana Brendan. Dia sama sekali nggak ada semangat untuk pemutaran film nanti.”
“Mungkin dia masih gugup.”
“Joshie, kamu dan Brendan bertengkar ya?”
Aku diam tak menjawab.
“Dengar, Joshie. Temen-temen sudah mulai tahu ada apa antara kau dan Brendan. They’re not blind, Joshie. Dan mereka akan mengaitkan ketidakhadiranmu dengan sikap Brendan saat ini.”
“Please, Travis. Ini urusanku dengan Brendan.”
“Maaf, bukan maksudku untuk mencampuri kehidupan kalian. Aku nggak bermaksud mencampuri kehidupan cintamu. Dan sebenarnya aku lebih suka kau bersama dengan Andy. Tapi kelihatannya… Brendan butuh dukunganmu…”
Aku mendengarkan tiap kata dari Travis.
“… aku tahu kau mencintainya, Joshie. Dan sepertinya aku harus mengubah sikapku. Sebenarnya aku juga… ingin minta maaf padamu atas sikapku padamu akhir-akhir ini. Aku seharusnya tahu aku nggak berhak mengatur orang lain. Kenyataan Brendan telah merebutmu dari Andy membuatku sedikit kurang simpatik padanya. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan Andy. Tapi tadi Rose cerita padaku tentang bagaimana kau begitu mencintainya meski sifat dan sikap Brendan seperti itu. Aku mulai menyadari… bahwa aku harus menghargaimu. Maafkan aku ya,”
“Iya, tentu saja, Travis.”
“Sekarang, kau mau datang kan?”
“Dia nggak butuh dukunganku, Travis.”
“Joshie, you love him, right? Kalau kau mencintainya, datanglah ke pemutaran filmnya, beri dia dukungan. Setelah itu terserah kamu mau gimana.”
“Travis, seberapa besar aku mencintainya, aku tetap nggak mau datang.”
“Baiklah. Aku nggak akan memaksamu lagi. Sudah dulu ya, Joshie. Aku harus kumpul dengan anak-anak.”
“Iya. Thanks, Travis.”
“Bye,”
Setelah menerima telepon dari Travis, aku kembali ke memandang air sungai yang mengalir tenang. Kurebahkan diriku di rumput sambil mencoba menenangkan diri.
Tiba-tiba terdengar suara deru mobil pelan-pelan berhenti tak jauh dari tempatku menenangkan diri.
”Aku mencarimu kemana-mana. Dan aku tahu, kamu pasti ada di sekitar sini.”ucap laki-laki yang keluar dari mobil itu.
“Brendan, apa kau gila? Sejam lagi filmmu diputar. Apa yang kaulakukan disini?”
“Menemuimu.”
“Ada apa? Kenapa kau datang?” tanyaku langsung.
“Terakhir kali kita bicara, kamu nggak melarangku untuk menemuimu kan? Jadi aku kesini sekarang. Untuk bicara denganmu.”
“Untuk apa?”
“Joshie, I need you.”
“For what? Untuk menyamakanku dengan kekasihmu itu? Kekasihmu dimana sih? Di Vista City ya? Apa yang sama dariku dengannya, Brendan?” serangku.
“Joshie, stop it! Stop judging me. Dia bukan kekasihku.’
“O ya? Tapi kau sangat mencintainya.”
“Joshie, itu nggak benar. Dengarkan aku… aku ingin sekali bicara denganmu.”
“Membicarakan apa lagi? Dan apakah aku harus menurutimu… lagi?”
“Sayangnya kau harus.”
“Kamu nggak pernah dewasa ya? Kau selalu egois!”
“Terserah kau mau bilang apa. Aku minta kau dengarkan aku. Please?”
Oh, tatapan itu lagi. Dia selalu bisa menang dariku dengan tatapan itu. Aku selalu tak berdaya dengan tatapan memohon itu.
Aku diam, memberi dia kesempatan untuk bicara.
“Kau benar, Lindsay ada di Vista. Dia…cewek yang menarik perhatianku semasa sekolah dulu. Aku nggak akan cerita bagaimana dia karena aku tahu kau pasti nggak mau mendengarnya. Tapi… ternyata aku nggak bisa bersamanya. Aku melakukan kesalahan, dan sampai sekarang dia belum mau memaafkanku. Aku sudah lelah mencoba minta maaf padanya…”
“Memangnya apa yang kauperbuat padanya?”
“Haruskah kujawab?”
“Baiklah, kalau kau tidak ingin menjawabnya. Aku nggak akan memaksamu.”
“Rambut merahmu mirip dengannya. Cara kamu berbicara, suaramu, caramu menatapku… membuatku ingat padanya.”
“Jadi memang selama ini kau dekat denganku hanya karena aku mirip dengannya? Kau tega mempermainkanku, Brendan.”
“Joshie, aku mulai penasaran denganmu karena mirip dengannya. Tapi setelah aku mengenalmu lebih dalam, setelah semua berjalan, setelah apa yang kaulakukan untukku dan apa yang telah kita lalui, aku menyadari satu hal. Kamu nggak mirip dengannya. Kamu… jauh lebih baik darinya. Apa yang kukatakan ketika aku tidur malam itu, itu semua karena aku nggak sadar. Aku nggak bermaksud untuk menyakitimu, Joshie. Aku mulai merasa, kau… kau membuatku sangat menginginkanmu.”
“That’s it?” tanyaku.
“Setiap kau nggak ada bersamaku, aku merasa ada yang kurang lengkap. I need you. I really really need you. And I can’t do anything… without you. Maafkan aku, Joshie.”
Mendengar ucapannya, aku tidak begitu puas. Menurutku itu semua belum cukup. Aku masih merasa aku hanyalah pelariannya. Aku hanyalah pengganti Lindsay. Berada disampingnya sebagai Lindsay. Namun entah kenapa aku merasa tak berdaya. Aku merasa ingin memaafkannya dan melupakan apa yang telah diperbuatnya padaku. Aku menatapnya. Kembali kulihat sorot mata penuh permohonan darinya.
“Kata maaf nggak akan cukup, Brendan.”
“Aku tahu. Aku tahu itu. Tapi please, jangan bersikap seperti ini padaku. Ikutlah ke studio bersamaku, Joshie.”
Aku melihat jam tanganku. Sudah delapan menit kami bicara.
“Lebih baik kau cepat ke studio sekarang. Kau harus stand by disana kan?”
“Aku nggak akan pergi tanpamu.”
“Brendan, jangan konyol.”
“Aku ingin kau mendampingiku di saat yang penting bagiku ini. Maafkan aku dan pergilah denganku. Aku akan tetap disini sampai kau mau pergi denganku.”
Lima meter jarak memisahkan kami. Brendan masih berdiri menatapku, menanti jawabanku.
“Brendan, kapan kau berhenti keras kepala seperti ini? Sampai kapan kau akan melakukan apa saja untuk mencapai keinginanmu?”
Brendan hanya diam. Jarum jam terus berjalan. Kudengar suara ponsel dari saku Brendan. Brendan melihatnya dan langsung mematikan ponselnya.
“Siapa? Kenapa nggak diangkat?” tanyaku.
“Dennis.”
“Dia pasti cemas memikirkan sutradara yang nggak datang di penayangan perdana filmnya.”
“So what?”
“Brendan, dengar, aku akan tetap disini dan terserah dengan kamu mau bagaimana.”
“Aku akan menunggumu di dalam mobil.”
Aku hanya menggelengkan kepala dan mengalihkan perhatianku ke arah sungai lagi. Aku berpikir dia nggak akan mungkin menungguku, paling-paling sebentar lagi aku bisa mendengar langkah terburu-burunya untuk kembali ke studio.
Detik demi detik kurasakan cepat berlalu. Aku semakin cemas ketika jarum jam di jam tanganku terus bergerak. Aku tak henti-henti melihat jam tanganku. Sudah setengah jam berlalu dari waktu kedatangan Brendan tadi. Aku tak mendengar suara Brendan atau deru mobilnya. Aku semakin tidak tenang. Ketika kulihat jarum jam panjang bergerak satu menit meninggalkan angka enam, aku merasa kalah. Aku segera berdiri dan menghampirinya.
Masih ada mobil Brendan. Dan dia tersenyum melihatku berdiri.

“Kau mau memaafkanku kan?” kudengar Brendan berucap disampingku ketika kami sudah berada dalam studio pemutaran film. Aku tak menjawabnya. Dia tak memaksaku.
“Kau tahu apa yang kubayangkan?” ucapnya lagi.
Aku masih diam.
“Aku membayangkan… kau dan aku… berjalan di red carpet pada pemutaran film perdana kita… dengan kilatan-kilatan blitz wartawan mengenai tubuh kita… ”
Aku menahan senyum mendengar kalimatnya.
“Kau akan jadi sutradara yang hebat.” ucapku.
“Do you think so?”
Aku mengangguk. Tiba-tiba kurasakan tangan Brendan menyentuh telapak tangan kiriku. Tangan kanannya menggenggam tangan kiriku. Ibu jarinya mengusap-usap jemariku. Kulepas tanganku dari genggamannya.
“Kau masih marah padaku.” ucapnya kemudian. Aku hanya diam.
“Brendan, u still love her, right?” tanyaku.
“Nope.”
“Really?”
“Really.” ucapnya dengan pandangan ke arah layar.
Kami melihat sisa film dengan terdiam. Tak ada satupun dari kami yang membuka pembicaraan. Seusai film, para dosen memberi selamat pada Brendan. Mereka juga memberi selamat pada kami, para kru. Kulihat Brendan berbicara dengan seorang laki-laki yang tadi duduk bersama para dosen. Aku tak tahu siapa laki-laki itu namun aku terus memandangi mereka yang berbicara.
Kuputuskan untuk segera keluar dari tempat ini. Aku melewati anak tangga menuju ke atas, ke pintu keluar para penonton. Sesampainya di luar, aku bertemu dengan Andy.
Kini aku berada di dekatnya. Aku hanya bisa melihatnya yang masih berbicara dengan temannya. Melihatku dia tampak tak begitu terkejut.
“Andy, aku duluan ya,” ucap seorang laki-laki yang tadi bicara demgannya. Andy mengangguk. Setelah temannya pergi, dia ganti memandangku.
“Kau datang?” tanyaku.
“Kamu lupa? Aku pernah janji padamu untuk menonton filmmu. Filmmu saja bukan film anak lain dan mengatakan kalau aktingmu bagus. Here I am… aku sudah menontonnya dan aktingmu memang bagus, Val.”
Aku terdiam mendengarnya. Aku tidak menyangka dia masih mau menepati janjinya.
“Aku… sudah menepati janjiku.” ucapnya lagi.
“Terimakasih.”
“Joshie!”
Aku mendengar suara Brendan memanggilku. Ketika aku menoleh kulihat Brendan menghampiri kami.
“Nice film.” ucap Andy pada Brendan. Brendan hanya mengangguk. Tanpa mengatakan apapun padaku, Andy berlalu begitu saja.
“Jadi kau akan kembali padanya?” ucap Brendan tiba-tiba.
“Brendan, kamu kenapa sih? Apa aku tidak boleh bicara dengannya?”
“Maaf. Harusnya aku nggak berkata seperti itu.”
“Sekarang kau selalu minta maaf.”
“Karena aku nggak mau melihat wajahmu yang marah seperti itu.”
Aku terdiam.
“Jangan marah ya? Dengar, kau merasakannya, Joshie?… kau merasakan kepuasan dan kelegaan yang sangat besar di diriku atas film ini? Dan akan terasa lebih sempurna jika kau memaafkanku.” Brendan menatapku, dia tersenyum. Melihatnya menatapku membuatku tak bisa bergerak. Matanya yang tetap cerah meski sedikit sayu dan alis tebalnya tak pernah berhenti membuatku terpesona.
”Tapi kalau aku dengar kamu panggil aku dengan namanya lagi…”
“Enggak. Aku nggak akan mengulanginya.”
“Promise me.”
“I promise.”
Entah kenapa aku memafkannya begitu saja. Aku tahu benar posisiku masih sebagai pengganti Lindsay. Namun aku nggak bisa marah lebih lama padanya. Bagaimanapun dia memperlakukanku, aku tidak peduli. Aku mencintainya.

(11)
Aku dan Brendan berjalan di setapak jalan yang membingkai lapangan kampus. Barisan pepohonan membatasi jalan itu. Aku menghampiri sebuah sitting ground dan duduk disana.
“Besok upacara kelulusanmu.” ucapku.
“Lalu kenapa?…” Brendan duduk disampingku,”… kau tidak senang aku lulus?”
“Bukan begitu… aku senang kau lulus tapi… tapi itu berarti kau akan kembali ke Vista. Kamu benar-benar akan menerima tawaran orang itu, Brendan?”
“Maksudmu orang yang datang di pemutaran film perdana?”
Aku mengangguk.
“Joshie, orang ini punya production house yang cukup berkembang di Vista. Film-film mereka sudah banyak beredar dan beberapa diantaranya sukses di pasaran. Kesempatan untuk bergabung dengannya tidak akan kusia-siakan. This is a great chance.”
“Jadi kau akan segera kembali ke Vista.”
“I’ll tell you what, aku akan mengajakmu ke Velvet hari ini, sekarang juga.”
“Apa?! Velvet? Sekarang?”
“Iya”

“Aku nggak percaya aku bisa kesini lagi!” ucapku sesampainya kami di Velvet. Kami berjalan di tepi danau yang sama dengan pembuatan film kami musim dingin lalu. Aku merasa kembali ke masa itu.
“Kau senang?”
“Of course.”
“Aku senang kembali kemari karena aku nggak sia-sia membuat film disini. Aku ingin mengingat setiap pengambilan gambar untuk sebuah film yang telah mencapai targetku.”
“Ya… Brendan, tak bisakah kau tinggal disini lebih lama?”
“Sepertinya tidak. Kalau aku mau bergabung dengan production house itu, aku harus cepat menghubunginya.”
“Lalu… lalu bagaimana dengan kita?”
Brendan terdiam memandang danau. Dia tak menjawab pertanyaanku.
“Brendan, I’m asking you…” Brendan masih juga tak menjawab.
“… kamu anggap apa aku ini, Brendan? Tolong katakan padaku, dimana posisiku?”
“Joshie…”
Aku menunggu dia berucap namun dia tak mengatakan apapun.
“Aku tahu… aku tahu sekarang…” aku merasa kelopak mataku mulai membendung air. “… aku mulai mengerti siapa dirimu. Lindsay marah padamu karena kamu nggak mau terikat dengannya. Itulah kesalahan yang membuat dia tak mau memaafkanmu. Iya kan? Masalahmu selama ini adalah kamu nggak mau adanya suatu ikatan! Kamu takut terikat…”
Air mataku mulai menetes, aku berjalan menjauh beberapa meter darinya dan duduk di atas tanah sambil menenangkan diriku. Air danau terlihat agak kabur di mataku karena terhalangi air mata. Brendan menghampiriku dan duduk disamping kananku.
“Itu sebabnya kau selalu menghindar dari pertanyaanku. Aku… aku mulai ragu apakah kau mencintaiku atau tidak…”
“Joshie, aku…”
“Answer me, Brendan.”
“Ya… kau benar. Semua yang kaukatakan itu benar.”
Hatiku semakin terasa berserakan mendengarnya.
“Jadi selama ini… kalau kau belum siap kenapa… kenapa kaulakukan semua ini padaku, Brendan? Kenapa kau memberiku harapan? Kenapa kau membuatku merasa mempunyai seseorang yang akan selalu mendampingiku meski terpisah oleh jarak? Kenapa membuatku percaya kalau kau mencintaiku?”
“Karena kupikir aku akan siap suatu saat nanti.”
“Dan ternyata kau belum siap juga kan? Kau tidak bisa membuatku menunggumu untuk siap, Brendan. Tidak bisa.”
“Maafkan aku. Aku akan pergi dan kita akan berjauhan. Aku nggak bisa, aku nggak bisa …”
“Kamu nggak bisa terikat apalagi berjauhan, begitu?”
“Aku bisa saja mengecewakanmu dan begitu juga sebaliknya.”
“Kau pikir aku akan mengkhianatimu kalau kita berjauhan?”
“Kau mengkhianati Andy untukku. Kau bisa saja mengkhianatiku untuk…”
“Cukup! Kamu sudah sangat meragukanku dan aku nggak bisa terima itu.”
“Maafkan aku, Joshie.”
“Jadi sekembalinya kau ke Vista, kau akan mencari Lindsay… dan kembali padanya lagi? Kau masih mencintainya kan?”
“Tidak. Seseorang yang ada di hatiku, di pikiranku, di setiap langkahku adalah kau. Bukan cewek lain manapun.”
“O ya? Lalu kenapa kau tidak membawaku bersamamu di langkahmu berikutnya?”
Brendan terdiam.
“Sebenarnya kita bisa meneruskannya, Brendan… kalau kita saling percaya. Tapi… bilang saja kalau memang kamu yang belum mampu untuk terikat. Mudah untuk mengucap maaf. Tapi apa kau tahu bagaimana perasaanku? Mulanya kau menyamakanku dengan seseorang yang ada di masa lalumu, kini kau bilang kau belum siap untuk terikat. Kamu… kamu nggak pernah belajar dari kesalahan.”
Air mataku semakin deras menetes, aku tak sanggup membendungnya lagi. Harapan yang selama ini memberiku semangat tiba-tiba musnah.
“I love you, Brendan… you know that…”
Brendan memegang kedua tanganku.
“And I love you too…”
“Stop pretending that you love me! Kau tidak sungguh-sungguh. Kalau kau sungguh-sungguh, kau nggak akan…” kuhentikan kalimatku. Aku tak sanggup meneruskannya.
“Should I say it again? Aku tahu benar bagaimana perasaanku padamu, Joshie. Aku yakin dengan apa yang hati ini rasakan padamu. Dan aku harap kau juga bisa melihatnya. Aku harap kau mempercayainya dengan merasakan sendiri, tidak dengan mendengar ucapanku.”
Kusandarkan kepalaku di bahu kirinya. Tangan kirinya melingkar sampai pinggang kiriku menyangga tubuhku. Kami terdiam memandang danau. Kukeluarkan air mataku yang tersisa. Aku ingin seperti ini terus. Menyandarkan kepalaku di bahunya dan mendengar setiap hembusan nafasnya. Aku merasa sangat damai. Oh… seandainya aku bisa begini selamanya.
“Brendan…”
“Hmm?”
“Aku… aku ingin seperti ini terus. Aku ingin terus bersandar padamu seperti ini.”
“Aku tidak melepasmu, Joshie. Bersandarlah, aku tidak akan melepasmu.”
“Kau bohong. Kau akan melepasku… kau akan kembali ke Vista. Dan kau tidak akan kembali.”
“I’m sorry, Joshie. Really sorry…”
“Berhentilah mengucapkannya. Aku tidak mau mendengarmu minta maaf lagi.”
“Kesalahan ada pada diriku, Joshie.”
“Aku tahu itu. Aku tahu.”
”Berjalan di red carpet itu tidak akan dapat kurasakan bersamamu?” kataku kemudian. Brendan hanya menatapku. Dia tak mampu menjawabku.
“Aku tidak akan bisa melepasmu untuk kembali ke Vista. Aku tidak mau membayangkannya. Aku tidak akan sanggup, Brendan.”
“Dengar… jangan datang ke pesta perpisahanku… dan jangan mengantarku pulang.” ucap Brendan menatapku.
“Kenapa? Aku ingin di dekatmu di saat-saat sebelum kamu pergi. Kenapa kamu tidak membolehkanku?”
“Karena itu akan mempermudah segalanya, Joshie. Lebih mudah untukmu… dan untukku.”
“Tidak… itu tidak mempermudah siapapun. Aku nggak bisa…”
Brendan menghentikan kalimatku ketika dia menyentuhkan jari tengah dan jari telunjuknya di bibirku.
“Sebenarnya… itu akan mempermudahku. Bantu aku, Joshie… aku mohon… jangan datang ke pesta dan jangan antar aku.”
Aku hanya mengangguk meski hati ini nggak rela. Tapi aku tidak bisa menolak permohonannya ketika dia menatapku seperti itu dan kedua jarinya diatas bibirku. Dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku, merapatkan bibirnya ke bibirku. Dan entah kenapa saat itulah saat terindah dia menciumku. Bibirku tergetar dan Brendan menetralkannya dengan ciumannya.
“I’m gonna miss you, Brendan.” ucapku.
“Just forget me.” katanya lalu menciumku lagi.
“I won’t forget you.”
“You have to forget me.”
“Is that an order again? Dan apa aku harus menurutimu lagi?”
“Iya…”
Sempat terbesit di pikiranku untuk melakukan apapun agar bisa waktu ini selama mungkin.
“So… this is it?” tanyaku tanpa memandangnya.
“This is it.” jawabnya. Dia juga tak memandangku.
“You know what?… I hate you, Brendan!”
Brendan menatapku yang belum bisa memandangnya.
“Thank you.” ucapnya kemudian.
Aku menguatkan diriku menahan air mata yang selalu mendesak untuk keluar. Kukendalikan hati dan perasaanku untuk berhenti memikirkannya, memikirkan hari-hariku nanti.
“Kau tahu, Valerie?…”Baru kali itu dia memanggil namaku yang sebenarnya, bukan Joshie, nama panggilanku.
“What? That you hate me too?” potongku membuat setitik air mata mulai jatuh di pipiku.
“Aku sekarang sedang menahan semua keinginanku untuk memelukmu, menciummu, menatapmu dalam waktu yang lama… seperti yang biasanya orang-orang lakukan sebelum berpisah dengan orang yang dicintainya. Kau tahu? Dan itu sulit. Jadi mengertilah.”
“Kenapa harus aku terus yang mengerti dirimu?”
“Karena... karena aku benci perpisahan.”

(12)
Kuputuskan untuk menghabiskan sisa hari itu dengan berjalan-jalan bersama Hart ke Turquoise meadow. Aku duduk di bawah pohon yang daun-daunnya sudah bersemi kembali. Kuhirup udara padang ini sambil mencoba menepis segala kepahitan yang kurasakan hatiku saat ini. Aku mencoba melupakan segalanya. Setelah kira-kira satu jam aku disana, kunaiki kudaku, Hart, dan berjalan pelan-pelan. Di tengah perjalananku, aku bertemu dengan Zorro yang tentu saja dikendarai oleh pemiliknya. Kuhentikan Hart begitu Zorro berhenti di hadapanku.
“Hai,” sapanya.
“Hai.” jawabku.
“Bukannya ada pesta perpisahan di kampusmu?” tanyanya.
“Ya.”
“Kau sudah pulang sesiang ini?”
Aku diam tak menjawab.
“Kau tidak kesana ya?”
“Ya.”
“Ada apa, Val? Aku melihat kesedihan di matamu. Kau mau menceritakannya padaku? Aku tahu kau pasti sedih berpisah dengannya. Tapi dia pasti kembali untukmu suatu hari nanti kan? Aku tahu dia pasti menjanjikan itu untukmu.”
“Andy, dia kembali ke Vista… aku tetap disini… and that’s it. Now would you excuse me…” kurasakan mataku mulai berkaca.”… I have to go.” ucapku pada Andy kemudian memacu Hart kembali menj auh dari tempat itu. Aku tidak mau berlama-lama disitu.

Malam itu aku benar-benar susah untuk tidur. Aku terus memikirkan besok. Besok Brendan kembali ke Vista dan nggak akan kembali kemari lagi. Dia akan melupakan East Candreva, kota dimana kami bertemu dan memulai segalanya Aku tidak akan bisa melihat Brendan lagi, melihat rambutnya yang berdiri karena gel, melihat alis tebalnya, melihat mata sayunya. Aku tidak akan mendengar perintah egoisnya lagi. Memang konyol tapi aku merasa akan mematuhi semua perintahnya asal dia tetap disini. Aku terus mencoba memejamkan mataku dan tidur. Karena aku tahu tidur bisa membuatku lupa sejenak dengan segalanya.
Merasa baru bisa tertidur sebentar, aku terbangunkan oleh suara ponselku. Dengan mata setengah tidur kulihat jam dinding di kamarku. Pukul dua lebih lima belas. Aku terkejut ketika melihat nama di layar ponselku.
“Hallo,” ucapku. Aku tak mendengar suara dari seberang.
“… hallo? Brendan kau disana? Kau tahu jam berapa ini?”
“Valerie… Valerie aku ingin bicara…”
Kudengar suaranya yang tersendat-sendat.
“Iya, tentu saja. Ada apa Brendan?”
Tak kudengar jawaban lagi. Cukup lama hingga aku terkejut.
“What kind of man I am?… Why am I so stupid?…”
“Brendan, apa yang kaukatakan?”
“Help me, Valerie… just help me…”
“Aku disini, Brendan. Aku disini.” ucapku sambil kurasakan air mengambang di mataku.
“Dengar… pejamkan matamu… aku ingin… aku ingin membawamu ke suatu tempat. Kau mau kan?”
“Kau bicara apa, Brendan?”
“Dengarkan aku. Ikuti aku. Lihat… aku menggandeng tanganmu… kau… kau tampak cantik dengan gaun merah muda elegan karya desainer terkenal… rambut merahmu tergerai indah.…”
Aku hanya diam, mendengar ucapannya sementara kurasakan setitik air mata mulai menetes. Kupejamkan mataku sesuai perintahnya.
“… dan aku… aku memakai setelan jas hitam… sangat rapi… kita baru saja turun dari limo dan merasakan silau di mata kita akibat kilatan blitz para wartawan…kau merasakannya?… kau merasakannya, Val?”
“Iya… iya, aku… aku merasakannya.” ucapku sambil merasakan air mataku mulai deras mengalir.
“… mereka terus mengambil gambar kita… sementara itu… kita diberondongi pertanyaan-pertanyaan… siapa perancang gaun mewah yang melekat indah di tubuh cantikmu, Miss Cathelwood?…dan mereka juga bertanya padaku, berapa banyak film hebat lagi yang akan anda buat setelah film spektakuler ini?… kau dengar, Val? Kau dengar mereka saling berebut mengajukan pertanyaan mereka?…”
Aku semakin tak tahan mendengarnya namun entah kenapa aku merasa nyaman, aku merasa berada di tempat yang dituntunkannya padaku.
“… aku masih menggandeng tanganmu… kita berjalan… kita berjalan... di sepanjang karpet berwarna merah…untuk menghadiri pemutaran perdana film kita…”
"Brendan, jangan pergi..."
"Aku akan kembali..jika aku bisa mengajakmu berjalan di red carpet bersamaku..."

****
Aku berjalan di koridor asrama cowok lantai dua. Lima belas menit yang lalu kereta Brendan pasti sudah berangkat. Sesuai keinginannya, aku tidak mengantarnya. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah membawa dan memandangi syal Brendan yang pernah dipakaikannya padaku saat kami berdua tengah malam di Velvet. Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Aku nggak bisa dan nggak akan menyangkalnya. Aku tahu siapa dia, masa lalu cintanya, dan bagaimana dia menempatkanku dalam hidupnya enam bulan ini. Aku hanya yakin satu hal. Bahwa dia punya rasa yang sama dengan apa yang kurasakan padanya. Hanya saja dia tak berani menghadapi perasaannya itu. Jadi apapun keputusannya, apapun yang diperbuatnya padaku, aku bisa menerimanya dan hal itu sama sekali tak akan mengubah perasaanku padanya. Yang aku sesalkan, kenapa dia harus takut akan ikatan? Akan komitmen?
Aku berdiri di depan pintu kamar Brendan. Kupandangi angka D22 dari kayu yang tertempel di pintunya. Tangan kananku memegang syal Brendan sementara tangan kiriku meraih lipatan kertas yang tadi kukantongi di celananku. Kubuka kertas itu dan membacanya. Setelah merasa cukup, kulipat kembali kertas itu dan kuselipkan di ruang sempit di bawah pintu kamarnya. So I guess… it’s goodbye…

Salju kita mengiringkan keindahan di mataku
Sanggupkah diriku menapak di atas salju berikutnya
Tali ini lemah
Sepanjang apapun kuulur
Tak akan mampu mengikat sebuah janji
Pahitnya sebuah antara tak bisa kurasakan

Setelah semua yang kaukatakan dan kauperbuat
Setelah retakan-retakan hati ini mencoba bertahan
Kau hanya berlalu

Haruskah kucabuti bunga-bunga tinggi
Yang telah kutebar, kutanam, kusirami, kurawat
Di atas rerumputan hijau yang rela kucabuti
Bagaimana tak kulakukan?
Kau beri bibit, air, dan pupuknya
Hey, coba saja sangkal
Kau ikut andil menumbuhkannya
Jadi jangan salahkan aku kalau aku tak rela kau pergi

Mengingat rajutan embun yang kaulekatkan di antara bunga-bunga itu
Dan kau menodainya dengan kepengecutanmu
Kau akan memandang tiap tetesan salju sebagai air mataku
Hanya sekarang, ajari aku bagaimana cara melupakan
Tiap detik tetesan salju yang kautorehkan
Di lembar kekuatan hati yang telah kau robek
Listen…
I just…
I just can’t move on…

Your rating: None Average: 7 (3 votes)
dikirim lavender 1 year 34 minggu yang lalu
Tag: