SEPULUH TAHUN lewat dua puluh delapan hari, Levrant menempati rumah itu, semenjak meninggalkan rumah orang tuanya di suatu desa terpencil, oleh suatu sebab. Levrant kehilangan kakeknya tujuh tahun lalu, dan sampai hari ini, hidup sebatang kara di rumah kakeknya. Kebutuhannya terpenuhi berkat ladang labu di belakang rumahnya, yang entah bagaimana, selalu berbuah ranum sepanjang tahun. Terjangan hawa beku di musim dingin sampai sengatan matahari terik di musim kering tak pernah menghambat pertumbuhan labu di kebun belakang rumah Levrant. Levrant bahkan sampai membangun sebuah kuil sederhana, dilengkapi altar yang menampilkan patung dewi kecil yang berdiri di atas sebuah labu dari semen—Ibu Labu—untuk mensyukuri berkah dari ladang labunya.
Dengan persediaan buah labu yang selalu berlebih sepanjang bulan, tak heran rumah itu mendapat julukan ‘Rumah Labu’—apalagi ditambah kenyataan sang rumah memancarkan aroma labu ke segala penjuru El-Cairum.
Ladang itu tidak begitu besar; berukuran 8 x 12 meter, dengan satu sudut yang diteduhi pohon beringin tua dekat ladangnya. Kala senja, Levrant suka memanjat beringin itu, untuk melihat matahari yang terbenam perlahan di seberang laut sambil merasakan desiran angin pantai.
Kebutuhan kota akan labu-labu dari ladang Levrant selalu ada saja—entah untuk hidangan pesta, atribut haloween, atau hanya sekedar buat dicium-ciumi, mengingat labu-labu Levrant memiliki aroma yang kuat; begitu khas akan buah labu yang tengah masak-masaknya.
Rumah Labu memiliki empat kamar, namun hanya satu yang berfungsi—kamar Levrant sendiri, yang lokasinya menghadap ke halaman depan. Semasa Levrant kecil dulu, kakeknya adalah seorang pemborong barang antik; lihat saja seisi rumahnya: pajangan rusa-rusa kecil dari kristal putih, tarpestry indah bercorak angsa-angsa emas, pedang-pedang antik, perisai-perisai besar yang digantung, koleksi patung kuno berbaju zirah, sampai patung seorang dewi menangis yang sedemikian tampak nyata sampai-sampai Levrant curiga kalau sang patung adalah dewi sungguhan yang diubah menjadi batu di bawah kutukan seorang serpenté. Namun di balik semua barang itu, Levrant menyimpan hasrat terhadap sebuah labu emas yang tersimpan aman di dalam kotak dari kayu balsa—rahasia terbesar kakeknya yang berhasil dibongkarnya beberapa tahun silam.
Empat tahun silam Levrant sedang mencangkul di ladang labunya, sampai ketika ia memukul sebuah botol kaca berisi selembar wasiat dari sang kakek, yang terkubur dalam tanah. Surat itu menyatakan rasa syukur sang kakek terhadap orang yang mau meneruskan ladang labunya, dan disisipi petunjuk terselubung akan keberadaan harta tersembunyi di dalam ubin di bawah sebuah patung seorang wanita—patung dewi itu. Benar saja; Levrant menemukan sekotak peti berukir yang terkunci rapat, setelah ia membongkar sekotak ubin yang diindikasikan di dalam wasiat. Namun begitu, ia masih harus berjuang menemukan kuncinya lewat serangkaian kode yang ditorehkan kakeknya di atas segel peti misterius itu. Singkat cerita, Levrant berhasil memecahkan kodenya, dan mendapatkan labu emas di dalam peti. Labu emas memiliki bentuk yang indah, dan Levrant pernah membawanya pada seorang ahli yang kemudian menyatakan labu itu seutuhnya terbuat dari emas murni. Sampai hari ini Levrant tidak pernah berpikir labu emasnya berisi petunjuk akan sebuah hal penting, selain daripada barang antik yang harganya tinggi.
Demi mengenang kebaikan kakeknya, Levrant bersumpah untuk tidak memisahkan barang-barang kakeknya dari Rumah Labu, termasuk labu emas, tentu saja.
dikirim Loki 1 year 10 minggu yang laluTag:







