Di suatu tempat di Lemuria, ketika cahaya pertama masih terlelap…
Kesunyian menjelang fajar di region barat Belantara Perawan Surga mendadak ternoda oleh gema pertarungan. Dentingan pedang menjilat karang, tebasan kapak menempa hentak, dan terjangan lincah menapak tanah.
Duhai, lihatlah. Dua pendekar tersohor tengah berlaga. Lancang mengganggu Sang Perawan dengan keberisikan, dan garang menyambut lawan dengan gerakan. Di bawah bayang fajar, mereka seperti menari. Teknik tingkat tinggi dari permainan bibir kapak dan lidah pedang.
Elok, namun liar.
Bibir kapak menyalak, menyambar-nyambar sang musafir tanpa jeda dan kompromi.
Lawannya, si lelaki besar, menyerang dengan gerakan terliar. Rupanya jiwanya telah terbakar oleh pertarungan itu.
“Gerakanmu terlalu lambat,” si musafir berkata.
“Sudah kuduga,” lawannya menyahut ringan, masih gencar mengayunkan kapak, “Kau selalu memandang sebelah mata diriku,”
Menggeram tertahan, lelaki besar itu mengeluarkan serangan terbaiknya. Kapaknya dipuntir vertikal laksana pisau putar, siap memenggal segala sesuatu yang ada di dekatnya—termasuk kepala lawannya.
“Tetap saja kau masih lambat,” Sang musafir menyeringai, seraya menghindar sigap. “Seperti singa tua yang kehilangan nalurinya,”
Yang pertama menyambut kapar-putar itu adalah pedang si musafir, yang langsung saja terpental dan tertancap di ujung tebing batu di atas kepala mereka.
Rupanya ia salah perhitungan.
Kini seringai itu berpindah ke muka si lelaki besar, yang memandangnya dengan keji. “Singa tua. Bagiku, itu terdengar lebih bagus ketimbang siput sekarang!”
“Lelucon siput itu,” sahut sang musafir, menghindar dengan tersengal, “kau masih mengingatnya?”
“Aku tidak melupakan orang yang menyebutku siput!”
Diburu oleh waktu, musafir itu akhirnya terpojok dalam cekungan tebing di belakangnya, disudutkan oleh lawannya. Tak ada tempat menghindar lagi baginya.
Ia terperangkap.
“Nah,” teriak lawannya, menjepit posisi si musafir dengan tubuh raksasanya. “Bukankah dunia ini memang sempit?”
Pengelana itu tidak menjadi cemas.
Menghitung sengalnya, ia menimang sebuah peluang. Dengan sigap, ia melompat tinggi ke sisi atas tebing yang mencekung, dan meraih pedangnya kembali. Didukung gravitasi bumi dan bobot tubuhnya, ia menghentak kuat untuk mencabut pedangnya, seraya menyerbu lawannya di bawah dengan hunusan pedang, menghujam laksana sambaran kilat...
....hingga kedua garis logam itu mengecup dalam satu titik.
Bak supernova, suara memekakkan telinga terdengar mengguntur, mengisi keheningan fajar ke segala mata penjuru. Leviathan dan Salamander—dua senjata termashur itu—benar-benar menciptakan ledakan dari lelapnya kesunyian Sang Perawan. Menyebabkan sepuluh ribu pasang mata terbangun dalam keterkejutan yang tak alamiah.
Pepohonan telah tumbang oleh sayatan-sayatan liar. Pun bebatuan dan tebing-tebing lumut tak luput dari jejak pertempuran.
Selama sesaat, debu mengepul mencipta kabut pasir. Tersapu oleh desir fajar, kabut debu itu lenyap seketika, menampilkan pemandangan kedua pendekar yang tengah bertatapan lekat.
Pertarungan mereka telah usai.
Kedua senjata legendaris: Leviathan—Si Kapak Surga, dan Salamander—Si Belati Api, terpasak dalam bumi, menancap bergeming di antara deru dan sengal.
Masih, sang musafir menatap lawannya dengan kesiagaan pelanduk malam. Tak disangka-sangka, kedatangannya jauh-jauh hari dari negerinya Ksatria-Ksatria Penunggang Lumyr disambut oleh pendekar raksasa itu. Seorang sobat lama.
Sementara si lelaki besar membalas dengan tatapan gencar, seakan-akan berseru lantang untuk menantang: Aku masih kuat tiga puluh ronde lagi!
Tak apa. Kain Ellohym sudah benar-benar mengenal tatapan liar itu; menyadari bahkan sampai hari ini, mata liar itu belumlah lenyap oleh kematangan. Seth Cavarros adalah pendekar yang terlalu naif untuk mengenal kata batas dalam segala pertarungan.
Lelaki yang disebutkan terakhir ini memang bertubuh kekar, dan besar—selayaknya beruang coklat dari pegunungan terliar. Penampilannya menyiratkan kekejian seutuhnya; serupa akan pendekar terbengis dari bangsa terbarbar. Semua orang gentar melihatnya, bahkan yang paling nekat sekalipun. Kegarangannya tampak kian menjadi-jadi berkat dahi kirinya yang berluka codet panjang—luka yang diperolehnya semasa silam. Kekuatannya jangan disangkal. Dalam penggambaran hiperbolis penyair-penyair Selatan, sang pendekar dikatakan setara dengan formasi ratusan ribu tentara Sarzazadu yang telah terlatih fisiknya. Apalagi kalau sudah memegang kapaknya: lelaki raksasa ini adalah mimpi terburuk bagi segala pasukan di kolong langit.
Sementara Ellohym, yang walaupun tubuhnya tidak sekuat Cavarros, adalah perwujudan dari kecepatan dan kelihaian. Wajahnya dingin, selayaknya pengembara yang telah menjejaki ujung dunia, dan sudah bertahun-tahun tidak pulang ke rumah. Tatapan matanya punya cerita lain: setajam mata rajawali, selicik mata serigala, pun seliar mata kucing. Namun di balik semua itu, masih ada satu aspek yang paling mengundang kekaguman: kharismanya, yang konon menyamai kharisma dewa malam orang Viking: Loki—si seribu wajah.
Tak ayal untuk diungkap, kedua lelaki ini berjuluk ‘Sepasang Taring Harimau’ dalam segala pertempuran, dan cukup terkemuka di seantero negeri, oleh sebab persahabatan legendaris yang terjalin di antara batin mereka dari semenjak zaman peperangan yang penuh kebiadaban... lama berselang.
Seusai duel sengit, yang tak melahirkan sang pemenang, pula tak menelurkan si kalah, mereka memutuskan beristirahat di sebuah tebing air terjun yang mengalir deras. Di situ, angin dan air segar berlimpah-limpah. Sungguh tempat yang tepat untuk mengatur sengal setelah pertarungan melelahkan.
Seth Cavarros, si lelaki raksasa, berinisiatif membuka pintu dialog, “Apa saja yang kau lakukan, wahai musafir?”
Sang musafir tidak segera menjawab. Ia terlebih dulu menenggak beberapa teguk air ceruk, membasahi kerongkongannya yang dahaga. Setelah berpuas basah, barulah berbicara dia, ”Aku ini pengelana yang berjalan-jalan menjejaki dunia atas nama cinta. Semua orang—dan juga seharusnya dirimu—sudah tahu apa saja yang kulakukan,”
Mendadak Seth terbahak. “Masih urusan perempuan, aku berani bertaruh!” Tawanya menggema, dan pundak besarnya berguncang, seperti bukit karang yang dilanda gempa. “Kau memang... terlalu mudah ditebak.”
Kain Ellohym mendengus, ”’Musafir Cinta’—dulu orang-orang menyebutku. Tetapi hari ini, keberangkatanku ke Evrat adalah untuk kepentingan di luar itu.”
Seth tertawa lagi. “Memangnya apa kepentingan di luar itu, aku mau tahu!”
“Sebuah prosedur atas dasar inisiatif,” jawab Kain mantap, sibuk menyarungi Salamander ke dalam sarung kulitnya.
“Sebuah prosedur?” Seth membalas, seraya menatap tajam. “Sepertinya kau punya sesuatu untuk diceritakan, Sobat,”
“Tahun-tahun yang kulalui dalam pengembaraan telah membuka mata dan pikiranku: bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada cuma bermain-main dengan cinta.”
“Apakah itu, yang lebih penting daripada cuma bermain-main dengan cinta?”
“Keutuhan Välendhur dan negeri-negeri di selatan—termasuk Evrat,”
Seth mengerutkan keningnya.
Kain tertawa. “Tidak usah dipikirkan dalam-dalam seperti itu. Sebetulnya, pengembaraanku selama ini masihlah berkisah tentang wanita-wanita. Aku masih dan akan selalu terpesona pada mereka. Juga pada segala kisah yang mereka bawa, tentu.”
“Perempuan!” mata Seth Cavaross terbelalak, namun segera memaklumi. “Sudah kuduga sebelumnya, kau masih seliar kucing pelabuhan,”
“Tidak juga,”
“Tidak juga bagaimana?”
“Bukankah tadi aku menyebut hal selain wanita?”
“Demi jiwaku, jadi APA tujuanmu datang ke sini?” mendadak Seth Cavaross meradang, karena dari tadi percakapan mereka hanya berputar-putar saja.
“Padamkanlah api yang berkobar dalam jiwamu, wahai sobatku yang mudah marah. Aku tidak tahu kalau putaran waktu mengubahmu menjadi orang yang tidak sabaran.“
“Aku juga tidak tahu kalau putaran waktu mengubahmu menjadi orang yang suka berbelit-belit,” sahut Seth, mendengus sebal.
“Baiklah, sekarang akan kukatakan apa alasan yang melangkahkan kakiku ke sini,” jawab sang musafir akhirnya. “Valor sudah bergerak terlalu jauh. Dan kabar tentang pergantian rezim di Singgasana Perak memang benar adanya, melihat kedekatan jarak rentetan peristiwa yang terjadi di Utara belakangan ini. Mengingat bagaimana posisi tanah Välendhur di semenanjung utara, dan bagaimana sejarah masa silamnya terukir, aku cukup kuatir dengan keadaan ini. Untuk itulah, aku berinisiatif untuk menghadap Raja Constantine di Evrat.”
Kain Ellohym segera bangkit dari rebahnya.
“Tahan dulu langkahmu, Pengelana. Bukankah Välendhur punya jajaran Ksatria Penunggang Lumyr? Dan bagaimana dengan Lima Pendekar Roh dari Tanah Pedang yang pernah bersumpah? Seharusnya orang-orang Valor tak akan berani macam-macam dengan Välendhur!” Seth berkata tegas. Rupanya amarahnya telah menjelma menjadi keheranan.
“Kau tidak tahu beberapa hal. Belakangan ini Valor amat berambisi untuk terus melakukan pencaplokan wilayah. Midia, Sarxia, Vandalusia sudah jatuh ke dalam wilayah Kerajaan Perak. Bahkan demi melancarkan aktivitas militernya, orang-orang Valor bersekutu dengan para Refaim—bangsa raksasa itu. Pula, mereka berhasil menyulut kemarahan kaum gipsi, yang memang sudah dari dulu memelihara dendam kesumat terhadap Evrat dan Välendhur.
“Välendhur tak akan berdaya melawan dua kekuatan baru Valor itu. Persetan dengan Lima Pendekar Roh—mereka tak pernah muncul setiap kali krisis terjadi. Para Sesepuh seperti menghilang ditelan bumi... atau barangkali lupa akan sumpahnya—entahlah. Sebulan lalu, satu batalion serdadu Valor telah terlihat di wilayah Pegunungan Lumyr,” Kain menjelaskan duduk perkara. “Sebelum semua ini berubah menjadi terlalu buruk, aku ingin merundingkannya dengan ke-Enam Dewan di Evrat.”
Mendengar ceritanya, Seth menjadi geram, ”Terkutuklah orang-orang Valor itu, karena mereka berani memulai apa yang dikutuk oleh dewa! Berilah aku tempat di garis depan barisan Välendhur! Biar kulumat bedebah - bedebah Valor itu,”
Rambut hitam Kain tersibak angin fajar ketika hendak menyahut. ”Aku berterima kasih padamu, Sobat. Tapi sayangnya, tidak semudah itu. Leviathan dan Salamander saja tak akan sanggup untuk memukul mundur orang-orang Valor, belum lagi dua kekuatan barunya; kita masih harus mencari sekutu-sekutu lain dengan kemampuan yang relevan. Tapi tentu, prioritasku sekarang adalah Ophelia, demi menghadap Raja Constantine. Karena memang itulah tujuanku berangkat ke negeri ini.”
***
Tag:







