Sebetulnya cerita ini sudah ada endingnya, tapi masih ada konflik yang belum bisa kusuratkan. Jadi seri ke-2 ini singkat banget adanya. Btw, apa cerita ini terlalu berat buat kemudianers, so sedikit sekali yang komentar?
"Aku dan Pak Mus akhirnya tetap menikah. Semua anak Pak Mus menghadiri pernikahan kami, kecuali Citra. Gustaf, anak sulungku hadir bersama kakeknya, mantan mertuaku yang tak pernah menganggapku sebagai mantan menantunya, kendati anaknya telah menceraikanku. Oom Hendra, adik kandung almarhum Bapak menjadi wali nikahku. Seluruh proses acara terbilang sukses dijalani. Lima hari sesudah itu aku diboyong ke rumah suami baruku. Di sana kami tinggal bersama dua anak perempuan, seorang keponakan, dan dua orang pembantu Pak Mus. Mereka semua menyambutku dengan tangan terbuka. Tepat seminggu setelah akad nikah kami, Pak Mus menyelenggarakan resepsi meriah di tempat tinggalnya.
Penyesuaian diriku dengan kehidupan rumah tangga yang baru menjadi masalahku selanjutnya. Sepuluh tahun telah kulewati dengan menjadi janda, lantas aku kembali berkedudukan sebagai isteri, sungguh tak mudah menjalaninya. Pak Mus banyak membimbingku, bagaimana menjadi seorang isteri yang baik baginya. Kuharap benar bahwa ia adalah pasangan yang tepat bagiku, kendati begitu banyak orang yang semula tak setuju dengan pilihanku.
Ia kerap memberi semangat padaku,
“Yang penting kamu itu percaya pada dirimu sendiri. Apalagi sekarang kamu sudah jadi Nyonya Mustajab, harus bangga kamu.”
“Ya Pak, aku bangga kok bisa jadi isterimu,” sahutku.
Ketimbang adik-adikku, memang aku terbilang kurang percaya diri. Selain aku tak cantik seperti mereka, nasibku yang tak beruntung dalam kehidupan rumah tangga, juga sering membuatku ragu dalam melangkah. Namun aku yakin bakal bisa berubah setelah menjadi isteri Pak Mus seiring waktu yang terus melaju.
Salah satu hal yang kusuka dari Pak Mus adalah kegemarannya mengajakku makan di tempat-tempat makan yang enak. Maklumlah, aku memang hobi makan dan tak perlu heran jika tubuhku paling besar dibandingkan adik-adikku. Cuma rasanya aku belum layak disebut gemuk, lho. Lantas, setiap saat kuajak ke rumah Ibu Rahayu untuk menjenguk keluargaku, Pak Mus juga tak pernah menolaknya. Kami selalu membawakan oleh-oleh makanan yang enak untuk mereka, sekadar martabak spesial, serabi Inggris, roti bakar, atau juga mie goreng dan steak. Aku seperti memiliki sebuah wujud kebahagiaan yang baru setiap saat pulang ke rumah.
***
Marsha pada suatu sore datang ke rumah Pak Mus. Bukan sesuatu yang aneh memang, kendati dia tetap belum bersedia tidur di tempat tinggal ibunya yang baru. Namun sore itu ada sesuatu yang penting yang dibicarakannya.
“Bu, besok Ayah berencana ke rumah ini untuk silaturahmi,” kata Marsha.
“Buat apa ayahmu ke sini?” tanyaku sinis.
“Ibu kan sekarang sudah bahagia dengan menjadi isteri Pak Mus. Ayah merasa bahwa sudah saatnya bagi dia untuk minta maaf pada Ibu.”
“Ya, baguslah kalau mantan suamimu mau berbuat itu,” sela Pak Mus.
“Jadi Bapak mau menerima kedatangan Fritz kemari?” tanyaku lagi.
“Wong mau silaturahmi dan minta maaf, mosok kita mau nolak?”
“Iya Bu, Ayah kan sudah punya niat baik. Ingat lho, kalian berdua masih punya aku dan Kak Gustaf. Ayolah Bu, demi kami berdua terimalah kedatangan Ayah dan maafkanlah dia,” kata Marsha lagi.
Aku belum menentukan sikapku selanjutnya. Rasanya aku perlu berkonsultasi dengan Ibu Rahayu mengenai hal tersebut. Melalui telepon, beliau pun membujuk serta menasihatiku untuk bersedia menerima kehadiran Fritz,
“Lupakan masa lalumu yang pahit dengannya dan maafkan dia. Biarkan dia bahagia dengan keluarganya sekarang, sementara kamu toh juga sudah bahagia bersama keluarga barumu kan? Lalu, bagaimanapun juga masa depan Gustaf dan Marsha selalu menjadi urusanmu bersama Fritz, Nak.”
Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Ibu Rahayu. Namun sangat tak mudah bagiku untuk melupakan apa yang pernah dilakukan oleh Fritz, lelaki yang dulu pernah sangat kupuja dan kucintai sepenuh hati. Bertemu lagi dengannya sepertinya akan membuka lagi luka lama di hatiku, kendati telah ada Pak Mus di sisiku. Aku akan berusaha untuk bisa memaafkannya demi Gustaf dan Marsha.
***
bersambung...
Tag:







