kisah sedih dan mengharukan seorang sahabatku..
"Hidup adalah sebuah perjuangan. Kau akan menikmati masa depan yang indah ketika kau mengambil pilihan yang tepat. Artinya, hidup adalah juga sebuah pilihan. Pilihan yang kau ambil saat ini, akan menentukan menjadi apa kau kelak. Pilihan yang salah akan membuatmu seumur hidup berada dalam neraka.
Tapi aku tidak mengerti apakah pilihan yang kuambil sekarang salah. Apakah sebuah kesalahan kalau aku memilih untuk jadi seorang wartawan? Aku menyukai pekerjaanku mengejar sumber berita. Aku suka menulis. Aku suka bertemu dengan banyak orang. Aku suka berpakaian casual saat bekerja. Namun mengapa mama harus malu mengakui aku bekerja sebagai wartawan. Mengapa ia selalu menyembunyikan hal itu dari para tetangga.
Karena profesi yang kupilih jugalah akhirnya aku berada di tempat ini. Sebuah warung kopi di salah satu mal di kota ini. Aku menunggu seorang pria yang bahkan wajahnya tidak kukenal. Mama yang merancang semua ini. Sebagai anak tunggal yang telah berusia 28 tahun, mama sangat ingin melihatku menikah. Tidak perduli dengan siapa. Karena begitu besarnya keinginan itu diperlihatkan mama, Alan, pacar pertamaku akhirnya mundur teratur. Dia belum siap menikah. Atau mungkin dia belum yakin untuk menghabiskan sisa hidupnya bersamaku, aku tidak tahu. Yang pasti, dia menghilang tanpa jejak sehari setelah mama mengungkapkan keinginan itu. Buruknya lagi, yang justru terpuruk dengan perginya Alan justru mama. Dia menangis tiap malam. Selalu mengeluh ingin mati. Sementara papa hanya diam dan memandangku dalam-dalam tanpa tahu apa yang harus dilakukannya. Dan aku? Menurutku justru aku yang harus ditolong dengan keadaan ini. Pacarku pergi tanpa pamit. Tapi yang kulakukan adalah menghibur mama. Sungguh tak adil rasanya.
Setelah perlahan-lahan mama bisa keluar dari rasa sedihnya, kini ia bekerja keras mencarikan seorang pria untukku. Keberadaanku di sini semua karena idenya. Katanya ada seorang pria yang ingin berkenalan denganku. Ketika kutanya bagaimana wajahnya, mama bilang tampan. Aku meragukan kata tampan itu dengan melihat wajah orang yang kini menjadi papaku. Jadi lebih baik aku membayangkan yang terburuk.
Sudah setengah jam aku berada di sini. Kopi di depanku sudah tinggal setengah. Aku benci pria yang suka terlambat. Nilainya berkurang empat puluh persen di mataku. Aku memandang keluar lewat dinding kaca. Kulihat seorang pria sedang berjalan tergesa-gesa ke arahku. Kurasa itu dia, karena dia mengenakan kemeja hitam sesuai janjinya. Aku berdiri dengan rasa mual di perutku.
“Vita ya,” katanya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan. Perutku tambah mual.
“Kamu Dino ya,” kucoba untuk membalas senyumnya walaupun pahit. Dinosaurus, bisikku dalam hati. Oh mama, seandainya kau ada di sini, aku ingin mencekikmu. Katamu orangnya tampan. Sepulang dari sini aku akan membelikanmu kamus bahasa Indonesia supaya kau tahu apa definisi tampan. Atau jangan-jangan kau juga belum pernah melihat pria yang sekarang duduk di hadapanku ini. Tingginya hanya beberapa senti di atasku yang hanya 155 cm ini. Wajahnya sama sekali tidak menarik. Hidung terlalu besar, kumis yang tidak dirapikan, bibir tebal, rambut keriting. Benar-benar mirip dinosaurus. Aku yakin dinosaurus jenis ini sama sekali tidak perlu dilestarikan.
Setelah memesan kopi yang sama denganku, ia tersenyum dan memandangku dengan tatapan “aku akan menelanmu hidup-hidup”. Aku bersumpah tidak akan memberitahukan pertemuan mengenaskan ini pada mama. Aku akan bilang pergi duluan setelah lima belas menit menunggu. Atau aku ditelepon redakturku untuk meliput pemilihan waria 2007. Aku akan mengarang sebanyak mungkin alasan untuk itu.
“Jadi kamu seorang wartawan ya,” ujarnya membuka pembicaraan sambil menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri. Sungguh memuakkan.
Aku mengangguk malas. Pasti mama yang menceritakan semuanya pada makhluk ini. Kuharap mama tidak memintanya segera melamarku. Aku bersumpah akan membunuh diriku bila itu terjadi.
Dino menyeruput kopinya. Kemudian memandangku lagi. “Kok diam saja. Ngomong dong,” katanya sambil tersenyum.
“Kamu kerja di mana?’ tanyaku sekenanya. Dino menyebutkan sebuah perusahaan minyak di Aceh.
“Oh yang itu. Yang beberapa waktu lalu karyawannya demo karena THR nggak turun, kan?” kataku sambil menyeruput kopi juga. Kena kau, pikirku.
Dino terhenyak. “Ya iyalah aku tahu. Aku kan wartawan,” kataku lagi.
Dino memaksa tersenyum. Kasihan juga melihatnya. Kuharap penderitaan ini segera berakhir. Paling tidak, kuharap redakturku benar-benar menelepon untuk tugas mendadak.
Sepertinya Dino menyadari kegelisahanku. Ia menghabiskan kopinya. “Kita pulang sekarang?” katanya ramah.
Aku mendadak gembira. Dengan segera aku meraih tas kulit kesayanganku dan berdiri.
“Yuk,” jawabku dengan nada riang. Dino memandangku dengan tatapan aneh. Kurasa ia mengerti kalau aku tidak menyukainya.
Kami berjalan beriringan keluar dari kafe itu. Kupikir semuanya akan berakhir begitu sampai di luar. Namun ternyata belum. Dino mengikutiku sampai ke parkiran.
“Kamu mau ke mana?” tanyaku bingung.
“Nganter kamu.”
Spontan aku berhenti. “Emang kamu naik apa ke sini?” tanyaku.
“Mobil. Di sana,” jawabnya sambil menunjuk ke arah kanan.
“Mobilku di sana,” aku balas menunjuk ke arah kiri.
“Ya sudah. Aku antar sampai ke mobil aja.”
“Nggak perlu,” jawabku cepat. “Lebih baik kamu segera ke mobilmu dan kita berpisah di sini.”
Dengan wajah sendu ia mengangguk dan membalikkan badan.
“Tunggu,” seruku tertahan. Ia berhenti dan berbalik ke arahku. Aku merasa bersalah telah memperlakukan dia seperti itu.
“Aku minta maaf dengan kekasaranku. Tapi sungguh, aku benci cara mama ini. Aku ingin menentukan pilihanku sendiri. Ini hidupku. Biarkan aku memilih orang yang tepat.”
Dino termangu. Kuharap dia mengerti maksudku. Tanpa berkata apapun dia berbalik dan melangkah pergi.
Tangisku meledak di dalam mobil. Kurasa aku harus mempersiapkan diri untuk dinosaurus-dinosaurus berikutnya yang akan dikenalkan mama padaku.
Tag:







