Balada Cinta Seorang Tama(3)

28
points
"

Bagian terakhir dari cerita ini. Mungkin ada yang punya ide lanjutan cerita ini? Terima kasih atas semua saran dan kritikannya. Semoga bisa jadi masukan positif buat penulis.

"

Di tempat kerjanya yang baru tersebutlah Rully, teman sekantor Tama dan Gita yang kadang iseng meramal rekan-rekannya di saat senggang.

“Ayo Bang Tama, coba kuramal kau sekarang. Kau kan orang baru, pada mau tahu kita semua tentang kau, Bang,” ujar Rully di antara teman-temannya.
“Okelah. Sebetulnya aku nggak pernah percaya sama hal beginian, tapi aku penasaran juga sama kepintaran Bang Rully,” kata Tama. Rully pun memegang dan memerhatikan telapak tangan Tama seraya berkata,
“Abang kita ini orangnya supel, tak mudah marah, suka menjadi tempat curhat, dan pintar kasih nasihat. Benar kan? Hmm…maaf Bang, sepertinya lagi ada masalah sama rumah tanggamu ya? Ah, memang dia tak cocok buatmu, menurut penglihatanku.”
“Sok tahu kamu!”
“Sebentar, aku lihat ada sosok perempuan yang cocok dan bisa bikin kau bahagia, Bang. Dia ini orangnya lembut, sabar, bisa jadi teman curhat…”
“Coba kamu lihat lagi, tahu nggak dia itu siapa?”
“Ya Tuhan! Maaf, Bang. Sepertinya aku tahu dia itu siapa. Maaf teman-teman, aku tak bisa bilang siapa perempuan yang tepat buat Bang Tama itu.”
“Huuu….” seru teman-teman mereka serempak sembari meninggalkan Rully.

Setelah bubar, Tama menghampiri Rully.
“Memangnya kau tadi lihat siapa? Sampai pucat pasi wajahmu tadi.”
“Ya Bang, aku pucat karena yang kulihat adalah wajah Gita, teman kita,” bisik Rully. Tama hanya tersenyum seraya mengangkat bahu.

Mengingat hubungannya bersama Melly yang di ambang perceraian, lantas kebetulan hubungan Gita dan Jarot pun potensial menuju ke arah perpecahan, Tama jadi berpikir tentang masa depan kehidupan cintanya. Mungkinkah Gita memang jodoh sejatinya, pasangan jiwanya yang sesungguhnya, jika pernikahan mereka berakhir semuanya?

Tama merasa terlalu egois memikirkan kemungkinan itu. Gita dan Jarot telah memiliki tiga orang anak, sementara bersama Melly dimilikinya Anne dan Andre. Terlalu besar pengorbanan banyak orang demi bersatunya kembali cintanya dengan Gita.

“Gita, aku mohon berusahalah untuk tetap menjaga pernikahanmu dengan Jarot. Setidaknya, demi masa depan anak-anak kalian,” pesan Tama.
“Maaf Mas, bukannya aku tak sayang pada anak-anakku. Tapi rasanya sudah cukup banyak usahaku untuk tetap mempertahankan pernikahan kami.”
“Sudah cukup menurut versimu sendiri, juga mungkin menurut versi Jarot. Tapi siapa tahu, sebetulnya masih ada jalan lain yang masih bisa kalian tempuh bersama? Banyaklah berdoa, supaya kalian bisa menemukan jalan itu.”
“Ya Mas, makasih nasihatnya. Kami mungkin memang masih kurang dalam mohon petunjuk-Nya. Mas Tama sendiri dengan Mbak Melly bagaimana?”
“Sampai hari ini aku tak ingin bercerai dengannya. Tapi entahlah jika kehendak Tuhan ternyata tak sejalan dengan apa yang kumau. Yang jelas aku siap untuk terus bersama dan mesti siap pula untuk berpisah.”

Tama dan Gita sama-sama memiliki perasaan yang tak karuan ketika mereka bicara berdua belaka. Kecamuk dalam dada masing-masing mengusik perasaan keduanya. Tama merasa bahwa Gita bisa menjadi pasangan yang lebih baik baginya ketimbang Melly. Gita pun memikirkan kemungkinan yang serupa. Terlalu banyak hal yang bisa mereka bicarakan sejalan. Sesuatu yang sama-sama tak mereka dapatkan dengan pasangan masing-masing.

Selanjutnya ada sesuatu yang cukup unik. Jarot, saingan Tama yang sukses mengalahkannya di masa lalu ternyata merasa nyaman setelah beberapa kali bertemu dan mengenal Tama.

“Aku sekarang baru sadar, kenapa dulu Gita dan keluarganya bisa begitu dekat dengan Mas Tama,” ucap Jarot.
“Kenapa menurut kamu?” tanya Tama.
“Mas Tama itu orangnya enak banget buat diajak bicara. Selalu ada hal yang positif yang kudapat sehabis kita ngobrol berdua. Seandainya dulu Gita memilihmu, mungkin dia bisa lebih bahagia, Mas.”
“Hey Jarot, jangan sesali masa lalu. Yakinlah, kamu masih bisa punya masa depan yang lebih apik lagi bersama Gita dan anak-anak kalian.”
“Mas, jika kamu bisa meyakini itu, kenapa aku dan Gita tak mencoba meyakininya juga ya? Tapi, bukankah jika kami bercerai dan mungkin pernikahanmu juga bubar, kalian bisa saja kembali bersama?”
“Tolong, jangan kamu pikirkan kemungkinan itu. Aku pasti bahagia jika melihat Gita bahagia hidup bersamamu. Aku percaya kamu bisa melakukannya.”

Malah saking akrabnya, Jarot sampai bersedia mengantar Tama ke pengadilan untuk menghadiri sidang perceraiannya dengan Melly. Hubungan Jarot dengan Gita sendiri berangsur-angsur membaik. Rencana perceraian telah diurungkan dan mereka bersedia membangun komitmen baru. Kata-kata Tama menjadi motivasi tersendiri bagi mereka untuk kembali bersatu. Tama sendiri akhirnya bercerai dengan Melly yang sama sekali tak mau berkompromi lagi.
***

Your rating: None Average: 5.6 (5 votes)
dikirim loushevaon7 1 year 12 minggu yang lalu
Tag: