Episode terakhir kisah Hernan setelah tabrakan. Untuk yg punya saran&kritik dipersilakan dan makasih sebelumnya.
"Di samping Hernan ada seorang pria yang sedang dipotong rambutnya. Sekejab Hernan menoleh dan pria itu pun menatapnya. Mereka berdua sama-sama terkejut dan merasa pernah saling bertemu.
“Lho, kamu? Kayaknya saya pernah liat kamu!” seru pria itu sambil menunjuk Hernan. Pria itu lalu berdiri menghampiri Hernan. Rada takut juga Hernan karena pria itu badannya besar juga. Pria itu ternyata adalah pengendara motor yang menabrak mobilnya tiga pekan lalu.
“Kamu yang mobilnya saya tabrak ‘kan?” lanjut pria itu.
“Eh, apa ya? Tabrakan apa ya, Mas?” tanya Hernan keder.
“Anu Mas, saya cuma mau minta maaf kok. Dasar saya yang ngawur naik motornya waktu itu. Saya juga mau bilang matur nuwun karena waktu itu langsung dibawa ke rumah sakit dan Mas nggak minta diganti apa-apa, eh malah bantuin biaya rumah sakit saya,” ujarnya panjang lebar. Hernan tersenyum lega mendengarnya.
“Oh, gitu toh Mas. Saya pikir Mas mau marah sama saya,” kata Hernan. Mereka bersalaman dan pria tadi lalu duduk lagi karena potong rambutnya belum selesai.
“Terus mobilmu gimana Mas, udah dibetulin? Pasti mahal ya?”
“Sudah kok, Mas. Ya, mungkin sama dengan biaya rumah sakit sampeyan. Oya, sampeyan itu apanya Pak Jarno dan Mbak April sih?” tanya Hernan.
“Aku sebetulnya ya langganan salon Mbak April ini. Tapi kebetulan Pak Jarno itu sering minta tolong sama aku, jadi seperti udah dianggep sodara.”
Di sela-sela pembicaraan Hernan dan orang yang pernah menabrak mobilnya itu, ada seorang pria yang keluar dari sebuah kamar yang ternyata dikenal oleh Hernan dan pria tadi.
“Lho, pak polisi? Anda juga sering ke sini toh?” sapa Hernan.
“Eh, halo Mas. Iya, saya memang langganan di sini. Sama dengan yang nabrak mobil sampeyan ini. Sudah damai beneran toh ini?” ujar pria yang keluar dari kamar itu.
Pak polisi yang dulu mengurus kasus tabrakan mobil Hernan dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, ternyata bertemu lagi dan sama-sama sedang memanjakan tubuhnya di tempat itu. Tak lama kemudian polisi itu pergi meninggalkan mereka. Pria di samping Hernan lebih dulu masuk kamar setelah rambutnya selesai dipotong.
Hernan sendiri sehabis creambath, lalu minta sesuatu yang pernah ditawarkan wanita itu padanya. Mereka berdua pun masuk ke salah satu kamar yang tersedia. Hernan sesungguhnya sempat ragu untuk melakukan itu.
Sejenak dia ingat pada Netta, tunangannya yang bekerja di Jakarta. Tapi segera dilupakannya wajah wanita cantik yang sangat dicintainya itu. Dia pikir, apa yang akan dilakukannya bersama Diana toh sekadar bersenang-senang dan tanpa melibatkan perasaan apapun. Hernan mencoba santai saja ketika dia dan Diana saling menjamah.
Sedang mulai berasyik masyuk kedua insan berbeda jenis itu, sekonyong-konyong terdengar suara gaduh dan beberapa orang masuk ke dalam salon. Pintu kamar tempat Diana melayani Hernan pun digedor keras. Ternyata ada razia untuk tempat-tempat maksiat berkedok salon malam itu.
“Ayo keluar! Ini ada razia dari polda dan polisi pamong praja!” seru seorang petugas. Hernan dan Diana pun segera mengenakan pakaiannya masing-masing dan keluar dari kamar dengan muka pucat. Yang terjadi selanjutnya adalah apa yang menjadi awal cerita ini.
*
Malam itu Hernan ternyata tak perlu menginap di kantor polisi. Dia hanya sempat diinterogasi untuk dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan. Ada kemungkinan Hernan akan diajukan ke pengadilan dan mendapat dakwaan melakukan tindak pidana ringan, yaitu melanggar pasal kesusilaan. Ridwan yang menjemput Hernan dari kantor polisi.
“Tuh ‘kan Her, aku udah bilang supaya kamu hati-hati ‘kan?” kata Ridwan.
“Iya, Wan. Sori aku nggak dengerin kamu, jadi gini deh,” sesal Hernan.
“Kamu udah siap kalo mesti diadili? Mungkin hukumannya cuma denda kok.”
“Iya, aku siap. Denda sih nggak berat buatku, tapi malunya itu lho, Wan. Kamu tau kan, tadi pas digerebek ada banyak kamera tv? Pasti tampangku bakal nongol di berita kriminal. Tapi ada yang bikin aku heran banget tuh! Di salon itu ‘kan ada polisi yang jadi pelanggan setia dan pemilik salon itu juga dekat sama mereka, tapi kok bisa kena razia juga ya?” tanya Hernan retorik karena Ridwan mustahil tahu jawabannya.
Ternyata hal itu tak lepas dari renggangnya hubungan April, sang pemilik salon dengan Pak Jarno kekasihnya. Selama ini keberadaan Pak Jarno membuat salon plus itu lolos dari razia karena hubungan baiknya dengan polisi setempat. Ketika petugas polda bersama polisi pamong praja akan melakukan penggerebekan, ada seorang polisi setempat kenalan Pak Jarno yang sempat mengabarinya. Karena ternyata Pak Jarno masih marahan dengan kekasih gelapnya itu, maka justru dipersilakannya polisi menggerebek tempat yang sempat sering dikunjunginya itu. Dan dasar sial nasib Hernan yang baru untuk kedua kalinya menjadi konsumen salon itu dan baru akan mencicipi kenikmatan tubuh Diana, kena ikut digerebek. Lebih sial lagi karena Netta ternyata mendapat info dari orang tuanya yang melihat Hernan tampil di televisi dalam sebuah acara berita kriminal. Tak ayal lagi Netta langsung meminta pertunangan mereka dibatalkan dan pupuslah asa Hernan menikahi kekasihnya.
TAMAT
dikirim loushevaon7 1 year 34 minggu yang laluTag:







